Charity Travel

Charity Travel
Traveling is not just about sightseeing and playing around. Traveling is not just about making ourselves happy, but also sharing the happiness to other people. Sometimes, traveling can be our way to create social contribution, that’s what I call  “charity travel”.
Today my man and I went to Karangwidoro village. It’s just a small village behind our campus, though I am sure that not many of our university student notice this village. Similar with Landungsari, Karangwidoro is also a village in city border (“desa di batas kota”). Some area has been filled with extra-luxurious houses of “Villa Puncak Tidar”, while the  remained area is still paddy fields and poor houses.

The sugar cane field

However, I like this village and its beautiful scenery. Long time ago, my man and I have planned to do “charity travel” around this village. While enjoying the scenery, we go around by motorbike and giving out parcels to the poor villagers. Today it has been realized and I am so happy :)))

It’s the second time we do this kind of travel. Previously we only give out two parcels, but now we can present five parcels :))) You know, I think this is the best way of charity. Instead of distributing our donation through certain foundation, we prefer to give it directly to the needy people. We can see directly the smile on their faces, listen to their thanks and pray, and we can guarantee that our donation comes to the right person who really need it. It surely means a lot 🙂

Direct Donation

From Karangwidoro village, we were moving up to Petungsewu village. It is a beautiful village in the foot of Kawi mountain.

In the foot of Kawi Mountain

In this village, we found a really poor house. An old woman living alone in this house since her husband and child died long time ago. She has no longer can hear clearly, but she could understand, smile, and saying thank you. It was so pity that an old woman living alone 🙁 I hope I could enjoy my old life happily with my children and grandchildren…

The old woman in her poor house

In our way home, I feel very happy and satisfied. It feels like becoming an angel, eventhough just one day–well, usually I act more like a devil *evil laugh*. Now I just accompany my man, but the next time surely I will do it by myself and my own money!

On the way back home

Sumber Air Desa Karangwidoro (Part 2)

Sebelum melanjutkan, ada baiknya baca dulu posting sebelumnya dan tentang Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA.

Setelah pengalaman ansos yang menarik pada semester 3 itu, kami sekelompok memutuskan untuk ‘mengeksplor’ lebih dalam tentang Desa Karangwidoro. Kebetulan, tugas mata kuliah Character Building 4 adalah membuat program pengabdian masyarakat. Kami yang merasa tergerak dengan kisah Pak Kades mengenai desa yang kekurangan air, memutuskan untuk membantu penduduk desa ini.

Pak Kades menceritakan tentang sumber air Desa Karangwidoro, yang letaknya nun jauh di perbukitan sekitar 10 km di arah barat desa. Sumber air tersebut berdekatan dengan sumber milik Desa Petungsewu dan Desa Selorejo (juga di Kecamatan Dau). Tentunya Pak Kades sudah meminta izin untuk menggunakan sumber air tersebut demi keperluan desanya.

Sumber air perlu dirawat dan dijaga, agar ketika musim kemarau pasokan air tetap lancar mengalir. Salah satu caranya adalah dengan menanam pohon di sekitar mata air. Menurut Pak Kades, jenis pohon yang baik ditanam adalah pohon sukun, karena akarnya mampu menyerap air dalam jumlah banyak. Mendengar itu pikiran saya pun melayang ke kebun belakang rumah nenek di Kediri. Tak dinyana, ternyata pohon berdaun menjari dengan buah bundar yang sering direbus/digoreng itu bisa melestarikan mata air! :-0

Kami sekelompok akhirnya sepakat untuk membeli 50 bibit sukun untuk ditanam bersama para warga desa di sekitar sumber air. Harga per bibit (yang masih kecil) Rp 10.000 per polybag. Pada Minggu, 2 Mei 2010 berangkatlah kami sekelompok (14 mahasiswa+1 dosen mentor), beberapa anggota Karang Taruna, dan Bapak Kepala Desa ke perbukitan Petungsewu. Read more

Sumber Air Desa Karangwidoro (Part 1)

Karangwidoro, itulah nama sebuah desa yang terletak di belakang kampus saya. Meskipun letaknya relatif di daerah perbukitan, tetapi ini adalah desa yang kering dan tandus. Kata dosen saya sih, daerah sekitar kampus ini memang dikenal ‘sulit air’. Kampusku? Enggak lah, kan punya sumur bor dan tandon yang besar 😀 Tapi, desa di belakang itu, sayangnya tidak seberuntung institusi besar tempat kami bernaung ini…

Pada musim kemarau desa ini mengalami kekeringan, tapi pada musim hujan diterjang banjir sehingga air menjadi keruh. Bahkan, Karangwidoro pernah mengalami bencana banjir lumpur kiriman pada tahun 2002 hingga menyebabkan 1 orang tewas, 65 unit rumah rusak, 6 DAM jebol dengan total kerugian mencapai 2,9 milyar rupiah. Alhamdulillah, saat ini banjir bandang tidak terjadi lagi karena warga sudah membangun “sodetan” sehingga air hujan mengalir ke Kali Metro. Meski begitu kondisi lingkungan di desa masih rentan karena tanah jarang ditanami pepohonan…

Pada semester 3, saya dan teman-teman satu kelompok mentoring mengadakan analisis sosial (ansos) di desa ini. Awalnya sih memang cuma tugas mata kuliah Character Building 3, tapi ternyata setelah wawancara sana-sini dengan Pak Kades (Kepala Desa), Pak Kadus (Kepala Dusun), dan perangkat desa lainnya, kami jadi tahu bahwa desa yang jaraknya tinggal loncat tembok belakang kampus sangat dekat ini punya cerita yang cukup menarik.

Read more