Totalitas Tiada Batas

Petang di Mexico tahun 1968. Para juara telah turun dari podium dan penonton mulai beranjak pulang, namun tiba-tiba para penonton berbalik arah seraya tercengang tak percaya ketika melihat seorang pria berlari pincang dengan kain membungkus lututnya yang terluka berusaha menyelesaikan perlombaan. Stadion yang hampir lengang kembali bergemuruh menyemangati pelari olimpiade terakhir tersebut. Dialah john stephen Akhwari dari tanzania.

Apa yang ditunjukkan John Stephen Akhwari? Ya, totalitas. Ketika seseorang sudah menerapkan totalotas dalam hidupnya, maka hampir pasti, apapun yang diusahakannya akan berhasil. Mengapa? Karena dengan totalitas dia akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk mencapai apapun yang dia inginkan.

Totalitas. Apakah yang pertama kali terlintas di benak kita saat mendengarkan kita tersebut? Ada berbagai macam definisi mengenai istilah ini. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), totalitas artinya keutuhan, keseluruhan, kesemestaan.

Manusia adalah makhluk adaptif. Ketika dia mendorong dirinya sampai batas, maka dirinya akan beradaptasi untuk menaikkan batasan dirinya. Seseorang hanya mampu berlari 5 km, namun dia terus memberikan yang terbaik dan mendorong dirinya sampai batas. Hingga lambat laun jarak yang ditempuhnya akan terus meningkat. Dengan totalitas, dia akan menggali seluruh potensi dirinya hingga mencapai hasil yang memuaskan. Dengan totalitas, dia akan berjuang menumpahkan setiap tetes keringatnya hingga menyelesaikan apa yang ia cita-citakan.

Ketika seseorang menjadi seorang profesional, maka ia dituntut untuk emberikan segenap kemampuan diirnya untuk mengabdi kepada profesinya. Seorang dokter profesional tentu harus berjuang selewat tenaga demi menyelamatkan pasien yang sedang kritis. Seorang pengacara yang membela tersangka tak bersalah tentu harus mengerahkan segenap pikirannya untuk menyelamatkan kliennya dari jeruji besi. Seorang karyawan perusahaan profesional tentu harus maksimal bekerja agar mencapai target-target perusahaan tempatnya mengabdi.

Apalagi seorang profesional nasionalis. Ia dituntut untuk mengarahkan profesionalitasnya agar searah dengan perjuangan mengabdi kepada negara. Ia didaulat sebagai agen nasionalisme bangsa, agen penyelamat negara yang harus siap mendahulukan bangsa dan negara di atas kepentingan apapun.

Contoh konkretnya, seorang pegawai perusahaan Telkomsel yang profesional dan nasionalis tidak hanya diharapkan untuk bekerja secara totalitas demi mencapai target perusahaa, akan tetapi lebih dari itu, ia juga harus mengutamakan nilai-nilai nasionalisme dalam setiap keputusan yang diambil.

Manjadda Wajadda, barang siapa bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil. Kiranya Tuhan juga menjanjikan keberhasilan pada siapa saja yang bersungguh-sungguhy dan memberikan segala yang dia punya untuk memberikan yang terbaik.

Tak ada yang memaksa John stephen Akhwari untuk tetap berlari. Dia bisa saja berhenti, namun memberikan yang terbaik dari dirinyalah inti dari totalitas.

Ketika seseorang menanyakan alasan john stephen Akhwari tetap berlari meski juara telah menerima trofi dan turun dari podium, dia menjawab,

“ Negaraku mengirimku bukan untuk memulai perlombaan, tapi untuk menyelesaikannya.”

Semoga kita sebagai insan Telkomsel mampu untuk menerapkan nilai-nilai totalitas di dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan untuk mengabdi kepada perusahaan. Karena di pundak kitalah, insan Telkomsel, harapan bangsa dan negara diamantkan. Semoga Indonesia bisa mencapai masa depan yang lebih baik! Semangat Pagi semuanya!

Entrepreneurship: Finding Overlap between Theory and Practice

Why would you even take a Master degree to be an entrepreneur? Why didn’t you just do it? Do you really have to study all those business theories before becoming a business(wo)man? Will it be really helpful in real business world?

Those questions keep sparking out during my study here in Lancaster University. While my classmates and I have studied this Master degree of Entrepreneurship and Innovation for a year, none of us decided to directly jump down into real business world as full entrepreneur (yet).

 

I’ve never really wanted to be an academia. I can’t stand reading long journal papers with complicated sentences that, sometimes, actually only tell simple common-sense idea. And apparently I didn’t get proper understanding of academic paper back in undergraduate thesis. So when I started my master dissertation project here, instead of full academic paper, I opted for writing business plan with complementary academic piece (which is considered more ‘practical’).

I’ve also deliberately chosen Ian Gordon as my supervisor, who’s been known for his SMEs development program and a business practitioner himself. I was hoping to get more ‘practical insight’ during my dissertation project. That’s why I didn’t really pay attention to my academic piece, since I thought “I’ll just conduct interviews with SMEs and relate it to whatever theories say.”

In fact, it turned out to be tough.

So tough that I scolded myself for being too arrogant and underestimate it…

The Practice

My dissertation topic was about SME e-commerce adoption and Absorptive Capacity (don’t worry it’s also the first time for me to hear this term). I interviewed 10 (ten) SME owners in Indonesia and to be honest, I got amazing experience and valuable insights from them.

I’m glad that many of SME owners I interviewed were kind of progressive entrepreneur, who pay attention to latest business trend and pursue higher goal to, for instance, exporting abroad. We talked a lot, sometimes out of the interview topic, or till an hour more, that I can feel the entrepreneur’s passion, dream, and even worry.

Nevertheless, I have decided since the beginning that I must interview SME owners for this project; either British or Indonesian (actually wanted to do both). For one simple reason: I like listening stories–real stories, from real people doing the real thing. I’ve conducted similar method for my undergraduate thesis, thus I’m pretty sure that this won’t be really hard.

It wasn’t full academic paper, so my initial My emphasise was solely on interview result. I interviewed 10 (ten) SME owners in Indonesia in the hope that, if I get various-interesting result, then I can create good stories. At that time I didn’t realise (yet) that I was writing a news report instead of academic paper.

Yes, I read theories before conducting interviews, but it was only some ‘popular papers’ that explain my topic definitions–rather than critical opinion about it. I have always belittled literature review. I thought that these theories will be superseded by the real field data I was about to gather. Nothing beats real knowledge gathered from practitioners, right?

But then, I realise that my data didn’t speak as strong as it supposed to. I got the pieces of different stories but it just couldn’t make up into one whole coherent novel.

()

The Practice

 

Honestly, during my study period, I felt that my intention to be an entrepreneur was even somehow diminished. I was too overwhelmed with the papers and theories about entrepreneurship that I forgot how to think like a businessman. However, near the end of the program, I’m glad that I learnt something valuable during my final dissertation project.

To be honest I have never really read a scientific academic paper before this MSc program. It’s true that we conducted academic research as requirement for our bachelor degree, but when I looked back to what I wrote that time, most of the sources were taken from public article instead of academic paper in the acknowledged journal. I relied much on the interview results with some SME owners.

This time, for my Master dissertation, again I conduct interviews with SME owners. But yes, it’s a lot different experience compared to 3 years ago.

I met incredible entrepreneurs and small business owners. It is kinda different to listen hands-on experience from them. I’ve interviewed some SME owners previously but this recent experience was more thoughtful one. I was probably lucky to meet some full-spirited entrepreneurs. With some of them I talked a lot, even an hour.

Why, then?

The common excuse is, no adequate capital. While most of us are young people around 25 without stabilised professional career (yet), starting a business from scratch might be too risky–no, we’re not prepared yet to lose any money …

 

When those two pieces of dissertation have finally been submitted, I feel so so sooo relieved as if a huge burden has been lifted up from my shoulder. Feels that all the hardwork is paid off, and this 50 weeks learning journey has finally reached the peak (or so to say).

I learned quite a lot during the dissertation project. I have always wanted to

I know there will never be a peak of learning journey. Period of study might be over, but there will never be an end in learning period. Coz learning is a lifetime experience.

Berbisnis dengan Orang Asing

Berbisnis dengan Orang Asing

Pertama kali melihat orang asing alias foreigner, apa yang terpikirkan di kepalamu? Penasaran? Takut? Waspada dengan stigma2 yang melekat pada mereka, atau justru ingin tahu lebih dekat dengan mereka? Well, setiap orang punya pandangan berbeda soal orang asing–baik itu bule Kaukasian, Latino, Mongoloid, Arab, India, Afrika, bahkan sesama ras Melayu dari negeri tetangga.

Di sini saya cuma mau sharing pendapat sedikit tentang orang asing (baca: bule Barat) selama bekerja secara profesional dengan mereka. Pendapat saya tidak perlu digeneralisasikan dan  dijadikan stigma, karena setiap individu pasti punya karakter berbeda-beda. Tentu saja tidak semua bule itu serakah, oportunis, pandai bersilat lidah, dst. Kalau kamu berinteraksi dengan bule pada even lain, seperti pertukaran budaya, volunteering, dan kegiatan sosial, pasti kesannya akan berbeda. Mereka bahkan bisa lebih tulus dan segenap hati membantu kita. Tapi untuk mereka yang berurusan dengan bisnis, uang, dan reputasi profesional, ada karakteristik tertentu yang perlu dipahami.

Kebetulan perusahaan tempat saya bekerja lumayan sering bekerja sama dengan orang asing, terutama bule. Manajer pemasaran dan technical advisor adalah orang AS dan Eropa–di mana pekerjaan kami di divisi ekspor pasti melapor dan meminta ‘petunjuk’ kepada orang2 ini. Awalnya tentu saja merasa excited untuk berinteraksi dengan mereka, bertanya macam2, bertukar pendapat dsb. Dan memang sih, cara berpikir mereka lebih maju dan beberapa opini yang mereka katakan itu memang benar. Di awal2 bekerja dengan orang2 asing tsb semua ucapan mereka berasa seperti “titah dewa” yang harus dilaksanakan untuk memajukan perusahaan.

Namun ternyata, hampir 1,5 tahun berselang, terasa mulai ada yang ganjil. Mulai ada pernyataan mencla-mencle. Mulai ada sentimen ketika kami mempertanyakan perintah mereka. Dan yang terparah, mulai ada omongan ‘adu domba’ antar berbagai pihak yang terlibat dalam kepentingan bisnis. Nggak perlu diceritakan detailnya lah ya, yang jelas saya baru sadar kalau ternyata begini ya aslinya mereka. Ternyata begini ya caranya mereka bertahan menjadi “bos” selama bertahun-tahun tanpa modal dan malah terkesan “mengeruk” kekayaan perusahaan. Memang kita harus bersikap lebih kritis lagi kepada para bule ini.

Business-discussion-8Somehow, apa yang kamu dengar tentang bagaimana orang asing mengeruk kekayaan Indonesia lewat perusahaan multinasional, terasa lebih benar saat kamu mengalaminya sendiri. Ada satu karakteristik mereka yang sulit untuk tidak kita hiraukan, yaitu mental penjajah. Bagaimanapun, mereka akan selalu merasa superpower dibandingkan negara dunia ketiga. Mereka selalu menganggap bahwa cara merekalah yang terbaik, the Western way is the best. Dalam beberapa hal memang betul, tapi ada kalanya tidak bisa digeneralisasikan. Orang Asia punya cara berbisnis sendiri. Kalau memang merasa lebih bagus hasilnya dengan cara kita sendiri, untuk apa memaksa perlu mem-Barat-kan diri?

Karakteristik lainnya adalah sulit menerima feedback. Mungkin terasa ganjil karena ‘bukannya orang Barat itu demokratis dan menerima diskusi terbuka’? Oh tidak, kenyataannya dalam hal berbisnis semua jadi lain. Masih turunan dari sifat merasa superpower, ego mereka tinggi sekali sehingga sulit menerima masukan dari kita yang dianggap tidak lebih tahu. Begitu di-counter sedikit, yang ada malah sentimen. Jadi tahu rasanya menjadi pemberontak pada masa penjajahan.

Betul kata Pak Soekarno, kita sebagai orang Indonesia harus berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Memang perlu kita belajar dan menjalin hubungan baik dengan mereka, tapi jangan pernah mendewakan mereka. Kuncinya apa? Kita harus bersikap tegas. Kita harus berani mengatakan tidak kalau memang itu merugikan kita. Orang Barat pada umumnya pandai berbicara, jadi perlu hati2 dengan alasan2 yang terlihat menarik, ataupun ancaman2 yang kelihatan menakutkan. Kita perlu tahu faktanya sendiri karena kita tidak mudah dibohongi. Kita bangsa Indonesia punya harga diri sendiri.

Memang layak kita acungkan jempol pada Jepang dan China. Mereka berhasil menyerap teknologi dan ilmu2 lain dari negara Barat tanpa harus tunduk di bawah mereka. China punya sikap. Dalam hal berbisnis mereka lebih tegas untuk tidak “diporoti” oleh orang asing.

Jadi begitulah kira2 opini pribadi saya. Jangan digeneralisasikan, karena ini cuma pengalaman fresh graduate bau kencur di sebuah perusahaan kecil. Feel free to discuss! 😉

Ngelamar Kerja

Karena dompet yang semakin lama semakin tebel (tebel kartu2 ATM tapi isi rekeningnya kosong semua), terlintas di pikiran saya untuk kerja sambilan, tapi yang tetap (?). Selama ini saya dapat duit tambahan dari proyek2 nulis, ngelesi, dan lomba…yang semuanya itu nggak tentu. Kalo ada job ya dapet, kalo menang ya dapet, kalo enggak ya kere. Sementara kebutuhan terus bertambah dan bertambah…Tiba-tiba kepikiran deh untuk ngelamar jadi pelayan resto…yaitu di fastfood.

Sebenarnya awalnya itu adek saya yang mau kerja di situ, tapi dia ngolor2 terus gitu gak tau masih males atau apa, terus akhirnya saya juga jadi kepengin ngelamar. Nggak pegang duit sendiri itu menyiksa tau. Kalo mau ke mana-mana harus ngemis2 ke ortu dulu, duh males, capek, dan malu! Ujung2nya jadi nggak bisa kemana2, ndekem di rumah terus, kalaupun keluar cuma kalo diajak si Aa’ karena bisa dibayarin, atau minimal bisa pinjem duit (yang gak tau kapan mbayarnya).

Saya bertekad, saya harus pegang uang!!! Kebetulan pas tempo hari jalan2 ke Pasar Minggu ngelihat di depan Pizza Hut Semeru ada spanduk besar2 bertuliskan “DIBUTUHKAN KARYAWATI”. Terus saya ngajak teman2 untuk daftar ngelamar bareng2, bahkan kita akhirnya niat sampe daftar ke McD sama KFC juga, sekalian gitu pikirnya.

Eh baru 2 hari niat temen2 udah pada kendor…alhasil akhirnya saya keukeuh ngelamar sendiri. Saya bawa 3 biji amplop cokelat (sumpah berasa pelamar kerja door to door kayak yang di tipi2 itu loh) terus keliling ke McD, Pizza Hut, dan KFC.

Pas di McD Kayutangan saya disambut *tsaaahh* sama mas2 penjaga counter McD bertopi merah yang ngganteng…sambil ngulurin amplop saya bilang “Mas mau ngasi lamaran…di sini atau di mana ya? atau langsung ke manajernya?” sambil pasang muka PeDe sok2 SPG. Terus masnya bilang “Oh di sini aja nggak pa-pa bisa kok mbak…” Lalu setelah amplop saya diterima dengan senyum termanis saya bilang “makasih yaaaaa masss….” yang dibales ama senyum manis juga sama masnya “iya mbaakk…” Kemudian saya keluar dari McD dengan muka sumringah karena disenyumin sama mas2 ngganteng…duh! *melayang*

Lanjut ke Pizza Hut, waktu dateng disambut sama mbak2 penjaga pintu terus saya bilang mau ngasih lamaran…sama mbaknya disuruh ngasih ke kasir. Setelah ngasih amplop, saya bersiap mau pergi, eh lha kok sama mbak2 kasirnya tiba2 bilang, “mbak ngukur tinggi badan dulu yaa…” JDHIENGGG! Langsung deh firasat nggak enak. Emang sih katanya temen2 kalo kerja di PH itu syaratnya harus tinggi…tapi saya dengan badan kurus kerdil gini pede2 aja ngelamar di PeHa -.-

Terus saya diajak ke sebelahnya counter…di sana udah ada meteran tinggi badan. Sepatu dan tas dilepas, terus tingginya diukur… Selesai ngukur saya, muka mbaknya kayak tanpa ekspresi, atau sepertinya mengatakan “maaf ya mbak silakan ikut ortopedi dulu” 😀 Habis itu mbaknya ngeluarin surat lamaran dan baca sekilas, “ooh…masih mahasiswa ya..?” saya pun mengangguk  dan merasa makin salah tempat…hahaha “wes kendep sek cupu pisan” gitu paling pikirnya mbaknya.

Cabut ke tempat terakhir, yaitu KFC, ternyata ngglethek hasilnya… Menurut masnya KFC enggak nerima lamaran kalo enggak ada lowongan… Biasanya terpasang di koran Jawa Pos…duh kemlinthi banget yoo -.-

Demikianlah sekilas pengalaman jadi pelamar kerja door to door. Semoga bermanfaat bagi yang bercita2 jadi pelayan resto fastfood… 😉 Tapi inget, jangan lama2 jadi pelayan, kalo bisa segera jadi bosnya hahaha 😀

Smart Mom, Smart Generation

Ada yang bilang bahwa kecerdasan anak menurun dari ibunya. Ternyata secara genetis, memang kecerdasan anak ditentukan oleh kromosom X, yang diwariskan oleh ibu (khususnya pada anak laki2). Kunci peran Ibu dalam pembentukan kecerdasan zigot ada di mitokondria, yang disumbang oleh sel telur. Berita lengkapnya bisa dibaca di sini.

Namun, lepas dari faktor genetika (nature), faktor lingkungan (nurture) juga berpengaruh besar untuk kecerdasan anak.

Jadi, sebenarnya yang mau ditekankan di sini, perempuan itu lebih butuh cerdas daripada laki-laki, karena perempuan menurunkan kecerdasannya pada generasi berikutnya.

Menulis, Sedekah yang Tiada Putus

Sama sekali nggak nyangka, blog “jaman ababil” yang udah taktinggal bertahun-tahun, ternyata masih ada yang komen sampe beberapa hari yang lalu. Terharu aja gitu ngebacanya. Blog yang udah nggak pernah ter-update itu ternyata masih dikunjungi, dibaca, bahkan sampai ditinggali komentar penyemangat.

Di lain waktu saya pernah mengunjungi blog seorang manajer SDM sebuah perusahaan makanan terkemuka di Indonesia. Terkesan banget karena dia sangat jujur, seperti “telanjang” dalam blog pribadinya itu. Padahal saya kira dia tipe wanita karier yang dingin, ternyata dia begitu terbuka soal pengalaman2 hidupnya sebagai perempuan; bagaimana deritanya saat melahirkan anak keduanya, bagaimana perasaannya terhadap suaminya dan mamanya, dll. Dengan baca blog itu, saya seperti membaca dirinya, dan yang terpenting, saya merasa mendapat pelajaran berharga dari apa yang dia tuliskan.

Ketika sedang “menggalau dalam kontemplasi”, pernah juga saya nyasar di blog yang saya lupa apa alamatnya dan siapa namanya, tapi untaian kalimat2nya masih menancap di benak saya sampai sekarang. Gagasan yang dilontarkannya sangat orisinil dan belum pernah saya baca di manapun, suatu pengetahuan segar yang beruntung diarahkan oleh Google pada saya.

Saat itu saya sadar, ternyata begitu mudah untuk memberi inspirasi. Kita nggak perlu jadi motivator atau tokoh terkenal untuk bisa menginspirasi orang. Kita nggak perlu jadi profesor untuk bisa berbagi ilmu. Kita cuma perlu menggerakkan pena (baca: tuts keyboard) dan mulai menulis…

Tulisan dalam dunia maya itu abadi. Meski kita nggak tahu kapan dan di mana, akan ada orang yang merasa terbantu, terinspirasi, dan tercerahkan dengan tulisan yang kita buat. Secara nggak langsung kita udah berbagi, kita udah bersedekah, dengan suatu harta yang nggak akan ada habisnya: ilmu. Menulis adalah sedekah yang tiada pernah putus, karena ilmu yang kita bagi akan terus menular dan menular, membantu dan mencerahkan orang lain, bahkan meskipun hidup kita sudah berakhir.

Jadi, teruslah menulis kawan… 🙂

Multikulturalisme Gagal?

Belakangan ini berita2 internasional di koran isinya nyaris seragam: kerusuhan. Akhir Juli lalu kerusuhan berdarah meletus di Kashgar, Xinjiang, China menewaskan 8 orang. Terjadi baku tembak antara polisi dan perusuh. Melihat ceceran darah di restoran TKP sungguh mengerikan. Pemerintah China menuding militan Islam sebagai dalangnya, mengingat Xinjiang adalah kawasan otonomi yang mayoritas dihuni etnis Uyghur. Namun para analis menyimpulkan bahwa diskriminasi sosial ekonomi adalah penyebab utamanya.

Sebagai minoritas, etnis Uyghur merasa tertekan dengan kebijakan pemerintah China. Pemerintah meremajakan kota tua Kashgar (yang dulunya bagian dari Jalur Sutera) dan menggusur rumah penduduk lokal dengan kompensasi yang tidak layak. Di saat pertumbuhan ekonomi China melaju pesat, warga Xinjiang merasa “ditinggal”. Selain itu, warga Uyghur merasa terdesak dengan imigran etnis Han (mayoritas China) yang masuk ke wilayah mereka dan segera menguasai sentra-sentra ekonomi penting. Warga Uyghur semakin merasa “direndahkan”, dan karenanya meletuslah kerusuhan tersebut. Mereka menuntut otonomi yang lebih luas dan bahkan ingin ‘merdeka’.

Sebenarnya, kejadian ini mirip sekali dengan kerusuhan berbau separatis yang pernah meletus di Papua dan Maluku. Sebagai minoritas di Indonesia, warga kulit hitam di sana merasa tertindas oleh kebijakan pemerintah yang ‘pilih kasih’, ditambah lagi masuknya imigran Jawa menguasai ekonomi mereka.

Lalu, baru Sabtu lalu (6/8/2011) meletus kerusuhan di London. Kerusuhan cepat menjalar sampai sekarang sudah menyebabkan 4 orang tewas. Anak-anak muda tiba-tiba seperti kesurupan, merusak dan menjarahi sudut2 kota Tottenham, Birmingham, Nottingham, dan kota2 besar lain di Inggris. Meski PM Inggris David Cameron bersikeras bahwa kerusuhan itu hanyalah “tindak kriminal murni”, lagi2 ada yang membuka tabir: kerusuhan ini berbau rasial. Gerakan anak muda ini dipicu oleh tewasnya …, seorang Afro-Karibia, karena ditembak polisi.

Lalu “bangkai” yang disembunyikan pun semakin terkuak. Inggris yang membanggakan multikulturalisme-nya, ternyata juga menyimpan bibit-bibit ketidakpuasan minoritas. Warga kulit hitam yang hidup di kantong kemiskinan, semakin terpojok akibat krisis ekonomi Eropa sejak 2009. Mereka banyak ter-PHK, sedang pemerintah memotong berbagai tunjangan kesejahteraan sehingga si miskin makin miskin. Lalu, turunlah mereka ke jalan2 menumpahkan kemarahan.

Apa yang tersirat dari kerusuhan2 ini?

Kalau kita perhatikan, banyak sekali konflik timbul karena masalah SARA. Padahal negara2 sekarang banyak yang mengampanyekan multikulturalisme. Tapi ternyata, pemerintah negara itupun sulit untuk menyembunyikan “pilih kasih”nya. Diakui atau tidak, kebijakan pemerintah sedikit banyak akan membela mayoritas dan menyudutkan minoritas. Seperti yang terjadi di Indonesia pada etnis China. Di Jerman pada warga Turki. Di Amerika pada orang negro.

Tidak dapat dipungkiri, setiap orang punya bibit rasis di dalam dirinya. Sekecil apapun itu. Seseorang pernah mengatakan pada saya tentang hal ini; bahwa jika ada 2 orang dari etnis A dan B menawarkan sesuatu kepada etnis A, sedangkan yang mereka tawarkan sama persis, maka penawar etnis A akan cenderung lebih dipilih. Seseorang di Konjen Frankfurt juga pernah bercerita, bahwa jika ada 2 orang dengan kemampuan yang setara di sebuah perusahaan, satunya asli Jerman dan satunya turunan Turki, pasti si Jerman yang akan dipilih untuk naik pangkat.

Pada Oktober 2010, Kanselir Jerman Angela Merkel bahkan dengan gamblang menyatakan: multikulturalisme telah gagal di Jerman. Lalu pada 22 Juli 2011, Anders Breivik menembaki orang2 di Norwegia karena sentimen anti-imigran nya. Gejala apa ini?

Kadang saya berpikir, kalau di setiap diri kita ada bibit2 rasis, lalu untuk apa kita diciptakan dalam sebuah keanekaragaman? Untuk apa semboyan ‘Unity in Diversity’? Bagi saya ini tetap menjadi misteri Tuhan.

Jika multikulturalisme telah gagal, mungkin selanjutnya demokrasi yang akan gagal. Lalu liberalisme. Lalu dunia akan kembali ke sistem monarki. Lalu manusia kembali terkotak-kotak dalam wilayahnya sendiri. Duh, jadi pusing sendiri.

*disarikan dari berita dan opini Kompas sebulan terakhir ditambah sedikit imajinasi*

Blog-o-Sphere: Perguruan Tinggi Indonesia dan Globalisasi

Blog-O-Sphere, sebuah kompetisi blog nasional yang diadakan oleh UK Petra Surabaya, itulah lomba blog yang sedang saya ikuti saat ini. Meskipun sudah 4 tahun nge-blog, ini baru kali ketiga saya mengikuti lomba blog. Apalagi ini professional domain pertama hadiah dari seseorang yang sangat spesial…sayang banget kalau disia-siakan 😛

Dari 5 tema lomba yang disediakan, saya memilih tema “Perguruan Tinggi Indonesia dan Globalisasi”. Bukan apa-apa sih…cuman rasanya bakal lebih gampang saja untuk “menuangkan pikiran” (baca: curcol). I mean, saya mahasiswa dan merasakan sendiri bagaimana rasanya mengenyam pendidikan di perguruan tinggi yang sedang bersolek menghadapi era globalisasi. Saya adalah pelaku (atau korban?) dari proses pendidikan ‘global’ tersebut. Ya, kan?

Untuk memudahkan navigasi, artikel dalam blog ini dibagi menjadi 4 kategori, yaitu “Mahasiswa dan Globalisasi”, “Dosen dan Globalisasi”, “Kurikulum PT dan Globalisasi”, serta “Keuangan PT dan Globalisasi”. Empat kategori tersebut dibuat sedemikian rupa dengan harapan dapat menghasilkan artikel-artikel yang maknyuuuusss, gurih dan menggigit, mengupas tuntas proses ‘pengglobalan’ Perguruan Tinggi di Indonesia.

Moga-moga saja dapat menjadi bacaan yang bermanfaat bagi sobat blogger semua dan membuka wawasan kita tentang globalisasi Perguruan Tinggi di Indonesia. Oya. buat teman-teman mahasiswa lain yang ingin ikut berpartisipasi dalam lomba blog ini, silahkan klik di sini.

Happy Blogging! 😀