Kisah Bocah dari Masa Depan (1)


Hai teman…namaku Raihan Anggara, panggil saja Ray atau Angga. Dua kata namaku berasal dari bahasa Arab dan Sansekerta, tapi punya arti yang sama, yaitu “harum.” Nama yang bagus, bukan?

Aku baru saja melihat dunia. Kulitku masih belepotan cairan putih dan merah. Suster-suster dengan hati-hati memotong tali ari-ariku. Ya, Ibuku baru saja melahirkan aku. Dia tampak lemas tapi wajahnya penuh senyuman bahagia. Suster menggendongku dan menyerahkanku pada Ibu.

Ibu, senyumnya bercampur tangis saat memandangku. Ia menciumiku seakan aku anugerah terindah yang pernah dia miliki. Ya, kelahiranku adalah cita-cita terbesar Ibu. Sejak masih remaja Ibu sudah ingin mempunyai anak laki-laki. Ibu berjanji akan merawat dan mendidikku sebaik mungkin supaya aku jadi laki-laki sempurna. Aku pun berjanji akan membahagiakan Ibu—begitu janjiku saat masih di kandungan dulu.

Setelah itu suster meletakkan aku di sebuah boks kecil, sementara Ibuku beristirahat. Dia pasti sangat lelah. Perutnya mulas seharian dan ia mengejan berjam-jam agar bisa melahirkan aku. Pasti sakit sekali rasanya. Ibu memilih melahirkanku secara normal, agar lebih baik bagi kesehatanku. Dia pernah membaca bahwa bayi yang lahir normal, sistem kekebalan tubuh dan pernapasannya akan lebih kuat.

Di dalam boks, aku menangis keras sekali. Menangis keras, tandanya bayi sehat dan lincah—begitu kata suster. Kaki dan tanganku oun tak berhenti bergerak-gerak. Ya, aku memang sangat bersemangat. Aku ingin segera melihat dunia luar. Aku ingin segera bisa tengkurap, merangkak, berjalan, lalu bicara. Aku ingin mengalami hal-hal yang unik dan menakjubkan. Aku ingin berpetualang, dan akan kuceritakan kisahku pada kalian semua…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *