Kangean-Mamburit-Sumenep Trip: Behind the Scene

Kangean-Mamburit-Sumenep Trip: Behind the Scene

To read before: Mamburit Part 1, Mamburit Part 2

Sebetulnya backpacking trip kami ke Kangean kali ini tergolong nekat juga. Kangean sudah menjadi impian sejak 2011. Saat googling nggak sengaja menemukan pulau indah ini, dan ternyata lokasinya masih di Jawa Timur. Langsung kepengin deh! Di luar dugaan, ternyata sobat saya sejak SMP, Dewi alias Iwed, ibunya berasal dari pulau ini, sehingga keluarga besarnya pun masih tinggal di sini. Mulailah saya menggali-gali informasi bagaimana caranya ke sini.

Lokasi pulau Kangean: di timur Madura, di utara Bali, di selatan Kalimantan

Lokasi pulau Kangean: di timur Madura, di utara Bali, di selatan Kalimantan

Kami sudah pernah merencanakan trip ke Kangean saat Lebaran tahun lalu (Agustus 2013). Kebetulan keluarga besar Akbar juga ada di Sumenep, jadi sekalian mudik. Tapi akhirnya trip itu batal karena sesuatu dan lain hal. Lalu tiba2 saja pertengahan Mei kemarin Akbar mengajak pergi lagi, mumpung ada tanggal merah selang-seling di akhir Mei. Sebetulnya mendadak juga sih, dan saat itu saya sedang dalam kondisi nggak punya bekal cukup (baca: bokek). Tapi namanya rejeki ada aja lah.

Yang jelas trip ini sendiri sempat hampir batal, tapi kami memutuskan lanjut terus meski hanya dengan 3 personel. Awalnya kami mau berangkat berempat (Akbar, Kenny, Kancil, saya) tapi Kancil nggak jadi ikut. Anak2 YEPE yang diajakin pada nggak bisa semua karena ada acara di Gunung Arjuna. Sempat ragu juga sih dengan jumlah tim yang sedikit. Masalahnya kami pergi snorkeling di pulau asing yang bukan objek wisata mainstream. Di sana enggak ada provider wisata bawah laut yang menyediakan paketan selam/ snorkeling lengkap seperti di Bali atau Karimun Jawa. Nggak ada beach boy, safety guard, apalagi pelampung. Pokoknya semua peralatan harus bawa sendiri. Kita semua bawa snorkeling set sih, tapi dodolnya enggak bawa pelampung (jangan ditiru yah teman2!). Sedikit khawatir juga pastinya.

Saya sendiri bukan jago berenang apalagi snorkeling di laut. Baru belajar pakai snorkeling set sekitar akhir 2012, itupun atas ajaran si “bapak guru” Akbar. Jujur, setelah “ujicoba” di Pasir Putih pada akhir 2013 lalu barengan sertifikasi diving anak2 YEPE, saya sama sekali belum pernah snorkeling di laut lepas lagi (well, kecuali di Nusa Penida Bali, tapi itu nggak masuk hitungan soalnya udah paketan turis). Pokoknya benar2 nekat deh waktu itu, saya cuma mikir kapan lagi ada kesempatan bisa lihat terumbu karang di pulau terpencil! Dan ternyata, Kenny pun sama sekali belum pernah memakai snorkeling set sebelumnya. Luar biasanya, dengan belajar on the spot dia langsung bisa nyemplung maksimal.

Sebagai pemula, banyak sekali kebodohan2 yang saya lakukan selama snorkeling di sana. Pertama, saya lupa nggak melepas ganjalan fin (kaki katak) baru yang masih kinyis2. Akibatnya, saya berenang dengan menahan sakit perih di mata kaki selama mengitari pantai Mamburit. Jujur ini kesalahan begooo banget dan saya masih malu dan bertanya2 sampai sekarang kalau ingat kejadian itu…kok bisa ya sedodol itu. Hahahahaha luar biasa gimana akhirnya jadi bahan bully-an anak2 waktu itu ><

Kedua, saya berenang terlalu menguras tenaga. Entah gaya berenang saya yang kurang efisien atau emang sehari2 juga nggak rutin berenang sehingga stamina kalah jauh, alias gampang capek. Kalau sudah capek renang, nafas nggak teratur. Ketika ada air masuk snorkel, snorkel clearing tergesa-gesa, nggak ada udara yang tersisa di paru-paru, sementara air masih ada di snorkel, akibatnya jadi panik, dan akhirnyaaa…buyar deh! Saya gelagapan di tengah laut. Untungnya anak2 mau nolongin…gak ngebiarin saya minum air laut banyak2 😛

Ketiga, saya MENYENTUH dan MENGINJAK terumbu karang, yang adalah sebuah kesalahan fatal, Sodara2! Pantangan bagi penikmat dunia bawah laut…jangan pernah memegang (apalagi menginjak) benda apapun yang ada di dalam sana–soalnya kita enggak tahu mengandung apa aja mereka. Sebetulnya saya megang karang itu juga nggak sengaja sih, gara2 miskomunikasi sama anak2 di bawah. Alhasil ketika megang itu rasanya kayak kesetrum. Zzzttt!! gitu. Langsung saya tarik deh ini tangan. Untungnya gak kenapa2.

Kejadian kedua lebih dodol lagi. Kebetulan perahu kami nggak ada “pancikan”/ tangga jadi kalau mau naik ke perahu dari laut itu sulit…buat saya setengah mati naiknya. Nah pas kebetulan ada karang, dengan begonya saya “mancik” di sana maksudnya biar gampang naik ke perahu…dan ternyata malah bzzzzzttttttt!!  Ada sesuatu yang menyengat kaki saya tiba2. Perih luar biasa. Untungnya kami bawa air kelapa di perahu. Aslinya buat diminum…eh jadinya malah saya buat mengobati sengatan makhluk-entah-apa ini. Pas dituang air kelapa, kulit terasa panas dan keluar gumpalan putih2 kecil dari bekas sengatan itu…yeyek polll wes pokoknya. Setelah itu secara dramatis timbullah semacam bekas yang membentuk “relief” seperti bekas gigitan di kulit. Duh luar biasa kok memangnya. Untungnya besok paginya bekas sengatan itu sudah baikan dan nggak perih lagi.

Overall saya hepi dengan trip ini. Meskipun sebetulnya trip ini masih kuranggg…banget. Bisa dibilang kami hampir nggak mengeksplor pulau Kangean (besar) sama sekali. Padahal saya pengin banget jalan2 di Arjasa (“ibukota”nya Kangean) 🙁 Masalahnya adalah jadwal kapal. Kapal ke Kangean hanya berangkat-balik PP 3 kali seminggu. Tujuan awal kami sebetulnya adalah Kepulauan Sapeken di ujung timur Kangean. Di sana ada pulau2 indah seperti Pulau Saebus, Pulau Masalembu, dll yang konon taman lautnya keren banget. Tapi waktu yang kami miliki cuma Minggu (25 Mei) sampai Kamis (29 Mei) karena Jumat saya sudah harus masuk kerja lagi. Jadilah akhirnya rute perjalanan kami seperti ini:

Day 1 (Minggu, 25 Mei 2014)

06.00 = Berangkat dari Surabaya menuju Sumenep naik sepeda motor. Lama perjalanan sekitar 4,5 jam (sudah termasuk istirahat). Kalau naik bis bisa sampai 7 jam.

10.30 = Sampai di Sumenep, transit di rumah nenek dan pamannya Akbar

18.00 = Naik kapal Sumekar dari pelabuhan Kalianget. Harga tiketnya Rp 76.000 sekali jalan, lama perjalanan 10 jam. Bisa juga naik kapal cepat Express Bahari, lama perjalanan 4 jam, tiket sekitar Rp 175.000 – Rp 200.000.

Tiket Kapal Sumekar

Tiket Kapal Sumekar

Perjalanan naik kapal ini cukup dramatis. Seperti umumnya kapal trans-pulau, Kapal Sumekar membawa serta berkarung2 hasil bumi, sepeda motor, dan kebutuhan2 pokok lainnya. Ada beberapa kamar dan kursi dalam jumlah terbatas, tapi mayoritas para penumpang menggelar tikar di lantai dan tidur bergelimpangan di koridor2 kapal. Untungnya, tantenya Akbar kenal dengan si kapten kapal (sebut saja Mr B) sehingga kita di-booking-kan tempat spesial di anjungan (ruang kemudi yang seharusnya khusus untuk nahkoda dan ABK).

Namun ternyata, secara halus Mr B menyuruh kami keluar dari anjungan. Alasannya karena akan ada banyak ABK sehingga dikhawatirkan ruangannya tidak cukup. Sampai di sini saya berpikir “wah ternyata orang ini tegas dan jujur juga ya…” Tapi ternyata perkiraan saya salah besar Sodara2! Nanti deh akan ada ceritanya pada saat perjalanan kembali dari Kangean.

Alhasil, Akbar dan Kenny keluar dari anjungan. Sebetulnya saya diperbolehkan tinggal di dalam oleh Mr B dengan alasan “kasian cewek sendiri” tapi tentunya saya gak mau berpisah dengan teman2. Saya juga merasa gak nyaman ditinggal di anjungan sendirian dengan para ABK yang yaa…gitu deh 😐 Akhirnya saya mohon izin untuk keluar anjungan dan menyusul teman2.

Anak2 ternyata berpindah posisi di atap kapal. Di sana kami bergabung dengan para backpacker lainnya; ada yang dari Jogja, Surabaya, dll yang sama2 bertujuan snorkeling di Kangean. Kami sempat saling bertukar informasi. Mereka bertujuan sama dengan kami, yaitu Kepulauan Sapeken di ujung timur Kangean. Namun kami tidak jadi ke sana karena menurut tantenya Akbar terlalu jauh dan takut gak nututi…sementara kapal balik dari Kangean berangkat Rabu pagi. Kapal selanjutnya baru ada hari Sabtu. So, jadwal kami benar2 mepet. Praktis kami hanya punya waktu 2 hari penuh di Kangean. Karena itulah akhirnya kami memutuskan untuk berbelok arah ke Pulau Mamburit saja yang terletak di barat laut Kangean.

Tidur di atap kapal yang terbuka pada malam hari adalah pengalaman luar biasa buat saya. Angin kencang menampar-nampar kulit, tapi kami bisa melihat gebyaran bintang yang luar biasa kereeennn! Bisa bayangin kan gimana indahnya bintang2 di tengah laut? Tidur telentang di atap kapal, sekelilingmu laut yang gelap, dan tubuhmu cuma dibungkus selembar jaket, tapi kamu senang 😀 Menjelang malam angin semakin kencang. Para backpacker lain mendirikan tenda darurat di atap kapal dan membiarkan cewek2 tidur di sana, sementara yang cowok2 bergelimpangan tidur di luar kena angin. Untungnya malam itu nggak hujan. Kalo ujan…buyar deh acaranya.

Day 2 (Senin, 26 Mei 2014)

04.00 = Saat Subuh kapal merapat di pelabuhan Batu Gulok. Ya, sampailah kami di Pulau Kangean! Akhirnyaaa… Kami bergegas mencari musholla terdekat untuk shalat dan istirahat. Setelah itu kami mencari2 informasi tentang perahu ‘taksian’ menuju Pulau Mamburit.

05.30 = Naik perahu menyeberang ke Pulau Mamburit, ongkos per orang Rp 10.000 saja. Adegan selanjutnya bisa dibaca di Mamburit Part 1 🙂

Day 3 (Selasa, 27 Mei 2014)

Pagi hingga siang hari kami habiskan dengan bercengkerama keliling Mamburit dari rumah ke rumah. Rasanya udah kayak kenal orang satu pulau saja. Kami sarapan ikan cakalang sambil ngobrol2 dengan Pak dan Bu Mashur. Ceritanya mereka ini punya anak bernama Inong yang merantau di Jember. Jadi mereka itu suka kasihan kalau lihat anak2 muda perantau seperti kami (emang tampang backpacker itu selalu kelihatan melas2 gitu yaa hahaha). Cerita lengkapnya baca di sini yaa Mamburit Part 2 😉

Day 4 (Rabu, 28 Mei 2014)

Sebetulnya Om Rifai, paman dari Dewi teman saya, sangat ingin agar kami bisa menyambangi rumahnya di desa Laok Jangjang, pulau Kangean besar. Saya pun juga sangat ingin mampir ke Arjasa membeli oleh2 hasil ukiran yang bagus. Hari ini sebetulnya kesempatan emas untuk menjelajah pulau Kangean besar, dengan landscape hutan dan perbukitannya yang mengagumkan.

Sayang sekali, kapal Sumekar dijadwalkan kembali ke Kalianget hari Rabu jam 9 pagi. Sebetulnya ada kapal lain yang berangkat dari Sapeken, yaitu kapal Perintis (kapal barang), yang dijadwalkan tiba di Batu Gulok sekitar jam 6 malam. Harusnya kami bisa menumpang kapal ini dan sampai di Kalianget hari Kamis pagi, jadi kami punya waktu seharian untuk jalan2 di Kangean besar. Lalu Kamis siang kami balik ke Surabaya, perfect kan.

Tapi anak2 keberatan untuk pulang terlalu mendadak ke Sumenep. Alasannya karena capek dateng2 langsung menyetir motor ke Surabaya…yah sudah jadi saya mengalah dan akhirnya kita ikut kapal Sumekar yang berangkat pagi2. Sayang banget sebetulnya nggak bisa explore Kangean besar, mudah2an nanti ada kesempatan lagi 😐

05.00 = Bangun, subuhan. Kami menikmati sunrise terakhir di Mamburit. Sebagai salam perpisahan, kami bertiga memanjat menara mercusuar di belakang tenda. Pulau Mamburit tampak luar biasa dilihat dari ketinggian. Selamat tinggal Mamburit, sampai ketemu lagi! :’)

STA60810

View from the top

STA60806 STA6080806.30 = Mulai packing dan beres2 tenda. Lalu kita numpang mandi untuk terakhir kalinya sekaligus pamitan ke rumah Bu Mashur. Tau nggak, orang2 Mamburit ini memang luar biasa baiknya. Pak dan Bu Mashur dengan sekuat tenaga menolak sejumlah uang yang kami berikan sebagai ganti makanan dan tempat mandi yang sudah mereka sediakan. Bagi mereka, membantu kami seperti halnya membantu anaknya sendiri yang sedang di perantauan. In the heart of remote village, you find a true sincere heart… :’)

08.30 = Berangkat ke pelabuhan Batu Gulok menggunakan perahu Mas Ruji. Kita diturunin persis di samping kapal Sumekar yang sudah standby di tengah laut, jadi kita langsung loncat dari perahu gitu masuknya gak lewat pelabuhan. Sangar men!

09.00 – 18.00 = Perjalanan laut kembali ke Kalianget. Seperti yang sudah saya ceritakan, saat hari keberangkatan ke Kangean (Minggu malam), si kapten kapal (Mr B) berpesan kepada kami untuk langsung naik ke anjungan saat pulang ke Kalianget nanti (Rabu pagi). Sebagai anak2 polos lugu tanpa dosa (halah) kami berpikir “wah…pasti mau dikasih gratisan nih…” 😛 Dan tau gak ternyata apa??? Saat tiba di anjungan ternyata kami malah dimintai ongkos yang lebih tinggi. Jreng jrenggg!!! Awalnya dia minta Rp 100ribu per orang (padahal di loket resmi cuma Rp 76ribu), tapi karena kelihatan tampang kami bingung masih “ketenggengan” akhirnya dia diskon jadi Rp 250.000 untuk 3 orang. Dalam hati rasanya penginnn banget nampol muka om-om korup ini. Huh! Sekarang tahu deh kenapa pas berangkat kemarin kita diusir dari anjungan–soalnya kita sudah terlanjur beli tiket resmi! Ya Tuhan…rasanya syok banget kita habis menerima segala ketulusan dan kebaikan hati orang Mamburit tiba2 ketemu dengan aparat2 korup semacam si kapten kapal ini. Duh! Memang orang di dunia ini macem2 yah. It’s just so ironic that we meet both of them just right after each other.

Yah tapi semua itu kita ambil hikmahnya lah… Untungnya kita bisa tidur di karpet ruang ber-AC di anjungan, gak panas-panasan dengan penumpang lain di lantai kapal. Kamu tahu, suasana kapal Sumekar ini memprihatinkan lho! Karena kamar dan tempat duduk terbatas, sebagian besar penumpang bergelimpangan tidur dengan alas seadanya di lantai koridor kapal. Melas kan 🙁

Penumpang kapal bergelimpangan di lantai

Penumpang kapal bergelimpangan di lantai

IMG_20140528_122111

Mending ngisis di haluan aja…

Setelah tidur siang, kami bercengkarama di haluan kapal sambil menikmati suasana sore. Matahari tampak begitu cantik sementara ikan-ikan terbang (a.k.a. ikan Indosiar itu loh) melompat-lompat mengiring laju kapal. Kami juga bisa melihat gugusan pulau-pulau kecil yang berada di timur Madura (Pulau Raas, Sapudi, Gili Labak, dll). Gak disangka-sangka, lagi asik-asik ngobrol mendadak kami disapa oleh sepasang makhluk asing. Ternyata oh ternyata…mereka berdua adalah teman kuliah Akbar. Sungguh kebetulan bisa ketemu teman di kapal dari pulau terpencil ini 😮

Jadi ceritanya, sebelum berangkat ke Kangean si Akbar sudah mengontak seorang temannya yang asli orang Kangean, namanya Firdaus. Yah siapa tau yang bersangkutan lagi pulang kampung dan kita bisa dapet tumpangan gitu… Tapi kok no HP nya enggak aktif. Ya sudah berarti pertemuan gagal. Tapi ternyata takdir mempertemukan mereka di haluan kapal Sumekar…(halah) Firdaus dan Reni ternyata sudah berada di Kangean saat dihubungi. Jelas aja nomornya enggak aktif… FYI di Kangean kartu SIM yang bisa aktif cuma Telkomsel aja. Lainnya matek yek. Pokoknya betul2 nggak disangka banget deh mereka bisa ketemu di kapal Sumekar itu. Alhasil kita pun janjian untuk jalan-jalan bersama malam harinya.

Tak terasa waktu Maghrib tiba dan kapal pun merapat di pelabuhan Kalianget. Kami pulang, makan, dan beristirahat di rumah pamannya Akbar. Malam harinya, sesuai janji, kami jalan-jalan ke alun-alun Kota Sumenep bersama Firdaus, Reni, dan teman2 mereka. Kita makan gorengan lesehan, naik motor-motoran pake baterai (asli ini serasa MKKB banget…motor buat anak kecil dinaikin orang2 segede gaban), dan ngobrol guyon2 gak jelas. BTW alun2 Sumenep bagus juga loh… Apalagi kalau malam gitu rame banyak anak2 kecil dan keluarga pada ngumpul. Ya heboh lah pokoknya.

Semakin malam kita semakin ngantuk lalu pulang dan numpang tidur di rumah pamannya Akbar. Akhirnya ngerasain kasur juga! Zzzzz…

Day 5 (Kamis, 29 Mei 2014)

Pagi2 kami sudah disuguhi sarapan nasi pecel khas Sumenep. Hmm, bumbunya sedap… 😀 Lalu setelahnya bersama sepupu2 Akbar (Tita, Inong, Oyin, dll) kami mengunjungi Museum Keraton Sumenep. Sumenep dulunya adalah sebuah kerajaan yang didirikan oleh Arya Wiraraja (ingat kan, dia dulu membantu Raden Wijaya sebelum mendirikan Majapahit). Karena itu, meskipun orang Madura identik berwatak keras, namun orang Madura Timur (Sumenep dan Pamekasan) pada umumnya merupakan golongan yang lebih kalem dan “priyayi”.

Tiket masuk museum enggak mahal, berapa ya…cuma Rp 5.000 kalo gak salah. Nih cekidot isinya yah.

IMG_20140529_095827

IMG_20140529_111056

IMG_20140529_110235IMG_20140529_110109

IMG_20140529_105159

IMG_20140529_104613

IMG_20140529_104011

IMG_20140529_102600

IMG_20140529_102302

IMG_20140529_100756

IMG_20140529_100649

IMG_20140529_100332

Dari museum kami sebetulnya mau lanjut ke Asta Tinggi (kompleks pemakaman raja-raja Sumenep) tapi waktunya nggak nutut. Setelah mampir shalat Zhuhur di Masjid Agung kami pulang dan makan siang. Nggak disangka tantenya Akbar ternyata sudah menyiapkan hidangan spesial yaitu…KALDU! Tau nggak “kaldu” itu apa? Yup, ini adalah makanan unik khas Sumenep, berupa gulai kacang hijau campur daging. Pertamanya aneh pastinya makan ini. Kacang hijau kan biasanya dibuat bubur manis dengan santan dan gula merah…dimakannya pun sebagai camilan. Lah ini kacang hijaunya dijadikan gulai dan rasanya asin…dicampur daging…dimakan pakai nasi pula 😮 Meskipun awalnya gimana gitu, lama2 enak juga jadinya 😀

IMG_20140529_124607

Kaldu = kacang hijau + gulai daging

Sekitar jam 1 siang kami memutuskan berangkat pulang ke Surabaya. Perjalanan pulang terasa lebih cepat…Tahu2 saja sudah sampai di Suramadu. Kami pun berpisah jalan. Akbar dan Kenny lanjut pulang Malang, sedangkan saya balik ke kosan. Well, berakhir sudah backpacker trip kali ini. Begitu berkesan dan menyenangkan! Sampai sekarang saya masih bisa merasakan hawa hangat pulau Kangean-Mamburit…dan suatu saat masih pengin ke sana lagi. Apalagi kami belum tuntas explore pulau Kangean besar dan kepulauan Sapeken di sebelah timur…masih penasaran! 😀

Oya ini sekedar tips yaa bagi kalian yang mau nge-trip ke Kep. Kangean:

1) Sesuaikan rencana trip dengan jadwal kapal. Ini penting banget…kalian gak mau kan liburan jadi terburu2 karena takut ketinggalan kapal. FYI ada 3 kapal yang melayani rute Kalianget (Sumenep) – Batu Gulok (Kangean).

Kapal Sumekar

Kapal besar, lama perjalanan 8-10 jam, tarif Rp 76.000, berangkat setiap Minggu, Selasa, dan Jumat jam 18.00 dari Kalianget. Balik lagi hari berikutnya pagi2 (Senin, Rabu, Sabtu) dari Kangean. Tapi khusus rute hari Minggu langsung lanjut ke Kep. Sapeken, jadi balik ke Kalianget-nya Senin sore. Tips naik kapal ini: datang cepat2 supaya dapat tempat duduk. Bisa juga sewa kamar dengan tarif sekitar Rp 300ribu bisa buat orang banyak. Otherwise, bawalah tikar dan siap2 nggempor lesehan di lantai. Cara alternatif yaa nyogok kapten kapal biar bisa masuk anjungan *kayak kita* huahahaha atau manjat aja ke atap kapal sambil menikmati angin 🙂

Kapal Express Bahari

Kapal kecil, lama perjalanan 4 jam, tarif Rp175.000-Rp200.000, berangkat setiap Senin, Kamis, dan Sabtu pagi dari Kalianget. Balik lagi Selasa pagi, Jumat siang, dan Minggu pagi dari Kangean. Kata temenku sih naik kapal ini lebih serem karena kapalnya kecil jadi dia ngikutin ombak gitu…Bayangin tinggi ombak bisa sampai setinggi jendela kapal…wow!

– Kapal Perintis

Kapal barang, jadwalnya 10 hari sekali. Nggak pasti jadi mendingan tanya ke orang pelabuhan dulu kali ya.

2) Penginapan di Kangean cuma ada di Arjasa (ibukota Kangean). Selain itu kamu bisa numpang di rumah warga atau kemping. Tapi hati2 kemping di Pulau Kangean besar, karena banyak anak2 muda yang suka mabuk2an dan bikin onar (malak, merkosa, dll). Kalau di pulau2 kecil kayaknya lebih aman.

3) Di Pulau Kangean besar nggak ada angkot…adanya cuma “colt pick-up” sama “ojek”. Perlu diketahui, panjang Pulau Kangean dari Batu Gulok (ujung barat) ke Kayuaro (ujung timur) sekitar 45 km. Jalan rayanya sudah banyak yang rusak. Waktu tempuh 2 jam lebih. Sebagai bayangan, ongkos colt melintasi jalur tsb sekitar Rp30.000, kalau naik ojek bisa Rp 50.000 lebih.

4) Untuk menghubungkan antar pulau kecil ada yang disebut “perahu taxian”, ya semacam bus kota gitu deh, dengan jadwal dan tarif yang sudah ditentukan. Contohnya taxian dari Batu Gulok ke P. Mamburit, dari P. Sapeken ke Kayuaro, dll. Kalau mau ke pulau2 kecil di luar rute perahu taxian, harus menyewa perahu sendiri. Harga sewa bervariasi, saya nggak tahu juga ada yang bilang Rp 450.000 ada yang bilang Rp 1,5 juta per hari, kapasitas 10-15 orang. Kalau ini sih pinter2nya kita nego aja sama yang punya perahu ya. Buktinya kita kemarin keliling Mamburit juga dikasih gratis… 😀

5) Kalau mau snorkeling/diving bawa peralatan sendiri ya. Jangan lupa bawa pelampung dan safety tools lainnya. Kalau bisa berbanyak orang aja deh biar lebih aman 😉

6) FYI, penduduk P. Kangean sebagian besar suku Madura. So better if you bring someone who can speak this language. Tapi di Kep. Sapeken (bagian timur) penduduknya lebih majemuk, kebanyakan orang Bugis dan ada orang Tionghoa juga. Pulau Sapeken adalah pusat perdagangan dan keramaian di daerah ini.

7) Enjoy, documentate, and tell the story to the world! Happy holiday! 😀

IMG_20140529_102921

Pose lagi deh!

Memori di Mamburit (1)

Memori di Mamburit (1)

Udara fajar masih terasa menggigit ketika kami berlarian sepanjang jalan setapak menuju dermaga Batu Gulok. “Ayo cepat, kapalnya sudah mau berangkat!” teriak si bapak sambil melambaikan tangan. Bertiga kami bergegas memacu langkah dengan segenap beban yang merentengi punggung dan pundak kami. Perahu kecil itu–untungnya–telah memutar arah demi menunggui kami naik ke kapalnya.

“Terima kasih Pak!” kami melambai pada si bapak yang baru saja kami kenal di musholla saat shalat Subuh tadi. Akbar, Kenny, dan saya segera melucuti beban2 kami–1 carrier besar, beberapa ransel dan tas selempang–lalu duduk beristirahat di perahu kecil itu. Matahari belum lagi tampak sempurna, tapi kami sudah bisa melihat jernihnya air laut yang mengitari perahu. Air bening biru kehijauan itu menunjukkan dengan jelas kepada mata telanjang kami bebatuan dan koral yang ia simpan di dasarnya. Perasaan saya campur aduk–antara bahagia dan tidak percaya. Saya masih tidak menyangka bahwa kami sudah berada di Pulau Kangean, pulau yang telah lama diidam-idamkan untuk pergi ke sana. Perjalanan laut selama 10 jam dari pelabuhan Kalianget, Sumenep, telah kami lalui demi mencapai kepulauan ini. Dan sekarang, kami langsung memulai perjalanan lagi menuju pulau kecil di ujung barat laut Kangean, Pulau Mamburit.

Berperahu menuju Pulau Mamburit

Berperahu menuju Pulau Mamburit

Matahari masih malu-malu muncul di ufuk timur ketika perahu kami mengarahkan moncongnya menuju pulau nyiur tersebut. Hanya 10 menit perjalanan, perahu telah membuang sauh di tepi pantai. Tibalah kami di Pulau Mamburit.

Pantai Mamburit sangat menggoda wisatawan dengan pasir putihnya yang bersih dan air lautnya yang jernih. Dari tepi pantai hingga ke tengah laut, gradasi warna biru tampak jelas bertingkat-tingkat…sungguh pemandangan yang mengagumkan. Mamburit sendiri bukanlah sebuah pulau besar. Hanya butuh waktu 2 jam untuk jalan kaki mengelilingi pulau seluas 8 hektar ini. Penduduknya berjumlah sekitar 600 KK atau hampir 2.000 jiwa. Seperti semua pulau di Kepulauan Kangean, listrik tidak menyala pada siang hari. Beberapa penduduk memiliki genset, tapi lainnya otomatis hanya bisa menikmati peralatan elektronik saat malam saja. Tidak heran bila kami menjumpai blender unik–diputar dengan tenaga manual tangan–di warung tempat para bocah SD bergerombol untuk membeli Pop Ice.

Pantai Mamburit

Pantai Mamburit

DSCF0670

Berkilauan ditimpa cahaya matahari

Masuk ke dalam pulau, kami disambut oleh suasana pedesaan yang nyaman, dengan rumah2 sederhana dan pepohonan rindang menaungi jalan setapak yang masih berupa tanah. Sepanjang jalan kami menemukan banyak pohon kelapa dan pohon sukun–vegetasi khas di pulau Mamburit. Rumah2 penduduk kebanyakan berdinding bata semi permanen, meskipun tidak jarang pula yang sudah berkeramik bagus. Batu bata putih adalah material bangunan khas Madura yang juga digunakan di pulau ini–konon dengan harga setara, kekuatannya lebih dari bata merah biasa.

Rimbunnya pohon kelapa

Rimbunnya pohon kelapa

Penduduk Mamburit, pada kesan pertama, adalah pribadi yang luar biasa ramah dan terbuka. Kesan itu semakin menguat pada hari-hari berikutnya. Pagi itu kami bertemu dengan Mas Ruji, adik kepala desa, untuk meminta izin mendirikan tenda di tepi pantai. Dengan tangan terbuka, beliau menyambut dan mengantarkan kami menuju pantai utara pulau, tempat yang dia rasa paling aman untuk berkemah. Di kaki mercusuar, 2 meter saja jaraknya dari bibir pantai, di situlah kami mendirikan tenda selama 3 hari 2 malam.

Tempat itu adalah tempat yang sempurna. Dari dalam tenda, jernihnya air laut dan suara deburan ombak dapat kami nikmati tanpa jeda. Kami bisa melihat matahari terbit dan tenggelam langsung pada hamparan langit yang sama. Dan ketika malam tiba, bintang-bintang bagai permata seakan tumpah dari keranjangnya menghiasi langit yang gulita. Indah dan sederhana.

Tenda di tepi pantai

Tenda di tepi pantai

Pemandangan dari dalam tenda

Pemandangan dari dalam tenda

Pada hari pertama, sesuai tujuan utama, kami langsung menceburkan diri ke laut menyusuri pantai Mamburit. Laut yang bening itu ternyata menyimpan kemalangan di dasarnya. Apa yang kami temukan sedikit mengecewakan dan memiriskan hati. Terumbu karang di bibir pantai itu, hampir semuanya telah hancur berkeping-keping. Hanya potongan koral berserakan yang bisa kami temukan, diselingi dengan gerombolan bulu babi di sana sini. Sedikit sekali terumbu karang utuh yang tersisa. Mas Ruji mengatakan bahwa hancurnya terumbu karang itu adalah akibat pengeboman ikan besar-besaran pada 1980-an. Kami mengelilingi separuh pantai pulau tersebut, tapi tetap menemukan hal yang sama. Tidak ada pemandangan bawah laut yang bisa dilihat di sini, semuanya hancur terkena bom. Rasa kecewa sempat melanda, namun kami tetap berpikiran positif. Esoknya kami merencanakan untuk menyewa perahu dan mencari spot snorkeling yang agak jauh dari pantai.

Sisa terumbu karang yang hancur berkeping-keping

Sisa terumbu karang yang hancur berkeping-keping

Gerombolan bulu babi

Gerombolan bulu babi

Bintang laut yang sendirian

Bintang laut yang sendirian

Kami menghabiskan sisa hari itu dengan bercengkerama bersama penduduk pulau. Bertiga kami menumpang mandi di rumah Pak Mashur, pemilik warung yang luar biasa baik hati karena mengizinkan rumahnya menjadi “basecamp” kedua kami. Akbar dan Kenny sempat kembali melaut dengan sampan kecil bersama teman Pak Mashur. Sore itu kami berkenalan pula dengan Mas Zainul, orang Jawa yang ‘terdampar’ di Pulau Mamburit karena istrinya bertugas sebagai satu2nya bidan di pulau ini. Malamnya, tanpa diduga kami kedatangan tamu-tamu istimewa. Mas Ruji datang menyambangi tenda kami dan bercerita banyak tentang sejarah Pulau Mamburit dan Kangean. Berikutnya, Pak Nurul, yang ternyata sepupu dari om teman saya Dewi, datang pula untuk menjenguk kami. Belum genap sehari kami berada di pulau ini, serasa sudah banyak yang kami kenal dan pelajari di sini. Mamburit adalah pulau yang sangat bersahabat 🙂

Mas Ruji, adik kepala desa Mamburit, such a nice man :)

Mas Ruji, adik kepala desa Mamburit, such a very nice man 🙂

Malam itu, ditemani cahaya lampu senter dan suguhan biskuit Oreo, berbagai cerita menarik mengalir dari Mas Ruji di tenda kami. Menurutnya, pulau ini dahulu bernama “Pulau Anjerit”, yang kurang lebih berarti “pulau menjerit”. Konon katanya, dahulu pulau ini bersambung menjadi satu dengan Pulau Bawean (pulau di sebelah utara Gresik). Suatu malam, pulau Bawean “bepergian” ke arah Barat. Namun anehnya, bagian pulau yang lain seakan “terjerat” pada dasar laut sehingga tak bisa ikut bergerak. Pulau itupun menjerit “tungguuu…jangan tinggal saya…” Namun terlambat, Bawean telah sampai pada posisinya sekarang sementara kawannya tetap tinggal di Kangean tak bisa bergerak. Itulah pulau Mamburit kini.

Mas Ruji orang yang menggemari cerita-cerita berbau mistis. Menurutnya, arwah Bung Karno sering berkunjung ke pantai sekitar Mamburit untuk berkumpul dengan makhluk2 halus lainnya. Mamburit juga memiliki penjaga seekor ikan besar dan seekor naga yang bersemayam di dasar pulau. Karena itu, tak seorangpun bisa mengusik pulau ini. Tentang patok-patok beton yang berbaris membujur di pantai depan tenda kami, ia berkisah bahwa patok-patok itu dulunya dipancangkan oleh perusahaan yang ingin melakukan pengeboran di lepas pantai Mamburit. Konon katanya di dasar pulau ini tersimpan sumber emas (atau minyak, mungkin). Namun kepala desa tidak memberikan izin. Lalu entah bagaimana hingga kini pengeboran belum dilanjutkan kembali.

Patok-patok baja di lepas pantai Mamburit

Patok-patok beton di lepas pantai Mamburit

Soal politik, Mas Ruji sempat menceritakan bagaimana dramatisnya Pemilu kepala desa Mamburit tahun lalu. Kakek Mas Ruji sendiri dulunya adalah orang yang mula-mula “merintis kehidupan” di Pulau Mamburit. Sebagai adik kepala desa, Mas Ruji mengerti betul bagaimana proses kakaknya terpilih sebagai kepala desa asli Mamburit setelah bertahun-tahun posisi itu dijabat orang Kangean. Pada Pemilu tersebut, dari 4 calon kepala desa, hanya 1 orang yang berasal dari Mamburit, yaitu kakak Mas Ruji. Lainnya adalah orang Kangean (pulau Kangean besar–Red).

Saat penghitungan suara, ada kelebihan 3 kertas suara dari jumlah pemilih yang seharusnya. Ketiga kertas suara itu disepakati oleh panitia untuk disisihkan dan tidak dihitung. Namun, hasil akhir penghitungan menunjukkan bahwa calon no IV (orang Mamburit) menang selisih 2 suara saja dari calon no III (orang Kangean). Melihat kenyataan itu, tentu saja para pendukung calon Kangean protes. Mereka minta 3 suara tadi dibuka dan ikut dihitung. Saat panitia menolak, celurit pun bicara. Akhirnya, mau tidak mau 3 kelebihan suara itu dibuka dan dihitung lagi. Hasilnya sungguh dramatis. Calon no IV tetap menang dengan selisih 1 suara saja dari calon no III. Kakak Mas Ruji pun resmi terpilih menjadi Kepala Desa.

Kisah-kisah Mas Ruji menambah pemahaman kami tentang pulau ini. Setelah beliau pulang, kami masih kedatangan tamu Mas Zainul dan Pak Nurul yang saya sebutkan tadi. Sampai malam kami bercengkerama di kaki mercusuar. Saat itu pula kami bertemu dengan Pak Bambang dan istrinya, penjaga pos mercusuar yang hanya tinggal di sana saat malam hari.

Malam semakin larut dan kantuk pun semakin mendera. Kami bertiga berangkat tidur dalam tenda mungil, beratap bintang-bintang, berselimut angin pantai, dan berninabobokan suara debur ombak. Pengalaman yang luar biasa buat saya. Satu hari telah terlewati, kami terlelap dengan harapan menyibak keindahan taman laut Mamburit keesokan harinya.

STA60781

Can you see below the sea?

(Bersambung ke bagian 2)