Tentang Beasiswa LPDP

Tentang Beasiswa LPDP

Tentang Beasiswa LPDP

  • LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) adalah lembaga yang dibentuk atas kerjasama Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan Nasional, dan Kementerian Agama. LPDP beroperasi sejak 2012
  • Fungsinya untuk mengelola “dana abadi” pendidikan sebesar Rp 15,6 T dengan tujuan meningkatkan SDM Indonesia dalam jangka panjang
  • Hasil investasi dana tersebut (sekitar Rp 1 T per tahun) digunakan untuk membiayai pendidikan anak bangsa lewat berbagai macam “produk” beasiswa, yaitu:
    • Beasiswa Pendidikan Indonesia (S2/S3 Dalam Negeri dan Luar Negeri)
    • Beasiswa Riset (pembiayaan tesis dan disertasi)
    • Beasiswa Affirmasi (untuk anak2 daerah pelosok Indonesia)
    • Beasiswa Dokter Spesialis
    • Pendaftaran semua jenis beasiswa dilakukan secara online melalu website: http://www.lpdp.kemenkeu.go.id
  • Seleksi dilakukan dalam 2 tahap, yaitu:
    • Seleksi Administrasi
    • Seleksi Wawancara & Leaderless Group Discussion (LGD)
    • Setelah peserta lolos kedua seleksi tersebut, maka diwajibkan untuk menempuh PK (Program Kepemimpinan/ Persiapan Keberangkatan)
    • PK dilakukan dengan model “karantina” selama 7 hari untuk mengasah jiwa kepemimpinan dan nasionalisme para penerima Beasiswa LPDP
    • Setelah mengikuti PK peserta berhak memperoleh dana beasiswa LPDP dan mulai berkuliah di univesitas tujuan masing2.

    lpdp

Tips Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI)

BPI bisa dikatakan beasiswa produk LPDP yang paling “laris” di kalangan fresh graduates dan profesional muda. BPI menyediakan fasilitas berupa:

–          Biaya registrasi

–          Biaya kuliah (tuition fee)

–          Tiket pesawat PP 1 kali

–          Biaya hidup (settlement allowance & living allowance)

–          Biaya buku

–          Biaya tesis/ disertasi

–          Biaya Seminar Internasional

–          Reward Jurnal Internasional

–          Dll

Berikut ini tips memperoleh BPI:

  • Tentukan dulu jurusan, universitas, dan negara tujuan kuliah yang kamu minati (S2/S3 dalam negeri & luar negeri). Kalau bisa carilah jurusan yang berkontribusi langsung kepada masyarakat. BPI memprioritaskan peserta2 yang kuliah di jurusan2 berikut.
  • Perhatikan baik2 jadwal kuliah di jurusan/universitas tujuanmu dan mulailah menyusun timeline kapan harus mendaftar BPI. Memang betul bahwa pendaftaran BPI dibuka sepanjang tahun, tetapi kamu harus mempertimbangkan jarak antara jadwal masuk kuliah dengan proses seleksi yang panjang (terutama PK). Akan lebih baik jika kamu mendaftar BPI 1 tahun sebelum rencana kuliah.
  • Perlu diketahui, jadwal wawancara aplikasi BPI dibagi dalam 4 kali setahun (Maret, Juni, September, Desember). Untuk setiap kali jadwal wawancara, deadline pengumpulan berkas umumnya 1 bulan sebelumnya (rajin2lah tengok website LPDP untuk update deadline terbaru). Jadi tetapkan dulu kamu akan ikut seleksi di bulan apa.
  • Misalnya: Jika kamu berencana kuliah di UK dengan jadwal masuk kuliah 1 Oktober 2016, maka ikutlah seleksi maksimal di bulan Maret 2016 (kalau bisa September 2015). Jangan mengikuti seleksi di bulan Juni 2016 karena akan terlalu mepet. Kamu bakalan ribet mengurus persiapan kuliah berbarengan dengan proses adminstrasi BPI *pengalaman prbadi*. Mendaftar 1 tahun sebelumnya juga menguntungkan in case kamu gak lolos seleksi administrasi/wawancara. Aturan dari BPI, kamu baru bisa daftar lagi 6 bulan kemudian.
  • Setelah menetapkan kamu akan ikut seleksi di bulan apa, mulailah menyusun timeline untuk melengkapi berkas2 pendaftaran. Yang paling berat biasanya tes TOEFL iBT atau IELTS. Untuk persiapan tes ini saja kamu butuh sekitar 3 bulan. Well, it’s a long journey guys 🙂
  • Usahakan untuk memperoleh LoA (Letter of Acceptance) dari universitas tujuanmu. LoA bukan syarat mutlak, namun cukup membantu dalam proses seleksi. Setelah lolos seleksi, kita juga bisa mengajukan pergantian universitas jika dirasa perlu.
  • Sertakan sebanyak mungkin kegiatan sosial, pengabdian masyarakat, dsj ke dalam berkas aplikasimu. Beasiswa BPI sangat menitikberatkan pada pentingnya kontribusi ke masyarakat.
  • Apabila lolos seleksi administrasi, kamu akan dihubungi untuk seleksi wawancara dan LGD. Tips soal ini sudah banyak banget beredar di dunia maya sih. Yang penting be yourself aja dan sekali lagi, yakinkan pewawancara bahwa kuliah yang kamu ambil akan bermanfaat bagi masyarakat, serta nyatakan bagaimana bentuk kontribusimu nanti.
  • Jika lolos seleksi wawancara dan LGD, selamat! Kamu basically sudah tercatat sebagai penerima BPI. Hanya saja, kamu tetap wajib mengikuti PK (Program Kepemimpinan/ Persiapan Keberangkatan) sebelum mulai kuliah. PK bukan merupakan proses seleksi, tapi suatu kewajiban bagi penerima BPI untuk memantapkan nasionalisme dan kepemimpinan.

Oke, semoga sukses! 😀

Antara Akademisi dan Praktisi

Antara Akademisi dan Praktisi

“Ya mungkin itu yang terbaik, kamu ditakdirkan untuk menjadi orang profesional.”

Begitu SMS dari Bapak saat saya kabari tentang kegagalan dalam seleksi awal beasiswa ADS. Sejujurnya saya juga enggak terlalu berharap untuk langsung memperoleh beasiswa dalam usaha pertama mencoba–I’m pretty sure that it’s gonna be difficult. Apalagi full scholarship dari pemerintah negara yang sudah populer, pasti banyaknya peminat akan bertabrakan dengan terbatasnya kuota. Dan–ini yang utama–lebih sedikit kesempatan beasiswa diberikan bagi pegawai swasta daripada bagi akademisi, pegawai pemerintah, atau aktivis LSM. A sad truth for me 🙁

Bapak saya mungkin berpikir, memang anakku ini kayaknya lebih cocok jadi “orang profesional”  dalam artian jadi praktisi, kerja kantoran, jualan produk dan bergelut dalam bisnis manufaktur bertekanan tinggi (duh). Padahal kerja di pabrik itu capek–capek tenaga, pikiran, dan emosi. Masuk jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Kerja dari hari Senin sampai Sabtu. Rekan kerja yang keras dan kadang main sikut. Bos besar yang hobi ngamuk2. Customer yang cerewet, deadline yang mepet, hal-hal kayak gitulah.

Tapi somehow emang industri manufaktur punya tantangan tersendiri. Ya asik aja gitu kamu bisa tahu proses “penciptaan” suatu barang mulai sourcing parts sampai tiba di tangan konsumen. Industri manufaktur adalah industri yang paling kompleks–jika kamu sudah menguasai alurnya maka akan lebih mudah untuk terjun di bidang lainnya (someone said to me). Apalagi kalau mau punya bisnis sendiri, sungguh pabrik adalah tempat yang tepat untuk menimba ilmu.

I enjoy working here, tapi agak nggak terima aja kalo bapakku bilang kayak gitu. Apa itu artinya saya enggak ditakdirkan untuk bisa kuliah lagi? Duh ya jangan dong. Bisa2 jadi geblek beneran nih 😐 Baru 1,5 tahun kerja di sini aja rasanya otak udah tambah dhedhel–maunya mikir cepet yang praktis2 aja, jadi kurang kritis gitu.

a dream to study abroad

a dream to study abroad

Mestinya bisa kan jadi dua2nya–ya praktisi ya akademisi. Teori itu bukannya nggak penting lho ya. Kalau kamu tau teorinya, kerjaanmu jadi lebih gampang. Dosen saya dulu (MBA lulusan UK yang puluhan tahun kerja di perusahaan) pernah bilang, ibaratnya kalo kamu punya teori, kamu sudah punya ‘senjata’ sebelum berperang. Jadi misalnya ada permasalahan A, kamu tinggal keluarin ‘senjata’mu satu2, kalau gagal coba ‘senjata’ lain, dan seterusnya jadi gak perlu coba2 lagi. Meskipun kondisi lapangan tidak bisa ditebak, tapi setidaknya kamu punya pegangan awal, sisanya serahkan pada kreativitasmu sendiri.

Sebaliknya, kamu juga gak bisa memahami teori tanpa dipraktekkan. Kalo cuma belajar secara kognitif teori itu nggak akan nyantol…Kamu baru benar2 paham apa gunanya setelah ketemu kasus yang beneran di dunia nyata. Nanti setelah kamu berulangkali mempraktekkan teorimu, siapa tahu di lapangan kamu menemukan “celah” pada teori itu dan kemudian memperbaikinya. Akhirnya kamu jadi “pembuat” teorinya kan. Kesimpulannya…kamu perlu praktek untuk bisa memahami teori, dan teori itu sendiri sejatinya ya berasal dari praktek. Dua2nya sama pentingnya 😉

Jadi akademisi atau praktisi–mengapa harus dipilih? We can choose NOT to choose. Belajar itu bisa dari mana saja kan…yang penting sekarang…..well, I just wanna study abroad 😀

Kamu juga kan?