Dua Puluh Empat

Empat November dua ribu empat belas. Dua puluh empat. Mungkin angka keramat. Pada usia 24, Mark Zuckerberg jadi bilyuner. Pada usia 24, ibu saya menikah. Pada usia 24, saya terdampar di sebuah desa di barat laut Inggris bernama Lancaster.

Dua puluh empat, dulu terasa jauh dan terasa tua. Kini setelah mengalaminya, dua puluh empat terasa biasa saja–saya masih muda.

Ya, muda dan tua bukan lagi soal usia, tapi soal rasa. Banyak orang berumur 45 tapi merasa 25. Banyak juga orang berumur 25 tapi semangatnya sudah seperti 45 *duh*

Usia bukan lagi sebuah penanda dewasa. Usia adalah penanda berapa lama waktu yang sudah kamu habiskan untuk belajar–tapi bukan berapa banyak yang berhasil kamu pelajari. Dalam rentang usia sama, apa dan berapa yang dipelajari bisa saja berbeda.

Di usia 24, banyak kemajuan yang saya peroleh, dan tidak sedikit pula kemunduran yang saya rasakan. Manusia berubah, tetapi tidak pernah sempurna. Satu hal yang masih sama, saya selalu ingin menjadi orang yang berada di batas cakrawala. Saya suka berada di tengah2. Bukan konservatif, bukan liberal. Bukan dominan, bukan plegmatis. Bukan agamis, bukan agnostis. Bukan tomboy, bukan feminin. Bukan otoriter, bukan demokratis. Bukan kapitalis, bukan sosialis. Bukan keras kepala, bukan pasrah. Bukan realistis, bukan idealis. Bukan penguasa, bukan rakyat jelata.

Tapi apa jadinya? Seperti berdiri di atas dua perahu. Ketika keduanya melaju, yang ada saya malah jatuh tercebur ke sungai…

Seperti orang yang tak punya pendirian, ya?

Iya, saya takut memilih. Saya takut ketika berpindah ke satu sayap, akan kehilangan apa yang bisa saya dapatkan di sayap yang lain. Maka saya berdiri di antara 2 sayap, dengan harapan bisa beralih ke sayap kanan atau sayap kiri–tergantung mana yang sedang untung atau rugi.

Itu berarti saya oportunis, ya?

Nah kan. Tapi saya sedang dalam perjalanan mencari keseimbangan hidup. Bukankah seimbang harusnya berada di tengah-tengah? Tidak memihak? Non-blok? Seri?

Tipis bedanya antara seimbang dan tidak melakukan apa-apa.

Atau mungkin, perlu saya isi dulu timbangan kanan dan kiri itu, supaya jelas bedanya antara yang diam dan yang menyeimbangkan…

*tulisan random seminggu setelah ulang tahun ke-24*

keep-calm-because-i-m-twenty-four

3 thoughts on “Dua Puluh Empat

  • November 11, 2014 at 4:58 am
    Permalink

    Sepertinya ini kegalauan orang-orang di usia kita ya Mbak Umi. Tapi lebih baik galau tentang masa depan sekarang, daripada telat hehehe .. Love your quote: “Usia adalah penanda berapa lama waktu yang sudah kamu habiskan untuk belajar–tapi bukan berapa banyak yang berhasil kamu pelajari. Dalam rentang usia sama, apa dan berapa yang dipelajari bisa saja berbeda.” 🙂

    Reply
    • November 11, 2014 at 11:03 am
      Permalink

      iya nih krisis mid-20s namanya. thanks for dropping a line win! 😉

      Reply
  • Pingback: 2015 | Horizon of Habibah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *