Menemukan Keromantisan di Balik Teduhnya Perbukitan Bersama Hotel Alila Ubud

Tidak heran jika banyak pasangan yang rela jauh-jauh mengambil penerbangan ke Pulau Dewata demi sebuah momen romantis yang berkesan. Pasalnya, eksotisme dan romantisme Bali tersimpan begitu kuat di setiap sudut-sudut kota. Kendati pengaruh modernisasi jelas-jelas terlihat dan membaur bersama sebagian raga dan rohnya, tetapi kekokohan budaya yang menjadi karakternya tidak membuat Bali semudah itu goyah. Bali tetap berdiri megah dan mewah dengan kesehajaannya.

Bicara soal keindahan alamnya, pantai-pantai di Bali memang tak jua kehilangan penggemarnya. Mulai dari Pantai Kuta yang termahsyur dan begitu padat hingga pantai-pantai yang belum banyak terjamah seperti Pantai Amed, Pantai Perasi, Green Bowl, dan lain-lain, semua memiliki daya tarik untuk wisatawan yang sangat besar. Namun Bali tidak hanya pantai. Keindahannya merata tersebar ke setiap jengkal tanahnya, termasuk Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar.

Ubud, Keromantisan dalam Balutan Alam Hijau

Alila Ubud

Jika Anda merencanakan liburan ke Bali bersama pasangan, pastikan Ubud berada dalam destinasi yang akan dicapai. Pasalnya, meski tak memiliki deburan ombak dan angin laut yang khas, Ubud adalah paket lengkap kebutuhan keromantisan Anda. Di sini, Anda bisa merasakan ketenangan yang sukar didapatkan di kawasan Bali selatan.

Sudah tak terhitung lagi berapa banyak pasangan yang menghabiskan sebagian waktu mereka untuk meningkatkan kualitas hubungan dan keromantisan mereka di tanah Ubud. Ubud menjadi tujuan bulan madu pasangan-pasangan dari berbagai penjuru dunia yang baru menikah. Memulai hari dengan pemandangan persawahan ala pedesaan yang begitu alami, berjalan atau bersepeda mengitari tempat-tempat yang asri, mengunjungi galeri seni yang berlimpah, berbagi tawa di sudut-sudut kafe kecil, dan masih banyak lainnya.

Hotel Alila Ubud, Keromantisan di Tengah Perbukitan

Alila Ubud

Apa yang lebih romantis dari memulai hari dengan secangkir teh di balkon yang menghadirkan pemandangan lembah hijau dengan obrolan hangat bersama pasangan? Kudapan nikmat juga tersedia sebagai selingan pembicaraan Anda dan pasangan. Cahaya keemasan matahari yang mulai muncul di ufuk timur pun menyusup masuk melalui celah-celah pepohonan lembah, mengurai sejuknya hawa dingin dan embun  sisa semalam.

Di Alila Ubud, Anda dan pasangan akan dimanja dengan hunian bertema alam yang serasi dengan lingkungan sekitar. Kamar-kamar dibuat dengan konsep kayu dan bebatuan alam, dipadankan dengan fasilitas mewah dan nyaman. Di tempat ini, Anda dan pasangan berada jauh dari kebisingan dan bisa menanggalkan kepenatan rutinitas di kota. Pemandangan gunung dan perbukitan yang mengelilingi Hotel Alila Ubud menyuguhkan keromantisan tersendiri.

Fasilitas Sempurna untuk Kehangatan Berdua

Alila Ubud

Tidak perlu khawatir soal fasilitas di Hotel Alila Ubud. Hotel ini memahami kebutuhan Anda dan pasangan untuk menikmati waktu berdua di sini. Hotel Alila Ubud memastikan pengalaman Anda  dan pasangan menginap di sini tidak akan terlupakan  dengan berbagai fasilitas mewah dan nyamannya.

Ada dua jenis hunian yang bisa Anda pilih. Pertama, Kamar Deluks. Anda bisa memilih tipe ranjang yang diinginkan, baik satu buah ranjang king atau dua buah ranjang twin. Setiap tempat tidur dilapisi seprai berkualitas premium yang akan membuat istirahat Anda menjadi sangat nyaman dan maksimal. Kamarnya pun terbilang cukup luas, yakni 65m2 dengan sebuah teras berkayu yang menampilkan panorama pegunungan.  Untuk relaksasi di dalam kamar, Hotel Alila Ubud sudah menyediakan fasilitas pijat dalam kamar dan perapian untuk menghangatkan diri dari sejuknya Ubud.

Kendati letaknya di kawasan perbukitan, Hotel Alila Ubud tidak mengabaikan kebutuhan Anda di era digital seperti saat ini. Anda dan pasangan tetap bisa mengakses dunia digital melalui koneksi WiFi dari dalam kamar. Selain itu, untuk menyimpan dan menyiapkan makanan atau minuman, Kamar Deluks sudah dilengkapi dengan kulkas dan minibar. Jika Anda ingin menghangatkan diri dengan berendam pun, fasilitas baththub di dalam kamar mandi dengan interior batu alam bisa Anda gunakan.

Kedua, Anda bisa memilih untuk menginap di vila yang tersedia dengan pemandangan lembah. Dengan interior serba kayu dan batu alam pada bagian kamar mandi, vila di Alila Ubud menggunakan jerami sebagai atapnya. Luas vila ini 75m2, sangat luas untuk hunian sementara Anda dan pasangan. Fasilitasnya pun tidak jauh berbeda dengan Deluks—bahkan dilengkapi boks bayi sesuai permintaan jika Anda datang bersama si kecil.

Tarif menginap per malam di Hotel Alila Ubud ditawarkan pada kisaran Rp3.338.700 untuk Kamar Deluks dan Rp4.769.572,00 untuk vila. Harga yang cukup murah untuk sebuah keromantisan di kawasan perbukitan dengan fasilitas selengkap dan semewah ini, bukan? Anda bisa melakukan pemesanan kamar di Hotel Alila Ubud via Traveloka, sekaligus mendapat kesempatan untuk penawaran terbaik lainnya.

Tingkatkan Keharmonisan dengan Aktivitas Bersama

Alila Ubud – traveloka.com

Selagi di Ubud, manfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan keharmonisan bersama pasangan dengan berbagai aktivitas bersama. Selain menikmati pemandangan menakjubkan dari teras atau balkon kamar, Anda juga bisa berenang di kolam Hotel Alila Ubud.  Meski bukan kolam renang privat, suasananya akan membuat Anda serasa berada di kolam pribadi. Kolam renang Hotel Alila Ubud berada di ruang terbuka yang berbatasan langsung dengan perbukitan. Anda juga bisa sekadar bersantai di tepi kolam yang menyediakan kursi santai.

Anda dan pasangan juga bisa berjalan-jalan mengeksplor kawasan sekitar. Bagi Anda penikmat seni, Galeri Seni Alila Ubud hanya berjarak sekita 1,3 km dan Gaya Art Space hanya berjarak sekitar 4,08 km. Anda bisa menelusuri keindahan Ubud lainnya bersama pasangan—menyusuri jalan persawahan, berburu kerajinan tangan di toko-toko suvenir dan seni, mengunjungi objek wisata, menikmati penganan di kafe-kafe kecil, dan lain-lain.

Ubud tidak akan pernah kehilangan pesonanya yang justru terpancar dari kesahajaannya. Di sini, Anda dan pasangan tak akan pernah kehabisan momen romantis bersama. Dan bersama Hotel Alila Ubud, Anda dan pasangan akan mendapatkan pengalaman ‘romantic sweet escape’ yang tidak terlupakan.

La Armonía de Cordoba

La Armonía de Cordoba

As soon as the sun slipped into the horizon, red tinge appeared on the sky. Its flaming colour blended perfectly with bone-like whiteness of Old Town buildings, while the green water of Guadalquivir refclected the light. Bewitched, we stand on the Roman Bridge with a dazzled look–enjoy the perfect moment and feel like never ever want to go home. Cordoba was showing its beautiful twilight to us, and that scenery was frozen forever in our memory…

Night view of Roman Bridge with Mezquita-Cathedral in the background

Night view of Roman Bridge with Mezquita-Cathedral in the background

Going to Cordoba was part of spiritual journey.

I still remember the day when I was in junior high school; sat in my class listening to my teacher’s lecture. He told us about magnificent Andalusia, Spanish region that was once conquered by Muslim rulers. Cordoba, the capital of Andalusian caliphate, became center of civilisation during Islamic golden age. It was the place where all greatest minds gathered, knowledge was developed and wisdom was reaped. It was the residence of famous Muslim scholars like Ibn Rusyd (Averroes), al Qurtubi and Ibn Arabi. It was, in short, the proof of glory of Muslim medieval civilisation.

At that time, my little mind was so fascinated by the story that it became a lifetime dream to visit Andalusia. However, when I actually reach the sacred city eleven years later, I knew that my mind has evolved. By the time I finish this journey, I no longer view Cordoba only as ‘the lost treasure’ of Muslim. It is, afterall, a living witness of how multiple civilisations clashed and tried to defeat each others.

Statue of Averroes (Ibnu Rusyd), great Philosopher who translated the lost Aristotle works into Latin, re-introduce it to the West

Statue of Averroes (Ibnu Rusyd), great Philosopher who translated the lost Aristotle works into Latin, re-introduce it to the West

Mezquita-Catedral de Cordoba is the prominent icon of this city. Originally built as Catholic church, it was turned into a mosque in 8th century when Muslim caliphate conquered the region. When Christian kingdom reconquested the city, the building changed back into cathedral. Thus, today it uniquely becomes a kind of ‘sandwich’ architecture; Christian decorations are stacked upon Muslims ornaments and so forth. In one side, you can still see a beautiful Mihrab that shows direction of Mecca where the Imam used to lead the pray, but on another side you can see a fully functional chapel with its mass preparation. Christ sculptures are everywhere but indeed you walk through the mosque pillars once used as praying rows. The church tower was once a mosque minaret but now is occupied with huge bell.

Seeing through those intertwined ornaments, it becomes clear that this building reflects how religion was used as a symbol of power. Still, isn’t it so beautiful to see how different cultures blend together?

Jesus sculpture with Moors ornaments background

Jesus sculpture with Moors ornaments background

cordoba3

Once mosque pillars

cordoba4

The Mihrab

Lely and I spent two nights in Cordoba. We stayed in a nice backpacker hostel where we met Gul Yoo, a funny Korean guy who lives in Russia and was in the middle of his one-year-travel-around-the-world. He was a keen fan of Renaissance art and told us bunch of interesting stories (and suggestions) about our next destination: Italy. Unfortunately we didn’t get a chance to walk around Cordoba together but still we manage to keep contact via Facebook. I think the best part of doing (semi) backpacking trip is that you always end up with new friends after 😉

Apart from Mezquita-Cathedral, another must-visit spot in Cordoba is of course the Old Town! It just feels amazing to stroll around those medieval buildings with its exotic corridors. Wander around. Get lost in the maze. For every entrance always lead you to another unexpected exit point. For every narrow street always surprise you with enchanting building in. And one typical charasteristic of this place is that that you can find ‘hanging flower pots’ arranged symmetrically on almost every wall of the buildings, especially the garden. Oh I really love the sensation of getting lost in Cordoba Old Town!

Cordoba Old Town seen from Cathedral Minaret

Cordoba Old Town seen from Cathedral Minaret

Strolling around the city corridors

Strolling around the city corridors

Typical hanging flower pots of Cordoba

Typical hanging flower pots of Cordoba

Another beautiful spot in Cordoba is Alcazar de los Reyes Cristianos. It is basically a palace for Christian king who visit Cordoba. I like the wonderful gardens and flowers and ponds and how we can spend the day taking pictures from any angles here 😉

Gardens of the King

Gardens of the King

Also, do not forget to enjoy the Roman Bridge of Cordoba. The twilight (and night) scenery was just unforgettable! The bridge was always busy; it somehow connects the old town with the new city of Cordoba. From this point you can see Mezquita-Cathedral, Guadalquivir river, and Calahorra Tower all in one scene.

Calahorra Tower on the end of the Roman Bridge and the Guadalqivir river flowing under

Calahorra Tower on the end of the Roman Bridge and the Guadalquivir flowing under

Not only church and mosque, Cordoba also has a Jewish synagogue, which is one of the only three synagogues left thorough Spain. Not many things left in this small synagogue but still it’s interesting to see that this city has a trace of three religions. At a glance it may look like a miniature of Jerussalem; a holy place for Abrahamic religions with their intertwined history.

The Synagogue

The Synagogue

Afterall, Cordoba might be the witness of some religious wars in the past, but still it maintains religious diversity in harmony. As written in the small handbook I got in Calahorra:

“Oh my Christ/ who welcomes Christian, Jew and Moor/ provided their faith/ is directed towards God”

“Let the Moors (Muslims) live among the Christians while preserving their own faith and not insulting ours.”

(Alfonso X, The Wise)

“My heart has become capable of every form/ It is a pasture for gazelles/ And a convent for Christian monks/ And a temple for idols and the pilgrim’s Kaaba/ And the tables of the Torah, and the book of the Koran/ I follow the religion of love/ Whatever way love’s camels take/ That is my religion and my faith”

(Ibn Arabi)

*) This post is part of my Euro Trip series. Cordoba, 6-8 September 2015.

La Belleza de Barcelona

La Belleza de Barcelona

Before coming to this city, Barcelona in my mind was just one of European football capital. And ex-Olympic Games host. Never thought about its marvelous Gaudi architectural design, its hilly contour alongside beaches, and its Catalan culture blended in the red-yellow buildings.

Three days and three nights in Barcelona were simply amazing.

Lely and I got wonderful host (via AirBnB), Isabel, a young artisan living with her two adorable cats. Isabel was a woman with very warm personality, typical Southern European people. She was genuinely friendly and lovely! Her parents originated from Andalucia but she was born and raised in Catalunya—thus she was able to tell us about how North and South Spain were totally like two different countries 😉

We also unexpectedly got new travelmate, a guy who also stayed in Isabel’s flat for a week vacation. His name was Ramin—a half Persian and half German. Ramin, Lely and I ended up exploring Barcelona together for three days, and it was really wonderful time 😀 Here are some highlights of our visit!

Sagrada Familia

If Gaudi is the God of architecture, Barcelona is simply his throne on heaven. All his beautiful works are spreaded over the city, with a single incredible masterpiece under spotlight, Sagrada Familia. This cathedral was built on 1882, but until today, the construction has not even finished yet. Ha! Just wait until 2026 when it will be done……….they said.

The first time I saw this church, honestly it looked a bit spooky. The gothic exterior seems like ancient building you saw in horror movies. But when you get into it…the  view was breath-taking! Sagrada Familia was purposedly designed to imitate tropical rain forest. When you’re inside the building, you’ll feel like standing in the middle of jungle. The pillars vined to the ceiling as if trunks of gigantic trees tried to scratch the sky. The colourful window glasses reflected outside light as if sunshine pass through colourful leaves. The roof itself was formed like dense vegetation covered a huge forest. It was just…..beautiful 🙂

barcelona1

A building across three centuries

Gaudi was apparently an architect with deep interest to nature, and he applied this natural form into his masterpieces. Who thought a hive or a form of plants can be embedded in construction? Sagrada Familia is a must-visit-object during your trip to Barcelona (and of course because it’s kinda ‘signature building’). Still, I think EUR 15 is probably too much to enjoy this masterpiece. I mean, I can even observe the whole archeological site of Italian Pompeii ruins all day long with less than that…

Another notable Gaudi work was Park Güell. However we didn’t get into this park since we (Lely and I) didn’t want to spend more money 😛 So we just walked around another free park nearby and eat chips…

Parc de la Ciutadella

Have you ever been to a place where you feel like you can just spend the whole day there? Where you can just enjoy yourself and have serene ‘me time’? Where you can just wander around to chase after some inspiration? Parc de la Ciutadella is, for sure, one of this kind of place. If I live in Barcelona, this park will likely be my ‘runaway haven’ of daily stress. I don’t know, it feels so comfy just to walk around and enjoy the company of the crowds. The voice of street musicians, performance of street artisans, people doing sports, reading books, family hangouts, amazing fountain monument, beautiful pond with boats…..oh I simply fall in love with this park 🙂

Parc de la Ciutadella

Parc de la Ciutadella

Not far from the park we can see Arc de Triomf, the Barcelona version of Paris’ Arc de Triomphe. It’s like seeing its Paris sister painted with Catalan national colour of red and yellow. Afterall, this zone can absolutely be interesting choice for ticket-free tourist spot!

The Paris counterpart

The Paris counterpart

Montjuïc Hill

When I went to Edinburgh, I was fascinated by how the hilly contours of the city fits perfectly with its coastal line. Barcelona was, apparently, possess similar charm with the Scotland capital. This city was also surrounded by hills, and Montjuïc was one of them. This hill has actually been shaped with many enchanting buildings on it. My favourite was Palau Nacional (National Palace), in which you can watch fantastic Barcelona view from the top. Its design was simply fascinating; a palace on high place with gradual waterfall on the way up. Perfect photo spot 🙂

barcelona5

The National Palace, home of National Art Museum of Catalan. However the entrance ticket was EUR 12, quite expensive I think, considering that all museums and national galleries throughout UK are completely free.

barcelona6

Fabulous Barcelona from top

There were also many other interesting spots on Montjuïc Hill, such as the ex stadium for 1992 Olympic Games, a castle, Spanish village, parks etc. Walked around the hill can be quite exhausting but it’s totally worth it considering the wonderful spots–you can probably spend the whole day to explore each of them.

CosmoCaixa Science Museum

If it wasn’t because of Ramin’s idea, I wouldn’t probably end up in this place. Why would one go so far to such a romantic city like Barcelona only to visit science museum…? 😛 But apparently this museum was being underrated. It’s actually pretty impressive spot! Well, especially if you love science of course–like Ramin does. During the whole trip I’ve never seen him become sooo excited, so passionate as when he’s in CosmoCaixa. He enthusiastically explored those science models, and tried to explain to me how the model works………which made me look like an elementary kid tried to understand a professor’s lecture of Physics theory 😛 I was enjoying the moment though 🙂

Nevertheless, the museum was great and some of the models were really worth it. My favourite was the tropical rain forest imitation! It’s totally awesome, something you can’t find in other science museums (oh like I have visited so many :P) I just wonder how they brought up all the vegetations and well, eventhough I’m not sure if some of the fishes actually live in real rain forest river, afterall the whole design was fairly attractive. There are also aquarium and planetarium. CosmoCaixa is, I think, a perfect place for family recreation with kids. The entrance ticket was also quite cheap, like EUR 4.

barcelona3

Tropical rainforest imitation: top view

barcelona2

Tropical rainforest imitation: side view

Flamenco Dance

‘To be fond of dancing was a certain step towards falling in love’ (Jane Austen)

Under the dim light of Los Tarantos bar, three men were sitting on the chairs; a guitarist, a percussion player, and a clapper-vocalist. The audiences filled up the room, took their silence as the show was about to start. When the sound of guitar strings reached our ears, a slender woman entered the stage. Her frilly dress swayed beautifully as she moved her ankles. Loud applause soon filled in the air, welcomed the performers with excited feeling. This was it, a Spanish Flamenco 🙂

Flamenco was actually an Andalucian gypsy tradition. I have wondered about watching Flamenco since the Cordoba visit, but apparently the show was quite expensive (like EUR 25). Fortunately we found an affordable one here in Barcelona, only EUR 10 for around half hour performance. The seat was limited but luckily we came just in time to get one, eventhough it was in the back row. I was, uhm, quite short to look over other audiences’ heads on the front seats so I kept straining my back to be able to see the performance clearly.

Shot of stage

Shot of stage

The woman, she danced so brilliantly that I couldn’t take my eyes off her. Her ankles, her feet moved so fast; each slams fitted in harmony with the music beat. It’s like watching ‘ladylike’ version of  tap dance, which I believe took more effort since you have to do it with high heels and under long tight dress.

In contrast with typical red colour associated with flamenco, the dancer’s frilly dress was black with big yellow polkadot accent. She occasionally swayed the dress with her hand, revealed her agile skinny legs. As the show reaching its peak, the guitar and percussion beat got quicker, the vocalist shouted and clapped louder, and the dancer moves were getting incredibly vivacious. Her facial expression reflected her impressive effort as I can see the sweat streaming down her skin. We were so absorbed by the show, as if the whole energy was transferred and the room was heaten up. It was totally unforgettable moment!

The dance came up in two parts in which the woman dancer had duet with a man, and when she danced solo. She changed her dress between the parts and while waiting for her, the guitarist played an absolutely stunning piece of Spanish instrumental. Overall this show was very very good value performance, but still, I will not refuse the next chance to enjoy Andalucian Flamenco in Granada 😉

Barcelonetta Beach

Visiting Barcelona certainly isn’t complete without going to the beach. Unlike most of British beach, Spanish beach is of course that kind of ‘proper beach’: blue water, white sand and sunny sky. And rows of tanned bikini bodies. Barcelonetta were also completed by diverse range of restaurants and bars along the shores (eventhough the seafood ones were quite costly).

barcelona4

Breezy breezy beach

Plaza de Catalunya

It is the heart of Barcelona city so of course we must come here! 😉

Senorita!

Ola Senorita!

Barcelona was, after all, a bit like Spanish version of Edinburgh; only with a lot more lively atmosphere and of course a far better weather 😉 Stunning architectures, strong art and cultural nuance, also hills and beaches in-one. Three days were absolutely not enough to reveal all the beauty of this city. If I have a chance, definitely I’d be very willing to explore this wonderful city again and again! 😀

 

*) This post is part of my Euro Trip series. Barcelona, 8-11 September 2015.

Elegant Edinburgh (3)

Elegant Edinburgh (3)

To read before: Part 2

Day 4 (16 December 2014)

After 2 days fully exploring the city center, we decided to see another part of Edinburgh. We went to coastal area of this city where there lay “Britannia” royal yacht, a vessel that used to sail around the world by British royal family. My classmate, Lukas from Germany, joined Lely and I for this trip. We met at city center and went together by bus to the Ocean Terminal, a beach-side shopping mall and an entrance to Britannia.

Britannia, apparently was not a huge ship I imagined as Titanic-look like. However, still it looks majestic. It hasn’t been sailing anymore since 1997, and now permanently moored at Edinburgh’s coast, connected to Ocean Terminal. It is now a kind of Royal Museum that become one of the most popular tourist attraction at Edinburgh. An adult ticket to enter Britannia was priced £12.75, but we got student’s discount to be £11.50 (don’t forget to bring your student ID!).

Her Majesty's Yacht "Britannia" (photo by Lely Tri W)

Her Majesty’s Yacht “Britannia” (photo by Lely Tri W)

Before entering the yacht we were equipped with a kind of walkie-talkie that contained audio explanation of Britannia’s each room. The audio was available in several languages (even Thai) but not Bahasa Indonesia 🙁 so we chose English instead.

There were twenty-something rooms inside the 3-levels deck. We went through almost all parts of the yacht, from the forecastle, car garage, royal family’s bedroom, dining room, bar, crew’s room, even the laundry and mini-hospital. All rooms were carefully designed as it was used before. You really can sense the feeling of ‘royal heritage’ here. Well I’m not that into British Royal family things, but if you’re fan of them (like Lely), you will be really satisfied by this yacht original exhibition. You can imagine how Queen Elizabeth II, Prince Charles, Princess Diana, Prince William and Harry, and other royal family members spend the past days sailing on this yacht.

The

The forecastle

View from the side

View from the side

 

Front deck

Front deck

Ring the bell

Ring the bell

It’s a coincidence that I went there right on my parents’ 25th wedding anniversary. I took this chance by making a short congratulation video in front of Prince Charles and Princess Diana’s honeymoon suite (well I don’t know if it’s good choice considering what happened to their marriage–but anyway :p).

IMG_20141216_123456

Charles-Diana honeymoon suite

The Queen's bedroom

The Queen’s bedroom

The Prince's bedroom

The Prince’s bedroom

The recreation room

The recreation room

The dining room

The dining room

The hall

The hall

The pretty stairs

The pretty stairs

The old photograph

The old photograph

 

The Royal Deck Tea Room. Enjoy ocean view along with British tea

The Royal Deck Tea Room. Enjoy ocean view along with British tea

 

Cheers!

Cheers!

After exploring Britannia, we walked through Ocean Terminal and try to find something to eat. However, we ended up going back to city center and eat at Yokoco again^^” I felt a bit regret to forget visiting Edinburgh Royal Garden. It was actually near Ocean Terminal, however since the sky is getting darker (and I was starving) we decide to rush back to the city.

I spent the last night in hostel by sitting in the lounge, having some conversation with Alex, a French guy who’d been my roommate along with Sharon. Oh, I also unexpectedly met an Indonesian family in this hostel the morning before (mom, dad, and son). They had holiday while attending their son’s graduation from Queen’s Mary College at London. I was so surprised (and happy) to meet them. We were walking together to the city center but I forgot to ask their contact :/

Day 5 (17 December 2014)

It was a packing day! Lely and I decided to get the most of our last day by taking pictures of some beautiful objects around the city. We will continue our trip to London by train at 11 am. It’s sooo sad to leave Edinburgh 🙁 I have fallen in love to the city. I promise will go back again by the next summer (well I really hope so!)

St Giles Cathedral (photo by Lely Tri W)

St Giles Cathedral (photo by Lely Tri W)

Edinburgh Central Mosque

Edinburgh Central Mosque

To be continued in London (Part 1).

Elegant Edinburgh (2)

Elegant Edinburgh (2)

To read before: Part 1

Day 3 (15 December 2014)

One thing I really wanted to do in Edinburgh was: hiking! Yes, there’s a hill in the middle of city named Arthur’s Seat, where you can see all the city view from this top. It wasn’t really a difficult route, just take around 2-3 hours to go upside down. However, during my 4 days stay I didn’t get a chance to hike this hill 🙁 A bit disappointed but I promise will go back here again. I hope I can re-visit Edinburgh next summer to do these things: reach Arthur’s Seat and watching Royal Military Tattoo at Edinburgh’s Castle!

Eventhough didn’t manage to hike Arthur’s Seat, we did reach one of Edinburgh’s highest point: Calton Hill. It wasn’t even actually a real hill, just a fancy park that located in higher place. But from there, you can enjoy a very very dramatic scenery of Edinburgh. It was sooooo pretty!

Welcome to Calton Hill

Welcome to Calton Hill

Dugald Stewart Monument and Edinburgh city center (photo by Lely Tri W)

Dugald Stewart Monument and Edinburgh city center (photo by Lely Tri W)

 

Edinburgh and its sea shore

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Princes Street view from Calton Hill (photo by Lely Tri W)

We got new friend accompanied us here, Mas Salam, an Indonesian student at University of Edinburgh. He became a ‘tour guide’ for our trip to Calton Hill and brought us to some recommended food place at Edinburgh Old Town. It was always nice to have ‘local people’ to show you some hidden gems of the city you travel to 🙂

IMG-20141223-WA0089

Edinburgh and its sea shore

Undescribably beautiful

 

Try to climb this pillar and feel the heavy wind!

Try to climb this pillar and feel the heavy wind!

View from the top of pillar (photo by Lely Tri W)

View from the top of pillar (photo by Lely Tri W)

 

Still at Calton Hill

Still at Calton Hill

Calton Hill view from below

Calton Hill icon from below

 

Selfie time! ;)

Selfie time! 😉 (photo by some random Chinese guy)

Calton Hill is definitely a must-see tourism object at Edinburgh. Eventhough the wind at the top was unbelievably strong and freezing, the splendid view was really worth it! It’s also a perfect place for people who want to enjoy Edinburgh’s top scenery without heavy-hiking (eventhough still, I want to hike Arthur’s Seat). Oh, and the good news is, it’s free 🙂

At the afternoon Mas Salam brought us to Yocoko Noodle Bar, a small Japanese restaurant in Old Town which is incredibly tasty (and not costly). After having the late lunch, we continued our walk to University of Edinburgh. It’s one of the oldest University in Scotland (not to be confused with St Andrews University, the Prince William almamater) and currently rank World’s Best 20 Universities.

One of the University's building

One of the University’s building

At the evening, after accompanying Sharon went back to Manchester at Waverley station, Lely and I again visited Princes Street Chrismast Market. For me I went here three-times in a row and never get bored! We decided to enjoy the night view by taking a ride on “Edinburgh’s Eye”. Perfect scenery from above 🙂

Standing near Edinburgh's Eye

Standing near Edinburgh’s Eye

One thing I admire about Edinburgh is its city design. It seems like this city actually had a wavy-bumpy surface formed by natural hilly contours. Whoever the city designer was, he succesfully changed the wavy contours to be exceptional architectural masterpiece. You can feel it especially when walking around the city center. The roads were upside-down, but somehow the bridge, the buildings, the castles, the hills, everything was just placed accordingly to create breath-taking view anywhere you look. And still you have that ancient buildings which are well-preserved, make it feels like walking through Medieval Ages anywhere you go. See? Great combination of nature and history. It’s like getting two of my favorite things in the present of Edinburgh 🙂

Well, the story hasn’t yet to be ended!

Places Visited & Budget Spent

Calton Hill

Entrance ticket = free

Edinburgh’s Old Town

Well it’s just streets with old buildings, gift shops, and nice restaurants, so it’s free! Yet so pretty!

Princes Street Christmas Market

Edinburgh’s Eye = £6 (student’s concession)

Food

Yokoco’s stir-fried duck = almost £5

Yokoco’s fried rice = £2.65

It came with big portion so I shared both of the meals with my friend so we just pay half each 🙂

To be continued in Part 3.

Elegant Edinburgh (1)

Elegant Edinburgh (1)

Day 1 (13 December 2014)

As I walked down the street in that biting cold evening, the shrilly sound of bagpipes vaguely reached my ears. I speeded up my steps to look for the source of the sound, and surprisingly found a young man wearing that traditional tartan kilt in front of a hotel’s gate. Few people flocked up around him while he continuously play the bagpipes. By that time I realized that I’ve already arrived at Scotland, in its capital city of Edinburgh 🙂

Typical Scottish man with tartan kilt and bagpipes

Traditional Scottish man with tartan kilt and bagpipes

I got 4 days and 4 nights to explore this stunningly wondrous city. Edinburgh is like an elegant lady. She has that perfect combination of everlasting beauty. Her amazing natural landscapes and fascinating antique buildings were beautifully wrapped up by impressive city design. She’s just simply magnificent!

Edinburgh: castles everywhere, just like a Harry Potter world in real life

Edinburgh: castles everywhere, just like a Harry Potter world in real life

I spent the first evening to enjoy night view of Princes Street (princes not princess). It’s pretty easy to explore Edinburgh since most of tourist attractions are located in this city center area: Edinburgh’s Castle, Scottish National Gallery, Princes Street Christmas Market, Old Town, and all the shopping centers. Even Scottish National Museum, University of Edinburgh, Arthur’s Seat, and Calton Hill are also located in walkable distance from city center. I think walking is the best way to explore Edinburgh. Every single step taken was worth it because every road and building is just a perfect photography spot 😉 Still, you need that full-set of winter outfit to brace yourself: it’s Scotland!

Princess Street Christmas Market, stunning view at night (photo by Lely)

Princess Street Christmas Market, stunning view at night (photo by Lely Tri W)

Day 2 (14 December 2014)

I stayed in a hostel dormitory room with 16 beds inside. It was the first time of my life to stay in a hostel, and I was actually a bit worried (I mean, you slept with 16 strangers!). However, I guess I’m lucky to meet nice people there. I met a nice Taiwanese girl and we soon became friends. For two days she joined me and my friend to explore Edinburgh. Sharon, Lely, and I were walking around the city center together.

Three of us

Three of us

In the morning we started our tour by exploring Princes Street Christmas Market. I have never heard of Christmas Market tradition before, and I think it’s something very European. Apparently it was originated in Germany (Wiki said)–no wonder you can find many traditional German culinaries in most Christmas market. Actually it’s very similar with Indonesian “pasar malam” (night market), where people sell food and drinks in open stalls, accompanied by some games and toys (merry-go-round etc). However, this one was incomparably pretty!

A group of street musician playing Christmas carol at Princess Street Christmas Market

A group of street musician playing Christmas carol at Princess Street Christmas Market

Just beside the Christmas Market it was Scottish National Gallery. Many European historical paintings are exhibited here, including special gallery for Scottish art. To be honest I don’t really understand the History of Art (and all those paintings), but sometimes it can show you some surprising piece of historical information.

Painting about the beheading of St John the Baptist

Painting about the beheading of St John the Baptist

IMG-20141223-WA0049

Just about 10 minutes walk from Scottish National Gallery, we can reach Edinburgh Castle on top of the Castle Hill. However, it was a bad weather that day. Strong wind and heavy rain kept coming as we’re trapped in a souvenir store near the castle. As a result, we didn’t have time to explore the castle as the night started to fall (4 pm is almost sunset). Besides, it costs £16 per person to enter the castle and my British housemate said it wasn’t worth it (well for us that’s quite huge money for a castle view).

Just a shot of picture in front of castle is enough :)

Just a shot of picture in front of castle is enough 🙂

After having late lunch, we continued our walk to Scottish National Museum. It’s just few minutes walk from University of Edinburgh. I liked the tunnel design of museum receptionist, and also the main hall beautiful interior. It’s just wow! They have quite many interesting collections there to explore, eventhough not as much as British Museum of course.

Breath-taking Scottish National Museum design

Breath-taking Scottish National Museum design (photo by Lely Tri W)

IMG-20141223-WA0060

The museum was closed at 17.00 so we’re quite in a rush. After that Sharon and I went back to Christmas Market to enjoy the night view (I ended up visiting this market 3 times, never get bored :D). We walked home to the hostel together and buy some food in Tesco. Hostel is a perfect place to stay for low-budget backpacker like us. Aside from its cheap rate (I paid only £31 for 4 nights stay, the same price can’t even pay for 1 night hotel stay), it provides complete kitchen so we can cook our own meal. That night we bought some raw food in supermarket and cook it for dinner and breakfast–save a lot!

Places Visited & Budget Spent

The Hostel (accross Haymarket Station)

Charge per night = around £7.75 in my case. The cheapest one I could find around Edinburgh. Prices may change depend on booking time and staying time.

Princes Street Christmas Market

Entrance ticket = free

Scottish National Gallery

Entrance ticket = free

Edinburgh’s Castle

Entrance ticket = £16 (I didn’t get in though)

Scottish National Museum

Entrance ticket = free

Bus Ticket

One way = £1.30, Day rider = £3.50

Food

Taco Mazama Mexican Kitchen = £4 for small burittos

Tesco’s raw food = just like normal supermarket anywhere. Consider buy raw food and cook yourself! (another friend even brought a rice-cooker for 6 people traveling around Scotland)

To be continued in Part 2.

Sepenggal Kisah Pendidik dari Pulau Mamburit

Sepenggal Kisah Pendidik dari Pulau Mamburit

Aroma ikan cakalang asap menyeruak di tengah malam yang dingin. Tiga pemuda dan seorang pria paruh baya duduk lesehan di pelataran kelas sebuah sekolah. Dengan wajah ramah, Pak Nurul, pria paruh baya itu, mempersilakan para tamunya untuk menikmati hidangan lezat yang dimasak istrinya. “Sambalnya ini yang mantap,” ujarnya setengah promosi sambil menyodorkan sepiring sambal kacang dengan irisan cabai yang menggugah selera. Dengan penuh semangat, ketiga pemuda yang menjadi tamunya menyantap sajian makan malam yang jarang mereka nikmati itu.

Ikan cakalang adalah salah satu makanan khas Pulau Mamburit, pulau kecil yang terletak nun jauh di sebelah timur Pulau Madura. Pulau ini termasuk dalam gugusan Kepulauan Kangean yang terletak 10 jam perjalanan laut dari pelabuhan Kalianget, Sumenep. Dengan luas 8 hektar, Pulau Mamburit dihuni oleh sekitar 600 KK dengan jumlah penduduk hampir 2.000 orang. Mayoritas penduduknya hidup sederhana dari hasil melaut atau berkebun. Di siang hari, pulau dengan pantai dan taman laut yang indah ini bahkan tidak dialiri listrik dari PLN.

Malam itu, Pak Nurul tampak begitu senang menerima kedatangan para tamunya. Ketiga pemuda tersebut adalah pelancong alias backpacker dari Pulau Jawa yang datang untuk menikmati keindahan alam bawah laut Pulau Mamburit. Pak Nurul sendiri dulunya adalah seorang guru senior yang telah puluhan tahun mengajar di SDN Kalisangka 2, satu-satunya sekolah yang ada di pulau tersebut. Rumah kediaman beliau juga terletak di dalam kompleks sekolah. Namun karena suatu masalah internal, Pak Nurul dipindahtugaskan ke Sekolah Dasar lainnya di Pulau Kangean.

IMG_20140528_081352

Di antara gemerisik daun pepohonan yang tertiup angin laut, Pak Nurul sedikit demi sedikit menceritakan kisahnya. “Jumlah murid di sini 136 orang mas, totalnya ada 6 kelas. Tapi gurunya cuma 5 orang, sudah termasuk kepala sekolah. Semuanya orang Kangean. Setiap hari mereka berangkat naik perahu menyeberang ke Mamburit. Kalau lancar tidak kena ombak, jam 8 baru sampai sekolah, jam 8.15 baru mulai mengajar, dan jam 11 sudah dibubarkan,” paparnya dengan wajah prihatin.

Pak Nurul mengaku dahulu dirinyalah satu-satunya guru asal Mamburit yang mengajar di SD tersebut. Jika guru lainnya belum datang, beliau lah yang menangani murid kelas-kelas lain. “Sekarang setelah saya dipindah, anak-anak jadi semakin terlantar,” tuturnya dengan nada sedih.

Dedikasi Pak Nurul dalam mengajar murid-muridnya tampak tak perlu diragukan lagi. Beliau berprinsip untuk mendidik mereka melalui keindahan seni. Berulang kali beliau membuat sendiri karya seni berupa puisi, lukisan, dan musik sebagai sarana pendidikan bagi para siswanya. “Pernah saya buat lukisan pemandangan alam sepanjang 5 meter, lalu ditanya oleh pengawas ‘untuk apa Bapak membuat lukisan ini?’ Saya jawab, ini kan juga media pembelajaran. Di lukisan ini ada sawah, gunung, sungai…masak anak-anak harus dibawa langsung ke sana, di Mamburit kan hanya ada laut. Lewat lukisan ini anak-anak jadi tahu objek alam yang lain,” kenangnya.

Pak Nurul juga pernah mendirikan orkes musik untuk para muridnya. Di situ beliau mengajari mereka bermain gitar hingga bisa mengadakan pentas musik sendiri. Beliau juga kerap mengadakan kegiatan perkemahan seperti Persami di halaman sekolah. “Anak-anak semangat kalau diajak kemah, buat api unggun begitu,” ujarnya. Sayangnya, langkah itu sempat ditentang oleh pihak manajemen sekolah yang memiliki konflik dengan dirinya. Meski begitu, beliau bersikeras mengadakan kegiatan tersebut bahkan dengan menggunakan dana pribadi.

Secara umum, kondisi pendidikan di Pulau Mamburit tidak dapat dikatakan baik. Untuk melanjutkan sekolah, para siswa SD Mamburit harus menyeberang ke SMP yang hanya ada di Pulau Kangean. Sebetulnya beberapa tahun lalu sempat didirikan SMP yang bangunannya menjadi satu dengan SD di Pulau Mamburit. Namun SMP itu kemudian dibubarkan sehingga anak-anak harus melanjutkan SMP ke Pulau Kangean.

“Sebetulnya murid di sini itu pintar-pintar mas,” katanya dengan sungguh-sungguh. “Pernah ada guru SMP di Kangean bilang begitu. Murid saya banyak yang dapat ranking di sana. Cuma ya itu, sayang waktu SD belajarnya kurang maksimal. Padahal aslinya mereka IQ-nya bagus. Kan sering makan ikan. Ibaratnya, sudah ada wadahnya cuma tidak pernah diisi.”

Pak Nurul mengeluhkan tindakan pihak manajemen sekolah yang dianggapnya mengganggu proses pembelajaran dan berpotensi membunuh karakter anak didik. Adanya pungli biaya, kekerasan verbal, dan pembatasan kreativitas pengajar menjadikan proses pembelajaran di satu-satunya sekolah di Pulau Mamburit itu kurang maksimal. Meskipun sudah tidak lagi mengajar di SD tersebut, Pak Nurul masih menaruh kepedulian tinggi terhadap proses pembelajaran di sekolah yang telah menjadi tempatnya mengabdi sejak baru lulus kuliah itu.

“Harapan saya, semoga saja ada pemerhati pendidikan lain yang mau peduli dengan kondisi di sekolah ini,” tuturnya mengakhiri kisahnya. Pak Nurul hanyalah satu dari sekian banyak pendidik idealis lainnya yang rela mengabdi di pulau-pulau terpencil demi mendidik putra bangsa. Pulau Mamburit saja, yang masih termasuk ke dalam wilayah Jawa Timur, masih menyimpan potret pendidikan yang memprihatinkan. Bagaimana dengan sekolah-sekolah lain di pulau-pulau yang lebih terpencil? Sudah saatnya kita memberi perhatian khusus pada pendidikan di daerah pelosok Indonesia.

***

Keterangan:

*) Tulisan ini dibuat pada 26 Agustus 2014 untuk memenuhi amanah beliau. Selamat berjuang Pak!

 

Tak Akan Lari Puncak Dikejar (2)

Tak Akan Lari Puncak Dikejar (2)

To read before: Tak Akan Lari Puncak Dikejar (1)

Gagal mencapai puncak, bukan berarti kami kehilangan semangat. Turun dari Gunung Lawu, kami sudah merencanakan untuk berwisata ke Cemoro Sewu dan Telaga Sarangan. Perjalanan “turun gunung” terasa lebih menyenangkan karena semua tim dalam kondisi sehat setelah beristirahat semalam. Rombongan kami juga ketambahan 2 pendaki gokil asal Kediri yang gak henti2nya mencairkan suasana dengan tingkah “absurd” mereka.

Teman2 baru di gunung

Teman2 baru di gunung

Di sebuah jalur batu yang cukup curam, mendadak kami dikejutkan oleh kedatangan seorang ibu tua. Beliau memikul bakul yang cukup berat sambil menawarkannya kepada kami. Ternyata, ibu itu adalah seorang penjual nasi. Bakulnya berisi aneka barang dagangan: gorengan, nasi bungkus, dan minuman instan. Sungguh luar biasa perjuangan ibu ini: di usia yang tak lagi muda, beliau masih kuat mendaki gunung sambil memikul beban berat demi mencari penghidupan.

IMG_20140816_082728

Super woman

Kami pun berhenti sejenak untuk menikmati dagangan sang ibu. Gorengan yang sedikit keras terkena udara dingin, mencerminkan betapa kerasnya perjuangan beliau. Menurutnya, telah lama beliau berjualan makanan kepada para pendaki Gunung Lawu. Setiap hari jam 7 pagi beliau berangkat mendaki. Saat musim mendaki (17 Agustus dan Suroan), ada lebih banyak ibu2 yang berjualan seperti dirinya. Namun di hari biasa, beliau adalah satu2nya. Saya pun teringat pada Mbok Yem, pemilik warung nasi di pos 5 yang gagal kami sambangi. Dengan keberhasilannya mendirikan warung di puncak gunung, mungkin Mbok Yem telah mencapai “puncak karier” sebagai penjual makanan bagi para pendaki. Inilah uniknya Gunung Lawu 🙂

IMG_20140816_082806

Andok tengah gunung

Setelah istirahat sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan. Mas Yogi, pendaki Kediri yang gokil tapi lembut hatinya, menyelipkan tip selembar uang merah bergambar Soekarno-Hatta ke tangan si ibu. Alhamdulillah, rejekinya ibu ya 🙂 Sesampainya di kaki gunung, kami makan siang bersama sebelum berpisah jalan.

Selepas Zhuhur, ayah Lila datang menjemput kami. Segera kami tancap gas menuju perkebunan stroberi. Letaknya persis di seberang gerbang pendakian Cemoro Sewu. Kita bisa memetik stroberi sepuasnya…gratisss. Asalkan stroberi hasil petikan tadi dibeli…hehe jumlahnya minimal 5 ons. Harga per ons Rp 6.000. Kalau stroberi yang dipetik kurang dari 5 ons, nanti ditambahi oleh ibu penjualnya sampai 5 ons.

IMG_20140816_125129

Landscape kebun stroberi di kaki gunung

IMG_20140816_124425

Namakuuu…stroberiiiii *nyanyi*

IMG_20140816_124712

Merah dan ranum

IMG_20140816_125906

Tips dari ibu penjual stroberi: jangan mencuci stroberi, nanti cepet busuk (mblenyek). Langsung simpan di kulkas saja.

Puas berlagak petani stroberi, kami lanjut ke spot berikutnya yaitu Telaga Sarangan. Telaga ini adalah telaga alami di kaki Gunung Lawu yang telah lama populer sebagai jujugan wisata. Dengan luas sekitar 30 hektar, figurnya membentang bagaikan ceruk air raksasa di antara pegunungan. Airnya yang berwarna hijau menyatu sempurna dengan vegetasi rapat di sekitarnya. Di tepian telaga tampak berderet-deret perahu cepat (boat) dan sepeda angsa. Kami berlima memutuskan untuk menyewa satu boat seharga Rp 50.000 per putaran untuk mengelilingi telaga. Satu boat bisa muat untuk 5-6 orang (exclude sopir boat).

IMG_20140816_133612

Jejeran boat di tepi Telaga Sarangan

IMG_20140816_133622

Pulau kecil di tengah telaga

Pengalaman naik boat ini seru sekali 😀 Sang sopir yang sudah berpengalaman akan membawa kita mengelilingi telaga dengan hentakan2 asyik. Entah bagaimana telaga Sarangan ini punya arus gelombang yang cukup kuat. Ditambah kepiawaian sopir meliuk-liukkan boat-nya, rasanya jadi seperti naik jet ski di pantai. Kami para cewek tak henti2nya berteriak heboh. Wajib dicoba deh pokoknya 😀 (Tips: kalau sewa boat langsung 3 putaran dapat diskon jadi Rp 130.000)

IMG_20140816_134316

Wooohooo! 😀

Puas naik boat, kami berjalan kaki mengelilingi telaga. Sebetulnya kita bisa menyewa kuda, tapi jalan kaki lebih seru (dan murah) pastinya. Di sekeliling telaga banyak dijumpai warung2 yang menjual makanan khas Sarangan yaitu Sate Kelinci. Harganya murah, cuma Rp 10.000 per 10 tusuk. Di atas deretan warung tersebut, ada perbukitan dengan vegetasi rapat. Kita masih bisa menjumpai kawanan monyet hutan yang bergelantungan di pohon.

IMG_20140816_140815

Tempat kongkow asik 🙂

Lelah berjalan, kami memutuskan untuk beristirahat di salah satu warung lesehan dan memesan sate kelinci. It was a perfect place: duduk lesehan di tepi telaga sambil mengobrol dan menikmati pemandangan. Belum lagi ditemani gurihnya sate kelinci dengan citarasa bumbu kacang pedas-manis yang lezat… Asik deh pokoknya 😀 (Buat yang belum pernah makan, tekstur daging kelinci ada di antara daging ayam dan daging kambing, jadi pas lah)

IMG_20140816_144336

Sate kelinci, enyaaaakkk :3

Pulang dari Sarangan, kami mampir untuk membeli buah yang bikin penasaran: kabocha namanya. Katanya buah ini juga baru2 ini happening ditanam di lahan sekitar Telaga Sarangan. Warnanya oranye cerah dan sungguh mencolok mata. Perawakannya seperti labu (waluh), hanya saja ukuran lebih kecil dan warna jingga terang. Harganya Rp 10.000 per kg. Bisa dibuat kolak, campuran agar2, dll. IMHO, saat dikolak teksturnya lebih padat dari waluh hingga cenderung seperti ubi…tapi enaaakkk 🙂

IMG_20140816_152409

Labu kabocha, banyak dijual di pinggir jalan bersama stoberi

Setelah mandi dan beberes di rumah Lila di Ngawi (perbatasan dengan Magetan), kami pamit pulang. Berterimakasih sama ortu Lila karena sudah dipersilakan menginap semalam sebelum kami berangkat ke Lawu kemarin, juga sudah diantar jemput ke sana kemari. Berhubung hari sudah malam, sebelum balik Malang, Irul, Yusup, dan saya mampir menginap di rumah neneknya di Madiun. Kami kulineran pecel Madiun di malam hari bersama pakliknya. Paginya kami bertiga jalan2 di pasar dekat rumah dan ketemu makanan lucu, namanya gendhis; bola2 tepung beras dengan kuah santan asin. Harganya muraaahhh, cuma Rp 1.000 per bungkus. Plus kudapan jagung pipil rebus bersawut kelapa parut dibungkus daun pisang, harganya cuma Rp 500 saja. Betapa uang jauh lebih berharga di desa 😮

IMG_20140817_080820

Bubur gendhis

IMG_20140817_081537

Kudapan jagung-kelapa, biasanya barengan gatot, cenil, dsj

IMG_20140817_081649

Pecel Madiun, bungkus daun jati 🙂

Siangnya kami pulang ke Malang, sampai rumah sekitar jam 7 malam. Selesai sudah perjalanan Gunung Lawu selama 14-17 Agustus 2014. Semoga berikutnya masih diberi kesempatan untuk mencapai puncak yang lain. Semangaaattt!!! 😉

Tak Akan Lari Puncak Dikejar (1)

Tak Akan Lari Puncak Dikejar (1)

“Sometimes it’s not about the destination, but the journey.”

Jumat 15 Agustus 2014. Hamparan cemara gunung menyambut kami berenam di gerbang pendakian Cemoro Sewu; Irul, Yusup, Reki, Lila, Arum, dan saya. Yusup adalah adik laki2 Irul, sedangkan Reki saudara sepupunya. Arum adalah adik perempuan Lila. Well I’m the only one who doesn’t bring my sibling here. Pendakian ini sudah direncanakan beberapa minggu sebelumnya. Hanya saja sedikit di luar perkiraan, paman Lila sebagai guide batal mengikuti rombongan. Kami akhirnya tetap berangkat walaupun tanpa pemandu.

Gerbang pendakian Cemoro Sewu

Gerbang pendakian Cemoro Sewu

Dengan tinggi 3.265 mdpl, Gunung Lawu bukanlah gunung tertinggi di Pulau Jawa, tetapi konon adalah yang tertua. Terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, gunung ini membagi wilayahnya untuk 4 kabupaten (Karanganyar, Wonogiri, Ngawi, Magetan) yang menggantungkan hidup dari perkebunan sayur dan wisata alam di lerengnya. Ini adalah gunung ketiga (setelah Panderman dan Ranu Kumbolo) yang pernah saya daki, dan yang saya harapkan bisa mencapai puncaknya untuk pertama kali.

Kami memulai pendakian lebih siang dari yang direncanakan. Menjelang pukul 3 sore kami baru mulai jalan–setelah membayar tiket masuk Rp 10.000 di gerbang Cemoro Sewu. Sebetulnya ada satu jalur pendakian lagi di Cemoro Kandang yang lebih landai, namun jalur Cemoro Sewu dipilih karena lebih cepat rutenya–hanya butuh 5-6 jam untuk mencapai puncak.

Tidak banyak logistik yang kami bawa. Bahkan kami tidak membawa tenda dan perlengkapan memasak. Sebuah keputusan yang berani (yang belakangan sedikit kami sesali). Dari pengalaman teman sebelumnya, kami mengandalkan “hidup” pada Mbok Yem, pemilik warung nasi di pos 5, pos terakhir sebelum puncak Gunung Lawu (iya, ada warung nasi di puncak gunung). Kami beranggapan dapat mencapai pos tersebut tepat waktu, sehingga bisa menginap di pondok Mbok Yem dan membeli makanan di sana. Namun ternyata, perkiraan kami keliru.

Arbei gunung

Arbei gunung

Cemoro Sewu adalah jalur pendakian yang cukup curam. Sebetulnya jalur ini sudah dilapisi bebatuan yang tertata rapi (seperti jalan makadam) sehingga memudahkan para pendaki. Namun kontur jalurnya yang curam tetap saja menyulitkan para pemula, apalagi saat perjalanan malam hari.

Secara normal jarak antar pos dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam. Namun karena rombongan kami kebanyakan pemula (termasuk saya), perjalanan agak terhambat karena sering berhenti istirahat. Perjalanan mencapai pos 1 terasa cukup panjang, gara2 ada 3 “pos palsu” yang membuat kami merasa “ter-PHP”. Untungnya, di antara pos2 itu ada pos mata air yaitu “Sumber Panguripan”. Kami berhenti sejenak untuk mengisi air di sana.

Setelah melewati pos 1, jalur semakin menanjak curam. Kami semakin sering berhenti untuk istirahat. Sebagai anggota termuda dan belum pernah naik gunung, Arum tampak sangat kelelahan. Kasihan juga melihatnya harus terengah-engah berjalan. Sepertinya berat sekali perjuangan kami. Tak lama kemudian, Reki pamit undur diri. Dia turun kembali karena kakinya kram. Akhirnya, tersisa hanya 5 orang dalam rombongan.

Senja menjelang

Senja menjelang

Matahari semakin condong ke barat. Langit semakin gelap dan jalur batu tak lagi jelas terlihat. Udara dingin semakin terasa menggigit. Senter-senter pun mulai dikeluarkan. Dalam keadaan demikian, Arum tampak semakin kepayahan. Tak jauh sebelum tiba di pos 2, dia akhirnya tidak kuat lagi. Terduduk dan ambruk di pinggir jalan. Kami semua terkejut dan buru-buru menolongnya. Saya pikir dia hanya kelelahan, tapi kata Irul dia mengalami gejala hipotermia–kekurangan kalor dalam tubuh atau simply kedinginan.

Buru-buru kami kerahkan semua bawaan kami untuk menghangatkan tubuh Arum. Jaket, kaos kaki, sarung tangan, syal semua didobelkan pada pakaiannya. Arum tampak semakin lemah dan hampir kehilangan kesadaran. Bibirnya terus meracau namun kami tetap mengajaknya bicara agar dia tidak pingsan. Dalam keadaan begitu, Lila betul2 sigap menangani adiknya. Saya benar-benar salut dengan aksi cekatannya sebagai seorang kakak yang sangat memahami dan melindungi adiknya.

Untungnya, kami berlima tidak sendirian. Dalam perjalanan kami bertemu banyak rombongan pendaki lain yang dengan sukarela ikut membantu saat melihat Arum hampir tak sadarkan diri. Di malam gelap, di tengah jalur berbatu, semua rombongan pendaki itu berhenti hanya untuk memastikan kami baik2 saja. Mereka meminjamkan pakaian2 hangat dan bahkan mengeluarkan kompor untuk membuatkan minuman hangat. Sekali lagi, di gunung siapapun bisa jadi teman 🙂

Untuk memulihkan tenaga, akhirnya kami memutuskan untuk lanjut ke pos 2 dan menginap semalam di sana. Masalahnya adalah, kami tidak membawa tenda dan perlengkapan memasak. Namun rupanya kami masih beruntung. Salah seorang rombongan yang membantu kami, Om Catur dari Madiun, dengan sukarela meminjamkan tenda dan peralatan memasaknya pada kami. Sementara kami berlima tidur di dalam tenda, beliau dengan besar hati tidur di pelataran tenda. Luar biasa :’) Malam itu kami lewatkan bersama api unggun, teman2 baru, dan obrolan penuh canda hingga kantuk tiba.

Pos 2

Pos Dua

Sabtu 16 Agustus 2014. Saat kami terbangun di pagi yang dingin itu, kondisi Arum sudah membaik. Kami dihadapkan pada 2 pilihan: lanjut mendaki ke puncak atau kembali turun. Menjelang upacara bendera 17 Agustus, puncak Lawu sungguh menggoda–apalagi kami sudah mencapai separuh perjalanan. Sungguh sayang rasanya. Tapi bagaimanapun kami harus tetap mengutamakan keselamatan diri. Akhirnya pagi itu kami pun berkemas dan turun gunung. Bersama 2 pendaki lain dari Kediri, kami menangguhkan keinginan untuk mencapai puncak. Ya, puncak gunung tak akan lari dikejar. Ia akan tetap berdiri di sana dan menunggu. Suatu saat kami bisa mendatanginya kembali. Tapi untuk saat ini, puncak bukanlah milik kami.

Keputusan itu ternyata adalah keberuntungan terbesar kami. Sekitar tengah hari kami tiba di gerbang pendakian Cemoro Sewu. Malam harinya, tersiar kabar bahwa jalur pendakian Gunung Lawu terbakar hebat. Kebakaran itu bahkan merambat mulai pos 5 hingga ke pos 3. Jalur pendakian ditutup, upacara bendera di puncak dibatalkan, dan 700 pendaki terjebak di gunung. Pada saat itu, kami bersyukur karena sudah berada di dalam rumah dengan aman. Seandainya pagi itu kami memutuskan untuk lanjut ke puncak, mungkin kami akan sampai di sana, tapi tidak akan bisa kembali. Kami yang tidak membawa tenda dan logistik, mungkin akan kedinginan, kelaparan, dan kehausan sementara terjebak di gunung. Luar biasa bagaimana semua kejadian sudah diatur sedemikian rupa olehNya…

Tak akan lari puncak dikejar :)

Tak akan lari puncak dikejar

Well, pendakian kali ini memang tidak bisa dibilang sukses, tapi bukan berarti gagal. Sometimes it’s not about the destination, but the journey. Selalu ada yang bisa dipelajari dari sebuah perjalanan. Karena setiap langkah yang kita tempuh adalah upaya untuk memperkaya hidup. 🙂

Part 2: bakul nasi Gunung Lawu, wisata petik stroberi Cemoro Sewu, Telaga Sarangan, dan pecel Madiun

Kangean-Mamburit-Sumenep Trip: Behind the Scene

Kangean-Mamburit-Sumenep Trip: Behind the Scene

To read before: Mamburit Part 1, Mamburit Part 2

Sebetulnya backpacking trip kami ke Kangean kali ini tergolong nekat juga. Kangean sudah menjadi impian sejak 2011. Saat googling nggak sengaja menemukan pulau indah ini, dan ternyata lokasinya masih di Jawa Timur. Langsung kepengin deh! Di luar dugaan, ternyata sobat saya sejak SMP, Dewi alias Iwed, ibunya berasal dari pulau ini, sehingga keluarga besarnya pun masih tinggal di sini. Mulailah saya menggali-gali informasi bagaimana caranya ke sini.

Lokasi pulau Kangean: di timur Madura, di utara Bali, di selatan Kalimantan

Lokasi pulau Kangean: di timur Madura, di utara Bali, di selatan Kalimantan

Kami sudah pernah merencanakan trip ke Kangean saat Lebaran tahun lalu (Agustus 2013). Kebetulan keluarga besar Akbar juga ada di Sumenep, jadi sekalian mudik. Tapi akhirnya trip itu batal karena sesuatu dan lain hal. Lalu tiba2 saja pertengahan Mei kemarin Akbar mengajak pergi lagi, mumpung ada tanggal merah selang-seling di akhir Mei. Sebetulnya mendadak juga sih, dan saat itu saya sedang dalam kondisi nggak punya bekal cukup (baca: bokek). Tapi namanya rejeki ada aja lah.

Yang jelas trip ini sendiri sempat hampir batal, tapi kami memutuskan lanjut terus meski hanya dengan 3 personel. Awalnya kami mau berangkat berempat (Akbar, Kenny, Kancil, saya) tapi Kancil nggak jadi ikut. Anak2 YEPE yang diajakin pada nggak bisa semua karena ada acara di Gunung Arjuna. Sempat ragu juga sih dengan jumlah tim yang sedikit. Masalahnya kami pergi snorkeling di pulau asing yang bukan objek wisata mainstream. Di sana enggak ada provider wisata bawah laut yang menyediakan paketan selam/ snorkeling lengkap seperti di Bali atau Karimun Jawa. Nggak ada beach boy, safety guard, apalagi pelampung. Pokoknya semua peralatan harus bawa sendiri. Kita semua bawa snorkeling set sih, tapi dodolnya enggak bawa pelampung (jangan ditiru yah teman2!). Sedikit khawatir juga pastinya.

Saya sendiri bukan jago berenang apalagi snorkeling di laut. Baru belajar pakai snorkeling set sekitar akhir 2012, itupun atas ajaran si “bapak guru” Akbar. Jujur, setelah “ujicoba” di Pasir Putih pada akhir 2013 lalu barengan sertifikasi diving anak2 YEPE, saya sama sekali belum pernah snorkeling di laut lepas lagi (well, kecuali di Nusa Penida Bali, tapi itu nggak masuk hitungan soalnya udah paketan turis). Pokoknya benar2 nekat deh waktu itu, saya cuma mikir kapan lagi ada kesempatan bisa lihat terumbu karang di pulau terpencil! Dan ternyata, Kenny pun sama sekali belum pernah memakai snorkeling set sebelumnya. Luar biasanya, dengan belajar on the spot dia langsung bisa nyemplung maksimal.

Sebagai pemula, banyak sekali kebodohan2 yang saya lakukan selama snorkeling di sana. Pertama, saya lupa nggak melepas ganjalan fin (kaki katak) baru yang masih kinyis2. Akibatnya, saya berenang dengan menahan sakit perih di mata kaki selama mengitari pantai Mamburit. Jujur ini kesalahan begooo banget dan saya masih malu dan bertanya2 sampai sekarang kalau ingat kejadian itu…kok bisa ya sedodol itu. Hahahahaha luar biasa gimana akhirnya jadi bahan bully-an anak2 waktu itu ><

Kedua, saya berenang terlalu menguras tenaga. Entah gaya berenang saya yang kurang efisien atau emang sehari2 juga nggak rutin berenang sehingga stamina kalah jauh, alias gampang capek. Kalau sudah capek renang, nafas nggak teratur. Ketika ada air masuk snorkel, snorkel clearing tergesa-gesa, nggak ada udara yang tersisa di paru-paru, sementara air masih ada di snorkel, akibatnya jadi panik, dan akhirnyaaa…buyar deh! Saya gelagapan di tengah laut. Untungnya anak2 mau nolongin…gak ngebiarin saya minum air laut banyak2 😛

Ketiga, saya MENYENTUH dan MENGINJAK terumbu karang, yang adalah sebuah kesalahan fatal, Sodara2! Pantangan bagi penikmat dunia bawah laut…jangan pernah memegang (apalagi menginjak) benda apapun yang ada di dalam sana–soalnya kita enggak tahu mengandung apa aja mereka. Sebetulnya saya megang karang itu juga nggak sengaja sih, gara2 miskomunikasi sama anak2 di bawah. Alhasil ketika megang itu rasanya kayak kesetrum. Zzzttt!! gitu. Langsung saya tarik deh ini tangan. Untungnya gak kenapa2.

Kejadian kedua lebih dodol lagi. Kebetulan perahu kami nggak ada “pancikan”/ tangga jadi kalau mau naik ke perahu dari laut itu sulit…buat saya setengah mati naiknya. Nah pas kebetulan ada karang, dengan begonya saya “mancik” di sana maksudnya biar gampang naik ke perahu…dan ternyata malah bzzzzzttttttt!!  Ada sesuatu yang menyengat kaki saya tiba2. Perih luar biasa. Untungnya kami bawa air kelapa di perahu. Aslinya buat diminum…eh jadinya malah saya buat mengobati sengatan makhluk-entah-apa ini. Pas dituang air kelapa, kulit terasa panas dan keluar gumpalan putih2 kecil dari bekas sengatan itu…yeyek polll wes pokoknya. Setelah itu secara dramatis timbullah semacam bekas yang membentuk “relief” seperti bekas gigitan di kulit. Duh luar biasa kok memangnya. Untungnya besok paginya bekas sengatan itu sudah baikan dan nggak perih lagi.

Overall saya hepi dengan trip ini. Meskipun sebetulnya trip ini masih kuranggg…banget. Bisa dibilang kami hampir nggak mengeksplor pulau Kangean (besar) sama sekali. Padahal saya pengin banget jalan2 di Arjasa (“ibukota”nya Kangean) 🙁 Masalahnya adalah jadwal kapal. Kapal ke Kangean hanya berangkat-balik PP 3 kali seminggu. Tujuan awal kami sebetulnya adalah Kepulauan Sapeken di ujung timur Kangean. Di sana ada pulau2 indah seperti Pulau Saebus, Pulau Masalembu, dll yang konon taman lautnya keren banget. Tapi waktu yang kami miliki cuma Minggu (25 Mei) sampai Kamis (29 Mei) karena Jumat saya sudah harus masuk kerja lagi. Jadilah akhirnya rute perjalanan kami seperti ini:

Day 1 (Minggu, 25 Mei 2014)

06.00 = Berangkat dari Surabaya menuju Sumenep naik sepeda motor. Lama perjalanan sekitar 4,5 jam (sudah termasuk istirahat). Kalau naik bis bisa sampai 7 jam.

10.30 = Sampai di Sumenep, transit di rumah nenek dan pamannya Akbar

18.00 = Naik kapal Sumekar dari pelabuhan Kalianget. Harga tiketnya Rp 76.000 sekali jalan, lama perjalanan 10 jam. Bisa juga naik kapal cepat Express Bahari, lama perjalanan 4 jam, tiket sekitar Rp 175.000 – Rp 200.000.

Tiket Kapal Sumekar

Tiket Kapal Sumekar

Perjalanan naik kapal ini cukup dramatis. Seperti umumnya kapal trans-pulau, Kapal Sumekar membawa serta berkarung2 hasil bumi, sepeda motor, dan kebutuhan2 pokok lainnya. Ada beberapa kamar dan kursi dalam jumlah terbatas, tapi mayoritas para penumpang menggelar tikar di lantai dan tidur bergelimpangan di koridor2 kapal. Untungnya, tantenya Akbar kenal dengan si kapten kapal (sebut saja Mr B) sehingga kita di-booking-kan tempat spesial di anjungan (ruang kemudi yang seharusnya khusus untuk nahkoda dan ABK).

Namun ternyata, secara halus Mr B menyuruh kami keluar dari anjungan. Alasannya karena akan ada banyak ABK sehingga dikhawatirkan ruangannya tidak cukup. Sampai di sini saya berpikir “wah ternyata orang ini tegas dan jujur juga ya…” Tapi ternyata perkiraan saya salah besar Sodara2! Nanti deh akan ada ceritanya pada saat perjalanan kembali dari Kangean.

Alhasil, Akbar dan Kenny keluar dari anjungan. Sebetulnya saya diperbolehkan tinggal di dalam oleh Mr B dengan alasan “kasian cewek sendiri” tapi tentunya saya gak mau berpisah dengan teman2. Saya juga merasa gak nyaman ditinggal di anjungan sendirian dengan para ABK yang yaa…gitu deh 😐 Akhirnya saya mohon izin untuk keluar anjungan dan menyusul teman2.

Anak2 ternyata berpindah posisi di atap kapal. Di sana kami bergabung dengan para backpacker lainnya; ada yang dari Jogja, Surabaya, dll yang sama2 bertujuan snorkeling di Kangean. Kami sempat saling bertukar informasi. Mereka bertujuan sama dengan kami, yaitu Kepulauan Sapeken di ujung timur Kangean. Namun kami tidak jadi ke sana karena menurut tantenya Akbar terlalu jauh dan takut gak nututi…sementara kapal balik dari Kangean berangkat Rabu pagi. Kapal selanjutnya baru ada hari Sabtu. So, jadwal kami benar2 mepet. Praktis kami hanya punya waktu 2 hari penuh di Kangean. Karena itulah akhirnya kami memutuskan untuk berbelok arah ke Pulau Mamburit saja yang terletak di barat laut Kangean.

Tidur di atap kapal yang terbuka pada malam hari adalah pengalaman luar biasa buat saya. Angin kencang menampar-nampar kulit, tapi kami bisa melihat gebyaran bintang yang luar biasa kereeennn! Bisa bayangin kan gimana indahnya bintang2 di tengah laut? Tidur telentang di atap kapal, sekelilingmu laut yang gelap, dan tubuhmu cuma dibungkus selembar jaket, tapi kamu senang 😀 Menjelang malam angin semakin kencang. Para backpacker lain mendirikan tenda darurat di atap kapal dan membiarkan cewek2 tidur di sana, sementara yang cowok2 bergelimpangan tidur di luar kena angin. Untungnya malam itu nggak hujan. Kalo ujan…buyar deh acaranya.

Day 2 (Senin, 26 Mei 2014)

04.00 = Saat Subuh kapal merapat di pelabuhan Batu Gulok. Ya, sampailah kami di Pulau Kangean! Akhirnyaaa… Kami bergegas mencari musholla terdekat untuk shalat dan istirahat. Setelah itu kami mencari2 informasi tentang perahu ‘taksian’ menuju Pulau Mamburit.

05.30 = Naik perahu menyeberang ke Pulau Mamburit, ongkos per orang Rp 10.000 saja. Adegan selanjutnya bisa dibaca di Mamburit Part 1 🙂

Day 3 (Selasa, 27 Mei 2014)

Pagi hingga siang hari kami habiskan dengan bercengkerama keliling Mamburit dari rumah ke rumah. Rasanya udah kayak kenal orang satu pulau saja. Kami sarapan ikan cakalang sambil ngobrol2 dengan Pak dan Bu Mashur. Ceritanya mereka ini punya anak bernama Inong yang merantau di Jember. Jadi mereka itu suka kasihan kalau lihat anak2 muda perantau seperti kami (emang tampang backpacker itu selalu kelihatan melas2 gitu yaa hahaha). Cerita lengkapnya baca di sini yaa Mamburit Part 2 😉

Day 4 (Rabu, 28 Mei 2014)

Sebetulnya Om Rifai, paman dari Dewi teman saya, sangat ingin agar kami bisa menyambangi rumahnya di desa Laok Jangjang, pulau Kangean besar. Saya pun juga sangat ingin mampir ke Arjasa membeli oleh2 hasil ukiran yang bagus. Hari ini sebetulnya kesempatan emas untuk menjelajah pulau Kangean besar, dengan landscape hutan dan perbukitannya yang mengagumkan.

Sayang sekali, kapal Sumekar dijadwalkan kembali ke Kalianget hari Rabu jam 9 pagi. Sebetulnya ada kapal lain yang berangkat dari Sapeken, yaitu kapal Perintis (kapal barang), yang dijadwalkan tiba di Batu Gulok sekitar jam 6 malam. Harusnya kami bisa menumpang kapal ini dan sampai di Kalianget hari Kamis pagi, jadi kami punya waktu seharian untuk jalan2 di Kangean besar. Lalu Kamis siang kami balik ke Surabaya, perfect kan.

Tapi anak2 keberatan untuk pulang terlalu mendadak ke Sumenep. Alasannya karena capek dateng2 langsung menyetir motor ke Surabaya…yah sudah jadi saya mengalah dan akhirnya kita ikut kapal Sumekar yang berangkat pagi2. Sayang banget sebetulnya nggak bisa explore Kangean besar, mudah2an nanti ada kesempatan lagi 😐

05.00 = Bangun, subuhan. Kami menikmati sunrise terakhir di Mamburit. Sebagai salam perpisahan, kami bertiga memanjat menara mercusuar di belakang tenda. Pulau Mamburit tampak luar biasa dilihat dari ketinggian. Selamat tinggal Mamburit, sampai ketemu lagi! :’)

STA60810

View from the top

STA60806 STA6080806.30 = Mulai packing dan beres2 tenda. Lalu kita numpang mandi untuk terakhir kalinya sekaligus pamitan ke rumah Bu Mashur. Tau nggak, orang2 Mamburit ini memang luar biasa baiknya. Pak dan Bu Mashur dengan sekuat tenaga menolak sejumlah uang yang kami berikan sebagai ganti makanan dan tempat mandi yang sudah mereka sediakan. Bagi mereka, membantu kami seperti halnya membantu anaknya sendiri yang sedang di perantauan. In the heart of remote village, you find a true sincere heart… :’)

08.30 = Berangkat ke pelabuhan Batu Gulok menggunakan perahu Mas Ruji. Kita diturunin persis di samping kapal Sumekar yang sudah standby di tengah laut, jadi kita langsung loncat dari perahu gitu masuknya gak lewat pelabuhan. Sangar men!

09.00 – 18.00 = Perjalanan laut kembali ke Kalianget. Seperti yang sudah saya ceritakan, saat hari keberangkatan ke Kangean (Minggu malam), si kapten kapal (Mr B) berpesan kepada kami untuk langsung naik ke anjungan saat pulang ke Kalianget nanti (Rabu pagi). Sebagai anak2 polos lugu tanpa dosa (halah) kami berpikir “wah…pasti mau dikasih gratisan nih…” 😛 Dan tau gak ternyata apa??? Saat tiba di anjungan ternyata kami malah dimintai ongkos yang lebih tinggi. Jreng jrenggg!!! Awalnya dia minta Rp 100ribu per orang (padahal di loket resmi cuma Rp 76ribu), tapi karena kelihatan tampang kami bingung masih “ketenggengan” akhirnya dia diskon jadi Rp 250.000 untuk 3 orang. Dalam hati rasanya penginnn banget nampol muka om-om korup ini. Huh! Sekarang tahu deh kenapa pas berangkat kemarin kita diusir dari anjungan–soalnya kita sudah terlanjur beli tiket resmi! Ya Tuhan…rasanya syok banget kita habis menerima segala ketulusan dan kebaikan hati orang Mamburit tiba2 ketemu dengan aparat2 korup semacam si kapten kapal ini. Duh! Memang orang di dunia ini macem2 yah. It’s just so ironic that we meet both of them just right after each other.

Yah tapi semua itu kita ambil hikmahnya lah… Untungnya kita bisa tidur di karpet ruang ber-AC di anjungan, gak panas-panasan dengan penumpang lain di lantai kapal. Kamu tahu, suasana kapal Sumekar ini memprihatinkan lho! Karena kamar dan tempat duduk terbatas, sebagian besar penumpang bergelimpangan tidur dengan alas seadanya di lantai koridor kapal. Melas kan 🙁

Penumpang kapal bergelimpangan di lantai

Penumpang kapal bergelimpangan di lantai

IMG_20140528_122111

Mending ngisis di haluan aja…

Setelah tidur siang, kami bercengkarama di haluan kapal sambil menikmati suasana sore. Matahari tampak begitu cantik sementara ikan-ikan terbang (a.k.a. ikan Indosiar itu loh) melompat-lompat mengiring laju kapal. Kami juga bisa melihat gugusan pulau-pulau kecil yang berada di timur Madura (Pulau Raas, Sapudi, Gili Labak, dll). Gak disangka-sangka, lagi asik-asik ngobrol mendadak kami disapa oleh sepasang makhluk asing. Ternyata oh ternyata…mereka berdua adalah teman kuliah Akbar. Sungguh kebetulan bisa ketemu teman di kapal dari pulau terpencil ini 😮

Jadi ceritanya, sebelum berangkat ke Kangean si Akbar sudah mengontak seorang temannya yang asli orang Kangean, namanya Firdaus. Yah siapa tau yang bersangkutan lagi pulang kampung dan kita bisa dapet tumpangan gitu… Tapi kok no HP nya enggak aktif. Ya sudah berarti pertemuan gagal. Tapi ternyata takdir mempertemukan mereka di haluan kapal Sumekar…(halah) Firdaus dan Reni ternyata sudah berada di Kangean saat dihubungi. Jelas aja nomornya enggak aktif… FYI di Kangean kartu SIM yang bisa aktif cuma Telkomsel aja. Lainnya matek yek. Pokoknya betul2 nggak disangka banget deh mereka bisa ketemu di kapal Sumekar itu. Alhasil kita pun janjian untuk jalan-jalan bersama malam harinya.

Tak terasa waktu Maghrib tiba dan kapal pun merapat di pelabuhan Kalianget. Kami pulang, makan, dan beristirahat di rumah pamannya Akbar. Malam harinya, sesuai janji, kami jalan-jalan ke alun-alun Kota Sumenep bersama Firdaus, Reni, dan teman2 mereka. Kita makan gorengan lesehan, naik motor-motoran pake baterai (asli ini serasa MKKB banget…motor buat anak kecil dinaikin orang2 segede gaban), dan ngobrol guyon2 gak jelas. BTW alun2 Sumenep bagus juga loh… Apalagi kalau malam gitu rame banyak anak2 kecil dan keluarga pada ngumpul. Ya heboh lah pokoknya.

Semakin malam kita semakin ngantuk lalu pulang dan numpang tidur di rumah pamannya Akbar. Akhirnya ngerasain kasur juga! Zzzzz…

Day 5 (Kamis, 29 Mei 2014)

Pagi2 kami sudah disuguhi sarapan nasi pecel khas Sumenep. Hmm, bumbunya sedap… 😀 Lalu setelahnya bersama sepupu2 Akbar (Tita, Inong, Oyin, dll) kami mengunjungi Museum Keraton Sumenep. Sumenep dulunya adalah sebuah kerajaan yang didirikan oleh Arya Wiraraja (ingat kan, dia dulu membantu Raden Wijaya sebelum mendirikan Majapahit). Karena itu, meskipun orang Madura identik berwatak keras, namun orang Madura Timur (Sumenep dan Pamekasan) pada umumnya merupakan golongan yang lebih kalem dan “priyayi”.

Tiket masuk museum enggak mahal, berapa ya…cuma Rp 5.000 kalo gak salah. Nih cekidot isinya yah.

IMG_20140529_095827

IMG_20140529_111056

IMG_20140529_110235IMG_20140529_110109

IMG_20140529_105159

IMG_20140529_104613

IMG_20140529_104011

IMG_20140529_102600

IMG_20140529_102302

IMG_20140529_100756

IMG_20140529_100649

IMG_20140529_100332

Dari museum kami sebetulnya mau lanjut ke Asta Tinggi (kompleks pemakaman raja-raja Sumenep) tapi waktunya nggak nutut. Setelah mampir shalat Zhuhur di Masjid Agung kami pulang dan makan siang. Nggak disangka tantenya Akbar ternyata sudah menyiapkan hidangan spesial yaitu…KALDU! Tau nggak “kaldu” itu apa? Yup, ini adalah makanan unik khas Sumenep, berupa gulai kacang hijau campur daging. Pertamanya aneh pastinya makan ini. Kacang hijau kan biasanya dibuat bubur manis dengan santan dan gula merah…dimakannya pun sebagai camilan. Lah ini kacang hijaunya dijadikan gulai dan rasanya asin…dicampur daging…dimakan pakai nasi pula 😮 Meskipun awalnya gimana gitu, lama2 enak juga jadinya 😀

IMG_20140529_124607

Kaldu = kacang hijau + gulai daging

Sekitar jam 1 siang kami memutuskan berangkat pulang ke Surabaya. Perjalanan pulang terasa lebih cepat…Tahu2 saja sudah sampai di Suramadu. Kami pun berpisah jalan. Akbar dan Kenny lanjut pulang Malang, sedangkan saya balik ke kosan. Well, berakhir sudah backpacker trip kali ini. Begitu berkesan dan menyenangkan! Sampai sekarang saya masih bisa merasakan hawa hangat pulau Kangean-Mamburit…dan suatu saat masih pengin ke sana lagi. Apalagi kami belum tuntas explore pulau Kangean besar dan kepulauan Sapeken di sebelah timur…masih penasaran! 😀

Oya ini sekedar tips yaa bagi kalian yang mau nge-trip ke Kep. Kangean:

1) Sesuaikan rencana trip dengan jadwal kapal. Ini penting banget…kalian gak mau kan liburan jadi terburu2 karena takut ketinggalan kapal. FYI ada 3 kapal yang melayani rute Kalianget (Sumenep) – Batu Gulok (Kangean).

Kapal Sumekar

Kapal besar, lama perjalanan 8-10 jam, tarif Rp 76.000, berangkat setiap Minggu, Selasa, dan Jumat jam 18.00 dari Kalianget. Balik lagi hari berikutnya pagi2 (Senin, Rabu, Sabtu) dari Kangean. Tapi khusus rute hari Minggu langsung lanjut ke Kep. Sapeken, jadi balik ke Kalianget-nya Senin sore. Tips naik kapal ini: datang cepat2 supaya dapat tempat duduk. Bisa juga sewa kamar dengan tarif sekitar Rp 300ribu bisa buat orang banyak. Otherwise, bawalah tikar dan siap2 nggempor lesehan di lantai. Cara alternatif yaa nyogok kapten kapal biar bisa masuk anjungan *kayak kita* huahahaha atau manjat aja ke atap kapal sambil menikmati angin 🙂

Kapal Express Bahari

Kapal kecil, lama perjalanan 4 jam, tarif Rp175.000-Rp200.000, berangkat setiap Senin, Kamis, dan Sabtu pagi dari Kalianget. Balik lagi Selasa pagi, Jumat siang, dan Minggu pagi dari Kangean. Kata temenku sih naik kapal ini lebih serem karena kapalnya kecil jadi dia ngikutin ombak gitu…Bayangin tinggi ombak bisa sampai setinggi jendela kapal…wow!

– Kapal Perintis

Kapal barang, jadwalnya 10 hari sekali. Nggak pasti jadi mendingan tanya ke orang pelabuhan dulu kali ya.

2) Penginapan di Kangean cuma ada di Arjasa (ibukota Kangean). Selain itu kamu bisa numpang di rumah warga atau kemping. Tapi hati2 kemping di Pulau Kangean besar, karena banyak anak2 muda yang suka mabuk2an dan bikin onar (malak, merkosa, dll). Kalau di pulau2 kecil kayaknya lebih aman.

3) Di Pulau Kangean besar nggak ada angkot…adanya cuma “colt pick-up” sama “ojek”. Perlu diketahui, panjang Pulau Kangean dari Batu Gulok (ujung barat) ke Kayuaro (ujung timur) sekitar 45 km. Jalan rayanya sudah banyak yang rusak. Waktu tempuh 2 jam lebih. Sebagai bayangan, ongkos colt melintasi jalur tsb sekitar Rp30.000, kalau naik ojek bisa Rp 50.000 lebih.

4) Untuk menghubungkan antar pulau kecil ada yang disebut “perahu taxian”, ya semacam bus kota gitu deh, dengan jadwal dan tarif yang sudah ditentukan. Contohnya taxian dari Batu Gulok ke P. Mamburit, dari P. Sapeken ke Kayuaro, dll. Kalau mau ke pulau2 kecil di luar rute perahu taxian, harus menyewa perahu sendiri. Harga sewa bervariasi, saya nggak tahu juga ada yang bilang Rp 450.000 ada yang bilang Rp 1,5 juta per hari, kapasitas 10-15 orang. Kalau ini sih pinter2nya kita nego aja sama yang punya perahu ya. Buktinya kita kemarin keliling Mamburit juga dikasih gratis… 😀

5) Kalau mau snorkeling/diving bawa peralatan sendiri ya. Jangan lupa bawa pelampung dan safety tools lainnya. Kalau bisa berbanyak orang aja deh biar lebih aman 😉

6) FYI, penduduk P. Kangean sebagian besar suku Madura. So better if you bring someone who can speak this language. Tapi di Kep. Sapeken (bagian timur) penduduknya lebih majemuk, kebanyakan orang Bugis dan ada orang Tionghoa juga. Pulau Sapeken adalah pusat perdagangan dan keramaian di daerah ini.

7) Enjoy, documentate, and tell the story to the world! Happy holiday! 😀

IMG_20140529_102921

Pose lagi deh!