Tentang Perempuan di Tempat Kerja

Zaman sudah canggih begini, ternyata masih ada aja lho diskiriminasi gender di tempat kerja. Memang nggak ekstrim2 banget sih, tapi pasti ada saja alasan bos yang lebih memilih untuk merekrut karyawan laki-laki daripada perempuan. Bos-bos yang masih tradisional cenderung memilih pekerja laki-laki karena dianggap “lebih bisa kerja”. Hmm…

womanNggak bisa disalahkan juga sih, karena somehow cara kerja laki2 dan perempuan memang berbeda. Bukan berarti perempuan kalah pintar lho ya. Oh no no. Soal kualitas pekerjaan, perempuan tidak bisa dinomorduakan. Kadang2 malah cewek itu lebih pintar daripada cowok. Masalahnya ada pada cara bekerja. Nggak bisa dipungkiri kalau perempuan cenderung mengedepankan emosi daripada logika. Kalau di kantor, yang hobi ngrasani, meledak-ledak, dan penuh prasangka mayoritas adalah perempuan. So, saya paham sekali kenapa rata2 Dept Head adalah laki-laki. Mereka memang lebih jago berpikir secara rasional dan netral dalam keadaan apapun. Perempuan, sebaliknya, kalau udah kadung nggak suka sama seseorang/sesuatu, cenderung untuk berprasangka negatif terus–nggak bisa bekerja secara fair dan profesional.

Memang nggak semua perempuan seperti itu. Ada juga perempuan tegas yang bisa menyeimbangkan logika dan emosi. Dan nggak sedikit juga laki2 yang suka bergosip dan ngrasani *ati2 loh cyiinn* Tapi yaa, karakter mayoritas itu memang melekat di masing2 gender.

Saya sendiri, jujur, lebih suka punya bos laki2. Bagi saya mereka lebih netral, tegas, dan nggak terlalu dipusingkan soal2 emosional yang remeh. Nggak mikir sungkan, nggak gampang sakit hati, nggak gampang berprasangka negatif, dan nggak suka rasan2 unimportant. Tapi gimanapun, perempuan memang punya kelebihan tersendiri. Mereka lebih teliti, detail, dan care. Kelemahan pemimpin perempuan, kadangkala cenderung micromanaging, ribet mengurusi hal2 kecil tanpa punya big picture, rencana strategis yang seharusnya lebih penting untuk menentukan arah organisasi.

Tapi ya kembali lagi, itu semua tergantung pada kepribadian masing2 orang. Gender memang tidak sepenuhnya menentukan, tapi laki2 dan perempuan diciptakan berbeda bukan tanpa alasan. Tanpa bermaksud menyerang kaum feminis, pada satu titik saya merasa memang laki-laki lebih pantas menjadi pemimpin. Ketegasan dan rasionalitas adalah syarat utama menjadi pemimpin, dan itu semua (mayoritas) terdapat pada laki-laki–meskipun tidak jarang juga ditemui pada perempuan.

Well, itu soal gaya bekerja. Satu lagi kesulitan perempuan di tempat kerja adalah, sexual harassment. Emang udah dari sononya ya perempuan itu diciptakan dengan bentuk yang menarik. Sulit untuk berinteraksi dengan perempuan tanpa ada perhatian pada bentuk fisiknya. Saya yakin di setiap tempat kerja pasti ada sajalah “godaan” yang dialamatkan ke pekerja perempuan, apalagi yang masih muda. Pelecehan itu nggak hanya berupa fisik lho, tapi kata2 yang “menjurus” itu juga tergolong kurang ajar. Cuma rasanya, kalo di kantor semua itu seolah2 “dimaklumi”. Ya selama masih dalam batas wajar oke2 saja sih. Kadang itu bisa jadi “senjata” perempuan untuk “mempermulus” proses pekerjaan, tapi kadang juga bisa jadi boomerang. Terutama kalau si cewek menarik itu ada di posisi pemimpin.

Bayangin kamu cowok yang punya bos cewek dengan penampakan semacam Maia Estianty–sulit kan untuk nggak memperhatikan dia secara fisik. Sulit juga untuk benar2 take her instruction objectively. Satu2nya cara untuk mempertahankan wibawa adalah dengan bersikap keras dan judes. Kalau terlalu banyak guyon somehow wibawanya jadi jatuh sedikit–soalnya sisi feminin dan ‘lemah’nya jadi kelihatan. Ya itu juga nggak adilnya. Pemimpin cowok bisa “guyonan sampek elek” dan tetap kelihatan berwibawa. Tapi pemimpin cewek… ya balikin aja ke kasus Maia tadi. Kalo si Maia judes sama bawahan cowoknya pasti mereka bakal manut. Coba Maia terlalu akrab dan guyon sama mereka…yang ada mereka bisa2 jadi naksir si bos 😐 Nggak heran juga orang bilang bos cewek kadang lebih judes dan jahat–tuntutan posisi sih. Perempuan harus melakukan effort lebih untuk menunjukkan wibawanya daripada laki2.

Jadi kesimpulannya…ya gitu deh. Banyak tantangan yang dihadapi perempuan di dunia kerja. Tapi selama kita bisa menunjukkan kualitas2 profesional (berpikir logis, rasional, tegas dll), rekan2 kerja yang tadinya meremehkan label perempuan pasti akan berubah segan kepada kita. Ya kan ya kan 🙂

P.S. perempuan yang sudah menikah dan mempunyai anak (jadi ibu) somehow aura wibawanya lebih kelihatan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *