Kisah Bocah dari Masa Depan (4)


Sekarang di rumah ini tidak hanya ada Raihan Anggara. Umurku 3 tahun dan baru saja aku mendapatkan adik perempuan yang cantik, namanya Prameswari Aisha. Prameswari artinya permaisuri, istri raja yang anggun mempesona. Aisha adalah nama istri Nabi yang cantik, cerdas, dan berpikiran maju. Nama yang luar biasa, semoga adikku ini dapat menjadi seindah namanya.

Sekarang Ibu jadi sibuk mengurusi Aisha. Aku jadi lebih sering bermain dengan tetangga-tetanggaku. Mereka semua asik-asik dan pintar-pintar. Ada yang lebih tua sedikit dariku, dan dia sering berkata dengan bahasa aneh saat bicara. Kata Ibu itu namanya bahasa Inggris. Pernah aku minta diajari agar bisa mengerti ucapannya, tapi Ibu hanya memberitahu sedikit kata-kata saja. Kata Ibu nanti kalau sudah sekolah Ibu Guru akan mengajariku.

Ibu bilang, kalau di rumah aku bicara bahasa Indonesia saja, atau bahasa Jawa juga tak apa, jangan ikut-ikutan tetangga pakai bahasa Inggris. Kata Ibu sekarang semua orang sok berbahasa asing, tapi melupakan bahasa nasionalnya sendiri. Padahal kalau bukan kita, siapa lagi yang akan memakai bahasa nenek moyang? Teman-teman seusiaku banyak yang lancar bahasa Inggris tapi bahasa Indonesia-nya patah-patah, padahal mereka lahir dan besar di sini. Kasihan…

Menurut Ibu, ini namanya globalisasi kebablasan. Apa itu “globalisasi”? Susah sekali diucapkan. Tak tahulah. Ibu mengoceh saja…Katanya sekarang batas negara hampir tak ada artinya lagi. Orang asing, barang asing, budaya asing semua masuk Indonesia tanpa hambatan. Dulu Ibu masih sempat menikmati gurihnya tahu Kediri dan tempe Sanan yang khas. Tapi sekarang hampir tidak mungkin. Kalaupun ada, harganya selangit. Tempe dan tahu sekarang semua impor dari China! Tak cukup hanya kedelainya saja.

Tak cuma itu. Beras, sayuran, buah, daging, susu, bahkan ikan pun semuanya impor dari negara lain. Padahal kalau dari cerita Ibu, Indonesia itu negara agraris sekaligus negara bahari yang kaya sekali. Banyak gunung berapi sehingga tanahnya subur. Tapi kini banyak tanah yang rusak tak bisa ditanami. Apel Batu saja kini sudah punah. Tanah di Batu kerontang dan mandul, habis teracuni oleh pupuk kimiawi. Sebagai gantinya, apel Fuji yang berjajar di pasar tradisional.

Profesi nelayan sekarang tak ada lagi. Dulu ikan tangkapan masih banyak. Sekarang terumbu karang hancur karena dahulu dibom oleh kapal besar yang serakah menangkap ikan. Laut pinggiran tercemar oleh sampah sehingga ikan tak bisa hidup. Kalau mencari ikan harus agak ke tengah laut, tapi harga bahan bakar mahal, nelayan tak punya modal sehingga mereka gulung tikar.

Duh, apes sekali nasib bangsaku ini. Bangsa yang kaya tapi bodoh dan hanya bisa diperbudak bangsa lain. Tapi kukatakan pada Ibu, aku tak mau jadi budak. Aku mau jadi orang kuat yang bisa berdiri di atas kaki sendiri. Aku akan kerahkan semangat teman-teman seperjuangan, bersatu padu melawan penjajahan baru…

Ups, mungkin 20 atau 30 tahun lagi 😛