Ranu Kumbolo, a Piece of Heaven

Hari itu, 25 Agustus 2012, keinginan menyambangi Ranu Kumbolo tiba2 terkabul seperti mimpi di siang bolong. Baru saja diucapkan, langsung kesampaian. Aku yang awalnya cuma berniat ikut baksos di Ranu Pane, tiba2 berkesempatan untuk main ke Ranu Kumbolo. Betul2 mendadak. Tanpa persiapan apa-apa, cuma sebotol Aqua dan sepasang sandal Crocs>>serius nih, hiking pakai Crocs! Bahkan surat keterangan sehat (yang digunakan buat izin di pos pendakian) pun enggak ada…jadi benar2 “menyusup”.

Tapi, kapan lagi kesempatan emas ini datang? Jadi kuputuskan untuk ikut saja dalam rombongan mereka: Akbar, Farid, Andru, Kancil, dan Cukong. Sebelumnya tidak ada satupun dari mereka yang aku kenal, kecuali Akbar, teman di Encompass yang juga anggota  klub pecinta alam YEPE. Tapi nggak masalah…di gunung, siapapun bisa jadi teman πŸ™‚

Ranu Kumbolo, Sepotong Surga di Lembah Semeru

Sebagai satu2nya cewek, aku disuruh jalan di depan (mungkin biar nggak ketinggalan). Pertama naik tanjakan rasanya ngos-ngosan karena badan belum terbiasa. Semakin lama, pendakian terasa lebih nyantai karena kita sudah menemukan ritmenya. Rutenya sebenarnya relatif enggak terlalu sulit, tapi butuh waktu lama (sekitar 3-4 jam). Saat itu pun musim kemarau…jadi debunya nggak nahaaannn πŸ™

Menuju Ranu Kumbolo ada 4 pos peristirahatan. Jarak tempuh yang terasa pualiiinggg jauh adalah dari pos 2 ke pos 3. Ampun-ampunan rasanya. Tapi capek itu nggak dirasa karena saat itu Semeru ramai sekali, maklum lagi libur Lebaran. Malam sebelumnya bahkan beredar kabar kalau ada 500 orang yang menginap di Ranu Kumbolo. Pantas saja, sepanjang perjalanan mendaki hampir selalu kami berpapasan dengan rombongan lain. Apalagi di Ranu Pane sedang ada pentas grup musik gunung “Blue Grass”. Jadi rasanya enggak kayak di gunung…tapi di kota para pendaki πŸ™‚

Perkemahan di tepian danau

Berangkat jam 10 pagi, kami sampai di Ranu Kumbolo sekitar jam 1 siang. Well…enggak ada kata yang tepat untuk mendeskripsikan Ranu Kumbolo. Keindahannya hanya akan benar2 terasa kalau kita langsung datang ke sana dan melihatnya sendiri. Melihat Ranu Kumbolo seperti menyadari bahwa Tuhan itu memang Maha Keren. Bayangin, sebuah danau di lembah yang dikepung oleh gunung-gunung… Dari jauh, Ranu Kumbolo kelihatan seperti genangan air di dalam mangkok raksasa.

Fakta paling keren tentang danau ini adalah, bahwa air danau berasal dari air hujan, bukan mata air gunung. Bisa dibayangkan, berapa ribu tahun dibutuhkan sampai air hujan bisa mengisi cekungan sebesar itu? Dan dari mana juga bisa muncul ikan-ikan di dalamnya? (Yang bisa jawab ngacung yah…nanti dikasih doorprize :P)
Di tepi danau kami istirahat, makan siang, sholat (pertama kalinya sholat di atas bukit menghadap langit), dan tentu saja foto-foto! Cuma sayang sejuta sayang, barangkali karena semakin banyak pengunjung, tepian danau jadi agak “nggilani”. Ada sisa-sisa nasi, sampah, dan airnya jadi agak keruh. Kalau mau ngambil air yang bening, harus agak ke tengah2. Actually I wonder if we could sailing across the lake, it will be so much fun! πŸ˜€

How true!

Sekitar jam 3 sore, setelah sholat Ashar kami “turun gunung”. Enggak nyangka, perjalanan turun ini (bagiku) terasa sangaaattt melelahkan. Karena kita enggak camping, kita harus langsung turun hari itu juga, padahal kaki ini masih cekot2 rasanya. Jarak antar pos jadi terasa 2 kali lipat jauhnya. Setelah melewati pos 1 aku hampir enggak bisa jalan lagi dan harus berpegangan sambil langkah setengah diseret. Gara2 jalan dengan kecepatan siput, kami baru sampai di bawah sekitar pukul 7 malam dalam kondisi mengenaskan (badan remek, kaki tengkleng, muka berdebu, dan pliket semua baunya gak karu-karuan).

Tapi meskipun dalam kondisi tepar, aku senaaaaanggggg sekali πŸ˜€ Senang karena akhirnya bisa melihat Ranu Kumbolo, senang karena  bisa refreshing lagi setelah hari2 kerja yang melelahkan (dan membosankan). Hari itu adalah sembilan jam yang istimewa bagiku. Sembilan jam yang biasanya kuhabiskan dengan berkutat di depan komputer kantor, sekarang kudedikasikan untuk salah satu pengalaman yang terkenang seumur hidup…

Puncak Mahameru

Pergi ke Ranu Kumbolo memantik keinginan untuk mendaki sampai Puncak Mahameru. Meskipun rasanya masih butuh beberapa latihan hiking lagi untuk sampai ke sana… But it makes me realize that this is what we live for. This kind of journey is the one that add value to our life. Dalam setiap perjalanan akan selalu ada pengalaman2 baru, teman2 baru, dan kisah hidup yang baru. Semuanya enggak akan kamu dapatkan hanya dengan duduk diam di depan layar monitor.

I want to explore more and more!

 

15 thoughts on “Ranu Kumbolo, a Piece of Heaven

  • September 4, 2012 at 11:29 pm
    Permalink

    aaaak.. dari dulu aku pengen banget ke sana belom kesampaian.. envy :S

    Reply
    • September 6, 2012 at 5:57 am
      Permalink

      ayo nit, kalo ke sana ngajak mas arlingga, asik kan kencan di gunung πŸ˜‰

      Reply
      • September 9, 2012 at 1:08 pm
        Permalink

        hahahaha….

        kencan di gunung…
        asik nih… ayo dicobain…

        Reply
        • September 10, 2012 at 7:06 am
          Permalink

          mangkaneee…jak en ujubmu munggah gunung bar…! πŸ˜€

          Reply
    • September 9, 2012 at 1:14 pm
      Permalink

      sepertinya naik gunung memang dapat menumbuhkan keakraban…

      πŸ˜€

      Reply
      • September 10, 2012 at 7:04 am
        Permalink

        setujuuu..haha btw sepurane bar kata2mu akeh sing takcomot ndek kene hehehe

        Reply
  • September 18, 2012 at 8:15 am
    Permalink

    ini catper barusan ya??
    TS Hobi hiking jg ya. sehobi sama gue dong :malus
    coba gabung di forum OUTDOOR ADVENTURE & NATURE CLUBS kaskus aja sist, bisa sharing di sana.. Salam rimba

    Reply
    • September 20, 2012 at 8:26 pm
      Permalink

      iya barusan..
      wah boleh dicoba tuh..trims infonya yah! πŸ˜€

      Reply
    • June 20, 2014 at 4:28 am
      Permalink

      badan, pikiran, dan hati jadi sejuuukkk πŸ™‚

      Reply
  • April 26, 2013 at 6:48 pm
    Permalink

    askum, pakabar mbak? waa ranukumbolo bikin ngilerrr >> dimana saat ini? btw ada pertanyaan dikit boleh ya? hari ini di blog saya tiba2 di kolom follower nama mbak umi sama mbak mutiara menghilang dan lucunya bersamaan dg itu banyak foto2 di halaman2 blog saya tiba2 jadi hitam dan melompong … bisa bantu saran mbak, kira2 kenapa ya ? trims, ditunggu ya .. sukses buat kalian dan sampai ketemu ya ! wass, th.

    Reply
    • June 20, 2014 at 4:31 am
      Permalink

      wa alaikum salam bu titiek…blognya sudah ganti yaa bu tampilannya…bagus bu, masih produktif aja nulisnya dan foto2nya…semangat n sukses selalu juga bu πŸ˜€

      Reply
      • June 20, 2014 at 5:14 am
        Permalink

        waa, cakepnya Ranu, saya belum nyampe kesana, ter tunda2 terus. kapan kerumah? trims viistnya ke blog kemarin ya, bgm karir, sukses ya!

        Reply
        • July 25, 2014 at 2:22 pm
          Permalink

          Bu Titiek rumahnya masih di bukit hijau itu kan yaa? saya sudah resign kerja di Surabaya bu… insya Allah nanti pengin mampir ke rumah Ibu πŸ™‚

          Reply
  • Pingback: Tak Akan Lari Puncak Dikejar (1) | Horizon of Habibah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *