Memori di Mamburit (2)

Memori di Mamburit (2)

Mungkin kamu pernah bertanya-tanya, kenapa orang lebih suka melihat sunrise di gunung dan melihat sunset di laut? Kenapa melihat matahari terbit di Bromo dan matahari terbenam di Kuta–bukan sebaliknya? Saya juga nggak tahu kenapa sih…tapi yang jelas sunrise dan sunset itu selalu menakjubkan, di manapun kita melihatnya 🙂

Dan pagi itu, kami memperoleh “spesialnya spesial”, menikmati sunrise di tepi pantai segera setelah bangun tidur. Keluar dari tenda kami sudah disambut rona kemerahan di cakrawala timur…oh God, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan? Dan tentu saja, tidak ada yang bisa menolak keindahan matahari terbit. Meskipun sudah gak butuh vitamin D lagi, tapi cahaya matahari pagi yang hangat bikin perasaan kami jadi nyaman…walaupun rambut dan muka masih acak-acakan. 😛

DSCF0680

Menyambut matahari terbit

Sebetulnya kami tidak memiliki agenda apapun pagi itu, karena Mas Ruji baru bisa menemani kami snorkeling dengan perahunya sehabis Zhuhur. Jadi kami memutuskan untuk berjalan2 keliling pulau saja. Kebetulan Ibu Mashur, pemilik rumah yang biasa kami tumpangi mandi, sudah berjanji untuk memasakkan sajian khas Pulau Mamburit…yaitu ikan cakalang! Wow!

Saya sendiri belum pernah makan ikan cakalang sebelumnya, cuma versi Indomie saja 😛 Awalnya saya pikir ikan ini hanya ada di Sulawesi Utara (Manado dsj), ternyata di sini juga ada. Harga ikan cakalang yang montok itu normalnya Rp 40-50 ribu per ekor, tapi di sini cuma Rp 10 ribu saja. Bu Mashur mengasapi ikan itu serta menyajikannya lengkap dengan nasi hangat dan sambal kecap…Kami menyantapnya bersama di bale-bale warung pinggir kebun. Hmmm luar biasa nikmatnya 😀

Sedapnya ikan cakalang asap ditemani nasi hangat dan sambal kecap

Sedapnya ikan cakalang asap ditemani nasi hangat dan sambal kecap

IMG_20140527_065036

Satu ekor ikan cakalang dibelah dua, separuhnya dimakan bertiga aja enggak abis…saking tebel dagingnya

Puas santap pagi di kediaman Bu Mashur, kami diajak oleh saudara beliau (saya lupa namanya) untuk mengunjungi rumahnya. Dia menawari kami untuk menikmati kelapa muda segar yang dipetik langsung dari kebunnya…hmm siapa bisa menolak? Maka berangkatlah kami menuju kediamannya, diiringi salam sapa dari warga2 lain yang juga mengajak kami mampir ke rumahnya. Serasa artis… 🙂

Rumah saudara Bu Mashur itu termasuk bagus untuk ukuran “orang pulau”. Tembok batu-batanya sudah dicat mulus, dan bahkan setengahnya dihiasi dengan keramik mengkilat bermotif cokelat muda. Lantainya pun sudah licin berlapis porselen keramik sewarna dindingnya, dengan mebel ruang tamu yang bisa dibilang wah. Usut punya usut, ternyata meskipun dia hanya lulusan SD, kakaknya bekerja sebagai TKW.

Sebelum mulai mengambil kelapa, disajikannya tiga gelas Fanta merah kepada kami. Fanta itu tidak dingin (maklum tidak ada listrik untuk kulkas di siang hari), namun gelas kaca tinggi yang mewadahinya mencerminkan tingkat kesejahteraan si tuan rumah. Setelah mengobrol sebentar, dibawanya kami keluar menuju bale-bale di kebun…di mana sudah tersedia 3 butir kelapa hijau yang siap disantap. Segar!

Kelapa muda segar

Kelapa muda segar

Kami pun bercengkerama di bale-bale bersama para tetangga. Belum habis 3 kelapa disesap airnya, datang lagi 3 kelapa baru–lebih muda katanya. Warga Mamburit tampaknya sudah menciptakan keahlian khusus untuk memanen buah kelapa. Mereka tidak lagi memanjat pohonnya, namun menggunakan potongan kayu dan tali temali yang disusun sedemikian rupa untuk mengambil buah kelapa dari bawah pohon. Selama bercengkerama, mereka tidak bisa lepas dari bahasa Madura–meskipun juga bisa bicara bahasa Indonesia dengan logat lokal yang khas. Bagaimanapun, warga Mamburit adalah orang yang ramah, terbuka, dan murah hati. Saat kami pulang, dibawakannya 3 butir kelapa muda lagi untuk kami nikmati di tenda. Luar biasa baiknya 🙂

Kelapa-kelapa muda bergelimpangan

Kelapa-kelapa muda bergelimpangan

Tidak terasa waktu Zhuhur mulai menjelang. Mas Ruji sudah mengontak kami dan bersiap menunggu dengan perahunya di pantai dekat tenda. Kami pun segera sholat dan berganti kostum…yuhuuu perjalanan snorkeling dimulai! 😉

Siang hari itu cukup cerah, langit biru bersih dengan hiasan awan putih yang berarak sesekali. Air laut mulai menampakkan tanda-tanda pasang surut. Kami berperahu menuju tepian Pulau Kangean di mana terdapat gugusan tebing. Kebetulan kemarin kami memperoleh info dari wisatawan asing yang melewati tenda kami, bahwa di spot tersebut banyak dijumpai terumbu karang indah.

STA60780

Pantai Pulau Kangean dilihat dari sisi Mamburit

Benar saja, mendekati pantai, bayangan terumbu karang tampak jelas di bawah air laut yang jernih. Senyum gembira langsung terpasang di wajah kami. Tanpa banyak kata, kami bertiga pun segera menceburkan diri di laut. Pemandangan ini terlalu sayang untuk dilewatkan!

Spot pertama ini identik dengan terumbu karang beraneka bentuk dan warna. Cokelat, kuning keemasan, merah keunguan, dengan aneka bentuk abstrak yang menakjubkan. Belum lagi aneka biota laut yang mengelilinginya: ikan warna-warni, bintang laut dan kawan-kawannya, betul-betul memanjakan mata!

DSCF0766

Hamparan terumbu karang, kedalaman 1-1.5 meter

DSCF0755

Gerombolan ikan melintasi terumbu karang

DSCF0740

 

DSCF0745

 

Sebagai snorkeler pemula, spot pertama ini termasuk favorit saya. Lokasinya tidak terlalu dalam  (1-3 meter) dan arus laut tidak begitu kuat. Tidak perlu berenang jauh-jauh, kita sudah bisa menikmati taman laut yang luar biasa 😀 Hanya saja, perlu hati-hati karena saking dangkalnya, di beberapa titik saat berenang badan kita hampir menyentuh terumbu karang di bawahnya. Mungkin juga karena efek air laut yang mulai pasang surut menjelang sore hari. Perlu digarisbawahi, menyentuh atau menginjak terumbu karang adalah pantangan bagi para penikmat wisata bawah laut. Biota laut yang indah itu bisa saja mengandung racun yang membahayakan tubuh kita.

DSCF0763

STA60796

Numpang narsis 😛

DSCF0757

Blue fish school

Sayang sekali, berhubung bukan fotografer profesional, kami hanya membawa kamera poket standar dengan waterproof case ala kadarnya. Peralatan sederhana ini ternyata belum mampu mengabadikan indahnya pemandangan bawah laut dengan sempurna. Pencahayaan dan fokus tampak tidak stabil, sehingga hasil foto kurang memuaskan. Ditambah lagi baterai yang tidak tahan lama, sehingga kami hanya mampu mengabadikan gambar di spot-spot awal saja.

DSCF0741 DSCF0743 DSCF0744 DSCF0747 DSCF0749

Total ada sekitar 5 spot snorkeling yang kami datangi. Setelah puas di spot pertama, kami melanjutkan trip ke spot kedua dan ketiga yang terletak tidak terlalu jauh. Spot kedua tidak terlalu istimewa, dan spot ketiga berlokasi dekat spot pertama dengan karakter taman laut yang tidak jauh berbeda. Akhirnya kami pun mencoba berperahu ke spot yang lebih jauh di tengah laut.

Perahu Mas Ruji

Perahu Mas Ruji

Spot keempat dan kelima terletak persis di tengah laut. Ada semacam gugusan karang dengan ombak-ombak kecil di sekitarnya yang menjadi penanda kawasan itu. Arus cukup kuat dengan perubahan suhu yang drastis, kadang panas kadang dingin. Terasa seperti berenang bolak-balik antara air kulkas dan air heater. Untung saja kami pakai full-covered swimsuit. Spot ini kedalamannya sekitar 4-7 meter.

Di spot 4 dan 5 ini karakter taman lautnya berbeda dengan spot-spot awal. Terumbu karangnya tidak sevariatif dan sewarna-warni mereka, tetapi bersambungan membentuk semacam “gua-gua” dan “kubah-kubah” di dasar laut. “Gua-gua” dan “kubah-kubah” ini menjadi rumah bagi beraneka jenis ikan dan hewan laut di dalamnya. Berenang di atasnya kami seperti melihat “Bikini Bottom” ala SpongeBob dalam wujud nyata 😀 Simply beautiful.

Ikan2 di sini lebih banyak dan bervariasi, tergabung dalam aneka school of fish. Sebetulnya berenang di sini menyenangkan, tapi masih agak khawatir dengan arus yang (bagi saya) lumayan membuat was-was dan harus sering mengintip ke permukaan untuk melihat di mana posisi perahu. Sayang sekali kami tidak memotret sama sekali di spot ini karena baterai kamera sudah habis. Cukuplah pemandangan menakjubkan itu terekam di memori otak kami 🙂

DSCF0769

Skin diving (bukan saya!)

DSCF0759

DSCF0751 DSCF0753 DSCF0754 DSCF0756

Tak terasa matahari semakin condong ke barat. Mas Ruji sudah memanggil-manggil kami dari perahunya untuk segera naik dan kembali ke pulau. Saat kami hendak membayar ongkos sewa perahunya, Mas Ruji menolak dengan alasan dibayar sekalian esok hari saja, saat mengantar kami ke pelabuhan Batu Gulok. Namun ternyata, esok paginya dia tetap menolak pembayaran kami. Padahal bisa dibayangkan berapa harga bahan bakar di pulau pedalaman, dan berapa yang sudah dia habiskan untuk mengantarkan kami berputar-putar seharian di laut? Kami betul-betul merasa takjub dengan kebaikan hati penduduk Mamburit :’)

Menjelang senja kami berperahu kembali ke pulau Mamburit. Petualangan bawah laut hari itu sangat menyenangkan! Tidak perlu jauh-jauh ke Bunaken atau Raja Ampat, masih di Jawa Timur saja kami bisa menikmati keindahan taman laut yang menakjubkan 😀 Kami berharap semoga taman-taman laut yang tersisa di sekitar pulau Mamburit tidak mengalami nasib tragis seperti kawan-kawannya di tepi pantai yang hancur terkena bom 🙁

STA60791 STA60792 STA60793

Ketika kami sampai di tenda, badan cukup lelah dan perut terasa sangat lapar. Perlu diketahui, tidak ada warung yang menjual makanan matang (nasi bungkus dll) di Pulau Mamburit. Satu2nya cara untuk makan adalah memasak sendiri atau menumpang makan di rumah penduduk. Kami terlalu sungkan untuk menumpang makan lagi di rumah Bu Mashur, tetapi juga terlalu lelah untuk memasak sendiri 😐 Tapi rejeki memang datang tak disangka-sangka. Pak Nurul, saudara teman saya yang menyambangi tenda kami semalam, tiba-tiba datang dan menawari kami untuk makan malam di rumahnya. Tuhan memang bersama para backpacker 😀

Rumah Pak Nurul ada di dalam kompleks SD Mamburit (SDN Kalisangka 2). Malam itu, istri beliau memasakkan kami ikan cakalang lagi, tapi dengan sambal berbeda, yaitu sambal kacang pedas yang mantap sekali! Kami makan berempat sambil menggelar tikar di pelataran halaman SD. Sesekali Kenny memainkan gitar milik Pak Nurul. Hembusan angin laut yang sejuk dan gemerisik daun di pepohonan halaman sekolah menambah damai suasana malam itu.

Saat inilah, Pak Nurul menceritakan kisah-kisahnya sebagai seorang (mantan) guru di SD Mamburit. Beliau sudah mengajar di sekolah itu selama hampir 20 tahun, hingga melewati masa pergantian 3 kepala sekolah. Selama beberapa jam dia menuturkan kepada kami curahan hati dan kekecewaannya terhadap beberapa hal yang mengganjal di sekolah itu. Dari ceritanya kami bisa mengetahui bagaimana kondisi pendidikan di pulau kecil ini. Caranya berkisah, intonasi suara, dan ekspresi wajahnya menunjukkan dengan jelas bahwa beliau adalah seorang pendidik yang idealis. Cerita dari Pak Nurul ini akan saya bahas di tulisan terpisah. Yang jelas, malam itu kami pulang ke tenda dengan tambahan pelajaran berharga. Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas. Pulau Mamburit, yang masih termasuk provinsi Jawa Timur, kondisi pendidikannya saja sudah seperti itu. Bagaimana dengan mereka2 yang ada di pelosok2 Indonesia? Pasti lebih memprihatinkan lagi keadaannya.

IMG_20140528_081352

Pelataran SD Mamburit

Malam itu adalah malam terakhir kami di Pulau Mamburit. Tidak banyak yang kami lakukan setelah pulang dari rumah Pak Nurul. Segera kami tertidur lelap karena kelelahan sehabis berenang. Hari kedua berlalu dengan maksimal, tapi sayangnya kami harus sudah meninggalkan pulau esok paginya 🙁

Namun begitu, cerita perjalanan ini belum selesai (baca di sini). Yang jelas, Mamburit meninggalkan kesan mendalam bagi kami. Keindahan alamnya, keramahan penduduknya, serta kisah-kisah tentangnya tidak akan pernah kami lupakan. Suatu saat kami akan kembali ke sana lagi, dengan balas budi untuk penduduk pulau yang baik hati…

STA60795

Memori di Mamburit (1)

Memori di Mamburit (1)

Udara fajar masih terasa menggigit ketika kami berlarian sepanjang jalan setapak menuju dermaga Batu Gulok. “Ayo cepat, kapalnya sudah mau berangkat!” teriak si bapak sambil melambaikan tangan. Bertiga kami bergegas memacu langkah dengan segenap beban yang merentengi punggung dan pundak kami. Perahu kecil itu–untungnya–telah memutar arah demi menunggui kami naik ke kapalnya.

“Terima kasih Pak!” kami melambai pada si bapak yang baru saja kami kenal di musholla saat shalat Subuh tadi. Akbar, Kenny, dan saya segera melucuti beban2 kami–1 carrier besar, beberapa ransel dan tas selempang–lalu duduk beristirahat di perahu kecil itu. Matahari belum lagi tampak sempurna, tapi kami sudah bisa melihat jernihnya air laut yang mengitari perahu. Air bening biru kehijauan itu menunjukkan dengan jelas kepada mata telanjang kami bebatuan dan koral yang ia simpan di dasarnya. Perasaan saya campur aduk–antara bahagia dan tidak percaya. Saya masih tidak menyangka bahwa kami sudah berada di Pulau Kangean, pulau yang telah lama diidam-idamkan untuk pergi ke sana. Perjalanan laut selama 10 jam dari pelabuhan Kalianget, Sumenep, telah kami lalui demi mencapai kepulauan ini. Dan sekarang, kami langsung memulai perjalanan lagi menuju pulau kecil di ujung barat laut Kangean, Pulau Mamburit.

Berperahu menuju Pulau Mamburit

Berperahu menuju Pulau Mamburit

Matahari masih malu-malu muncul di ufuk timur ketika perahu kami mengarahkan moncongnya menuju pulau nyiur tersebut. Hanya 10 menit perjalanan, perahu telah membuang sauh di tepi pantai. Tibalah kami di Pulau Mamburit.

Pantai Mamburit sangat menggoda wisatawan dengan pasir putihnya yang bersih dan air lautnya yang jernih. Dari tepi pantai hingga ke tengah laut, gradasi warna biru tampak jelas bertingkat-tingkat…sungguh pemandangan yang mengagumkan. Mamburit sendiri bukanlah sebuah pulau besar. Hanya butuh waktu 2 jam untuk jalan kaki mengelilingi pulau seluas 8 hektar ini. Penduduknya berjumlah sekitar 600 KK atau hampir 2.000 jiwa. Seperti semua pulau di Kepulauan Kangean, listrik tidak menyala pada siang hari. Beberapa penduduk memiliki genset, tapi lainnya otomatis hanya bisa menikmati peralatan elektronik saat malam saja. Tidak heran bila kami menjumpai blender unik–diputar dengan tenaga manual tangan–di warung tempat para bocah SD bergerombol untuk membeli Pop Ice.

Pantai Mamburit

Pantai Mamburit

DSCF0670

Berkilauan ditimpa cahaya matahari

Masuk ke dalam pulau, kami disambut oleh suasana pedesaan yang nyaman, dengan rumah2 sederhana dan pepohonan rindang menaungi jalan setapak yang masih berupa tanah. Sepanjang jalan kami menemukan banyak pohon kelapa dan pohon sukun–vegetasi khas di pulau Mamburit. Rumah2 penduduk kebanyakan berdinding bata semi permanen, meskipun tidak jarang pula yang sudah berkeramik bagus. Batu bata putih adalah material bangunan khas Madura yang juga digunakan di pulau ini–konon dengan harga setara, kekuatannya lebih dari bata merah biasa.

Rimbunnya pohon kelapa

Rimbunnya pohon kelapa

Penduduk Mamburit, pada kesan pertama, adalah pribadi yang luar biasa ramah dan terbuka. Kesan itu semakin menguat pada hari-hari berikutnya. Pagi itu kami bertemu dengan Mas Ruji, adik kepala desa, untuk meminta izin mendirikan tenda di tepi pantai. Dengan tangan terbuka, beliau menyambut dan mengantarkan kami menuju pantai utara pulau, tempat yang dia rasa paling aman untuk berkemah. Di kaki mercusuar, 2 meter saja jaraknya dari bibir pantai, di situlah kami mendirikan tenda selama 3 hari 2 malam.

Tempat itu adalah tempat yang sempurna. Dari dalam tenda, jernihnya air laut dan suara deburan ombak dapat kami nikmati tanpa jeda. Kami bisa melihat matahari terbit dan tenggelam langsung pada hamparan langit yang sama. Dan ketika malam tiba, bintang-bintang bagai permata seakan tumpah dari keranjangnya menghiasi langit yang gulita. Indah dan sederhana.

Tenda di tepi pantai

Tenda di tepi pantai

Pemandangan dari dalam tenda

Pemandangan dari dalam tenda

Pada hari pertama, sesuai tujuan utama, kami langsung menceburkan diri ke laut menyusuri pantai Mamburit. Laut yang bening itu ternyata menyimpan kemalangan di dasarnya. Apa yang kami temukan sedikit mengecewakan dan memiriskan hati. Terumbu karang di bibir pantai itu, hampir semuanya telah hancur berkeping-keping. Hanya potongan koral berserakan yang bisa kami temukan, diselingi dengan gerombolan bulu babi di sana sini. Sedikit sekali terumbu karang utuh yang tersisa. Mas Ruji mengatakan bahwa hancurnya terumbu karang itu adalah akibat pengeboman ikan besar-besaran pada 1980-an. Kami mengelilingi separuh pantai pulau tersebut, tapi tetap menemukan hal yang sama. Tidak ada pemandangan bawah laut yang bisa dilihat di sini, semuanya hancur terkena bom. Rasa kecewa sempat melanda, namun kami tetap berpikiran positif. Esoknya kami merencanakan untuk menyewa perahu dan mencari spot snorkeling yang agak jauh dari pantai.

Sisa terumbu karang yang hancur berkeping-keping

Sisa terumbu karang yang hancur berkeping-keping

Gerombolan bulu babi

Gerombolan bulu babi

Bintang laut yang sendirian

Bintang laut yang sendirian

Kami menghabiskan sisa hari itu dengan bercengkerama bersama penduduk pulau. Bertiga kami menumpang mandi di rumah Pak Mashur, pemilik warung yang luar biasa baik hati karena mengizinkan rumahnya menjadi “basecamp” kedua kami. Akbar dan Kenny sempat kembali melaut dengan sampan kecil bersama teman Pak Mashur. Sore itu kami berkenalan pula dengan Mas Zainul, orang Jawa yang ‘terdampar’ di Pulau Mamburit karena istrinya bertugas sebagai satu2nya bidan di pulau ini. Malamnya, tanpa diduga kami kedatangan tamu-tamu istimewa. Mas Ruji datang menyambangi tenda kami dan bercerita banyak tentang sejarah Pulau Mamburit dan Kangean. Berikutnya, Pak Nurul, yang ternyata sepupu dari om teman saya Dewi, datang pula untuk menjenguk kami. Belum genap sehari kami berada di pulau ini, serasa sudah banyak yang kami kenal dan pelajari di sini. Mamburit adalah pulau yang sangat bersahabat 🙂

Mas Ruji, adik kepala desa Mamburit, such a nice man :)

Mas Ruji, adik kepala desa Mamburit, such a very nice man 🙂

Malam itu, ditemani cahaya lampu senter dan suguhan biskuit Oreo, berbagai cerita menarik mengalir dari Mas Ruji di tenda kami. Menurutnya, pulau ini dahulu bernama “Pulau Anjerit”, yang kurang lebih berarti “pulau menjerit”. Konon katanya, dahulu pulau ini bersambung menjadi satu dengan Pulau Bawean (pulau di sebelah utara Gresik). Suatu malam, pulau Bawean “bepergian” ke arah Barat. Namun anehnya, bagian pulau yang lain seakan “terjerat” pada dasar laut sehingga tak bisa ikut bergerak. Pulau itupun menjerit “tungguuu…jangan tinggal saya…” Namun terlambat, Bawean telah sampai pada posisinya sekarang sementara kawannya tetap tinggal di Kangean tak bisa bergerak. Itulah pulau Mamburit kini.

Mas Ruji orang yang menggemari cerita-cerita berbau mistis. Menurutnya, arwah Bung Karno sering berkunjung ke pantai sekitar Mamburit untuk berkumpul dengan makhluk2 halus lainnya. Mamburit juga memiliki penjaga seekor ikan besar dan seekor naga yang bersemayam di dasar pulau. Karena itu, tak seorangpun bisa mengusik pulau ini. Tentang patok-patok beton yang berbaris membujur di pantai depan tenda kami, ia berkisah bahwa patok-patok itu dulunya dipancangkan oleh perusahaan yang ingin melakukan pengeboran di lepas pantai Mamburit. Konon katanya di dasar pulau ini tersimpan sumber emas (atau minyak, mungkin). Namun kepala desa tidak memberikan izin. Lalu entah bagaimana hingga kini pengeboran belum dilanjutkan kembali.

Patok-patok baja di lepas pantai Mamburit

Patok-patok beton di lepas pantai Mamburit

Soal politik, Mas Ruji sempat menceritakan bagaimana dramatisnya Pemilu kepala desa Mamburit tahun lalu. Kakek Mas Ruji sendiri dulunya adalah orang yang mula-mula “merintis kehidupan” di Pulau Mamburit. Sebagai adik kepala desa, Mas Ruji mengerti betul bagaimana proses kakaknya terpilih sebagai kepala desa asli Mamburit setelah bertahun-tahun posisi itu dijabat orang Kangean. Pada Pemilu tersebut, dari 4 calon kepala desa, hanya 1 orang yang berasal dari Mamburit, yaitu kakak Mas Ruji. Lainnya adalah orang Kangean (pulau Kangean besar–Red).

Saat penghitungan suara, ada kelebihan 3 kertas suara dari jumlah pemilih yang seharusnya. Ketiga kertas suara itu disepakati oleh panitia untuk disisihkan dan tidak dihitung. Namun, hasil akhir penghitungan menunjukkan bahwa calon no IV (orang Mamburit) menang selisih 2 suara saja dari calon no III (orang Kangean). Melihat kenyataan itu, tentu saja para pendukung calon Kangean protes. Mereka minta 3 suara tadi dibuka dan ikut dihitung. Saat panitia menolak, celurit pun bicara. Akhirnya, mau tidak mau 3 kelebihan suara itu dibuka dan dihitung lagi. Hasilnya sungguh dramatis. Calon no IV tetap menang dengan selisih 1 suara saja dari calon no III. Kakak Mas Ruji pun resmi terpilih menjadi Kepala Desa.

Kisah-kisah Mas Ruji menambah pemahaman kami tentang pulau ini. Setelah beliau pulang, kami masih kedatangan tamu Mas Zainul dan Pak Nurul yang saya sebutkan tadi. Sampai malam kami bercengkerama di kaki mercusuar. Saat itu pula kami bertemu dengan Pak Bambang dan istrinya, penjaga pos mercusuar yang hanya tinggal di sana saat malam hari.

Malam semakin larut dan kantuk pun semakin mendera. Kami bertiga berangkat tidur dalam tenda mungil, beratap bintang-bintang, berselimut angin pantai, dan berninabobokan suara debur ombak. Pengalaman yang luar biasa buat saya. Satu hari telah terlewati, kami terlelap dengan harapan menyibak keindahan taman laut Mamburit keesokan harinya.

STA60781

Can you see below the sea?

(Bersambung ke bagian 2)