Renungan Ramadhan (7): Sedekah itu Mudah

Sebenarnya, saya nggak terlalu setuju sama sedekah ala Ustadz YM, itu lho yang suka ceramah pagi2 di MNC TV (yang nggak tau…cari tau sendiri ya :P). Seolah2 kita sedekah hanya demi kepentingan diri kita (baca: memperbanyak harta kita sendiri), enggak murni karena ingin membantu saudara kita yang kurang mampu. Padahal nikmat sedekah sebenarnya ada pada ikhlas, kan?

Padahal Allah jelas2 berfirman:

“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS Al-Muddatstsir:6)

Nah lho…makjleb banget kan?

Ya, Allah memang menjanjikan balasan berlipat ganda bagi orang yang menafkahkan harta di jalanNya. Namun yang Dia hargai bukanlah jumlah sedekah itu, melainkah keikhlasan dan niat baik untuk memberinya. Nih buktinya.

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkan itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaaan si penerima). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS Al-Baqarah:262-263)

Jelas banget kan, inti dari sedekah adalah kepekaan untuk menolong sesama, bukan jumlah nominalnya. Jadi, menurutku “matematika sedekah” ala “ustadz-itu” enggak masuk akal. Kalau kita sedekah sekian, nanti kita dapet balasan sekian. Seolah2 sedekah itu alat mencari nafkah. Seolah2 sedekah melegalisasi kita untuk bermalas2an (hanya tinggal sedekah lalu menunggu balasan rezeki) tanpa bekerja keras.

Sedekah itu juga enggak melulu pakai materi. Hadits ini buktinya.

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap muslim harus bersedekah.”

Mereka bertanya: “Jika ia tidak punya?”

Nabi menjawab: ”Dia bekerja dengan kedua tangannya, maka ia memberikan manfaat untuk dirinya sendiri lalu bersedekah.”

Mereka bertanya lagi: ”Jika ia tidak mampu atau tidak melakukannya?”

Beliau menjawab: ”Ia menolong orang yang kesulitan.”

Mereka bertanya lagi: ”Jika ia tetap tidak melakukannya?”

Beliau menjawab: ”Hendaklah ia memerintahkan berbuat kebaikan.”

Mereka bertanya lagi: ”Jika ia tetap tidak melakukannya?”

Beliau menjawab: ”Hendaklah ia menahan diri dari perbuatan jahat, hal itu sudah merupakan sedekah.” (HR. Bukhari)

Pada hadits lain, beliau juga berkata:

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap persendian manusia harus bersedekah pada setiap hari dimana matahari terbit. Berlaku adil di antara dua orang merupakan sedekah, dan membantu seseorang mengangkat bagasi ke atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya merupakan sedekah, dan ucapan yang baik merupakan sedekah, dan setiap langkah yang diayunkannya menuju sholat (berjamaah) merupakan sedekah serta menyingkirkan apa-apa yang mengganggu dari jalanan merupakan sedekah.” (HR Bukhari)

Dan juga ini:

Rasulullah SAW bersabda:”Setiap perbuatan ma’ruf (kebaikan) adalah sedekah dan di antara perbuatan ma’ruf adalah engkau menemui saudaramu sekedar dengan wajah berseri-seri dan engkau menuangkan (air) dari timbamu ke dalam bejana saudaramu.” (HR. Tirmidzi)

Ya ampun…gampang banget kan ternyata sedekah itu? Nggak perlu nunggu kaya untuk bersedekah!

8 thoughts on “Renungan Ramadhan (7): Sedekah itu Mudah

  • June 1, 2012 at 11:12 am
    Permalink

    Saya sangat menghargai pendapat anda. Namun sebagaimana anda bebas berpendapat, saya juga akan menyampaikan pendapat saya. Mohon jangan jadikan ini sebagai perdebatan. karena Alloh melarang adanya perdebatan sesama Muslim. Karena sesama muslim adalah saudara. Karena dengan berdebat, maka kita akan saling sekuat tenaga untuk menjatuhkan lawan kita.

    1. Sebenarnya, saya nggak terlalu setuju sama sedekah ala Ustadz YM, itu lho yang suka ceramah pagi2 di MNC TV (yang nggak tau…cari tau sendiri ya icon razz Renungan Ramadhan (7): Sedekah itu Mudah ). Seolah2 kita sedekah hanya demi kepentingan diri kita (baca: memperbanyak harta kita sendiri), enggak murni karena ingin membantu saudara kita yang kurang mampu. Padahal nikmat sedekah sebenarnya ada pada ikhlas, kan?

    Jawaban :
    1. Saya yakin anda belom pernah mempraktekan ilmu sedekah. padahal rumus sedekah bukan hanya berlaku bagi umat muslim, tapi bagi umat manusia. Bahkan Oprah Winfrey juga sudah mempraktekannya. juga Bill Gates.
    2. Apabila kita bersedekah untuk membantu sodara kita yang kurang mampu. Maka yg muncul dalam pikiran kita adalah harta/uang tersebut adalah milik kita yang sebagiannya kita kasih kepada orang yang tidak mampu. Padahal Uang kita adalah hanya titipan Alloh yang sebagiannya adalah HAK mereka yg membutuhkan. Gini aja, misal anda punya uang, anda berniat mengasih uang tersebut kepada tetangga anda yang kurang mampu, tapi tetangga tersebut anda suruh tidak mau bahkan membantah. Anda pasti sakit hati kan?. Anda akan bilang “Dasar orang ndak tau terima kasih!” udah dikasih duit tapi ndak mau disuruh!. Lain halnya dengan persepsi bahwa uang tersebut memang HAK dia. Perkara dia mau berterima kasih sama kita atau tidak. itu urusan dia sama Alloh. Makanya dalam hadist nabi dikatakan bahwa sedekah seorang hamba yang paling dahsyat melebihi penciptaan Alloh adalah sedekah yang dikeluarkan oleh tangan kanan tanpa sepengetahuan tangan kiri. Artinya manakala kita mau sedekah, lalu kita liat ada orang yg membutuhkan ya udah kasih aja. dan sebaiknya emang diberikan kepada orang yang tidak kita kenal atau tidak mungkin orang itu mampu membalasnya kepada kita walau hanya dengan ucapan terima kasih. makanya dalam pemerintahan islam ada Badan Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh.
    Jadi zakat atau infaq kita, kita setorkan kepada petugas. Dan penyalurannya kita percayakan sepenuhnya kepada Badan tersebut. Sehingga kita tidak pernah berharap balasan dari orang yg kita beri. Kita hanya boleh berharap dapat balasan dari Alloh semata.zakat, infaq dan shodaqoh adalah ibadah. “Iyya kana’budu wa iyya kanasta’in” kita disuruh beribadah. Kalo sudah menunaikan ibadah, kita baru boleh mengaharapkan pertolongan Alloh. ingat! hanya pertolongan Alloh.

    kemudian :

    “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS Al-Muddatstsir:6)

    Nah lho…makjleb banget kan?

    Disini yang tidak diperbolehkan adalah mengahrapkan balasan yg lebih banyak dari orang yang kita beri.

    seperti budaya di kampung2 yang sering mengadakan hajatan dengan mengundang penyanyi atau nanggap wayang. mereka berharap dari uang yg telah ia keluarkan akan mendapatkan sumbangan dari tetangga yg lebih besar. sehingga dia akan UNTUNG.
    sehingga sudah lazim di kampung Istri saya, hajatan dengan cara TONJOKKAN.
    Yaitu undangan berupa berkat yang isinya ayam. kalo ayamnya cman sepotong ya . nanti sumbangannya sekitar 25 ribu atau maksimal 50 ribu. tapi kalo undangannnya isinya ayam utuh atau panggang. berarti nanti sumbangannya minimal 100 ribu. artinya yang punya hajat pasti untung kan..

    atau gini.
    teman saya pernah bersedekah kepada panti asuhan senilai 7 juta.
    kemudian dengan matematika sedekah dia berharap dapat balasan DARI ALLOH senilai 70 juta.
    suatu ketika dia ikut diving diajak teman2nya. walaupn ini adalah pengalaman pertamanya.
    Untuk diving, dia harus menyewa tabung oksigen dengan tarif 300 ribu per jam.
    Waktu diving karena kecerobohan dia, katup untuk untuk tabung oksigen ndak bisa kebuka, padahal dia sudah di kedalaman 8 m dibawah permukaan. Sehingga dia merasa mati deh, untung temennya tanggap, dan dia langsung dibawa ke permukaan. singkat cerita selamatlah dia.
    Dia bersyukur. dan dia mulai berhitung.
    Oksigen 1jam = 300.000
    untuk 1 tahun = 2.628.000.000,-
    itu baru 1 tahun. padahal umur dia saat itu adalah 35 tahun
    artinya untuk bernafas selama 35 tahun harusnya dia bayar ke Alloh = 91.980.000.000,-
    padahal dia berharap balasan 70 juta.

    pembahasan lainnya menyusul. mau sholat jum’at dulu

    Reply
    • June 2, 2012 at 1:55 am
      Permalink

      makasih tanggapannya mas 🙂
      saya rasa pendapat mas maksudnya sama dengan pendapat saya di artikel itu..jadi apa juga yang mau diperdebatkan wkwkwk 😛
      intinya sedekah harus ikhlas dan gak mengharap balasan lebih, gitu aja 🙂

      Reply
    • July 26, 2012 at 7:46 am
      Permalink

      sedekah.. tetapi harus [ikhlas]… berharap balasan cukup dari Alloh saja.. toh Alloh jg udah janji akan melipat gandakan tanpa kita minta terlebih dahulu kan.. hehehehe… 🙂

      Reply
      • July 27, 2012 at 4:30 am
        Permalink

        bener masssss..klo emang niat mau ngasih ya kasih aja gak usah mikir panjang2 hehehe

        Reply
        • July 3, 2013 at 2:20 pm
          Permalink

          klo menurut saya…artinya kita sedekah untuk mengharap yang lebih itu begini…misal dengan sedekah 50rb kita bisa dapat 500rb dari Allah..kita akan banyak bersedekah lagi…pengalaman saya membantu orang.hutang 100juta..dengan quantum changing bisa lunas 100juta dalam waktu 1 bulan…Islam menganjurkan kita harus kaya sebagai muslim,sebab dengan kita kaya kita bisa berbuat lebih baik dan banyak untuk orang lain.

          Reply
          • July 5, 2013 at 12:51 pm
            Permalink

            ya memang kebanyakan orang sekarang berpikir begitu pak…tapi tentu lebih baik lagi kalau kita bisa berpikir “sedekah ya sedekah aja” kita sedekah semata karena ingin membantu orang, tidak mengharap balasan apapun entah dari orang yang diberi ataupun dari sumber lain…karena kalo kayak gitu rasanya masih belum sepenuhnya ikhlas. balasannya ada pada rasa bahagia yang muncul setelah memberi itu pak, karena dengan memberi kita belajar mencintai sesama 🙂

            ya pak, Allah itu Maha Kaya, kita pun harus berusaha kaya pak supaya bisa bantu banyak orang, setuju 🙂

          • August 11, 2013 at 11:41 am
            Permalink

            tu si umi harus belajar lg tentang jual beli sama allah…

          • August 23, 2013 at 5:23 pm
            Permalink

            wah bang…Tuhan kok diajak jualan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *