Uncategorized

Renungan Ramadhan (3): Panduan Pergaulan dalam Pluralitas


Siraman rohani dari Pak Quraish Shihab dini hari ini benar-benar sukses “menyiram rohani” saya. Temanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu bagaimana cara bergaul dengan teman-teman yang berbeda keyakinan dan tetap menghargai pluralitas.

Al-Quran mengakui dan menghargai pluralitas itu, seperti yang disebutkan dalam ayat berikut:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.” (Al-Hujuraat ayat 13)

Artinya, Allah memiliki maksud di balik penciptaan manusia yang beraneka ragam: Dia ingin agar kita saling mengenal. Saling bekerjasama; belajar dari kelebihannya dan membantu kekurangan yang lain. Perbedaan itu memang ada dan disengaja oleh Allah, karenanya tidak mungkin kita meleburkan perbedaan-perbedaan itu menjadi satu, karena nanti malah nggak ada bentuknya. Demikian pula dalam hal pluralitas agama, memang agama itu banyak, Allah memang sengaja menciptakan seperti itu—maka biarkan saja, jangan diributkan. Yang penting kita tetap menghargai ajaran agama masing-masing namun TIDAK MENYAMARATAKANNYA dan TIDAK MENCAMPURADUKKANNYA.

“Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” (Al-Kafiruun ayat 6)

Menghargai pluralitas itu bukan berarti menganggap semua agama sama—itu salah besar, itu namanya mencoba meleburkan semua agama menjadi satu. Perbedaan agama itu memang ada, dan nggak perlulah kita hilangkan sekat-sekatnya hanya demi TOLERANSI. Yang penting kan saling menghargai.

Seperti kata Pak Quraish, “Jangan mengorbankan aqidahmu demi pluralitas, tapi jangan pula menghancurkan pluralitas itu atas nama agama.”

Dengan siapapun, baik muslim ataupun nonmuslim, kita dianjurkan untuk berbuat kebajikan, dan dengan siapapun, baik muslim ataupun nonmuslim, kita dilarang berbuat keburukan.
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al-Maidah ayat 2)

Pak Quraish juga menyebutkan, bahwa ada 1 ayat dalam Al-Quran (lupa suratnya apa) yang menjelaskan bahwa kita boleh menolong dan memberi makan orang nonmuslim, selama mereka tidak mencoba merusak aqidah kita. Nabi Muhammad saja, ketika butuh uang, pernah menggadaikan perhiasan kepada orang Yahudi. That’s no problem. Yang penting, jangan sampai kita menggadaikan aqidah kita hanya karena alasan “sungkan dengan pemeluk agama lain”. Justru, kalau pemeluk agama lain itu benar-benar mengerti ajaran agamanya, dia malah akan menghormati kita dan tidak mencoba menghalang-halangi kita beribadah.

Pak Quraish bilang bahwa berteman dengan orang beda agama itu nggak pa-pa, yang nggak boleh adalah berteman dengan orang yang melecehkan agamanya sendiri, agama apapun itu. Karena orang yang teguh memegang agamanya, biarpun nonmuslim, mereka itu memiliki nilai-nilai luhur yang dijunjung. Dalam hal moralitas, semua agama itu sama-sama mengajarkan kebaikan. Pasti semua menganjurkan untuk menolong sesama, tidak menipu, tidak berbohong, dll. Yang beda kan hanya dalam hal ketauhidan.

Jadi, kalau direnungkan lagi, memang benar kata Pak Hasyim Muzadi saat ceramah di kampus saya dulu: “Kalau Anda muslim, jadilah muslim yang baik. Kalau Anda Budha, jadilah Budha yang baik.” Itu saja sudah cukup untuk menjadi pedoman toleransi. Karena seorang muslim yang baik dan Budha yang baik, pasti akan otomatis menghormati satu sama lain. Orang-orang yang menghina pemeluk agama lain, merusak tempat ibadah agama lain, maka bisa dipastikan bahwa orang tersebut bukanlah orang beragama yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *