Kisah Bocah dari Masa Depan (2)


Masih ingat denganku? Namaku Raihan Anggara, si bayi lincah. Sekarang umurku hampir 1 tahun. Aku sudah bisa berjalan, meskipun masih harus digandeng Ibu. Tapi aku belum bisa bicara lancar, hanya bunyi-bunyi nggak jelas yang keluar dari mulutku. Kata Ibu, anak laki-laki biasanya memang lebih cepat berjalan daripada bicara, berlawanan dengan anak perempuan.

Mbah Kakung dan Mbah Uti memujiku bayi yang pintar, seperti Ibu. Kata Ibu memang betul bahwa kecerdasan anak itu menurun dari ibunya, baik secara nature maupun nurture. Secara nature, gen kecerdasan menurun dari kromosom X yang disumbang oleh Ibu. Sedangkan secara nurture, Ibu sangat berperan dalam perawatan anaknya, mulai menyusui, mengajak bicara, dan mengajari tata krama. Ah, Ibu hanya sok bangga pada dirinya sendiri saja, hihihi.

Kami tinggal di sebuah kompleks perumahan yang asri. Setiap pagi Ibu mengajakku berjalan-jalan ke taman yang ada di dekat kompleks, katanya supaya aku mendapat sinar matahari yang cukup. Sinar matahari mengandung vitamin D yang bagus untuk pertumbuhan tulangku, supaya aku jadi laki-laki yang tinggi dan tegap. Taman di situ indah sekali, banyak pohon hijau dan ada kolam bening yang banyak ikannya. Kata Ibu, tempat ini adalah salah satu dari sedikit ruang hijau di kota ini. Saat Ibu masih muda, pulang pergi sekolah Ibu melewati sawah yang hijau dengan pemandangan gunung yang indah. Tapi sekarang, sawah itu sudah tak ada lagi, gunungnya sudah tak terlihat lagi. Berubah menjadi ruko-ruko di depan pasar yang dibangun saat Ibu kuliah dulu. Taman ini saja bisa bertahan karena hasil perjuangan warga kompleks, yang tidak rela ruang hijau ini digusur untuk proyek.

Kata Ibu, kalau lahan hijau terus-terusan dibabat, maka bumi akan semakin panas. Saat Ibu masih muda, kampanye penghijauan sudah sering digalakkan. Tapi hasilnya tidak sebanding dengan perusakan yang dilakukan penguasa serakah. Ibaratnya, setiap satu pohon ditanam, satu hektar hutan dibabat. Jadi laju perusakan lebih besar daripada penghijauan. Akibatnya sekarang, suhu udara rata-rata hampir 30 derajat celcius. Padahal kota ini di dataran tinggi yang dikelilingi gunung…

Seandainya aku sudah lahir saat itu, pasti aku akan ikut turun ke jalan dan menanam pohon sebanyak mungkin. Aku akan ikut memprotes pengusaha serakah yang menggilas hutan kota menjadi perumahan mewah. Akan kucegah mereka membuat bumi pada masaku menjadi sepanas ini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *