Antara Akademisi dan Praktisi

Antara Akademisi dan Praktisi

“Ya mungkin itu yang terbaik, kamu ditakdirkan untuk menjadi orang profesional.”

Begitu SMS dari Bapak saat saya kabari tentang kegagalan dalam seleksi awal beasiswa ADS. Sejujurnya saya juga enggak terlalu berharap untuk langsung memperoleh beasiswa dalam usaha pertama mencoba–I’m pretty sure that it’s gonna be difficult. Apalagi full scholarship dari pemerintah negara yang sudah populer, pasti banyaknya peminat akan bertabrakan dengan terbatasnya kuota. Dan–ini yang utama–lebih sedikit kesempatan beasiswa diberikan bagi pegawai swasta daripada bagi akademisi, pegawai pemerintah, atau aktivis LSM. A sad truth for me 🙁

Bapak saya mungkin berpikir, memang anakku ini kayaknya lebih cocok jadi “orang profesional”  dalam artian jadi praktisi, kerja kantoran, jualan produk dan bergelut dalam bisnis manufaktur bertekanan tinggi (duh). Padahal kerja di pabrik itu capek–capek tenaga, pikiran, dan emosi. Masuk jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Kerja dari hari Senin sampai Sabtu. Rekan kerja yang keras dan kadang main sikut. Bos besar yang hobi ngamuk2. Customer yang cerewet, deadline yang mepet, hal-hal kayak gitulah.

Tapi somehow emang industri manufaktur punya tantangan tersendiri. Ya asik aja gitu kamu bisa tahu proses “penciptaan” suatu barang mulai sourcing parts sampai tiba di tangan konsumen. Industri manufaktur adalah industri yang paling kompleks–jika kamu sudah menguasai alurnya maka akan lebih mudah untuk terjun di bidang lainnya (someone said to me). Apalagi kalau mau punya bisnis sendiri, sungguh pabrik adalah tempat yang tepat untuk menimba ilmu.

I enjoy working here, tapi agak nggak terima aja kalo bapakku bilang kayak gitu. Apa itu artinya saya enggak ditakdirkan untuk bisa kuliah lagi? Duh ya jangan dong. Bisa2 jadi geblek beneran nih 😐 Baru 1,5 tahun kerja di sini aja rasanya otak udah tambah dhedhel–maunya mikir cepet yang praktis2 aja, jadi kurang kritis gitu.

a dream to study abroad

a dream to study abroad

Mestinya bisa kan jadi dua2nya–ya praktisi ya akademisi. Teori itu bukannya nggak penting lho ya. Kalau kamu tau teorinya, kerjaanmu jadi lebih gampang. Dosen saya dulu (MBA lulusan UK yang puluhan tahun kerja di perusahaan) pernah bilang, ibaratnya kalo kamu punya teori, kamu sudah punya ‘senjata’ sebelum berperang. Jadi misalnya ada permasalahan A, kamu tinggal keluarin ‘senjata’mu satu2, kalau gagal coba ‘senjata’ lain, dan seterusnya jadi gak perlu coba2 lagi. Meskipun kondisi lapangan tidak bisa ditebak, tapi setidaknya kamu punya pegangan awal, sisanya serahkan pada kreativitasmu sendiri.

Sebaliknya, kamu juga gak bisa memahami teori tanpa dipraktekkan. Kalo cuma belajar secara kognitif teori itu nggak akan nyantol…Kamu baru benar2 paham apa gunanya setelah ketemu kasus yang beneran di dunia nyata. Nanti setelah kamu berulangkali mempraktekkan teorimu, siapa tahu di lapangan kamu menemukan “celah” pada teori itu dan kemudian memperbaikinya. Akhirnya kamu jadi “pembuat” teorinya kan. Kesimpulannya…kamu perlu praktek untuk bisa memahami teori, dan teori itu sendiri sejatinya ya berasal dari praktek. Dua2nya sama pentingnya 😉

Jadi akademisi atau praktisi–mengapa harus dipilih? We can choose NOT to choose. Belajar itu bisa dari mana saja kan…yang penting sekarang…..well, I just wanna study abroad 😀

Kamu juga kan?

Newbie Diary (4): After 3 Months…

Newbie Diary (4): After 3 Months…

Di atas kertas, tanggal 9 Oktober 2012 kemarin seharusnya masa training di tempat kerja saya sudah selesai. Enggak  kerasa, udah 3 bulan bekerja di tempat ini. Sebagai pekerja kantoran newbie, banyak pengalaman dan pelajaran baru yang didapat. Yang paling penting adalah: belajar untuk menebalkan kuping. 🙂

Serius lho. Di dunia kerja, jadi orang sensitif (baca: gampang tersinggung) itu banyak ruginya. Disindir dikit, sakit hati. Diketusin dikit, dendam. Didiemin dikit, mikir yang enggak2. Mikirin orang mulu, lah kapan kerjanya? Untung aja dasarnya emang saya tipe orang yang cuek, jadi gak terlalu sulit untuk bersikap “masa bodoh”. Kadang kasihan lho  sama temen2 yang terlahir dengan perasaan sensitif. Pasti lebih sulit bagi mereka untuk “nggak mikirin omongan orang”. Meskipun sebenarnya, kalau ada kemauan, itu bisa dilakukan kok 🙂

Di tempat kerja manapun, pasti bakalan ada orang2 yang cerewet, keras kepala, semaunya sendiri, gak mau disalahin, dsj. Apalagi kalo kita masih ‘anak baru’ sedangkan mereka udah puluhan tahun kerja di situ. Pasti deh…apapun yang kita lakukan dan omongkan akan dianggap salah kalau bertentangan sama pendapat mereka. Menghadapi orang kayak gini, kuncinya cuma satu: jangan didebat. Mempertanyakan/mengkritisi boleh, tapi kalau mereka  sudah kelihatan ngotot dan gak mau mengubah pendapat, lebih baik stop saja di situ. Mengalah dan katakan “oke”. Semakin didebat, mereka akan semakin panas, akhirnya malah jadi debat kusir dan adu mulut nggak penting. Gimanapun mereka akan selalu membela diri, mereka yang harus ‘menang’ dan kita yang ‘kalah’. Yang ada akhirnya adalah perdebatan “siapa yang salah”, bukan “gimana caranya menyelesaikan masalah”.

Kalau sudah kayak gini, mending kita berkonsultasi dengan pihak2 lain, siapa tau ada celah yang bisa mendukung pendapat kita, setelah itu baru kita tanyakan lagi ke orang yang  bersangkutan. Atau pastikan dulu pendapat kita,  siapa tau memang kita yang salah.

Menghadapi orang2 semacam itu, kunci kedua adalah jangan pernah dimasukin hati. Mau diteriakin, diketusin, dijahatin…bodo amat! Cuek aja, kalo perlu ketawa aja, dianggap guyon. Pasang muka innocent, pura2 gak tau, dan minta maaf kalo perlu, itu akan lebih membantu. Pokoknya kita harus menjaga hubungan baik dengan semua rekan kerja. Soalnya, kita pasti akan butuh mereka. Kalo kita pernah “nggak enak”an sama salah satu rekan kerja, di masa depan kalau ada tugas kita yang berhubungan sama dia, pasti akan dipersulit…nanti jadi kita sendiri yang rugi. So, stay cool aja. Masuk telinga kanan, ‘mendal’ lagi keluar telinga kanan. Pada awalnya emang terasa berat dan mesti sering mengelus dada…tapi lama2 terbiasa kok. Kalau orang itu lihat kita gak mempan dijahatin, percaya atau enggak, mereka malah jadi bersikap baik sama kita lho 🙂

Well…intinya dunia kerja itu emang keras. Tapi di sinilah mental kita ditempa. Ya memang karakter orang itu macam2. Semakin banyak kamu mengenal karakter orang, semakin paham gimana caranya berhadapan dengan mereka. Anggap aja semuanya itu pelajaran…Kita hidup kan memang untuk belajar. Jangan pernah menganggap diri kita sudah cukup pintar…karena pembelajaran itu proses panjang yang menghabiskan waktu seumur hidup kita.

Overall, saya senang kerja di sini. Meskipun jam kerjanya lebih panjang, masuknya lebih pagi, hari Sabtu tetap kerja, tapi ya dibikin enjoy aja. Mumpung masih muda, mumpung masih bertenaga. Setimpal sama beban kerjanya, gaji di sini tergolong lumayan, dan fasilitasnya berlebih. For me, kerja seberat apapun enggak masalah asal pekerjaan kita itu ya dihargai dengan setimpal. Dan yang paling penting, pekerjaan itu memang sesuai sama minat dan kemampuan kita. Senang kan rasanya kalau kemampuan kita itu berkontribusi dan bisa membantu tempat kerja kita menjadi lebih baik.

TEI 2012

Barangkali memang saya cukup beruntung ditempatkan di Divisi yang orang2nya enak. Bos saya enak…gak sok tau dan mau menerima  pendapat ‘anak baru’. Saya  juga diberi kesempatan untuk langsung menangani pekerjaan2 ‘nyata’. Even I get a  chance to arrange my company stand at exhibition Trade Expo Indonesia (TEI) 2012, Jakarta. Meskipun buat perusahaan saya ini bukan even yang terlalu penting (soalnya bukan audio show, cuma pameran umum), tapi saya senang karena bisa jalan2 gratis, dibayar pula 😀

I think I like my job…Korespondensi dan ketemu orang2 dari berbagai negara, sering jalan2, bisa ikut wisata nemenin klien… Bagian nggak enaknya yaa kalau kena komplain customer, kalau barang rusak/telat kirim, dan kalau ada anak gudang jadi yang bandel, dan kalau2 nggak enak lainnya (banyak banget). Tapi ya…tetep aja, saya enggak mau lama2 di sini. Dua tahun saja cukup. Dunia masih terlalu luas, masih  terlalu banyak yang  harus dijelajahi daripada hanya terkungkung dalam rutinitas yang membosankan!

Live your life to the fullest…!!! 😀

Newbie Diary (2): Tempat Kerja Baru

Newbie Diary (2): Tempat Kerja Baru

I believe that all things happen in our life, all places we end up to, all people we end up with, are all a ‘destiny’. Ya, semuanya itu takdir. Seperti juga jodoh, rezeki, dan kematian; sekolah kita, tempat kuliah kita, tempat kerja kita, semua itu takdir. Takdir yang kita usahakan sendiri…tapi percaya atau enggak, ada kuasa Yang di Atas juga di dalamnya.

Setengah nggak sadar aku memutuskan menerima pekerjaan di perusahaan ini. Meskipun “image” perusahaan ini kurang baik–dari beberapa cerita teman dan rekan–tapi nekat saja aku masuk. Meskipun setelahnya harus menolak beberapa panggilan interview, even from the one I wanted, tapi ada sesuatu yang membuatku merasa, maybe this is gonna be my place.

Well, maybe. Probably.

Name Tag sekaligus kartu presensi

Tanggal 9 Juli 2012 aku mulai masuk kerja. Sekalung name tag terpampang di baju, yang harus dipakai selama masa training 3 bulan (nametagnya, bukan bajunya). Nggak terasa sudah 2 minggu aku menjalani hari-hari di sini. Dan, anehnya, aroma lem yang tercium begitu memasuki pabrik mulai terasa familiar.

Aku sepenuhnya sadar akan ada tugas dengan tekanan berat yang harus kulakukan di sini. Tapi, aku juga sadar, di sinilah tempat yang tepat untuk menempa diri. Mumpung masih muda, bukankah mental ini harus sering ditempa? Buat diriku yang malas, manja, nggak pernah pisah dari orangtua, tempat ini adalah tempat orientasi tepat untuk memperkuat diri, sebelum berkelana ke tempat yang lebih jauh. Perusahaan yang sangat disiplin, teratur, prosedur yang jelas dan sanksi yang tegas, meskipun pada awalnya terasa berat, tapi nanti aku sendirilah yang akan merasakan manfaatnya.

Rasanya, bekerja di perusahaan semacam ini jauh lebih baik daripada menjadi PNS yang makan gaji buta–lebih sering nganggur, tidak punya prosedur yang jelas, dan rawan KKN. Dua minggu aku mengamati proses produksi di perusahaan ini, aku mengakui bahwa mereka mempunyai standar kualitas yang sangat bagus. Setiap produk dibuat dengan teliti, sesuai spec, dan melewati tahap uji kualitas (Quality Inspection) yang berlapis-lapis. Setiap proses produksi, sesimpel apapun, ada Work Instruction (WI) dan KPI yang jelas. Bahkan setiap revisi dari WI sejak bertahun-tahun yang lalu pun dicatat dan diarsipkan dengan rapi. Aku saja terheran-heran dengan serangkaian tes (yang sangat banyak) yang harus diujikan pada setiap produk, bahkan setiap part-nya, sebelum dinyatakan layak dijual ke konsumen. Nggak main2, ketika ditemukan cacat pada sampel, di-reject-lah semua produk itu dan harus membuat lagi dari awal. Wow. Mereka betul2 berkomitmen dengan motto-nya, yaitu mengutamakan kualitas. Well, meskipun untuk itu, kadang buruh2 dan staff2 yang harus dikorbankan (overtime, lembur, dimarahin, dikejar deadline dll).

Oya, perbedaan status pekerja di sini juga sangat terasa. Buruh, pekerja outsourcing, pekerja tetap, semi-staff, staff, di antaranya kerasa banget perbedaan fasilitas yang didapat. Staff tentunya mendapat gaji paling tinggi (bisa tawar-menawar gaji sesuai skill yang dipunyai) dan fasilitas berlebih (snack & makan siang bergizi gratis, askes, jamsostek dll) tapi umumnya mereka harus memiliki background pendidikan min. S1 dari universitas ternama (atau yang punya hubungan kerja sama dengan perusahaan tsb). Sedangkan buruh, gajinya pas sesuai dengan UMR, tapi makannya beli sendiri, dan kalo keluar gak dapet pesangon (soalnya outsourcing). Kasian… 🙁

Namun, di luar dugaan, orang2 di sini ternyata ramah2 dan suka guyon. Nggak semua tentunya, yang paling terasa “koplak” adalah karyawan2 bagian produksi. Mungkin karena kerjanya di pabrik, lebih luwes dalam bergaul dan lebih mbanyol. Mulai dari buruh2nya sampai manajer produksinya, semuanya gampang akrab dan suka bercanda. Apalagi, banyak teman2 sepantaran yang sama2 trainee dan sama2 baru lulus kuliah, jadi lebih asik ngobrolnya 🙂

Kalo yang staff di kantor…I think they are more serious. Keliatannya orangnya kaku2…Mungkin karena kerjaannya lebih tegang dan tekanannya lebih besar, soalnya kalo kena marah langsung dari bos pemilik perusahaan 🙁 Moga2 aja kalo udah kerja beneran nanti aku bisa tahan dan beradaptasi dengan mereka ><

Well…Selama 2 tahun ke depan aku akan bekerja keras, mempersembahkan yang terbaik buat perusahaan ini. Aku sadar aku cuma bocah ingusan tanpa pengalaman. Kalau ingin jadi boss yang baik di perusahaanku nanti, bukannya harus belajar jadi karyawan dulu? Aku akan melahap habis, mempelajari semua yang bisa kupelajari di sini, supaya waktu keluar nanti, aku sudah jadi pribadi yang jauh lebih matang dan dewasa, dan siap terbang ke Australia, berkelana keliling dunia! 😀

Newbie Diary (1): Anak Kos Baru

Newbie Diary (1): Anak Kos Baru

Seperti kebiasaan sebelumnya, saat memasuki suatu lingkungan baru saya memilih menulis buku harian. Well, cara ini membantu untuk mengurangi rasa ‘asing’ dan mempercepat adaptasi (for me).

Pertama kali boyongan jadi anak kos, rasanya kayak anak mama. Barang bawaan bertumpuk…bantal, guling, panci, lemari, byuuuhh. Bapak dan Ibu ikut mengantar dan melihat kamar kos…bahkan bapakku pun ikutan merakit lemari baju yang dibawa dari rumah. Rasanya malu sama ibu kos dan mbak2 kos yang lain…tapi mau gimana lagi…pertama kalinya pisah sama keluarga sih :((

Kosku khusus cewek, sebuah rumah bertingkat yang ditempati seorang ibu dan anak perempuannya. Total kamar kos ada 9 buah, yang kosong ada 4 kamar. Rumahnya lumayan “irit tempat” (baca: sempit), soalnya kamarnya banyak jadi gak tersisa cukup space antar ruangan. Tapi rumahnya bersih…kamarku pun gak terlalu sempit. Sudah ada 1 ranjang double tersedia, ditambah lemari yang dibawa dari rumah, jadi begini deh kamarku 😀

Kamar Kos Gue: sayangnya gak ada yang menemani tidur di ranjang double itu hahaha

Lingkungan sekitar rumah adalah perkampungan pinggir kota, yaitu gang-gang di dekat pasar Balongsari. Suara adzan dan puji-pujian dari surau masih kerap terdengar, juga guyub dan rukun antar tetangga masih terasa. Dari kosan ke pabrik SBE (tempat kerjaku) kalau jalan kaki kira2 10 menit (menurut ibu kos).

Kompleks Balongsari

Salah satu alasanku memilih tempat kos ini adalah karena ada ibu kos yang baik, jadi bisa bantu kalo aku kenapa2 (sakit dll). Mbak2 kosnya juga sepantaran, rata2 juga kerja di pabrik, jadi bisa cerita2 (meskipun aku belum banyak ngobrol sama mereka sih). Harga kosnya juga murah banget, cuma Rp 175.000 per bulan, udah termasuk listrik dan air. Tapi emang listriknya gak bisa banter2 amat…gak boleh bawa magic com dan heater. Jadi agak bingung juga kalo mau sarapan atau ngecom yang anget2 gitu :((

Untuk saat ini, aku membunuh kesendirian dengan laptop dan modem Esia Max-D. Wah kenceng banget koneksinya, buat upload pun cepet, recommended daripada SM**T. Tapi pinter2 aja ngontrol kuotanya…;)

Besok aku mulai kerja. Deg-degan dan setengah khawatir, karena reputasi perusahaanku ini termasuk kurang baik. But I will try my best…I will be strong…keep fighting till the end!

Catatan Kelulusan

Catatan Kelulusan

Bittersweet graduation, barangkali itu istilah yang pas untuk menggambarkan hari wisuda ini, Sabtu 7 Juli 2012. Rasanya nggak percaya, hari ini benar-benar lulus sepenuhnya. Fully graduate. Graduate from university, graduate from parents’ shelter, and graduate from relationship.

It was sweet, senang bisa membanggakan orang tua dan mengurangi beban mereka. Mbah putri sampai meneteskan airmata saat namaku dipanggil jadi wisudawan terbaik. But…it was also bitter, karena hari ini juga adalah hari perpisahan, dan hari di mana saya harus memulai hidup baru.

Senin lusa saya akan mulai bekerja di Surabaya. Hidup sendiri, mengurus diri sendiri, dan memegang tanggung jawab sendiri. Saat itu semuanya akan kembali dari nol. Semua yang sudah kamu peroleh, enggak akan berarti apa-apa lagi. Penghargaan2 yang kamu raih, piagam2  yang kamu dapat, pada akhirnya hanyalah selembar kertas kosong. Nilai dirimu ditentukan sepenuhnya dari perilakumu dan kekuatan mentalmu, karena orang2 yang bekerja denganmu enggak akan memintamu menunjukkan sertifikatmu, tapi dedikasi dan kerja kerasmu.

Saya sepenuhnya sadar kalau ini tidak akan mudah. Mungkin saya akan menghadapi pekerjaan yang menumpuk, bos yang pemarah, dan cerita-cerita ‘seram’ lain tentang dunia kerja. Dan yang bikin sedih…saya akan menghadapi semuanya sendirian. Tanpa keluarga, tanpa teman2 lama, dan tanpa  dia. But I know, I have to be strong. I am no more a girl, I just turned to be a woman. And I’m gonna be a strong, mature, and independent woman 🙂

My future is waiting ahead…!!!

Half-Dream Job

Half-Dream Job

I think I got my dream job. Well, not really a dream job, but half-dream job. Start on July 9th, I will work in Sinar Baja Electric, a company that produce sound speaker, as Marketing Export. My dream job was to work in international business section of consumer goods manufacturer. You know, a company that produce packaged meals, toiletries, and other consumer goods that you can see in supermarket. Now I get the position as international business staff, but not in consumer goods company. So that’s why I said that it’s half-dream job 🙂

My company-gonna-be

However, the job description is quite appealing for me. I will be more interacted with foreign buyer and supplier, not only “sink” in clerical administrative jobs, such as handling export documents etc. Even I’ll have a chance to go abroad handling company’s participation in international trade fair. I will be very willing to do that! 😀

My father said that as a newbie in the company, I have to work very hard and show my contribution to the company. Because there is no easy job, every job gain a pain. Work, work, and work, reward will come follow. Once the company trust me and consider my role as “irreplaceable”, then they will do everything to keep me.

Actually I’m a bit nervous. I mean, this is the real wok, in the real world, where I have to take the full responsibility. Start from now, I have to learn many things. About export procedure, international market, and even the speaker product, I have to master all. But, as many successful people said, when you work in something you like and you eager to do, then it will become easier. Enjoy the work!

Makan siang ala Buruh cuma Rp 5.000

Oh, and I saw something interesting. Yesterday when I did psychotest and interview, I had lunch with the labors. All the labors eat the same meal provided by the canteen,  which only costs Rp 4.000 and additional Rp 1.000 for drink. They said it will be different meal only for staff and semi-staff.

Lunch time

You know, I feel like, wow I’ll work in this labor-environment. Labors that sometimes I see go out from cigarette company near my house, labors that sometimes I feel pity about them.

My first job is going to be interesting. Well, as I said before, the joy of life lays on the process…and the result will follow 🙂

 

“Brownies Beton” di Laptop Si Unyil Trans 7 (Behind the Scene)

“Brownies Beton” di Laptop Si Unyil Trans 7 (Behind the Scene)

 

Mbak Nunu dan boneka unyilnya

Laptop Si Unyil adalah program reguler Trans 7 yang meliput sesuatu yang kreatif dan inovatif untuk menambah pengetahuan pemirsa. Kali ini, kru mereka mampir untuk meliput “Brownies Beton“, usaha rintisan kami salah satu kelompok Program Kreativitas Mahasiswa (DIKTI) Universitas Ma Chung. Seminggu sebelum hari liputan, saya dihubungi Mas Andi dan Mbak Nunu untuk dimintai kesediaannya. Satu masalah jelas yang kami hadapi adalah, sekarang bukan musim nangka. Padahal, mereka minta untuk meliput seluruh proses pembuatan mulai dari biji nangka mentah sampai jadi brownies.

Kami betul2 enggak nyangka begitu sulitnya mencari buah nangka saat bukan musim nangka. Pabrik keripik nangka supplier tetap kami  jelas lagi “libur produksi” karena nggak ada bahan baku. Kami keliling semua tempat yang biasanya menjual buah nangka di Malang, ternyata udah nggak ada yang jualan lagi. Semua pasar kami datengin, cuma ada nangka muda (tewel). Saya sampek minta nangka ke perumahan puncak Landungsari yang banyak pohon nangkanya, ternyata semua masih mentah.

Sampai hari H, kami masih belum dapat sebiji beton pun. Padahal kru Trans 7 berniat dateng jam 07.30 pagi. Akhirnya jam 3 pagi saya nekat pergi ke Pasar Kebalen ditemani Bapak, dan hasilnya tetap nihiiilll. Tapi yang bikin terharu, sekitar jam 6 pagi my father and my man (tentunya gak barengan) ternyata masih rela menyebar di seantero Malang, ngubek2 pasar untuk cari buah nangka, meskipun tetap aja gak ketemu. Alhamdulillah, meski agak telat, sekitar jam 11.30 akhirnya kami dapat betooonn T^T Sangat lega bisa dapet seonggok biji nangka yang diminta dari tukang es teler depan Dempo, thanks so much again to my man :’)

Syuting adegan bikin brownies

Kru Trans 7 dateng telat, sekitar jam 9-an. Mereka masih casting anak2 perumahan (karena SD-nya libur), tapi enggak ada yang sreg. Akhirnya menjelang jam 11 mereka pergi sebentar untuk cari talent di luar sekalian Jumatan. Jam 1 mereka balik lagi membawa 3 anak SD. Ketiganya siswa SD Tlogomas, dan ternyata adalah “talent profesional”, udah sering ikut liputan Trans 7 yang di Malang. Pantes aja aktingnya lancar banget dan udah akrab sama kru-nya 😀

Proses syutingnya enggak susah, tapi capek. Mesti di-take beberapa kali. Tapi lucu juga lihat si Unyil beraksi 🙂 Kru Trans 7 yang dateng cuma 3 orang, 1 kameraman, 1 scriptwriter sekaligus yang gerakin boneka Unyil (Mbak Nunu), dan 1 sopir. Dari cerita Mbak Nunu, kayaknya kru Laptop Si Unyil ini sekarang lagi “efisiensi” untuk mengejar target liputan. Jadi kayaknya ada semacam grup2 kecil yang dinamis untuk disebar ke berbagai daerah. Maklum sih, acara ini kan ditayangkan setiap hari jadi harus banyak ‘stok liputan’. Sebelum ke Brownies Beton, mereka ke Trenggalek dan besoknya udah harus ke Surabaya ngejar pesawat ke Jakarta, hectic banget.

Trans 7 Laptop Si Unyil Crew

Mereka tau tentang Brownies Beton ini katanya dari searching di internet. Mereka emang googling untuk cari target liputan selanjutnya. Wah, ternyata kekuatan internet marketing emang dahsyat 😀 Moga2 setelah ini semakin banyak orang yang tahu tentang manfaat biji nangka, membuka mata bahwa ternyata dari sesuatu yang kelihatan nggak berguna, banyak banget manfaatnya 🙂

Foto2 lebih lengkap cekidot:

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.3633947935646.2164828.1482600549&type=1

My Brand New Personal Website!

My Brand New Personal Website!

I am very happy today because I get very special present from a special person. Yeah! The website you are walking in now is my SPECIAL PRESENT. It is used to be my 20th birthday present on the last November 4th, but he just give me today, exactly on his birthday. I am very very glad you know!!! ^0^/

For a blogger like me, having a personal website is such a dream! I previously had a home base here at blogger.com for about two years. The content of the blog has been imported here, sooo don’t be hesitate to take a look! 😉

I name this blog HORIZON OF HABIBAH because horizon line is such a meaningful-beautiful-natural-scenery you can see in this world.

HORIZON is a border.

It is a border between the sky and the earth. It is a border between the good and the evil. It is a border between the past and the future. A border between liberalism and socialism, between atheist and believer, between government and the people, between the rich and the poor, even between a man and a woman. You can say anything about horizon, our life is full of horizon. And those all I’m going to talk about in this website 🙂

What is actually the essence of  blogging or having a personal website?

Read more

我的博客


大家好! 我叫米丝雨。 我是玛中大学的学生。 我在玛中大学学习中文。 我的老师是张惠茹。 现在我们学习博客方面的课。 我有一个博客,是 “Habibah Daily Happiness”. 在博客我已经写很多文章。因为我已经四年多了写博客。 这是我第 128 的文章。 如果我很高兴或者很伤心我就写文章在博客。 我真喜欢写博客。

Abroad!

Kemarin baru saja dapat kabar gembira bahwa salah seorang teman yang bernama Brian Anggita mendapat kesempatan untuk mengikuti ISFiT (International Student Festival in Trondheim), Norwegia pada Februari 2011 nanti. Belakangan seorang adik angkatan yaitu Tantri Saraswati ternyata juga diterima di even tersebut. Wuaaawwww…..2 guys go abroad from Ma Chung at prestige international event? It’s rarely happen! Me and some friends who also apply isn’t lucky this year since we’re not invited, but surely my University get its great achievement by those two! So cool…eh?

Beberapa teman alumni ISWI juga banyak mendapat kesempatan keluar negeri lagi setelah even itu. Salah satunya Teh Histor, yang baru saja dapet kabar bahwa dia diundang ikut even IYCF di Pakistan. Teman2 yang lain juga sering lagi ikut even internasional setelah itu…but for me the chance is yet to come, still have to wait :))

I remember when I went to Germany my university & my family; my father, my aunts, etc help to support the financial needs. For visa, ticket, transport, etc. I remember my father bought a digital camera that he actually couldn’t buy. He gives some extra money that actually he can’t give. Fortunately I can fly because the University support the ticket, but with restricted traveling funds, still I can’t realize the dream of Euro trip, I directly went home after the event while my friends going Belgium, France, etc.

I was veryyyyy happy at the moment because finally I can go abroad…but when I came back here I felt something wrong. Yes…I still can’t be financially independent. Still depend on my father who were fully struggling to support my trip (and some sponsors that unfortunately reject our proposal). I realize that I was happy, but to make myself happy I accidentally make my father force himself. Itu adalah sesuatu yang mengganjal kebahagiaanku.

I want to go abroad, I WANT TO GO ABROAD ON MY OWN FEET.

Of course I’m looking for full scholarship…later when I wanna attend master degree. But while now I’m still undergraduate student, where full scholarship in temporal international event rarely available, I have to struggle by my own self. I want to get there having precious moments with interracial friends…but with my father at home, my younger sisters need me, I can’t be fully happy.

I want to enrich myself, my family. When the time comes to go there again, I will note make anyone or anybody had a rough time…because I WILL FUND MY OWN TRIP!

Amin! :))