Kisah Bocah dari Masa Depan (3)


Raihan Anggara, itu namaku. Umurku sekarang 2 tahun. Aku sedih karena sekarang aku tidak lagi bisa minum Air Susu Ibu. Padahal aku paling suka karena saat menyusui Ibu akan bercerita macam-macam sampai aku tertidur. Sekarang aku minum susu botol. Pertama rasanya aneh tapi lama-lama terbiasa juga. Senangnya sekarang aku bisa makan makanan yang enak, tidak cuma bubur bayi. Ada biskuit, sayur, dan buah.

Bicaraku sudah lancar sekali. Meskipun agak cadel tapi Ibu selalu bisa mengerti maksudku. Ibu selalu mengajakku bicara supaya aku bisa hafal lebih banyak kata. Kalau menunjuk sesuatu Ibu selalu mengatakannya berulang-ulang supaya aku ingat. Aku bisa berhitung sampai dua puluh, aku bisa membedakan warna, dan aku tahu nama-nama hewan di sekitarku,
Setiap hari Sabtu Ibu membawaku ke dokter anak untuk periksa kesehatan rutin. Berat badanku dicek dan pertumbuhanku dipantau. Kata Ibu, saat dia masih kecil Mbah Uti juga rutin memeriksa kesehatannya. Bukan di dokter, tapi di Posyandu. Posyandu adalah Pos Pelayanan Terpadu. Di sini setiap pekan para ibu di kompleks datang memeriksakan anaknya, lalu diberi makanan bergizi. Kalau perlu juga ada imunisasi. Tapi sayang sekali, sekarang Posyandu tak ada lagi. Ibu-ibu sekarang sibuk sendiri-sendiri, tak mau mengurusi Posyandu, padahal itu demi anak mereka juga.

Kata Ibu, kalau ada Posyandu, tidak perlu ada anak-anak yang meninggal karena busung lapar. Tahu kan? Itu lho, penyakit perut buncit karena kekurangan protein. Apalagi di desa-desa, banyak ibu-ibu yang kurang paham makanan apa yang baik dan bernutrisi bagi bayi. Adanya Posyandu sangat penting sebagai sarana informasi cara merawat bayi.
Sekarang makin banyak saja bayi dan balita meninggal karena busung lapar, apalagi di daerah Timur. Ibu bilang saat dia masih muda kasus busung lapar sudah ada, tapi cuma seperti angin lalu. Berpuluh tahun berlalu, ternyata sama saja hasilnya. Bayi-bayi itu kelaparan di lumbung padi…

Aku bersyukur Ibu masih bisa memberiku makanan bergizi setiap hari. Kata Ibu, kalau anak-anaknya saja sakit-sakitan, bagaimana bangsa ini bisa maju…padahal anak-anak inilah calon generasi penerus…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *