Family & Friends Life's Diary

Mom-to-Be: Week 41, Tentang Sabar dan Tawakkal

(Nggak) kerasa banget sudah 9 hari berlalu sejak saya mengambil cuti melahirkan pada 3 Des 2018. HPL ditetapkan 8 Des 2018 dan berhubung saya gak mau nganggur lama2 maka sengaja ambil cuti mepet2…eh nyatanya emang tetap disuruh nunggu lama juga sih :’D

Sepertinya si debay betah banget ngendon di perut emaknya, mungkin faktor musim hujan dingin kali ya jadi dia lebih milih anget2an di dalem rahim ^^” Kehamilan pertama ini memang jadi kehamilan yang ditunggu-tunggu semua orang: saya, suami, ibuk, bapak, mama mertua, papa mertua, adek2, adek2 ipar, mbah uti, bahkan sekeluarga besar. Maklum yah cucu pertama dari kedua keluarga :’)) Ditambah lagi perkiraan jenis kelamin laki-laki membuat orangtua, terutama bapak saya, extra excited–secara beliau belum pernah punya anak cowok.

Sejak hari pertama cuti Ibu saya dari Malang sudah meluncur ke Semarang untuk menemani lahiran cucu pertamanya. Ehh ndilalah, si tole kayanya paham banget kalo kelahirannya ditunggu2 orang sekampung, jadinya dia malah ‘jual mahal’ dan gak nongol2 ke dunia ^^”

Jual mahal kamu ya Nak (source: https://assets.babycenter.com/)

Sejujurnya sejak Week 38 saya sudah mulai khawatir mengingat hasil USG menunjukkan berat badan janin ada di kisaran 3.91 kg, sebuah angka yang fantastis bukan :’D Dokter kandungan di RS Hermina Banyumanik sudah mewanti-wanti saya untuk diet ketat, dan mengharuskan operasi caesar jika BBJ di atas 4 kg. Karena kalau lahiran normal dengan berat segitu akan sulit sekali, perineum bisa robek lebar, dsb dsj dkk. Agak parno juga sih saya dengernya. Cuma kami bertekad kalau bisa diusahakan lahiran normal, karena saya sendiri takut juga kalau harus dioperasi (anaknya paling banter cuma pernah operasi gigi bungsu).

Week 39 setelah diet seminggu (kayak ngefek aja hehe) ternyata BBJ saya cukup “stabil” di kisaran 3.97 kg (nyaris banget yah Sodara!). Dokter menyarankan untuk kontrol lagi saat HPL jika bayi masih belum keluar, untuk didiskusikan bagaimana tindakan selanjutnya. Di tengah kegalauan tsb, saya kepikiran untuk cari second opinion, dan setelah browsing2 saya ajak suami untuk pindah kontrol ke RSIA Gunung Sawo bersama Dr Ratnasari Dwi Cahyanti. Tepat saat HPL (8 Des 2018), kami check up ke beliau dan hasilnya…BBJ saya “hanya” di kisaran 3.5 – 3.7 kg. Hmm mayan jauh juga bedanya yah 😀

Keterangan itu membuat saya dan suami super relieved, lega banget alhamdulillah, meskipun tetap saja bayi kami belum menunjukkan tanda2 akan lahir. Dr Ratna menyarankan kami kembali lagi 3 hari kemudian jika kontraksi belum muncul juga. Selama 3 hari tsb saya agak “lepas kontrol”, sehingga saat check up lagi 11 Des 2018, BBJ udah naik lagi jadi 3.8 kg ya ampun Nak kamu suka banget makan yahhh ^^”

Pada saat itu saya sudah siap mental untuk di-induksi, karena merasa sudah kelewat HPL dan setengahnya mulai bosan menunggu kelahiran si bayik. Teman2 yang usia kehamilannya mirip2 udah pada lahiran dan to be honest saya mulai lelah dengan kehamilan ini (e.g. pegal2, selangkangan sakit, tidur ga nyaman, makan terbatas dll). Namun Dr Ratna luarrrrr biasaaa sabarrr sekali Sodara2. Beliau menyarankan untuk tetap menunggu hingga HPL+7 hari (usia kandungan 41 minggu) mengingat janin, ari2, ketuban dll semua dalam kondisi bagus jadi tidak ada emergency call yang mengharuskan induksi / intervensi medis lain.

Sebetulnya itu saran yang baik sih…menurut Ibu saya memang bayi ini “belum minta keluar aja, jadi nggak usah dipaksa”. Rasanya tega sekali kita sebagai orangtua yang sudah merawat bayik ini 9 bulan baik2 dalam kandungan, lalu hanya karena gak sabaran tiba2 “dikejutkan” supaya bisa dipaksa keluar. “Saaken engko bayine kaget. Jarno wong sik kerasan ndik jero, durung wayahe metu…” demikian kata Ibu saya (translate: “Kasihan nanti bayinya kaget, biarin aja orang masih betah di dalam, belum waktunya keluar.”

Kalo dipikir benar juga ya. Barangkali ini pelajaran pertama menjadi seorang Ibu: harus sabar. Gak usah panik kalau teman2 seangkatan sudah melahirkan. Every baby has their own timing. Sama juga seperti nanti kalau anaknya sudah lahir, teman2nya sudah bisa tengkurap/merangkak/berjalan/berbicara/membaca/ranking 1/juara lomba/lulus/dapat kerjaan/nikah duluan/dll seorang Ibu harus bisa sabar dan tidak membanding-bandingkan anaknya dengan orang lain…

My baby has his own timing. Dan saya sebagai seorang Ibu harus belajar untuk mengerti, mendengarkan suara batinnya yang sekarang masih berdetak-detak di dalam rahim saya. Bukan hanya berita teman di sosmed, saran dokter, saran forum bumil dll… yang terpenting adalah mendengarkan suara hati bayi saya. I know he’s still doing well inside…just try to find the best time to show up to the world. 

Dan sabar, tawakkal, ternyata bukan perkara mudah. Untuk orang yang terbiasa doing something, maka doing nothing bisa sangat menyiksa diri…meskipun kadang doing nothing itu adalah the best thing we can do now. Jika semua ikhtiar sudah dikerjakan, segala doa sudah dipanjatkan, maka hanya berserah dirilah yang bisa dilakukan…

Anakku, kapanpun kamu lahir, dengan cara apapun kamu lahir, selama kamu bisa keluar dengan selamat dan Ibu bisa menyambutmu dengan sehat…itu saja sudah sangat membahagiakan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *