God and Religion Progressive Believer

Tentang Hijabi Influencers

Back then in 1900s, hijab wasn’t a mainstream dress code that Muslim women publicly wear. But after 9/11 attack, Islam suddenly came under spotlight–including its hijabi women. Maka mulai tahun 2008-an, muncullah gerakan fashionable hijab yang digagas para perempuan muda seperti Dina Tokio di UK, Ascia di Timur Tengah, dan disusul Dian Pelangi di Indonesia. Sejak saat itu, hijab mulai menjadi mainstream. Menjadi perempuan berhijab tidak lagi khawatir dicap jelek, kampungan, atau terbelakang karena kamu bisa berhijab dengan busana mewah kelas designer, make-up cetar membahana, tanpa meninggalkan barang2 branded dan status sosialita kamu.

Dari situlah para hijabi influencers terus bermunculan. Mereka mencoba ‘mengawinkan’ kewajiban agama dengan gemerlap dunia fashion dan kecantikan, hingga akhirnya memperoleh status permanen sebagai social media celebrity. Mereka di-endorse brand fashion ternama, menjadi bintang iklan produk kecantikan, bahkan juga memproduksi hijab dan fashion item sendiri untuk dijual ke followers mereka. They’ve gained exceptional fame and wealth by positioning themselves as ‘Muslimah role model’ in the modern world.

Hingga akhirnya, mulai tahun 2018, tiba-tiba negara api menyerang. Setelah 10 tahun menjadi ikon pelopor hijabi influencer, Dina Tokio dari UK tiba-tiba mengumumkan melepas hijabnya. Disusul Ascia dari Kuwait pada 2019, lalu Hanan Tehaili dari Kanada pada awal 2020, dan yang paling baru ada Amena Khan dari UK pada pertengahan 2020. Shocking, isn’t it? Bagi followers mereka yang mayoritas muslimah muda, rasanya pasti seperti dikhianati oleh idola yang sangat dikagumi. Bagi orang lain rasanya mungkin seperti melihat aktivis vegetarian tiba-tiba makan daging, sehipokrit itu.

Tapi sesungguhnya, kalau melihat postingan2 Dina Tokio atau Ascia saya enggak terlalu kaget. Gaya hijab mereka memang agak ‘di luar pakem’, hanya memakai turban dengan rambut sedikit dibiarkan keluar, dan telinga serta leher terekspos jelas. Yaa jujur sih kalo pake hijab ‘wagu’ kayak gitu mending dilepas sekalian aja deh wkwkwk. Tapi kalo influencer yang model hijabnya cukup syar’i seperti Amena Khan dan Hanan Tehaili itu…sesungguhnya agak disayangkan yah kalo mereka ‘lepas’. Apalagi kalau ngeliatin video2 YouTube mereka dulu yang sok-sok nyemangatin para Muslim girls untuk pake hijab, ndilalah mereka sendiri tau2 copot hijab wkwkwk ngeselin banget sih.

But I honestly think that hijab doesn’t get along well with (physical) beauty. Allah menyuruh kita memakai hijab ya memang untuk menutupi kecantikan, bukan memperlihatkannya. Jadi kalo ada yang bilang ke kamu “cantikan pake hijab deh” jangan percaya, itu gombal. Pastilah cewek keliatan lebih cantik dan menarik kalo rambut, telinga dan lehernya keliatan. I’ve proven it myself. Bahkan kalo boleh jujur, hijabi influencers yang lepas hijab itu emang jadi makin cantik. Lah rambutnya bagus2 gitu. Rambut kan emang mahkota wanita, kalo ditutupin pasti ada yang kurang lah sama penampilan…

Karena itu menurutku, beraaattt jadi seorang beauty and fashion influencer kelas dunia yang konsisten berhijab. Apalagi level2 mereka yang udah kontrak partnership dengan brand2 kecantikan ternama. The pressure to be stunningly beautiful is real, and at some point they can’t handle it anymore. Apalagi kalau memang internally punya passion untuk selalu terlihat cantik paripurna dari ujung kepala sampe kaki. Pasti pengin lah nyobain rambutnya diwarnain kek gini, nyobain dress lucu yang kek gitu, dsb dll yang nggak mungkin kamu lakukan kalo berhijab.

I used to feel that as well. Berhubung dari kecil sekolahnya di Madrasah, dan lahir di keluarga yang religius, sejak baligh saya gak pernah ngerasain pake gaun, celana pendek atau fashion items lain yang jamak dipakai wanita muda. Apalagi waktu itu hijab belum ngetren banget, jadi pilihan baju ya itu2 aja. I remember sneaking out of my house just to try wearing midi skirt while attending my course at Primag*ma. Itu jaman SMA yah. Rasanya gimana? Plong lah. Gak sumuk. Berasa jadi orang lain dengan image baru. Tapi ya cuma beberapa kali pas les itu berhasil sembunyi2 keluar rumah gak pake hijab tanpa ketauan ortu. Motifnya coba2 iseng aja, enggak ada keinginan untuk fully lepas hijab karena yaa.. . Buat apa juga.

Sampai beberapa tahun kemudian, kejadian yang cukup shocking muncul di hidup saya *tsaahh. Ini semua temen kuliah pasti tahu sih wkwkwk dan mungkin masih penasaran sampe sekarang karena yaa saya gak pernah cerita juga. Iya, saya putus cinta hahaha. Dengan pacar pertama yang cukup lama juga jadiannya, sekitar 4 tahun. Pas putus itu saya udah 1 tahun kerja di sebuah perusahaan, gajinya lumayan lah untuk ukuran fresh grads. Tinggalnya juga ngekos di luar kota, pisah sama orang tua. So basically I have the power to do anything I want. Anything that I feel necessary to heal my broken soul.

Jadilah saya kembali ke ‘eksperimen lama’ untuk berpakaian tanpa hijab. “Ohh jadi alasan kamu lepas hijab dulu tuh gara2 putus sama si Fulan ya?” Wkwkwk banyak banget yang mikir gini pasti. Well, itu emang salah satu faktor sih… Tapi bukan yang utama, cuma semacam ‘pencetus momentum’ aja. Keinginannya sendiri saya rasa sudah tumbuh sejak lama, ditambah faktor pergaulan, bacaan, tontonan dll yang tanpa sadar memperkuat angan-angan tersebut. Jadi saat timingnya pas, ya sudah diwujudkan saja… Voila!

Nah gimana rasanya waktu pertama kali lepas hijab?

It felt liberating, honestly.

Karena saya seperti “terlahir” memakai hijab dan terbiasa dengan identitas tersebut, saya jadi gak tahu gimana rasanya dikenal sebagai wanita biasa-biasa saja seperti pada umumnya. I wore hijab at the time people rarely wear it, I wore it during all my activities in non-muslim majority college, I wore it even during student summit in Germany where a hijabi participant was obviously stood out from the crowd. Saya terbiasa langsung dikenali sebagai “Muslim”, langsung dikasih pertanyaan macam2 berkaitan dengan hijab atau agama, langsung diberi pre-judgement dan semua itu hanya karena selembar kain di kepala saya. Sometimes it feels really heavy and kinda burdening. Jadi saat saya punya kesempatan untuk melepasnya, itu seperti melepas beban besar yang tanpa saya sadari bertengger di pundak saya sejak remaja.

Dan saya juga baru menyadari…kalau saya bisa tampil cantik dan seksi. Setelah masa remaja dihabiskan sebagai gadis kutu buku berhijab berkacamata tebal dengan jerawat2 sebiji jagung, I realized I could be the ‘pretty doll’ I thought I could never be. Apalagi jomblo kan, the game is ON wkwkwk. Ditambah lagi… Setahun kemudian saya mendapat kesempatan untuk kuliah S2 ke UK, makin menjadi-jadi lah hasrat ‘ngeksis’ saya 😅 Ini waktunya kamu cari jodoh di luar negeri! Astaghfirullah, padahal mah harusnya belajar kan yak wkwkwk

Selama tinggal di Eropa, saya merasa semakin nyaman tanpa hijab, lha iya wong lingkungan mendukung. Ini pengakuan aib ya…Saya juga tidak segan untuk mencoba ‘dosa-dosa’ lain seperti minum alkohol, makan babi dll yang gak mungkin saya lakukan saat masih berhijab. Meskipun coba-coba ini gak berlangsung lama juga karena saya merasa gak cocok. Alkohol itu gak enak dan babi itu bau. Saya gak ngerti di mana enaknya wine karena bagiku itu cuma pahit aja. Saya gak ngerti juga kenapa orang doyan mabok karena sekali aja saya teler gara2 cocktail yang dicampur vodka, besok paginya kepala saya kayak mau pecah dan auto muntah-muntah. Saya hangover parah, dan itu adalah after-effect yang menurut saya nggak asik banget dan membuat bertanya-tanya kenapa ada orang yang hobi banget mabok dan merasakan siksaan ini setiap pagi? Goblok sih menurut gue.

Tapi yang ter’seru’ tentu saja the dating parts wkwkwk. Cowok2 gak ragu mendekatimu lagi karena kamu gak berhijab, kamu cewek normal yang bisa diajakin kencan senang-senang. Tapi oh tapi, meski penampilan luar sudah jauh meningkat, ternyata dalamnya saya masih cupu. Cupu banget. Bahkan setelah lulus kuliah S2 dan 3 bulan mbolang di Manchester kayak orang ilang, kencan dengan beberapa orang via dating app, saya masih norak. Ndeso dan kampungan itu gak bisa ilang hanya dengan satu tahunan tinggal di Eropa gess.

Iya, hanya sampai situ keberanian saya. Ternyata dengan penampilan yang sok-sokan liberal, pikiran saya masih konservatif tradisional. Entah itu karena hasil didikan Madrasah sejak TK sampe SMP, atau karena doa ibu bapak yang terus menerus supaya saya selalu berada di jalan kebaikan, atau emang saya aja yang cupu dan penakut wkwkwk yang jelas semua kencan itu tidak ada yang berlanjut ke hubungan serius. Apparently being hijab-less did attract the guys, but didn’t keep them around—well unless you’re willing to sacrifice your personal value for them.

Sampai sini kayaknya saya udah banyak ngebuka aib masa lalu ya? 😀

Nah kembali ke soal hijab influencers tadi, intinya saya paham apa yang mereka rasakan. Menjadi seorang hijabi itu berat. It’s just a piece of cloth, they said. Ohh tidak sesimpel itu Ferguso. Itu selembar kain yang menyandang semua manifestasi keyakinan spiritualmu, selembar kain yang jadi identitas personalmu. Nggak hanya rintangan sosial, saat berhijab kamu juga harus menghadapi rintangan fisik seperti panas, gerah, ribet dll apalagi pada cuaca ekstrim. Semua rintangan berat itu hanya mungkin dihadapi dengan satu niat kuat: menjalankan perintah Allah. Serius. Kalau berhijab hanya karena social pressure, disuruh keluarga/pasangan, apalagi sekadar biar tambah cantik…pasti gak akan bertahan lama deh. Yaa jadinya kayak influencer2 itu. Hijabnya cuma dipake alat ‘ngeksis’ aja biar dapat followers, di-notice brand besar, dijadiin icon untuk promosi ke pasar Muslim, ehhh begitu udah terkenal dan banyak yang endorse, dicopot deh hijabnya. Bangke emang. Jangan gitu ya gess. Cukup mereka2 aja yang muna, kita jangan wkwkwk

Nah saya pribadi sebetulnya juga sempat merasa ragu saat memutuskan berhijab kembali setelah 4 tahun lepas hijab. Waktu itu alasannya pun gak sepenuhnya lillahi ta’ala, tapi karena diminta pacar yang sekarang tidak jadi suami saya (lha?) Namun setelah dijalani sekitar 3 tahun, saya merasa nyaman2 saja dan belum ada keinginan untuk lepas hijab lagi. Bahkan saya merasakan better personal improvement dibandingkan saat berhijab fase pertama. Kenapa? Soalnya udah enggak ada keinginan untuk pamer aurat lagi wkwkwk yha gimana udah laku 😛 Udah enggak ada keinginan untuk membuktikan ke seluruh dunia kalo aku tuh cantik, seksi dll bojoku wis ngerti wkwkwk. Bukan berarti menyepelekan penampilan yaa soalnya sebagai wanita bekerja ya tetap harus keliatan rapi dan fresh kalo ketemu orang, tapi ya for the sake of professional etiquette aja. Enggak pengin lagi nyoba mini dress, tank top, hot pants, baju jaring2 huahaha udah pernah nyoba semua. Udah enggak penasaran lagi. Saat ini dengan peran saya sebagai istri dan ibu, saya merasa lebih cocok berhijab—it fits my current role and aspiration.

Nahhh yang saya herankan, influencer2 yang lepas hijab itu udah pada punya anak dan suami. Jadi saya bingung juga, apalagi sih yang dicari? Netijen pasti pada mikir, telat banget lepas hijab umur segitu, kenapa gak pas masih ciwi2 dulu yak wkwkwk. Tapi yaa, personal struggle orang kan gak ada yang tau juga. Komentar salah satu netijen di Youtube-nya Amena Khan ini menurut saya cukup mewakili sih:

Yaa berarti sejalan dengan premis di awal tadi kan, bahwa sulit menjaga hijab kalau tujuannya “biar tambah cantik”, wong hijab artinya “menutupi” kok, memang fungsinya biar cantikmu tuh gak terlalu keliatan… Jadi orang lebih fokus ke pemikiranmu dan sikapmu. Kalau kamu pake hijab hanya untuk mempertontonkan kecantikan, tanpa ada strong value yang kamu bawa, lah apa bedanya sama sekadar boneka? Samiaji lah kayak sosialita2 ‘barbie’ yang kosong otaknya, bedanya cuma target marketnya aja.

Akhir kata, iman itu memang naik dan turun. Ada saatnya kita semangat pakai hijab, ada kalanya malas memakainya. Sama halnya kadang kita khusyuk shalat, kadang kita telat shalat. Namun itu tidak menjadi justifikasi bahwa kita hanya beribadah saat kita ingin, karena ibadah itu wajib, nggak peduli gimana suasana hati kita saat itu.

Di saat banyak orang menempatkan hak kebebasan individu di atas segalanya, maka menjadi pribadi religius yang menempatkan Tuhan di atas segalanya (termasuk individualitas kita), akan mengalami tantangan yang luar biasa sulit. Hal paling dekat yang bisa kita lakukan adalah mengelilingi diri kita dengan orang-orang saleh, yang memiliki pandangan sama dalam hal keTuhanan, sehingga kita selalu didukung saat berbuat baik, dan diingatkan saat berbuat buruk.

“Ya Allah tunjukkanlah kami hal yang benar itu sebagai kebenaran, dan berikan kami kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kami hal yang salah itu sebagai kesalahan, dan berikan kami kekuatan untuk menjauhinya…”

8 Comments

  1. Suka yaaaaa karna dari sudut pandang orang pertama, alias pelaku buka tutup hijab juga. More of explaining why instead of judging…. ujung2nya ya memang ngikutin jalan yg mau kita pilihh

  2. Lebih seru ceritamu, Mik… Daripada si influencer.. Cerita lagi donk… wkwkwk

    Tapi keren banget sih pandanganmu.. aku jadi baru menyadari bahwa hijab kan emang buat menutupi, bukan buat memperlihatkan cantikmu..

    Aku kapan lalu lihat selebgram Indonesia, pake hijab kok modelnya aneh.. aku sampe bingung, ngapain jilbaban kalo rambutnya yang udah dicat itu terlihat ke mana-mana.. Mungkin ya itu tadi ya, susah jadi influencer cantik-cantikan, lalu pake hijab. Mungkin dia tidak bisa bebas berekspresi..

    Apapun itu, makasih udah mengingatkan bahwa hijab adalah karena Allah.. ❤️❤️❤️

  3. Kalo blog gini tombol like nya di mana se?
    Pengen aku like bolak balik

    Aku isok relate banget karena merasakan hal yang sama. Ya bener, namanya cewe emang diciptakan sebagai perhiasan. Sajakne bawaan e pengen pamer pada dunia bahwa dirinya indah
    Apadaya disuruh nutupin diri dari dunia dengan hijab

    So far aku sek manut. Entah sampe kapan, karena yo bener jaremu, iman itu naik turun.
    Dorongan2 buat “pamer” tadi masih selalu ada.

    Semoga imanku gak kalah ae sih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *