Sebuah Pengakuan

Ehm…
Malam ini, setelah blogwalking ke beberapa blog teman2 Ma Chung…saia merasa ingin lebih jujur terhadap diri sendiri.
JUJUR. Saia ingin jujur. Saia ingin berhenti mengesampingkan semua yang saia rasakan dan menganggap apapun yang terjadi baik2 saja. Saia ingin jadi orang yang lebih PEKA.

Okay, actually it’s hard to say this… Tapi setelah baca blog Vania yang blak2an dan apa adanya, saia pun ingin mencoba ‘menelanjangi’ diri sendiri…bukan dalam hal negatif tentunya (!) Tapi mencoba mengutarakan apa yang BENAR2 saia rasakan dan belajar untuk lebih punya EMOSI. Mungkin rasanya bakal lebih lega yah kalo kita mencurahkan smua perasaan di dalam sini, tumpah ruah keluar sana?

Saia nggak tau. Okay, saia bukan Vania yang bisa terbuka sama banyak orang and honestly share what she exactly thinks. Saia terlalu banyak berbohong pada diri sendiri. Terlalu banyak mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak saia rasakan. Dan lama2, akhirnya saia jadi BENER2 GAK PUNYA PERASAAN.

Really. Belakangan ini kehampaan itu smakin memuncak. Saia gak tahu kenapa. Padahal saia merasa hari2 saia di kampus tetap menyenangkan seperti biasanya. Pelajaran oke, kegiatan oke, teman oke, dosen oke, really it’s a great days for me. Mr Lucky, I wasn’t lie when u asked about our memorable moment ini our life. I’m exactly experience it, right now. Being here, in this place, with these people, really makes me feel blessed. I can’t and I won’t forget it all my life. It’s my memorable moment forever.

Tapi seperti yang sudah saia bilang, saia belum bisa jujur kepada diri sendiri. Kadang saia merasa sulit, takut, dan khawatir untuk terlalu membuka diri kepada orang lain. Untuk menjalin hubungan yang benar2 kuat dengan orang lain. Untuk menggantungkan sebagian dari rahasia diri kita kepada orang lain. Maaf, saia terlalu sombong untuk melakukan itu.

Entah dari mana dan sejak kapan, saia belajar untuk hidup hanya dari diri saia sendiri. Sejak suatu saat di SMP, ketika saia menyadari saia lebih banyak melakukan hal2 bodoh ketika merasa ‘tergantung’ pada seseorang, saia mulai merasa lebih baik saia belajar untuk tidak terlalu terikat pada orang lain. Sedikit ‘perasaan yang berlebihan’ pernah membuat saia sakit hati. Karena itu, ketika SMA saia memutuskan, ‘hiduplah untuk dirimu sendiri’. Saia berteman, tetapi tidak membagi sepenuhnya diri saia. Saia tertawa, tapi hanya untuk bersenang-senang sesaat. Saia membatasi diri dari orang2 yang ingin mengorek lebih dalam dari saia. Dan akhirnya, tinggallah saia seperti robot. Berlari-lari tanpa emosi, mengejar sesuatu yang saia pikir adalah tujuan hidup, tetapi ternyata tidak membuat saia amat puas ketika mencapainya.

Saia tidak pernah menangis untuk hal2 yang remeh. Saia memang berusaha untuk tidak melakukannya karena saia pikir itu akan membuat saia lebih kuat. Tapi ternyata, tangisan yang tidak dikeluarkan itu malah meruntuhkan seseorang dari dalam. Tuhan benar. Airmata tidak diciptakan untuk disimpan, tapi untuk dikeluarkan.

Tapi terlambat. Pertahanan diri yang sudah saia bangun bertahun-tahun menjadi lebih sulit untuk diruntuhkan. Ketika ingin memulai membuka diri pada orang lain, rasanya menjadi lebih sulit. Saia takut orang2 akan memandang saia secara berbeda, ketika mengungkapkan apa yang sebenarnya saia rasakan. Saia sudah terbiasa menekan semua emosi saia dan bekerja secara netral untuk mencapai apa yang saia inginkan. Tapi Tuhan, itu bikin hidup saia hampa. Dan saia baru menyadarinya sekarang…

Saia baru sadar bahwa sampai saat ini, hidup saia semu. Semua gembira dan sedih yang pernah saia alami, teman2 baik hati yang pernah saia temui, tidak ada yang pernah benar2 ‘mengguncang’ saia. Hidup saia datar, netral, dan lurus apa adanya. Bukan karena saia tidak pernah mengalami sesuatu yang mengguncangkan, melainkan karena saat saia mengalaminya, saia berusaha menekan emosi saia agar hal itu tidak terlalu membuat saia kecewa di kemudian hari. Saat saia merasa sangat senang, saia takut itu semua hanya mimpi dan suatu saat saia bisa saja terbangun dan merasa amat kecewa. Rasanya pasti sangat menyakitkan dan saia tidak mau mengalaminya. Maka lebih baik saia tidak terlalu merasa senang. Saat saia sangat sedih, saia takut kesedihan itu akan membuat saia menjadi pribadi rapuh yang mengganggu aktivitas harian saia, sehingga sebisa mungkin saia mencoba agar tidak terlalu memikirkan kesedihan saia.

Sikap saia yang terlalu ‘emosional’ saat SMP sering menaik-turunkan perasaan saia, mood saia, dsb. Sehingga ketika memutuskan untuk serius mengejar cita2 saia saat SMA, emosi2 berlebihan itu hanya saia anggap sebagai penghalang. Yang coba untuk saia hilangkan. Dan itulah kesalahan terbesar saia. Mengeset diri sendiri menjadi robot hidup.

SAIA BUTUH EMOSI. Saia baru sadar sekarang saia sudah menjadi orang yang kelewat TIDAK SENSITIF. Saia baru sadar bahwa saia ingin mengalami sebuah sensasi yang mendebarkan, emosi yang naik-turun, roller coaster hidup yang membuat hari-hari saia terasa lebih seru dan menegangkan. Tertawa dan menangis sekeraaasss mungkin. Merasa amat senang, dan merasa amat sedih. Membuka diri kepada orang lain dan mencoba menunjukkan diri saia kepada dunia. Saia harus memulainya. Sekarang.

Ka2 kelas yang baru mengenal saia setelah masuk UMC, berkata bahwa saia ini tipe ‘sanguitis’ (gak tau bener gak si niy nulisna?). Ekspresif, mudah terbawa emosi, dan punya banyak ide tapi gak punya cukup niat untuk merealisasikannya. Hahaha. Bertolak belakang dengan yang saia ceritakan di atas. Teman2 dekat saia di SMP menganggap saia gila dan hiperaktif, tetapi di saat yang sama menganggap saia misterius dan sulit ditebak. Teman2 SMA ada yang menilai saia blak-blakan, sementara yang lain menganggap saia jaim.

Itulah masalahnya. Di depan beberapa orang saia bisa menjadi pribadi yang berbeda dengan yang saia tampilkan di depan orang lain. Saia terlalu banyak memakai topeng, terlalu sering menggantinya sampai saia tidak tahu wajah asli saia yang mana. Kebiasaan ini telah saia latih entah sajak kapan. Saia belajar untuk tidak membiarkan orang lain benar2 mengetahui diri saia sebenarnya. Dan akhirnya, saia terjebak dalam permainan saia sendiri. Saia tertipu oleh kebohongan saia sendiri.

Saia pun jadi sering bermain peran. Berakting agar orang lain berpikir bahwa saia memang seperti yang mereka pikirkan. Berakting agar orang lain menilai saia seperti apa yang saia inginkan. Saia sudah membuat labirin menyesatkan untuk diri saia sendiri!!!

Orang2 akan berpikir, mengapa saia membuat segalanya begitu rumit? Mengapa tidak saia tunjukkan saja wajah asli saia kepada semua orang??? Sekali lagi itulah masalahnya. Saat ini wajah asli saia hanyalah seonggok daging tanpa emosi. Datar dan tanpa respon ke nyaris semua hal. Kalau hanya itu yang saia tunjukkan, saia tidak akan terlihat menarik. Saia harus mengeset beberapa karakter untuk ditampilkan ke orang lain. Sekarang saia berwajah rata. Saia harus membuat beberapa topeng dan memakainya bergantian di depan orang2 yang berbeda.

Betapa jauh yang sudah saia perbuat sejak memutuskan untuk menanggalkan emosi saia. Tuhan, saia sudah melakukan sebuah kesalahan besar!

Saia bertekad tidak akan mengulanginya lagi. Saia sudah berusaha untuk menjadi lebih peka dan emosional sejak masuk UMC. Terbukti dengan ucapan ka2 kelas tsb, dan laoshi yang menganggap saia ekspresif. Itu juga salah satu alasan yang membuat saia betah di UMC. Karena saia bisa memulai segalanya dari awal…membentuk image baru saia…melukis ulang wajah yang sempat rata… Huff, rasanya saia harus mulai memberi perhatian lebih pada segala hal yang dulu pernah saia anggap sepele…

Tuhan…aku benar2 baru saja menelanjangi diri…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *