Candi Singosari, Jejak Dinasti Penguasa Nusantara

Tau nggak, kalau ada candi di Indonesia yang ternyata belum selesai dibangun? Ya, itulah Candi Singosari. Candi yang merupakan peninggalan Kerajaan Singhasari (1222-1292 M) ini nyatanya adalah sebuah karya yang terbengkalai, alias ditinggalkan saat masih dalam proses pengerjaan.

Masak sih? Padahal candi itu kelihatan utuh kok?

Kalau teman-teman berkunjung ke Candi Singosari, cobalah perhatikan dengan seksama. Seperti candi pada umumnya, dinding Candi Singosari juga dihiasi ornamen ukiran. Namun, ornamen pada candi ini tampak seperti belum selesai. Pada bagian atas candi, ukiran ornamen terlihat detail, rata, dan rapi. Tetapi di bagian bawah candi, ukiran ornamen tampak kasar dan tidak mendetail, menandakan bahwa ornamen tersebut masih setengah jadi. Padahal menurut Wikipedia, candi ini dibangun dengan sistem menumpuk batu andhesit hingga ketinggian tertentu, lalu mengukirnya dari atas baru turun ke bawah. Ukiran di bawah yang masih belum jadi memperkuat dugaan bahwa candi ini sebenarnya belum selesai dibangun. Begitchu…!

Perhatikan perbedaan ornamen candi yang dilingkari

Lantas, apa sebabnya candi ini nggak selesai dibangun? Apa karena dana dari pusat dikorupsi sama pejabat daerahnya? Atau dikemplang sama kontraktor yang menang tender? Jawabannya nggak ada yang pasti. Sejarawan hanya bisa menduga-duga. Konon, candi ini dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa Syiwa. Namun, dalam proses pengerjaannya, Kerajaan Singhasari mendadak “gonjang-ganjing”. Kertanegara, raja termasyhur sekaligus raja terakhir Singhasari, tiba-tiba diserang oleh Jayakatwang, raja bawahannya dari Kadiri. Pemberontakan itu sangat tak terduga. Mulanya, Kertanegara mengira Jayakatwang akan menyerang dari arah Utara Kerajaan, sehingga ia mengirim Raden Wijaya, menantunya untuk menghalau serangan tersebut. Nyatanya, serangan dari utara itu hanyalah pancingan agar Istana kosong tanpa penjagaan. Saat itulah, Jayakatwang dan pasukan lainnya menerobos masuk Istana Singhasari dari arah Selatan. Dengan cepat istana pun diserang, Kertanegara dibunuh, dan Kerajaan Singhasari akhirnya runtuh. Tamat deh!

Keruntuhan Singhasari itulah yang diperkirakan menghentikan pengerjaan candi ini. Candi yang belum selesai itu konon dijadikan tempat pendharmaan bagi Kertanegara, sang raja terakhir.

Nah, Candi Singosari adalah tempat kontemplasi yang tepat untuk merenungi sejarah Nusantara dalam bingkai Dinasti Rajasa, dinasti para raja Singhasari dan Majapahit. Kalau teman-teman tertarik, silakan datang saja ke Jalan Kertanegara, Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Letaknya nggak jauh kok dari pusat keramaian, hanya beberapa ratus meter dari Pasar Singosari. Kompleks candi ini bersih dan indah. Kalau masuk kita harus mengisi buku tamu, lalu mengisi “uang kas” seikhlasnya kepada penjaga pos, yaa kira-kira goceng lah.

Sebelum datang ke tempat ini, ada baiknya teman-teman sudah memiliki sedikit pengetahuan tentang sejarah Kerajaan Singhasari dan Majapahit. Kalau sudah “mudheng” ceritanya, rasanya melihat candi ini akan lebih “marem”. Di sini kita bisa menghayati benar kisah-kisah para raja leluhur yang penuh intrik tetapi sungguh menarik. Berikut ini saya paparkan beberapa hasil ngelamun perenungan sejarah saat berwisata ke Candi Singosari…

Ken Dedes, Ibunda para Raja

Di halaman kompleks Candi Singosari, ada arca-arca yang dipajang berjejer lurus dengan pos jaga. Arca-arca tersebut dahulunya ditemukan bersama reruntuhan Candi Singosari pada tahun 1800-an. Sebagian arca diboyong ke Museum Leiden oleh penjajah Belanda tukang nyolong warisan budaya negara lain dan sisanya ditinggalkan di sekeliling candi. Kalau kita perhatikan, salah satu dari arca tersebut ada yang tidak punya kepala alias kepalanya hancur!

Arca itu sebenarnya adalah salah satu dari tiga arca Dewi Prajnaparamita yang telah ditemukan sejarawan. Dua arca ditemukan di Candi Singosari, sedangkan satu arca lagi di Candi Gilang, Tulungagung. Namun, di Candi Singosari hanya arca tanpa kepala yang bisa kita saksikan sekarang. Lantas, di mana arca Prajnaparamita satunya—yang masih utuh, cantik, nan anggun???

Usut punya usut, arca itu ternyata dahulu juga ikut diboyong ke Museum Leiden, Belanda. Untungnya, pada 1978 akhirnya Pemerintah Belanda mau mengembalikan arca tersebut dan kini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Fyuhhh…

Emangnya apa sih istimewanya arca itu?

Arca Prajnaparamita tanpa kepala

Oleh para sejarawan, arca Dewi Prajnaparamita ini diyakini sebagai perwujudan dari Ken Dedes, permaisuri Ken Arok yang merupakan pendiri Dinasti Rajasa. Dalam kitab Pararaton, diceritakan bahwa Ken Dedes adalah seorang nareswari, perempuan istimewa yang ditakdirkan menjadi “ibu para raja”. Lelaki manapun yang menikahinya akan menjadi seorang raja. Tanda-tandanya adalah, dari “daerah kewanitaannya” memancarkan cahaya yang terang benderang. (nah lho…! hebring banget tuh! :D)

Oleh karena itulah, saat tak sengaja melihat kain Ken Dedes tersingkap di Taman Boboji, Ken Arok langsung berhasrat ingin menikahinya karena melihat “sinar” tersebut. Padahal, saat itu Arok telah memiliki istri bernama Ken Umang. Namun ambisi Arok menjadi seorang raja membuat dia memaksa ingin menikahi Dedes dan menjadikannya permaisuri—meskipun saat itu Dedes telah bersuamikan Tunggul Ametung.

Alhasil, pada suatu malam Arok pun membunuh Tunggul Ametung di tempat tidurnya dengan keris Mpu Gandring, disaksikan oleh Dedes yang saat itu tidur di samping suaminya. Arok pun menjadi penguasa Tumapel dan menikahi Dedes. Selanjutnya, ia menaklukkan Raja Kertajaya dari Kadiri, lalu mendirikan Kerajaan Singhasari. Di kemudian hari, ramalan Dedes sebagai perempuan nareswari ternyata terbukti. Raja-raja Singhasari dan Majapahit semuanya adalah keturunan langsung dari rahim Ken Dedes, baik hasil pernikahannya dengan Tunggul Ametung maupun dengan Ken Arok. Keturunan Ken Arok dengan istrinya yang lain justru tidak bertahan lama menjadi raja.

Keberadaan Ken Dedes menjadikan Dinasti Rajasa terasa istimewa. Dinasti kerajaan terbesar di Nusantara itu ternyata berpangkal pada seorang perempuan, bukan seorang laki-laki. Ken Dedes mengejawantahkan peran utama seorang perempuan sebagai ibu. Melalui Ken Dedes kita dapat melihat bahwa generasi yang istimewa, terlahir dari seorang ibu yang istimewa.

Raden Wijaya, Pejuang yang Bertahan Hidup

Buah Maja di kompleks Candi Singosari

Di dalam kompleks Candi Singosari ditanam beberapa batang pohon Maja dengan buahnya yang bergelantungan lebat. Buah Maja bentuknya bulat besar seukuran jeruk Bali, tapi sangat pahit jika dimakan. Buah inilah yang ditemukan oleh Raden Wijaya, seorang survivor bangsawan Singhasari yang lolos dari penyerbuan Jayakatwang, saat dia membuka daerah baru di suatu hutan.

Bagaimana kisahnya Raden Wijaya bisa selamat dari keruntuhan Singhasari? Alkisah saat Istana Singhasari diserbu Jayakatwang pada 1292, Raden Wijaya dan pasukan Singhasari sedang bertempur di Utara Kerajaan. Ketika ia kembali, Istana Singhasari telah hancur lebur dan Kertanegara sudah dibunuh. Raden Wijaya pun melarikan diri bersama keempat putri Kertanegara, lalu meminta perlindungan kepada Arya Wiraraja, penguasa Sumenep, Madura.

Dengan bantuan Arya Wiraraja, Raden Wijaya berpura-pura menyerah kepada Jayakatwang, lalu memohon untuk diberikan sebidang tanah di Hutan Tarik, sebelah timur Kadiri. Di hutan inilah ia kemudian membangun sebuah desa bernama Majapahit, diambil dari nama pohon Maja berbuah pahit yang banyak terdapat di hutan itu.

Tak dinyana, tak diduga, ndilalah tak sampai setahun kemudian, pada 1293 Kerajaan Mongol mengerahkan 20.000 pasukan dan 1.000 kapal untuk menyerang Kertanegara dan Kerajaan Singhasari. Mereka merasa terhina atas sikap Kertanegara dahulu yang tidak mau tunduk kepada Raja Kubilai Khan dari Mongol, sehingga memutuskan menyerang Singhasari. Namun sesampainya di Jawa, pasukan Mongol mendapat kabar “ngglethek” bahwa Kertanegara ternyata telah tewas dan Singhasari kini dikuasai Jayakatwang.

Tapi kedatangan pasukan Mongol ini berhasil dimanfaatkan dengan cerdik oleh Raden Wijaya. Dia bergabung dengan pasukan Mongol dan membantu mereka menyerang Jayakatwang. Pasukan Mongol sih oke-oke saja karena merasa terbantu dengan dukungan “orang dalam”. Setelah Jayakatwang kalah dalam pertempuran besar itu, pasukan Mongol pun berpesta pora.

Tak disangka, sebulan kemudian Raden Wijaya ganti memberontak dan menyerang pasukan Mongol. Saat itu Raden Wijaya dikawal 200 prajurit Mongol menuju Majapahit untuk mempersiapkan persembahan kepada Kubilai Khan. Namun di tengah perjalanan apa yang terjadi? Raden Wijaya dan para prajuritnya justru berbalik membunuh pasukan Mongol tersebut. Wow! Lalu dengan pasukan yang lebih besar, Raden Wijaya memukul mundur seluruh pasukan Mongol yang ada di Jawa, dan memaksa mereka kembali ke negaranya. Kapok koen!

Setelah itu Raden Wijaya pun resmi mendirikan kerajaan baru bernama Majapahit dan menjadi rajanya yang pertama bergelar Prabu Kertarajasa Jayawardana. Hebat kan? Kalau kita cermati, berdirinya Majapahit itu berlangsung hanya sekitar setahun setelah runtuhnya Singhasari. Kebangkitan Dinasti Rajasa yang sangat cepat itu tidak lepas dari taktik Raden Wijaya yang sangat lihai. Melalui sosoknya, kita dapat melihat bahwa untuk bangkit dari kehancuran, dibutuhkan pejuang yang tangguh dan cerdik seperti Raden Wijaya, tidak putus asa dan mampu bertahan hidup!

***

Silsilah Dinasti Rajasa

Demikianlah selarik kisah tentang Kerajaan Singhasari dan Majapahit, yang direfleksikan melalui kontemplasi di Candi Singosari. Sebagai jejak peninggalan Dinasti Rajasa, pesona Candi Singosari sungguh menawan. Kisah mengenai dinasti penguasa Nusantara ini banyak termaktub dalam kitab kuno, prasasti, dan catatan kerajaan lain di luar negeri. Kedua kerajaan yang mereka dirikan (Singhasari dan Majapahit) memang termasyhur di kalangan sejarawan mancanegara. Kitab Nagarakretagama yang merupakan sumber utama kisah Dinasti Rajasa bahkan diterjemahkan oleh sejarawan Belanda, Dr Pigeaud. Banyak tulisan-tulisan Barat menceritakan tentang Ken Arok dan Ken Dedes. Karena itu, sering pula para wisatawan asing berkunjung ke Candi Singosari.

Sebagai putra Indonesia, kita juga harus memahami sejarah bangsa sendiri. Dengan mengunjungi objek wisata sejarah seperti Candi Singosari, ternyata banyak sekali ilmu yang didapat. Ingat, jejak sejarah akan selalu berulang. Intrik politik yang kita lihat pada zaman sekarang, sesungguhnya telah ada sejak zaman kerajaan dahulu kala. Hasut menghasut dan bunuh membunuh seperti sudah menjadi lakon manusia yang telah dirasuki nafsu kekuasaan. Kerajaan Singhasari yang didirikan dengan pertumpahan darah, berakhir pula dengan pertumpahan darah. Namun dari kekalahan dan keruntuhan itu, ternyata masih ada pejuang yang bisa bertahan, tidak putus asa melanjutkan perjuangan. Kerajaan baru pun tumbuh berkembang lagi menjadi kerajaan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.

Karena itu, seperti kata Bung Karno, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dengan mempelajari sejarah, kita akan lebih mengenal dan menyadari siapa diri kita sebenarnya. Karena pemahaman yang dalam akan masa lalu, membuat kita lebih berhati-hati sebelum melangkah di masa depan… 🙂

Air untuk Masa Depan: Sebuah Kesimpulan

Dalam perjalanan menyusuri lika-liku air di Malang Kotaku, saya menemukan sebuah ironi. Air, dalam posisinya sebagai sumber daya yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, ternyata bisa memiliki ‘nasib’ yang berbeda, tergantung kepada manusia yang ada di sekitarnya.

Ada air yang mengalami ‘nasib baik’, seperti Sumber Air Desa Karangwidoro. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki kepedulian tinggi akan eksistensinya. Ia dijaga dan dirawat oleh Pak Lurah dan warga desanya. Ia menjadi sebuah hulu kehidupan. Mata air itu pasti bahagia karena ia akan hidup lebih lama, dan akan terus memberi manfaat bagi anak manusia.

Namun nasib berbeda dialami oleh air yang ada di Sungai Brantas dan sekitarnya. Air yang berada di Kota Malang ini sungguh malang nasibnya. Ia dipenuhi kotoran dan limbah manusia. Ia diabaikan, tak dipedulikan, tidak dijaga kelestariannya. Jika ia bisa meluapkan emosinya, mungkin ia akan menangis. Menangis karena orang-orang yang ada di sekitarnya sibuk merusaknya; membuang sampah di tubuhnya, mendirikan bangunan yang mengacaukan alirannya. Ketika musim hujan, ia akan mengalir berlebihan karena lahan resapannya telah digantikan oleh besi dan beton. Ketika musim kemarau, jarang ia bisa mengalir karena tak ada cadangan air yang cukup di tanah sekitarnya.

Air bernasib baik vs Air bernasib buruk

Perbedaan ‘nasib’ kedua air tersebut, tentunya dikarenakan perbedaan tingkat kesadaran manusia di sekitarnya. Para warga Desa Karangwidoro, meskipun mereka berpendidikan rendah, hanya bekerja sebagai kuli dan buruh tani, namun kepekaan mereka terhadap alam sangat luar biasa. Sebaliknya, para warga Kota Malang yang mayoritas berpendidikan tinggi, profesional dan pengusaha kaya, justru sama sekali tidak menaruh penghormatan kepada alam yang telah menyokong kehidupannya.

Manusia memang ironis…

Kita sebagai generasi muda punya pilihan. Apa yang akan kita lakukan terhadap air di sekitar kita? Apakah kita akan menghambur-hamburkannya atau menghematnya? Apakah kita akan membiarkannya musnah atau berusaha melestarikannya? Keduanya adalah pilihan dan keduanya memiliki konsekuensi. Tapi kita harus percaya bahwa kita memiliki kekuatan. Kita adalah GENERASI MUDA. Ingat kata Bung Karno, “Beri aku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia!” Padahal kita, pemuda Indonesia, ada berjuta-juta jumlahnya. Bayangkan betapa besar perubahan yang akan kita buat kalau kita mau mencoba!

Mungkin sebagian dari kita berpikir, bagaimana kita bisa mengubah orang lain, apalagi mengubah Indonesia, mengubah dunia? Kita hanyalah sekumpulan pelajar SMA dan mahasiswa. Kita masih dianggap remeh oleh orang-orang yang lebih tua.

Tentunya sumber perubahan adalah diri kita sendiri. Sebelum mengubah orang lain maka kita harus mengubah diri sendiri. Sebelum menyuruh orang lain menghemat dan melestarikan air tentunya kita juga harus melakukannya. Kita bisa mulai dengan hal-hal sederhana; mandi dengan air secukupnya, menggunakan air bekas bilasan baju untuk mencuci sepatu, atau menahan diri agar tidak buang sampah di sungai.

Tapi itu sungguh hal-hal yang remeh, apa dengan melakukan hal itu saja kita bisa menyelamatkan air dan masa depan manusia? Memang tidak, kalau hanya kita yang melakukannya sendirian. Tapi kalau setiap orang melakukannya, maka hal remeh ini akan menjadi sebuah hal yang berdampak besar. Kita seperti segenggam salju yang diluncurkan dari puncak bukit. Ketika menggelinding ke bawah kita membawa salju-salju lain meluncur bersama kita dan akhirnya menciptakan sebuah bola salju besar yang menggelinding kencang. Gerakan hemat air kita akan menular ke sekitar kita.

Ingat kan jargon ini: “Think Globally, Act Locally”. Kita yang masih muda dan berwawasan luas, bisa berpikir jangka panjang akan dampak pencemaran dan pemborosan air. Pemikiran besar itu lalu kita WUJUDKAN dalam tindakan sehari-hari. Kalau setiap pemuda Indonesia melakukan itu, tentunya masa depan air bersih Indonesia lebih terjamin.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mencemari air? Menebang hutan, membabat lahan resapan, dan mengotori sungai? Apa tindakan kecil kita di atas bisa menghentikan mereka? Tentunya tidak. Saat ini kita belum punya wewenang untuk mencegah atau menghukum mereka. Tapi sebagai pemuda kita lakukan saja apa yang bisa kita lakukan sekarang. Yang penting kita tidak ikut-ikutan merusak ekosistem air seperti mereka. Nanti, sepuluh atau dua puluh tahun lagi, kitalah yang akan menggantikan mereka. Kita yang akan berada di posisi penting sebagai pemangku kebijakan. Dengan nilai-nilai luhur untuk melestarikan air, maka kita tentunya bisa mengubah Indonesia ke arah yang lebih baik.

Maju terus pemuda Indonesia! 😀

Tulisan ini diikutsertakan pada Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA yang diselenggarakan oleh Kompas MuDA

Mengapa Harus Hemat Air?

Kampanye hemat air sering sekali dikumandangkan beberapa tahun belakangan, apalagi sejak PBB menetapkan tanggal 22 Maret sebagai Hari Air Sedunia. Sebagian orang mungkin bertanya-tanya, mengapa air harus dihemat? Padahal air itu kan nggak bisa habis? Buktinya ada siklus H2O di bumi, air dari hujan akan diserap tanah lalu mengalir sampai ke laut lalu menguap menjadi awan lalu turun lagi sebagai hujan dan seterusnya. Jadi air nggak bisa habis kan?

Yap, air memang nggak bisa habis, tapi AIR BERSIH bisa. Read more

Malangnya Air di Kota Malang

Gunung Arjuno di sebelah utara Kota Malang, tampak dari belakang halaman rumah tetangga. *sayang banget lagi tertutup kabut...tapi kalau Anda jeli pasti bisa melihat siluet garis gunungnya ;)*

Tidak jauh-jauh dari tema “It’s About Us”, tulisan mengenai air dan masa depan ini juga tentang kita, lebih tepatnya kami, warga Kota Malang.

Untuk ukuran kota yang dikelilingi pegunungan (Gunung Bromo, Arjuno, Kawi, Semeru), kelangkaan air bersih di Kota Malang sungguh ironis. Menurut Direktur Teknik PDAM Kota Malang, sekitar enam tahun lagi Kota Malang diprediksi mengalami krisis air! Kok bisa ya? Read more

Sumber Air Desa Karangwidoro (Part 2)

Sebelum melanjutkan, ada baiknya baca dulu posting sebelumnya dan tentang Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA.

Setelah pengalaman ansos yang menarik pada semester 3 itu, kami sekelompok memutuskan untuk ‘mengeksplor’ lebih dalam tentang Desa Karangwidoro. Kebetulan, tugas mata kuliah Character Building 4 adalah membuat program pengabdian masyarakat. Kami yang merasa tergerak dengan kisah Pak Kades mengenai desa yang kekurangan air, memutuskan untuk membantu penduduk desa ini.

Pak Kades menceritakan tentang sumber air Desa Karangwidoro, yang letaknya nun jauh di perbukitan sekitar 10 km di arah barat desa. Sumber air tersebut berdekatan dengan sumber milik Desa Petungsewu dan Desa Selorejo (juga di Kecamatan Dau). Tentunya Pak Kades sudah meminta izin untuk menggunakan sumber air tersebut demi keperluan desanya.

Sumber air perlu dirawat dan dijaga, agar ketika musim kemarau pasokan air tetap lancar mengalir. Salah satu caranya adalah dengan menanam pohon di sekitar mata air. Menurut Pak Kades, jenis pohon yang baik ditanam adalah pohon sukun, karena akarnya mampu menyerap air dalam jumlah banyak. Mendengar itu pikiran saya pun melayang ke kebun belakang rumah nenek di Kediri. Tak dinyana, ternyata pohon berdaun menjari dengan buah bundar yang sering direbus/digoreng itu bisa melestarikan mata air! :-0

Kami sekelompok akhirnya sepakat untuk membeli 50 bibit sukun untuk ditanam bersama para warga desa di sekitar sumber air. Harga per bibit (yang masih kecil) Rp 10.000 per polybag. Pada Minggu, 2 Mei 2010 berangkatlah kami sekelompok (14 mahasiswa+1 dosen mentor), beberapa anggota Karang Taruna, dan Bapak Kepala Desa ke perbukitan Petungsewu. Read more

Sumber Air Desa Karangwidoro (Part 1)

Karangwidoro, itulah nama sebuah desa yang terletak di belakang kampus saya. Meskipun letaknya relatif di daerah perbukitan, tetapi ini adalah desa yang kering dan tandus. Kata dosen saya sih, daerah sekitar kampus ini memang dikenal ‘sulit air’. Kampusku? Enggak lah, kan punya sumur bor dan tandon yang besar 😀 Tapi, desa di belakang itu, sayangnya tidak seberuntung institusi besar tempat kami bernaung ini…

Pada musim kemarau desa ini mengalami kekeringan, tapi pada musim hujan diterjang banjir sehingga air menjadi keruh. Bahkan, Karangwidoro pernah mengalami bencana banjir lumpur kiriman pada tahun 2002 hingga menyebabkan 1 orang tewas, 65 unit rumah rusak, 6 DAM jebol dengan total kerugian mencapai 2,9 milyar rupiah. Alhamdulillah, saat ini banjir bandang tidak terjadi lagi karena warga sudah membangun “sodetan” sehingga air hujan mengalir ke Kali Metro. Meski begitu kondisi lingkungan di desa masih rentan karena tanah jarang ditanami pepohonan…

Pada semester 3, saya dan teman-teman satu kelompok mentoring mengadakan analisis sosial (ansos) di desa ini. Awalnya sih memang cuma tugas mata kuliah Character Building 3, tapi ternyata setelah wawancara sana-sini dengan Pak Kades (Kepala Desa), Pak Kadus (Kepala Dusun), dan perangkat desa lainnya, kami jadi tahu bahwa desa yang jaraknya tinggal loncat tembok belakang kampus sangat dekat ini punya cerita yang cukup menarik.

Read more

Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA

Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA

Waktu buka email internal kampus, tak dinyana ada informasi dari Kemahasiswaan tentang Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA. Mumpung liburan, akhirnya saya memutuskan untuk ikut! Biarpun dateline-nya cukup mepet untuk optimasi SEO…tapi yah optimis aja deh insya Allah bisa nangkring di 50 besar Mbah Google, amiiinnn 😀

Untuk teman-teman yang ingin join kompetisi ini juga, silakan langsung saja ke Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA yaa!

Tema Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA kali ini adalah “It’s About Us: Air untuk Masa Depan”

Well…dari temanya sudah terlihat bahwa: ini adalah TENTANG KITA. Bukan tentang mereka, dia, atau entah siapa, tapi tentang kita.

Ini bukan tentang penduduk China atau Afrika yang dilanda kekeringan. Ini bukan tentang NGO internasional yang rajin berkampanye untuk menyelamatkan air. Ini tentang kita, pemuda Indonesia, yang sejak kecil diberi rahmat oleh Tuhan berupa genangan air melimpah di dalam tanah dan lautnya. Ini tentang kita, pemuda Indonesia yang kadang terlena dan lupa bahwa air bisa menjadi barang langka.

Read more

Mengenal Hosting dan Domain: Keunggulan Menggunakan Hosting Indonesia

Belakangan ini makin banyak orang yang “cuap-cuap” soal website, domain, hosting dan sejenisnya. Tiga kata itu memang merupakan salah satu keyword esensial dalam dunia maya. Namun selama ini area itu masih menjadi bidang kerja para profesional IT. Orang awam enggan ‘cawe-cawe’ karena merasa cukup hanya dengan memanfaatkan internet sebatas e-mail, milis, dan social network media.

Namun belakangan mendadak banyak orang kepingin punya website sendiri. Ada apa gerangan? Usut punya usut, ternyata e-business alias bisnis online sedang naik daun. Modalnya nggak banyak, tapi penghasilannya sangat menggiurkan! Pemilik toko online nggak perlu sewa ‘ruko beneran’ yang harganya mencapai ratusan juta apalagi membuat etalase toko. Mereka cukup membangun sebuah website komplit nan cantik, pembeli pun datang hanya dengan sekali ‘klik’. Nah, itulah yang membuat para non-profesional IT tiba-tiba berburu ilmu pembuatan website 😉

So…sebagai orang awam, mari kita memahami istilah WEBSITE, DOMAIN, dan HOSTING ini dengan cara orang awam pula!

Read more