Tentang Cita-cita

Cita-cita

Cita-cita

Apa cita-citamu?

Sampai di sini saya sadar, kuliah di luar negeri bukanlah cita-cita. Ia hanya sekedar alat untuk mencapai cita-cita yang lebih tinggi. Mau apa kamu setelah kuliah? Mau dipakai apa ilmu yang sudah jauh2 dikejar ke seberang benua? Itulah pertanyaan yang jauh lebih penting.

Tiba2 saya teringat sebuah cerita, entah di mana saya pernah membacanya. Ada seorang wartawan yang sangat mengidolakan tokoh tertentu. Tujuan dia menjadi wartawan salah satunya untuk mewawancarai tokoh tersebut. Suatu ketika akhirnya dia diminta untuk mewawancarai tokoh idolanya itu. Saking takjubnya, dia sampai tidak bisa bicara, dan akhirnya laporan wawancara penting itu gagal lah…

Di kelas saya saat ini, kebetulan semua siswanya adalah international students, tapi tampaknya hanya saya yang (tidak bisa) kuliah (jika tidak) dibiayai beasiswa. Sisanya biaya sendiri. Ya, betul. Mayoritas teman sekelas saya bisa dibilang “anak orang kaya” yang di kampung halaman mereka orangtuanya rata2 pengusaha terpandang. Bagi mereka, pergi keluar negeri bukanlah mimpi. Anggota keluarga mereka banyak yang juga kuliah di Eropa/Amerika. Bagi mereka jalan2 ke luar negeri sudah jadi ritual liburan. Mudah saja untuk beli tiket pesawat pulang, atau mengajak orangtua menghadiri wisuda di sini.

Sampai di sini saya sadar, saya mau seperti itu. Saya nggak mau menjadikan “jalan2 keluar negeri” sebagai mimpi. Saya mau itu jadi suatu hal yang tidak mustahil dilakukan. Di masa depan, saya mau menganggap, pergi keluar negeri bukan hal luar biasa. Nggak perlu nunggu beasiswa, nggak perlu cari sponsor. Jalan2 keluar negeri bisa dilakukan dengan uang sendiri jika memang ada perlu. Saya nggak mau pergi keluar negeri adalah suatu “hal sakral” yang harus dihebohkan. Saya nggak mau hal itu membutakan tujuan hidup yang lebih besar.

Iya, saat berkeluarga nanti, saya mau anak saya nggak perlu susah2 cari sponsor untuk bisa keluar negeri. Orangtuanya bisa membiayai dia, bisa mengantarkan dia, dan dia nggak perlu kelihatan “katrok”. Dia akan terbiasa berinteraksi dengan orang2 dari berbagai negara. Saya mau dia punya mimpi yang jauh lebih besar, bukan sekadar “pergi keluar negeri”. Saya mau dia terlahir dengan strata sosial lebih tinggi dari saya, sehingga dia bisa melakukan hal-hal yang jauh lebih mengagumkan.

Cita-cita seseorang, sangat ditentukan oleh lingkungan tempatnya dibesarkan. Memang mustahil jika pungguk merindukan bulan. Tapi bukan mustahil kan seorang astronot pergi ke bulan? Anak-anakku akan jadi astronot, dan mimpinya adalah menjelajahi seluruh antariksa, bukan sekedar pergi ke bulan.

 

Lancaster, 26 Mei 2015, menjelang tengah malam

Sepotong Mimpi

Sepotong Mimpi

Sepotong mimpi itu seperti sejumput ragi dalam adonan roti. Jumlahnya imut banget, tapi dialah yang membuat roti menjadi roti sebenar-benarnya. Biarpun terigunya kualitas nomor satu, telurnya lembut, susunya gurih, tapi kalo nggak ada ragi, rotinya jadi bantat. Ya begitulah hidup tanpa mimpi, seperti roti tanpa ragi. Kamu boleh saja punya karir cemerlang, harta melimpah, kekuasaan besar…tapi tanpa mimpi, hidupmu bantat. Keras dan kasar.

Mimpi itu aktualisasi diri kan. Kebutuhan manusia yang paling puncak. Mimpi itu yang jadi gairah kamu, batubara di mesin uapmu, yang memacumu untuk terus meraih yang lebih dan lebih.

Dan sekarang, aku kehilangan sejumput ragi itu. Rotiku kempes dan bantat, nggak enak dimakan. Mimpiku ditelan oleh realitas…memaksaku berjalan di jalan yang nggak aku inginkan…

Well, belum terlalu jauh sih.

Aku masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri…Mungkin aku harus berhenti sejenak dan merumuskan ulang mimpi-mimpiku…supaya aku nggak harus meninggalkannya tergeletak begitu saja…supaya aku bisa tetap membawanya dalam perjalanan panjang yang akan kumulai…

Kalaupun ia harus tertunda, mungkin tak apa. Suatu saat akan ada waktu yang tepat untuk membuka bungkusan itu, dan menikmati sepotong mimpi yang kusimpan…