Museum Malang Tempo Doeloe

Museum Malang Tempo Doeloe

Enggak ada yang lebih menakjubkan rasanya daripada memahami sejarah kotamu sendiri. Semakin kamu memahami masa lalu kotamu, semakin muncul rasa prihatin akan kondisi kotamu sekarang, dan semakin ingin kamu mengubah masa depannya.

Begitulah kesan yang saya dapat usai mengunjungi Museum Malang Tempo Doeloe Minggu (8/9/13) kemarin. Museum yang dibuka pada 22 Oktober 2012 ini menyajikan sejarah kota Malang secara kronologis, mulai zaman prasejarah hingga masa kini. Pemiliknya, Dwi Cahyono, adalah penggagas acara tahunan Malang Tempo Doeloe, Ketua Dewan Kesenian Malang, dan sempat menjadi calon walikota independen pada Pilkada 2013. Di museum inilah semua koleksi pribadinya dipajang.

Museum “Malang Tempo Doeloe”, letaknya persis di sebelah Rumah Makan Inggil, Jl Gajahmada belakang Balai Kota

Museum ini buka setiap hari, mulai jam 8 sampai jam 5 sore. Tiket masuknya Rp 15.000 untuk umum dan Rp 10.000 untuk pelajar. Well,mungkin terlihat mahal untuk ukuran “museum”. Tapi mengingat ini museum milik pribadi, harga segitu sebetulnya sebanding dengan apa yang kita dapat di dalamnya.

Begitu masuk museum kita akan didampingi guide yang akan memandu rute dan menjelaskan setiap fase sejarah. Yang keren dari museum ini adalah desain interiornya yang unik dan modern, enggak kayak museum pemerintah pada umumnya. Apalagi dibandingkan Museum Br*wijaya, jauh banget deh :p Padahal aslinya bangunan ini hanyalah sebuah rumah kuno, lalu disulap menjadi museum dengan lorong2 yang ciamik dan artistik. Asiknya lagi, ruang2 di museum disusun secara urut dari zaman ke zaman sehingga mudah dipahami.

Diorama Malang zaman purba–dataran lahar dingin yang dikelilingi pegunungan. Keren kan!

Ruang pertama adalah ruang prasejarah. Di sini ditampilkan kondisi Malang purba, fosil2 yang ditemukan di Malang, serta diorama proses penggalian.

Contoh fosil purba yang ditemukan di Malang

Diorama penggalian arca

Penampakan ruang prasejarah

Selanjutnya kita dibawa turun menuju ruang kerajaan2. Scene ini menampilkan Malang saat zaman kerajaan Kanjuruhan, Mataram kuno, Kahuripan, Singhasari, hingga Majapahit. Kerajaan paling legendaris yang jejaknya banyak ditemukan di Malang tentunya adalah Kerajaan Singhasari. Kita bisa menemukan figur Ken Arok, Ken Dedes, dan Tunggul Ametung di sini.

Lorong kerajaan Kanjuruhan

Mpu Barada (ngawang di atas kolam) membagi Kahuripan menjadi Jenggala dan Panjalu

Diorama Ken Arok bertapa di gua di Pujon

Adegan Tunggul Ametung di atap rumah mau menculik Ken Dedes (masak iya kayak gini ya hahaha)

Siluet arca Prajnaparamita, dipercaya sebagai perwujudan Ken Dedes

Di sini kita juga bisa belajar mencocokkan berbagai jenis gerabah dari zaman apa…Bahkan juga bisa coba-coba bikin gerabahnya. Which is quite difficult, guys…especially if you’re not familiar with it :p

Gerabah gagal :p

Even alat perangkap tikus jadul pun ada 😮

Setelah menyusuri zaman kerajaan, kita digiring naik menuju zaman penjajahan. Di ruang ini terpampang foto2 Malang tempo doeloe saat mulai disebut sebagai “kota”. Lambang awal kota Malang, nama2 jalan jadul, foto2 walikota mulai zaman Belanda, dll. Nostalgia banget deh pokoknya 😀

Lorong foto Kota Malang zaman penjajahan

Deretan foto walikota dan bupati Malang through the ages

Nama jalan-jalan di Kota Malang versi jadul

Asal usul nama kota “Malang”

Replika pasar rakyat “Malang Tempo Doeloe”

Nah demikianlah sekilas liputan tentang Museum Malang Tempo Doeloe. Yuk kita kenali dan sayangi tradisi peradaban kota tercinta ini. You have to be grateful to realize that you live in such amazing place 🙂

Numpang narsis 😀

Surabaya Heritage Track

Surabaya Heritage Track

Update jalan-jalan Minggu pagi…:)

Well, seperti biasa ritual weekend di Surabaya kalau nggak mudik ke Malang adalah…jalan-jalan! Minggu ini saya, Denok, dan Mbak Wahyu sudah merencanakan dari jauh2 hari akan ikut Surabaya Heritage Track (SHT), program wisata gratis dari House of Sampoerna (HOS)…itu loh, museum tentang sejarah salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia, PT HM Sampoerna Tbk.

Di SHT kita diajak keliling bangunan2 bersejarah Surabaya dengan naik bus khusus, ada pemandu wisatanya juga yang menjelaskan nilai sejarah tiap bangunan yang kita lewati. SHT diadakan setiap hari (pagi, siang, malam) dengan rute yang berbeda-beda. Wisata ini gratis…tis…tis… Karena banyak peminat jadinya kita harus booking dulu jauh-jauh hari, soalnya bus nya cuma ada satu dan kapasitasnya cuma 20 orang. Untuk trip tanggal 27 ini aja saya dan teman2 sudah booking sejak tanggal 16 (bayangin…!) Sekali booking maksimal 5 orang. Jadi kalau yang mau trip gerombolan lebih dari 5…well perlu trik khusus lah ya 😉

Enjoy our pictures…

Museum “House of Sampoerna”

Bus ala trem tempo doeloe untuk mengangkut peserta tur “Surabaya Heritage Track”

Interior dalam bus: Full AC, kapasitas 20 orang, tour guide berdiri di depan pakai mic

Setiap peserta mendapat tiket, peta tur, dan ID tag. Sayangnya jalur bus tidak sekomplit rute di peta.

Singgah di Balai Pemuda nonton Reog Ponorogo (sekitar 20 menit)

Sayangnya trip ini gak berlangsung lama, cuma 1 jam 15 menit. Tempat yang disinggahi pun cuma dua: Balai Pemuda dan Gedung Budaya Cak Durasim. Bangunan2 bersejarah lainnya hanya dilewati saja sambil dijelaskan secara singkat. Sayang banget…padahal pengin masuk ke gedung2 tua atau kelenteng2 gitu… 🙁 Tapi memang jalurnya setiap hari beda-beda, jadi kalau mau mampir di tempat lain barangkali bisa dicoba untuk trip di hari yang berbeda.

Habis trip kita langsung capcuss masuk ke HOS. Here are the pictures…

Cengkeh asal Toli-toli

Tembakau asal Gunung Sumbing

Board of Director Sampoerna pasca dibeli Philip Morris

Foto jadul proses produksi rokok Sampoerna. Tetap saja pribumi yang jadi buruh…

Deretan mesin pelinting rokok

Tempat pameran souvenir (batik, boneka, wayang dll), juga bisa baca buku2 tentang Indonesia tempo doeloe

Overall, wisata ini cocok banget buat yang suka sejarah. Lumayan lah dapet pengetahuan baru tentang “masa lalu” Surabaya. Museum HOS juga unik dan artistik untuk dikunjungi. Layak dicoba untuk mengisi suasana Minggu pagi 🙂

Wisata Sejarah dan Kuliner di Tugu Pahlawan

Wisata Sejarah dan Kuliner di Tugu Pahlawan

Minggu pagi di Surabaya, cobalah berkunjung ke daerah Kota Lama. Di depan Tugu Pahlawan ada pasar dadakan bernama “TePe Pagi” dengan segala macam barang2 murah (terutama baju bekas bermerk) dan aneka penganan khas. Kalau di Malang mirip sama Pasar Minggu gitu lah yaa… Salah satu kuliner yang wajib dicoba adalah “SATE KLOPO”, yang jual biasanya orang Madura. Nih skrinsyut-nya.

“Sate Klopo”, sate daging sapi+gajih dibalut parutan kelapa berbumbu a.k.a. serundeng

Bakar sate…

Sepiring nasi plus sate klopo maknyus tuk sarapan

Makan di trotoar pinggir jalan, wisata kuliner sesungguhnya

Habis perut kenyang, bisa deh kita nyebrang ke Tugu Pahlawan, simbol Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Tempat yang bagus untuk mengenang sejarah. Ada monumen, tugu, dan museum. Desain museumnya lumayan unik, dan isinya juga bagus…tiket masuknya murah cuma 5.000 rupiah. Ada ruang diorama dan “bioskop mini” tempat pemutaran film dokumenter tragedi 10 November 1945. Melihat Surabaya “jadul” itu rasanya sesuatu banget yah…

Tugu Pahlawan di Minggu pagi yang mendung, latar belakang Bank Indonesia

Unknown-forgotten heroes

“Museum d’Lovre” 😛 seriusan tapi ini museum keren banget untuk ukuran tiket masuk goceng, ada diorama dan bioskop film sejarah

Narsis bentar ah…

Demikian liputan wisata Minggu kali ini. Silakan berkunjung yah^^