Renungan Ramadhan (4): Heaven is not Our Right

Untuk apa kamu beribadah?

Untuk apa capek2 shalat? Untuk apa lapar2 berpuasa? Untuk apa membagi rezeki kita buat orang lain?

Mayoritas orang akan menjawab: Biar dapat pahala.

Kalau dapat pahala terus kenapa? Biar masuk surga.

Apakah ada jaminan bahwa dengan menumpuk pahala sudah pasti kita akan masuk surga?

Masih ingat sebuah kisah tentang seorang pezina yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing? Atau seorang ahli ibadah yang su’ul khatimah karena penasaran bagaimana rasanya berbuat dosa?

Surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah. Bukankah Dia sudah menyuruh kita beribadah dengan ikhlas dan tidak mengharap sesuatu selain ridho-Nya?

Allah sudah mengatakannya dengan gamblang:

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (QS Al-Isra’: 7)

Setiap perbuatan, baik dan buruk, ada konsekuensinya. Dan semua itu akan kembali ke diri kita sendiri. Bisa dibilang, inilah hukum karma. Kalau kita rajin shalat, hati dan pikiran akan tenang. Kalau rajin puasa, nafsu terkendali dan badan jadi sehat. Memberi sedekah is just simply help others, efeknya ada di ketentraman hati dan perasaan cinta yang timbul karena menolong orang lain.

Jadi seharusnya, kita berbuat baik tidaklah karena mengharap pahala atau surga…tapi hanya karena ingin mengharap ridho-Nya. Toh perbuatan baik itu manfaatnya akan kembali pada diri kita sendiri. Jika memahami prinsip ini, meskipun surga dan neraka tak pernah ada, kita masih akan tetap bersujud padaNya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *