Black Valentine, Setangkai Bunga untuk Negeri

Black Valentine, Setangkai Bunga untuk Negeri

Apa yang ada di balik setangkai bunga? Apa yang ada di balik sebatang cokelat? Setiap menjelang 14 Februari benda-benda itu selalu menghiasi toko-toko dan jalan-jalan, diburu pria dan wanita yang mengidamkan kasih sayang. Meski tak seorangpun bisa memastikan, bagaimana bisa membandingkan bunga dengan setangkai kasih, dan cokelat dengan sebatang sayang. Meskipun semua orang tahu, kasih sayang terlalu absurd, terlampau mulia untuk dimanifestasikan dalam sekotak cokelat seharga 20 ribuan.

Awal Februari ini, Indonesia memperoleh “kado Valentine” yang sangat manis. Seorang putri yang 10 tahun lalu digadang-gadang mengharumkan nama Indonesia, tiba-tiba diumumkan menjadi biang kebusukan negara. Publik terpana, antara syok, kaget, dan tak percaya. “Sang putri” dulu tampak begitu elegan dan innocent, berkampanye di televisi tentang anjuran anti korupsi. Siapa sangka, virus korupsi ternyata sudah terlalu dalam menggerogoti Indonesia.

Uang negara sebanyak lima miliar tak ubahnya seperti koin seratusan. Bisa dilempar sana-sini asal jago melobi. Bisa masuk kantong siapa saja asal pandai berpura-pura. Sementara bagi seorang tunanetra pemanjat kelapa di Cianjur, Jawa Barat, koin seratusan justru seperti uang lima miliar. Setiap butir kelapa yang diperolehnya dengan matanya yang buta, dengan mempertaruhkan nyawa, hanya diberi upah 200 rupiah. Negeri ini sudah seperti negeri dongeng. Dongeng Rahwana tanpa Rama dan Anoman, dongeng penyamun tanpa pahlawan, dongeng kesedihan tanpa kebahagiaan.

Bulan Februari yang identik dengan warna pink seakan menjadi hitam, ternodai oleh tingkah laku yang tidak terpuji. Dan kita pemuda-pemudi seperti tidak peduli. Kasih sayang masih berkejaran dengan nafsu, masih terbelenggu oleh ego. Di Jogja, para mahasiswa membagi “kasih sayang”nya pada kekasihnya dengan memborong kondom di apotek. Apa bagi kita mahasiswa, cuma sebegitu saja makna kasih sayang? Sementara kita sibuk mengumbar nafsu pribadi, menyedot anggaran untuk pesta sesaat demi gengsi, banyak orang di luar sana yang jauh lebih membutuhkan kasih sayang kita. Kasih sayang yang sebenarnya, kasih sayang yang timbul dari kepekaan kita terhadap nasib manusia di lingkungan kita.

Barangkali kita perlu introspeksi. Barangkali kita butuh menumbuhkan kasih sayang yang sejati itu. Dimulai dari peduli, lalu simpati, lalu empati, pada akhirnya rasa kasih sayang itu akan muncul, diikuti oleh keinginan untuk membantu meringankan beban sesama. Apakah hal yang sulit? Rasanya tidak. Bukankah Tuhan maha pengasih dan maha penyayang? Dan pada setiap manusia, Dia tanamkan bibit kasih sayang itu di dalam hatinya, hanya saja kita harus terus menyiram dan memupuknya agar tumbuh subur berbunga.

Jadi…Setangkai bunga di Hari Valentine, kepada siapakah seharusnya kita persembahkan? Kita telah cukup dewasa untuk menentukan. Namun jangan sampai lupa…ada Ibu Pertiwi yang menunggu, rangkaian bunga dari anak-anaknya. Kita adalah anak muda harapannya. Kita harus bisa membuatnya bangga, menghapus air matanya, tidak hanya pada “hari kasih sayang”, tetapi sepanjang hidup kita persembahkan bunga padanya…

*Ditulis untuk lomba Mading SSAW &Valentine Univ. Ma Chung*