Dian Pelangi

Umurnya lebih muda dari saya, lahir Januari 1991. Tapi dalam usia belia, dia sudah mencapai apa yang orang seusia dia baru bisa memimpikannya. Dia sudah memimpin bisnisnya sendiri, diundang dalam ajang internasional, traveling keliling dunia, dan bahkan dia sudah menikah dengan laki-laki idamannya. Dia perempuan paling beruntung yang pernah saya tahu.

And she is a believer. Banyak perempuan muda yang sukses tapi tanpa didasari nilai moral yang kuat. Mereka sukses tapi akhirnya terjerat berbagai kasus memalukan; hamil, video porno, dll. Tapi dia malah memilih menikah muda meskipun masa depan karirnya merentang luas, dan terbukti, dia malah tambah beken setelahnya.

Well, dia adalah Dian Pelangi, alias Dian Wahyu Utami, seorang perancang busana muslim yang lagi naik daun. Gak sengaja follow twitternya semingguan lalu, ternyata dia udah ada di mana-mana. Udah masuk Jawa Pos, udah jadi duta AMD Rising Stars (AMD = processor saingannya Intel), udah tampil di Jakarta Fashion Week.

Dian punya segala yang saya inginkan sebagai seorang perempuan muslim-muda-modern. Cantik, modis, cerdas, punya karier, dan laki-laki idaman. Mungkin dia sedikit lebih beruntung karena terlahir di keluarga mapan yang mempercepat kesuksesannya di usia muda, tapi saya rasa dia sudah berhasil menjadi seorang idola baru. She shows that to be a progressive women believer is not impossible.

Orang sudah terlanjur menstigmakan perempuan muslimah seperti orang kolot, pasif, tertindas, dan hidup dalam kungkungan keluarga. Padahal ya nggak gitu-gitu amat kali, halllooo? Saya kagum sama perempuan2 bebas dan cerdas seperti gambaran perempuan2 Barat pada umumnya, dan saya ingin jadi seperti itu, tapi saya nggak seberapa setuju sama aliran feminisme yang mereka usung.

Apakah perempuan bebas berarti harus mau mengeksploitasi tubuhnya dengan berpakaian terbuka? Apakah perempuan bebas juga harus menjunjung seks bebas? Apakah perempuan bebas harus mengejar karir sampai puncak dan tidak menikah apalagi memilik anak?

Dian Pelangi menunjukkan bahwa jawabannya adalah enggak. Bagi perempuan muslim muda yang hidup dalam modernitas, nilai-nilai agama kerap terbentur dengan pergantian zaman. Bisa nggak sih tetap ngeksis, gaul, cerdas, dan terbuka tanpa harus ikut2an dugem, party—tanpa harus mengorbankan nilai-nilai moral religius?

Sebenarnya sedih lho melihat perempuan2 muda muslim di Indonesia kekurangan panutan. Ada beberapa temen yang dulu satu sekolah di madrasah, sekarang karena pengin keliatan gaul dan eksis jadi ikut2an minum, nongkrong2 nggak jelas, tapi gak punya prestasi. Kehilangan jati diri.

Padahal prinsip hidup itu penting. Kita bisa bergaul dengan siapa saja, terbuka menerima pemikiran apa saja, tapi selama kita pegang teguh prinsip kita itu, kita nggak akan terpengaruh. Obah tapi gak owah. Fleksibel tapi tegas.

Saya juga pingin punya bisnis sendiri, pingin traveling keliling dunia, dan pingin menikah dengan laki-laki yang saleh. Pingin rasanya bisa bahagia dunia akhirat, kamu juga kan? 🙂