Newbie Diary (2): Tempat Kerja Baru

I believe that all things happen in our life, all places we end up to, all people we end up with, are all a ‘destiny’. Ya, semuanya itu takdir. Seperti juga jodoh, rezeki, dan kematian; sekolah kita, tempat kuliah kita, tempat kerja kita, semua itu takdir. Takdir yang kita usahakan sendiri…tapi percaya atau enggak, ada kuasa Yang di Atas juga di dalamnya.

Setengah nggak sadar aku memutuskan menerima pekerjaan di perusahaan ini. Meskipun “image” perusahaan ini kurang baik–dari beberapa cerita teman dan rekan–tapi nekat saja aku masuk. Meskipun setelahnya harus menolak beberapa panggilan interview, even from the one I wanted, tapi ada sesuatu yang membuatku merasa, maybe this is gonna be my place.

Well, maybe. Probably.

Name Tag sekaligus kartu presensi

Tanggal 9 Juli 2012 aku mulai masuk kerja. Sekalung name tag terpampang di baju, yang harus dipakai selama masa training 3 bulan (nametagnya, bukan bajunya). Nggak terasa sudah 2 minggu aku menjalani hari-hari di sini. Dan, anehnya, aroma lem yang tercium begitu memasuki pabrik mulai terasa familiar.

Aku sepenuhnya sadar akan ada tugas dengan tekanan berat yang harus kulakukan di sini. Tapi, aku juga sadar, di sinilah tempat yang tepat untuk menempa diri. Mumpung masih muda, bukankah mental ini harus sering ditempa? Buat diriku yang malas, manja, nggak pernah pisah dari orangtua, tempat ini adalah tempat orientasi tepat untuk memperkuat diri, sebelum berkelana ke tempat yang lebih jauh. Perusahaan yang sangat disiplin, teratur, prosedur yang jelas dan sanksi yang tegas, meskipun pada awalnya terasa berat, tapi nanti aku sendirilah yang akan merasakan manfaatnya.

Rasanya, bekerja di perusahaan semacam ini jauh lebih baik daripada menjadi PNS yang makan gaji buta–lebih sering nganggur, tidak punya prosedur yang jelas, dan rawan KKN. Dua minggu aku mengamati proses produksi di perusahaan ini, aku mengakui bahwa mereka mempunyai standar kualitas yang sangat bagus. Setiap produk dibuat dengan teliti, sesuai spec, dan melewati tahap uji kualitas (Quality Inspection) yang berlapis-lapis. Setiap proses produksi, sesimpel apapun, ada Work Instruction (WI) dan KPI yang jelas. Bahkan setiap revisi dari WI sejak bertahun-tahun yang lalu pun dicatat dan diarsipkan dengan rapi. Aku saja terheran-heran dengan serangkaian tes (yang sangat banyak) yang harus diujikan pada setiap produk, bahkan setiap part-nya, sebelum dinyatakan layak dijual ke konsumen. Nggak main2, ketika ditemukan cacat pada sampel, di-reject-lah semua produk itu dan harus membuat lagi dari awal. Wow. Mereka betul2 berkomitmen dengan motto-nya, yaitu mengutamakan kualitas. Well, meskipun untuk itu, kadang buruh2 dan staff2 yang harus dikorbankan (overtime, lembur, dimarahin, dikejar deadline dll).

Oya, perbedaan status pekerja di sini juga sangat terasa. Buruh, pekerja outsourcing, pekerja tetap, semi-staff, staff, di antaranya kerasa banget perbedaan fasilitas yang didapat. Staff tentunya mendapat gaji paling tinggi (bisa tawar-menawar gaji sesuai skill yang dipunyai) dan fasilitas berlebih (snack & makan siang bergizi gratis, askes, jamsostek dll) tapi umumnya mereka harus memiliki background pendidikan min. S1 dari universitas ternama (atau yang punya hubungan kerja sama dengan perusahaan tsb). Sedangkan buruh, gajinya pas sesuai dengan UMR, tapi makannya beli sendiri, dan kalo keluar gak dapet pesangon (soalnya outsourcing). Kasian… 🙁

Namun, di luar dugaan, orang2 di sini ternyata ramah2 dan suka guyon. Nggak semua tentunya, yang paling terasa “koplak” adalah karyawan2 bagian produksi. Mungkin karena kerjanya di pabrik, lebih luwes dalam bergaul dan lebih mbanyol. Mulai dari buruh2nya sampai manajer produksinya, semuanya gampang akrab dan suka bercanda. Apalagi, banyak teman2 sepantaran yang sama2 trainee dan sama2 baru lulus kuliah, jadi lebih asik ngobrolnya 🙂

Kalo yang staff di kantor…I think they are more serious. Keliatannya orangnya kaku2…Mungkin karena kerjaannya lebih tegang dan tekanannya lebih besar, soalnya kalo kena marah langsung dari bos pemilik perusahaan 🙁 Moga2 aja kalo udah kerja beneran nanti aku bisa tahan dan beradaptasi dengan mereka ><

Well…Selama 2 tahun ke depan aku akan bekerja keras, mempersembahkan yang terbaik buat perusahaan ini. Aku sadar aku cuma bocah ingusan tanpa pengalaman. Kalau ingin jadi boss yang baik di perusahaanku nanti, bukannya harus belajar jadi karyawan dulu? Aku akan melahap habis, mempelajari semua yang bisa kupelajari di sini, supaya waktu keluar nanti, aku sudah jadi pribadi yang jauh lebih matang dan dewasa, dan siap terbang ke Australia, berkelana keliling dunia! 😀

2 thoughts on “Newbie Diary (2): Tempat Kerja Baru

  • July 23, 2012 at 12:15 pm
    Permalink

    good point 🙂
    jangan cuman bekerja, berkarya juga ya di luar itu

    Reply
    • July 23, 2012 at 8:52 pm
      Permalink

      siap ndan..dengan blog ini aku berkarya! 😀

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *