Ramadhan Series: “Progressive Believer”

Ramadhan Series: “Progressive Believer”

Ramadhan adalah bulan kontemplatif. Dengan perut kosong dan pengendalian nafsu, Tuhan sebetulnya menyuruh kita untuk berpikir. Dengan mengistirahatkan perut, panca indera, dan alat reproduksi, Tuhan sesungguhnya meminta kita untuk menggunakan otak kita. Berpikir dan merasa, lebih daripada biasanya. Perenungan tentang Tuhan, iman, dan agama justru tidak bisa lepas dari hal-hal duniawi. Sebab pemahaman terbesar tentang Tuhan akan didapat tidak di dalam rumah peribadatanNya, melainkan dalam pergumulanmu dengan makhluk2 ciptaanNya. Dan ketika kamu sudah benar2 memahamiNya, kamu pun tak akan memperoleh manfaat apapun darinya kecuali jika kamu membaginya dengan makhluk2Nya. Sebab iman bukanlah untuk disimpan sendiri, melainkan untuk diaplikasikan demi kemajuan umat manusia. (Read: Agama Aplikatif) Tidak sepenuhnya benar jika ada yang bilang bahwa “iman itu urusan pribadi manusia dengan Tuhan”, karena justru perwujudan tertinggi iman seseorang dapat dilihat dari sikapnya terhadap makhluk ciptaan Tuhan. Sebab, bukankah manusia yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaq (budi pekerti)nya? Manusia yang benar2 beriman dan memahami agamanya, tidak akan terjebak dalam paradigma sempit mengenai Tuhan. Tuhan tidak sesimpel membenarkan ‘Tuhan’ sendiri dan menyalahkan ‘Tuhan’ lainnya. Tidak sesederhana mengejar pahala dan menghindari dosa. Tidak semudah hidup bagaikan biarawati lalu melupakan apa yang terjadi di dunia. (Baca: Menjadi Muslim Sesungguhnya) Agama bukan semata simbol. Sorban dan jilbabmu tidak mencerminkan ketakwaanmu. Keaktifanmu di organisasi keagamaan juga belum tentu menunjukkan derajatmu lebih tinggi daripada yang “awam”. Bukankah segala perbuatan dinilai dari niatnya? Karena itu ibadah bukan semata ritual fisik saja, tetapi makna di dalamnya itu yang lebih penting. (Baca: Esoterisme Agama) Iman yang ideal sudah selayaknya diwujudkan dalam kehidupan yang seimbang–dunia dan akhirat. Menjadi manusia yang sukses scara duniawi, tetapi juga tidak melupakan akhirat sebagai tujuan hidup abadi. Orang2 yang beriman tetapi berpikiran progresif. Beragama dengan akal sehat. Tanpa fanatik buta, tanpa merasa apriori terhadap cara hidup modern. Seorang yang bisa dikatakan sebagai “progressive believer”. “Progressive Believer”, tema inilah yang akan saya usung dalam rangkain blogpost Ramadhan tahun ini. Setelah seri “Renungan Ramadhan” beberapa tahun lalu, Ramadhan kali ini saya ingin membahas profil tokoh2 Muslim yang saya anggap sebagai “progressive believer”, seseorang yang berhasil meraih sukses duniawi dengan tetap berpegang teguh pada imannya. Mudah2an kisah tenang kehidupan mereka dapat menginspirasi kita untuk menjadi muslim yang lebih baik. Semoga bermanfaat dan selamat membaca 🙂 Ramadhan-Inspirational-Quotes-HD-Wallpapers

Newbie Diary (3): Renungan Ramadhan Galau

Newbie Diary (3): Renungan Ramadhan Galau

Ramadhan Jangan Galau

Sampai minggu terakhir Ramadhan tahun 2012 ini, enggak ada satupun tulisan serial Renungan Ramadhan ‘keluar’ dari jari-jariku seperti  tahun-tahun sebelumnya. Bagiku, Ramadhan tahun ini enggak khusyuk banget rasanya. Pertama kalinya Ramadhan di kota lain, pisah dari keluarga dan hidup sendirian, hari-hariku dihabiskan seperti ‘robot’ di tempat kerja dan kos-kosan.

Sahur dan buka yang biasanya tersedia di atas meja, sekarang harus dicari sendiri. Setiap sahur seringnya cuma makan roti, atau nasi yang dibeli semalam, karena malas pergi keluar. Pas sahur enggak bisa nonton Tafsir Al-Misbah karena mbak2 kos lebih suka nonton Mama Nori (well, gw juga suka sih sebenernya :P) Habis Subuhan enggak bisa tadarusan karena mesti cuci baju dan siap2 ngantri mandi. Bayangin, sampe sekarang di kosan Cuma sempet baca Al-Quran 3 kali, itupun Cuma beberapa lembar. Tarawih pun enggak pernah sama sekali, karena habis buka bawaannya ngantuk, masih asing sama masjid di sini, jadinya lebih sering ngobrol2 atau laptopan sampe ketiduran. Asupan rohaniah juga enggak ada karena nggak pernah baca rubrik Ramadhan di koran. Jadilah Ramadhan ini semacam ‘kosong’. Cuma sekedar puasa fisik menahan lapar dan dahaga, tapi batin enggak ada makanannya L

Untungnya di sini enggak terlalu kesepian. Ada Rahayu dan Desi, temen2 “satu geng” di kantor, teman buka bersama dan kadangkala sahur bersama. Di tanah rantau, teman menjadi sama berharganya seperti keluarga sendiri. Dan kami pun mengalami saat2 menyenangkan, buka bersama satu pabrik, buka bersama trainee2 lainnya, gantian menginap di rumah/kos, dan jalan2 keliling kota Surabaya.

Well, enggak kerasa sudah 1 bulan aku kerja di sini, dan aku mulai menikmati tempat ini J Memang benar, yang menjadikan  suatu tempat penuh kenangan adalah kebersamaan kita dengan orang2 di dalamnya. Aku bersyukur punya bos yang baik dan rekan2 kerja yang suportif di divisi Marketing Export. Aku juga senang punya rekan2 yang “gila” dan seru di divisi Produksi. Orang2 yang ramah di HRD, RnD, dan bahkan satpam2nya.

Meskipun aku tahu, saat masa training ku sudah selesai pasti aku juga akan menghadapi “bentrok” dan masalah dengan mereka, tapi itu hal yang wajar dalam pekerjaan. Seperti kata bosku, kalau kamu enggak pernah bentrok dengan rekan kerjamu, ya berarti itu kamu enggak kerja dengan sungguh2.