Jakarta Koper vs Jakarta Ransel

Jakarta Koper vs Jakarta Ransel

Jakarta, ibukota yang nggak ada matinya. Kota di mana mimpi-mimpi terwujud, juga kota di mana mimpi-mimpi menjadi pupus. Kota di mana orang kaya merasa sangat kaya, dan orang miskin merasa sangat miskin. Well, maybe I’m lucky to experience both: menjadi tourist yang menenteng koper dengan bujet berlebih, juga menjadi traveler kere yang cuma bermodal ransel di punggung. Baik dengan koper maupun dengan ransel, kamu menikmati Jakarta dengan cara yang berbeda.

Jakarta from above

TRANSPORTASI

Cara Koper

Dengan bujet berlebih kamu bisa pergi-pulang naik pesawat, dengan transport bandara senyaman mungkin. Berangkat ke bandara Juanda naik taksi, keluar dari bandara Cengkareng dijemput mobil carteran atau naik taksi lagi, wuih bener2 zhen fangbian dan gak perlu mikir apa2 lagi deh. Mau argo taksi berjalan terus menggila juga enggak bakalan deg-degan, duit ada berlimpah di tangan. Yang penting sampek tujuan dengan cepat dan nyaman 😎

Itu soal transport antar kota. Soal transport dalam kota, ke mana-mana kamu  tinggal nyegat atau telepon BlueBird. Ini dia taksi biru yang merajai jalanan Jakarta. Pokoknya kalo pengin aman dan nyaman di Jakarta lebih baik pakai taksi ini (dan taksi lainnya yang satu grup kayak White Horse, Silver Bird, etc). Enaknya pakai BlueBird mereka sudah punya sistem canggih dan terintegrasi yang bisa mendeteksi apapun, termasuk barang yang ketinggalan di dalam taksi (I’ll tell you later about it).

Yang ini juga “BlueBird”…edisi roda tiga 😛

Nah, jadi intinya kalo kamu ke mana-mana naik taksi, kamu enggak perlu merasakan panas-panasan, desek-desekan, gak perlu khawatir kecopetan dan segala macam momok transportasi umum Jakarta. Habis belanja dari mall lantai sepuluh enggak perlu susah2 turun nenteng belanjaan sampai pinggir jalan untuk nyegat bajaj, cukup ke pangkalan taksi yang sudah available di lantai atas. Walaupun terjebak macet kamu juga nggak merasa gerah, tinggal tidur-tiduran aja di dalam taksi ber-AC, gak perlu deg-degan biarpun argo jalan terus. Pokoknya kamu gak akan merasakan tersengat teriknya matahari Jakarta. Keluar gedung ber-AC langsung masuk taksi ber-AC, keluar lagi langsung masuk gedung ber-AC lagi…wuih mantap. Gak keringetan dan gak kumus-kumus. Emang enak sih jadi turis berduit 😀

Cara Ransel

Seapes-apesnya cara ransel adalah NAIK BIS. Peringatan ya, kalo gak siap capek, pegel, bosen, badan sakit semua, jangan pernah sekalipun naik bis ke Jakarta. Terutama untuk kamu2 yang rumahnya jauh. Mendingan naik kereta ekonomi deh. Lebih murah dan lebih cepet. Tiket KA Ekonomi Surabaya-Jakarta cuma Rp 110.000, lama perjalanan sekitar 12-14 jam. Kalo naik bis (eksekutif Rp 285.000), paling cepat kamu bisa sampai dalam 18 jam, dan kalau apes kena macet+mogok+dll (which is hampir selalu ada), kamu bisa 24 jam full di dalem bis. Gila deh pokoknya, bikin kapok.

Misalnya kamu pas beruntung dapet tiket pesawat murah, bersiaplah ke bandara dengan cara ransel juga. Kamu harus jalan dulu, nyegat angkot, oper bis kota, hingga akhirnya sampai di Terminal Bungurasih. Dari Terminal Bungurasih barulah kamu bisa naik bis Damri khusus ke Juanda. Yang bikin deg-degan adalah, karena kamu naik transportasi umum yang gak jelas waktunya (suka ngetem, suka macet, ditungguin gak dateng2) kamu harus pastikan punya spare time waktu yang banyak sebelum pesawatmu berangkat. Misalnya kalo naik taksi kamu cuma butuh waktu satu jam ke bandara, kalo naik transport umum kamu harus siap sekitar 3 jam sebelumnya. Karena kamu nggak pernah tahu apa yang bakal terjadi di jalan…serius. Ya namanya aja cara murah, rugi waktu gak masalah yang penting bisa nyampek kan.

Selama di Jakarta, bujet minim memaksamu untuk mengambil segala alternatif transportasi umum rakyat jelata. Bye bye taksi. Sekarang kamu harus nekat naik bus KOPAJA, metromini, angkot, bajaj, dan sejenisnya itu deh. Sebenernya yang agak mendingan itu ya naik bus Transjakarta. Busnya adem dan relatif nyaman lah ya biarpun bête juga sih kalo pas lagi desek-desekan. Tiketnya cuma Rp 3.500 dan kamu udah bisa oper ke manapun. Cuma ya itu, bus ini belum menjangkau semua daerah Jakarta. Dan juga, bus ini lebih cocok dipakai kalau kamu enggak terburu waktu, apalagi kalo kamu mesti transit oper bus bakal makan waktu banget untuk nungguin busnya. Di jalan2 protokol Jakarta, halte bus ini sudah terintegrasi dengan jembatan penyeberangan lho, keren kan. Jadi pejalan kaki bisa berjalan dan menyeberang dengan aman ke halte bus Transjakarta.

Tiket bus Transjakarta

Yang paling “horor” adalah naik KOPAJA. Ini bus udah bobrok, larinya ugal-ugalan, dan kalo berhenti sistemnya pake “kernet ketok2 kaca sambil teriak2” gitu. Udah gitu ngebutnya nista banget, dan bakalan apes banget kalo kamu pas harus berdiri sehingga badanmu jadi doyong ke sana kemari. Bener2 latihan jaga keseimbangan pokoknya. Kondisi busnya bener2 parah, bahkan ada bus yang beberapa kursinya udah dipreteli, entah karena rusak atau supaya bisa muat penumpang lebih banyak. Yah namanya juga cuma bayar Rp 2.000, gak ada yang bisa diharapkan lah ya.

Kalo angkot di Jakarta lumayan banyak macemnya, yang pernah saya naikin dari halte busway Pemuda menuju Terminal Rawamangun ini termasuk bagus sih mobilnya model kayak APV gitu moncongnya warna biru muda. Ya pokoknya standar kayak angkot2 pada umumnya gitu deh. Bayarnya waktu itu saya kasih Rp 2.000 aja soalnya deket, gak tau juga aslinya berapa ya :p

Kalo kamu pingin transportasi yang bisa “custom” tujuannya, pilih aja bajaj atau ojek. Tapi harus pinter2 nawar ya. Naik bajaj kalo enggak pinter nawar jatuhnya bisa hampir sama kayak naik taksi lho. Bajaj sekarang ada 2 jenis, yaitu bajaj oranye (BBM) dan bajaj biru (BBG). Meskipun pada kenyataannya bajaj biru tetap aja pakai BBM karena pom pengisian BBG masih jarang. Bedanya kalo bajaj biru suaranya lebih kalem daripada bajaj oranye yang “tereng teng teng teng” bikin orang sekampung pada noleh tiap kali si bajaj lewat. Yang bikin surem kalo sopir bajaj-nya suka ngepot. Bayangin di antara macetnya jalanan Jakarta dia meliuk-liukkan bajaj-nya pindah dari jalur satu ke jalur lainnya, gila bikin jantungan banget! Sopir bajaj-nya udah berasa kayak Lorenzo di lintasan MotoGP gitu. But it is a worth life experience though, kapan lagi sih bisa ngerasain pengalaman “ekstrim” ini 😀

Jadi intinya kalo kamu backpacker-an di Jakarta, nikmatilah keseruannya. Inilah saatnya di mana kamu benar2 merasakan menjadi rakyat jelata di kota metropolitan. Ngerasain gimana jalan di atas trotoar yang dipenuhi pedagang kaki lima, sehingga kamu harus melipir ke jalan raya dan berdempet-dempetan dengan sepeda motor di batas nyawa. Ngerasain teriknya matahari, bau keringat, wajah-wajah susah di pinggir jalan dan di kendaraan umum yang kamu naiki. Ya pokoknya welcome to the real Jakarta!
AKOMODASI

Cara Koper

Akomodasi cara koper ya nginep di hotel lah, apalagi coba. Hotel berbintang loh ya, bukan hotel2 melati atau “hotel” ala backpacker. Kamar lux, breakfast mantap, kolam renang, Wi-Fi, semua pegawai hotel tersenyum ramah padamu karena kamu adalah raja. Ya kan kamu yang bayar mereka. Tidur di Jakarta serasa tidur di pegunungan, karena AC nya begitu “nyeeesss” dan selimutnya begitu “nyuuusss”. Kalau malam2 kelaparan tinggal telepon restoran minta delivery, makananmu langsung dianter sampai ke depan pintu kamar dan kamu tinggal bersantap di atas kasur sambil nonton TV kabel. Bangun tidur tinggal pilih aja, mau sarapan atau olahraga atau mandi dulu. Kalau mau breakfast sudah tersedia menu ala chef dengan hidangan dari berbagai negara, segala macam nasi dan lauk-pauknya, segala varian roti dan isinya, dimsum, buah2an, salad, makanan-minuman yang kamu mungkin enggak pernah ngerti sebelumnya bisa kamu santap semua. Bahkan bisa kamu bungkus dan bawa ke kamar kalo kamu cukup enggak tahu malu seperti saya. Kalau mau olahraga tinggal nyebur ke kolam renang sepuasnya, atau mau nge-gym juga bisa. Kalau mau mandi ya udah tinggal masuk kamar mandi aja, masak mau dimandiin sih.

Resto hotel bintang empat…surga dunia!

Soal makanan, kamu juga enggak perlu khawatir karena banyak banget restoran2 berkelas yang siap melayani selera makan kamu. Kalo mau jadi turis yang agak “bersahaja”, kamu bisa pilih rumah makan atau resto siap saji standar dengan menu paling standar, palingan cuma keluar Rp 35.000- Rp 50.000 per orang sekali makan, standar banget lah.

Cara Ransel

Cara paling ngirit tinggal di Jakarta adalah tidur di kolong jembatan. Itu bagi kamu yang gak punya duit dan gak punya temen juga. Kalo kamu beruntung masih punya temen, kamu bisa numpang tidur di rumah temenmu (selama dia mau ditebengin). Namanya juga nebeng, harus siap dengan segala kondisi yang ada di tempat tinggal host. Kecuali host-mu super kaya, kamu gak akan bisa menikmati “tidur di Jakarta serasa tidur di pegunungan” kayak hotel berbintang. Tidur di Jakarta ya kayak tidur di Jakarta: panas, pengap, gerah, gak nyenyak, nyamuk, tikus, kecoa, laba-laba, kadal, dan ular berbisa *nah loh*

Kalau mau beli makan, dengan bujet ranselmu pilihan pun sama banyaknya, sebanyak WARTEG yang ada di Jakarta. Dibilang Warteg pun harga makanannya masih relatif lebih mahal daripada daerah lain. Enggak ada ceritanya Rp 10.000 bisa dapet lauk ayam. Kalau mau makanan harga di bawah Rp 10.000 ya nasi tahu tempe, atau pangsit mie, atau lontong sayur. Lumayan lah ya. Kalo mau ngirit banget, yaudah makan roti aja. Kalo masih laper, yaudah makan bungkusnya juga.

Tapi asyiknya cara ransel, kamu bisa menikmati penganan2 khas Jakarta yang cuma dijual di pinggir jalan. Sebut saja kerak telor, otak-otak ikan, rujak tumbuk, pokoknya yang gak akan kamu dapetin di restoran (kalopun ada udah bukan versi original). Ya dengan cara ini kamu bisa wisata kuliner se kuliner2nya, enggak cuma terbatas di tempat yang ada temboknya.

This is simply deliciosso!

JADI KESIMPULANNYA?

Jadi intinya mau melancong ke Jakarta dengan cara koper atau cara ransel semua punya keasyikan tersendiri. Jakarta memang identik dengan kesenjangan sosial. Menikmati dua cara ini kamu akan tau gimana rasanya jadi kalangan jetset sekaligus rakyat jelata di Jakarta. Bagi orang berduit, Jakarta tuh surga: nggak panas, nggak bising, semua fasilitas hidup lengkap tersedia. Yaiyalah kalo ke mana2 kamu pake mobil ber-AC, tinggal di ruang ber-AC, dan punya duit untuk menjangkau semua fasilitas hidup itu. Tapi bagi orang miskin, Jakarta itu neraka: panas, bising, kumuh, keras dan tidak peduli. Jakarta itu mahal, nggak ramah, nggak nyaman, sumpek dan memuakkan, bikin capek badan dan capek pikiran. Kesimpulannya, kalo gak kaya banget, mendingan jangan tinggal di Jakarta deh 😀

Patung Welcome Jakarta *numpang narsis*

Bali “Tourist” Trip

Bali “Tourist” Trip

Setelah postingan soal backpacker-an ke Jogja, sekarang ada sedikit cerita tentang perjalanan ke Bali 19-21 April kemarin. Masih sama orang2 kantor sih. Cuman bedanya, kali ini staff satu kantor ikut semua. Yah namanya aja rekreasi bonus, jadi semuanya full dibayarin perusahaan. Makanya ini trip lebih pantes disebut “tourist” trip ya, bukan backpacker-an. Secara kita sudah pakai travel agent yang mengatur semua jadwal perjalanan, objek  wisata, akomodasi, konsumsi, transportasi, yah pokoknya tinggal terima jadi lah. Kita tinggal duduk dan seneng2 aja sih. Bener2 turis.

Honestly, selama 22 tahun tinggal di Indonesia, ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pulau Dewata. Serius. Ih, gak usah sampe mlongo gitu deh… Nih langsung aja simak skrinsyut-nya yah…!

Sebelum take-off from Juanda jam 05.15 pagi (gila) on Air Asia

Breakfast at Burger King Ngurah Rai Airport

Sesaji dan arca, selalu ada di depan hampir semua toko dan rumah Bali

Marketing girls at Danau Bratan – Bedugul

Sesi motivasi sambil lunch di Warung Rekreasi Bedugul

Pantai Tanah Lot, ombaknya pas lagi kenceng banget. Mampir ke Holy Water (sumber air tawar) di bawah pura tengah laut.

Penunggang Penyuuuuu

Ini nih ya. Pas  di Tanjung Benoa ini sempet ngicipin yang namanya mainan “FLYING FISH”. Sayang banget enggak ada fotonyaaa… huhuhu T^T. Ini mainan seru banget. Jadi ada 2 banana boat dijadikan satu, kamu dan 1 temanmu berdiri bersandar (kayak pose disalib) di atasnya. Ada guide-nya di tengah2. Lalu motorboat akan menarik kita  sehingga kita meluncur di atas airrr…so fasttt…sampe akhirnya kita melayang terbang di atas laut! Jadi kayak “layangan” gitu deh. Harganya Rp 150ribu. Bisa ditawar sih mestinya.

Private beach di belakang resto Bebek Bengil (The Bay, Nusa Dua)

Nah kalo yang ini di daerah elit-nya Bali: Nusa Dua. Jadi di sini ada kompleks resto mewah yang bagian belakangnya adalah deretan private beach…namanya THE BAY. Cocok lah kalo mau ngadain pesta pinggir pantai gitu.

Waiting for THE BLOW…yeaaaahhhh!!!

Nah ini nih…ini nih bagian PALING SERU dari rangkaian tur ke Bali ini…WATER BLOW!!! Tempatnya dekat The Bay. Ini adalah sebuah pantai dengan ombak kencang dan karang2 tajam nan besar. Perpaduan ini menjadikan deburan ombaknya terasa WOW bangeeettt. Konon katanya pernah ada yang meninggal gara2 tersapu ombak di sana. Makanya dibangunlah jembatan di atasnya supaya para turis bisa menikmati sangarnya ombak Water Blow tanpa khawatir.

Mau tau sensasinya? Kayak kena tsunami! Serius. Badan dihantam ombak setinggi 2 meter yang bikin kamu langsung basah kuyup dari ujung rambut sampai kaki. Tapi SERU GILA!!! Di sini tempatnya kamu seru2an dan gila2an sama  temen2 kamu, asal gak takut basah aja sih. Simak aja nih videonya, pasti kepingiiiinnn 😀

Nah habis dari Nusa Dua ini sebenernya kita ke Pura Uluwatu dan menonton Tari Kecak sambil lihat sunset. Ini juga KEREN BANGEEETTT. I took some good sunset pictures with Kecak Dance…but it’s on my friend’s camera…will post it later yaa!

Dinner romantis di pinggir pantai Jimbaran <3 Mau deh kalo ke sini lagi pas bulan madu :))

All SBE Crew at Garuda Wisnu Kencana

Pantai Kuta yang ramai, kotor, dan begini2 aja. Apa bagusnya?

Ya udah gitu aja sih. Namanya juga “tourist” trip, jadi ya begini2 aja. Tinggal ngikut guide-nya aja. Pulang-pergi naik pesawat, nginep di hotel bintang empat, makan di restoran mewah, pergi ke objek wisata “mainstream”…ya kalo gratis gini enggak apa-apa sih. Tapi lain kali bakal lebih seru lagi yaa kalo bisa “mbolang” backpacker-an di Bali. Masih pengin ke Ubud, masih pengin masuk Pura, masih pengin ngobrol2 sama seniman Bali, masih pengin ke pantai2 perawan yang turisnya sedikit. Well…someday I will…! 😀