Ketiban i-Pad!

Ketiban i-Pad!

Dengan perjuangan berat, banjir keringat dan kaki tengklengen, akhirnya tadi malam mission accomplished! Seonggok i-Pad tergenggam aman di tangan, masih mulus dan kinyis-kinyis 😀

Sebenarnya saya bukan termasuk orang yang maniak gadget. Hape kalo nggak rusak, ilang, atau mbukik sak mbukik-mbukik’e ya gak bakalan ganti. Laptop juga gak pernah merasa perlu untuk upgrade, yang penting bisa ngetik dan internetan 🙂

Jadi waktu tau mau dapet hadiah i-Pad, setengah seneng setengah bingung juga–mau diapain yah? Laptop udah ada…hape (biarpun udah gak jelas bentuknya) juga ada… Tapi karena hadiah, ya alhamdulillah diterima aja hehehe. Mau dijual sayang juga, soalnya ini hadiah spesial hasil perjuangan selama 4 tahun, jadi buat kenang-kenangan gitu. Well, maybe I’ll just give it to my little sister, since she is very willing to play various games in i-Pad.

Ini skrinsyut-nya, sekedar perbandingan antara gadget jadul yang udah 2 tahun lebih menemaniku, dan gadget kinclong kinyis2 😛

HaPe Mbukik vs i-Pad Mboizz

Oya, i-Pad ini masih kosong melompong. Game-nya juga gak ada, masih harus daftar Apple ID atau apa gitu. Pertama mbukak bungkusnya saya merasa setengah ndredeg dan katrok, gak tau cara nyalain dan mati’innya sampe sempet mau nelpon temen *tapi gak jadi karena tengsin lah, masa telpon cuma tanya “gimana caranya mati’in i-Pad?” -.-

i-Pad ini sudah diasuransikan atas namaku, dan ada juga voucher Rp 300 ribu untuk training cara menggunakan produk Apple di i-Box, tapi gak tau juga kapan saya bisa ikut kursusnya, secara kerja terus dari pagi sampe sore ><

“I Just Bought an i-Pad” Bener2 deh produk Apple nih gengsinya gede banget yah

Anyway, pokoknya saya senang dapat hadiah ini. Makasih banget buat Rahayu teman seperjuangan di negeri rantau yang udah nemenin menjelajah Kota Surabaya demi ngambil ‘seonggok’ gadget ini. Makasih juga buat Permata Bank yang udah berinisiatif memberikan hadiah ini, juga universitasku yang menganugerahi penghargaan ini.

Semoga yang baca ini juga bisa ikutan ketiban i-Pad! 😉

Catatan Kelulusan

Catatan Kelulusan

Bittersweet graduation, barangkali itu istilah yang pas untuk menggambarkan hari wisuda ini, Sabtu 7 Juli 2012. Rasanya nggak percaya, hari ini benar-benar lulus sepenuhnya. Fully graduate. Graduate from university, graduate from parents’ shelter, and graduate from relationship.

It was sweet, senang bisa membanggakan orang tua dan mengurangi beban mereka. Mbah putri sampai meneteskan airmata saat namaku dipanggil jadi wisudawan terbaik. But…it was also bitter, karena hari ini juga adalah hari perpisahan, dan hari di mana saya harus memulai hidup baru.

Senin lusa saya akan mulai bekerja di Surabaya. Hidup sendiri, mengurus diri sendiri, dan memegang tanggung jawab sendiri. Saat itu semuanya akan kembali dari nol. Semua yang sudah kamu peroleh, enggak akan berarti apa-apa lagi. Penghargaan2 yang kamu raih, piagam2  yang kamu dapat, pada akhirnya hanyalah selembar kertas kosong. Nilai dirimu ditentukan sepenuhnya dari perilakumu dan kekuatan mentalmu, karena orang2 yang bekerja denganmu enggak akan memintamu menunjukkan sertifikatmu, tapi dedikasi dan kerja kerasmu.

Saya sepenuhnya sadar kalau ini tidak akan mudah. Mungkin saya akan menghadapi pekerjaan yang menumpuk, bos yang pemarah, dan cerita-cerita ‘seram’ lain tentang dunia kerja. Dan yang bikin sedih…saya akan menghadapi semuanya sendirian. Tanpa keluarga, tanpa teman2 lama, dan tanpa  dia. But I know, I have to be strong. I am no more a girl, I just turned to be a woman. And I’m gonna be a strong, mature, and independent woman 🙂

My future is waiting ahead…!!!

Graduation

Graduation

Ma Chung University, my campus

Well, I am about to graduate. You know, when you’re going to end something, then you will remember how it started. Yeah…It just feels like yesterday when I joined Ma Chung Festival and wearing that “baggy bag”. I still can memorize the evenings I’ve spent in this campus: writing assignments, preparing contests, attend boring meetings, laughter, and deep chats. Right now that I’m typing alone in this library, I feel a bit lost.

For me, my years in this place is the most important phase of my life. Seeing me four years ago, is like seeing Windows 95 type of my self now. My thoughts, my attitudes, even my appearance is already changed. Well, by nature, early twenty is the phase when you’re looking for your self identity. And, luckily, I think my experience here has bring me to be someone better–I hope.

I can’t count how many lessons I’ve learned from my friends, my colleagues, my lecturers, the teachings, the assignments, the contests, the events, the organizations, and even the buildings. Eventhough sometimes I feel disappointed with this campus, I know I’ll miss it someday. This is not the place that you can easily forget.

Graduation day is coming. I’m about to release many things I’ve enjoyed here. It’s like I’m standing alone now, detached from anything. I’m free. But I’m also curious about my future. It’s still unclear…but I’m going to walk on step by step…see what I’m going to be in the end. Because the joy of life is enjoying the process…and the result will come follow.

Sumber Air Desa Karangwidoro (Part 2)

Sebelum melanjutkan, ada baiknya baca dulu posting sebelumnya dan tentang Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA.

Setelah pengalaman ansos yang menarik pada semester 3 itu, kami sekelompok memutuskan untuk ‘mengeksplor’ lebih dalam tentang Desa Karangwidoro. Kebetulan, tugas mata kuliah Character Building 4 adalah membuat program pengabdian masyarakat. Kami yang merasa tergerak dengan kisah Pak Kades mengenai desa yang kekurangan air, memutuskan untuk membantu penduduk desa ini.

Pak Kades menceritakan tentang sumber air Desa Karangwidoro, yang letaknya nun jauh di perbukitan sekitar 10 km di arah barat desa. Sumber air tersebut berdekatan dengan sumber milik Desa Petungsewu dan Desa Selorejo (juga di Kecamatan Dau). Tentunya Pak Kades sudah meminta izin untuk menggunakan sumber air tersebut demi keperluan desanya.

Sumber air perlu dirawat dan dijaga, agar ketika musim kemarau pasokan air tetap lancar mengalir. Salah satu caranya adalah dengan menanam pohon di sekitar mata air. Menurut Pak Kades, jenis pohon yang baik ditanam adalah pohon sukun, karena akarnya mampu menyerap air dalam jumlah banyak. Mendengar itu pikiran saya pun melayang ke kebun belakang rumah nenek di Kediri. Tak dinyana, ternyata pohon berdaun menjari dengan buah bundar yang sering direbus/digoreng itu bisa melestarikan mata air! :-0

Kami sekelompok akhirnya sepakat untuk membeli 50 bibit sukun untuk ditanam bersama para warga desa di sekitar sumber air. Harga per bibit (yang masih kecil) Rp 10.000 per polybag. Pada Minggu, 2 Mei 2010 berangkatlah kami sekelompok (14 mahasiswa+1 dosen mentor), beberapa anggota Karang Taruna, dan Bapak Kepala Desa ke perbukitan Petungsewu. Read more

Sumber Air Desa Karangwidoro (Part 1)

Karangwidoro, itulah nama sebuah desa yang terletak di belakang kampus saya. Meskipun letaknya relatif di daerah perbukitan, tetapi ini adalah desa yang kering dan tandus. Kata dosen saya sih, daerah sekitar kampus ini memang dikenal ‘sulit air’. Kampusku? Enggak lah, kan punya sumur bor dan tandon yang besar 😀 Tapi, desa di belakang itu, sayangnya tidak seberuntung institusi besar tempat kami bernaung ini…

Pada musim kemarau desa ini mengalami kekeringan, tapi pada musim hujan diterjang banjir sehingga air menjadi keruh. Bahkan, Karangwidoro pernah mengalami bencana banjir lumpur kiriman pada tahun 2002 hingga menyebabkan 1 orang tewas, 65 unit rumah rusak, 6 DAM jebol dengan total kerugian mencapai 2,9 milyar rupiah. Alhamdulillah, saat ini banjir bandang tidak terjadi lagi karena warga sudah membangun “sodetan” sehingga air hujan mengalir ke Kali Metro. Meski begitu kondisi lingkungan di desa masih rentan karena tanah jarang ditanami pepohonan…

Pada semester 3, saya dan teman-teman satu kelompok mentoring mengadakan analisis sosial (ansos) di desa ini. Awalnya sih memang cuma tugas mata kuliah Character Building 3, tapi ternyata setelah wawancara sana-sini dengan Pak Kades (Kepala Desa), Pak Kadus (Kepala Dusun), dan perangkat desa lainnya, kami jadi tahu bahwa desa yang jaraknya tinggal loncat tembok belakang kampus sangat dekat ini punya cerita yang cukup menarik.

Read more

Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA

Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA

Waktu buka email internal kampus, tak dinyana ada informasi dari Kemahasiswaan tentang Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA. Mumpung liburan, akhirnya saya memutuskan untuk ikut! Biarpun dateline-nya cukup mepet untuk optimasi SEO…tapi yah optimis aja deh insya Allah bisa nangkring di 50 besar Mbah Google, amiiinnn 😀

Untuk teman-teman yang ingin join kompetisi ini juga, silakan langsung saja ke Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA yaa!

Tema Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA kali ini adalah “It’s About Us: Air untuk Masa Depan”

Well…dari temanya sudah terlihat bahwa: ini adalah TENTANG KITA. Bukan tentang mereka, dia, atau entah siapa, tapi tentang kita.

Ini bukan tentang penduduk China atau Afrika yang dilanda kekeringan. Ini bukan tentang NGO internasional yang rajin berkampanye untuk menyelamatkan air. Ini tentang kita, pemuda Indonesia, yang sejak kecil diberi rahmat oleh Tuhan berupa genangan air melimpah di dalam tanah dan lautnya. Ini tentang kita, pemuda Indonesia yang kadang terlena dan lupa bahwa air bisa menjadi barang langka.

Read more

我的博客


大家好! 我叫米丝雨。 我是玛中大学的学生。 我在玛中大学学习中文。 我的老师是张惠茹。 现在我们学习博客方面的课。 我有一个博客,是 “Habibah Daily Happiness”. 在博客我已经写很多文章。因为我已经四年多了写博客。 这是我第 128 的文章。 如果我很高兴或者很伤心我就写文章在博客。 我真喜欢写博客。

A Sunday with Peng Laoshi

On Sunday morning Ken invited me along with 彭洁, our中文老师 (Chinese lecturer in Ma Chung University) to go to her family’s marriage. We arrived at Ken’s home early at 7 a.m. (Actually I was a bit late coz I almost forgot the appointment =p). Well, at that time we watch the marriage promise (akad nikah) and 彭老师 asked me few questions about that.

After ‘akad nikah’ we spent the time talking about many things in Ken’s room. 彭老师 was interested with the history of Chinese-descent people in Indonesia, the topic that Ken and I also like to discuss. We also compared about people habit in Indonesia and China, the culture, even we talked about guy. 彭洁liked suggesting people, she’s really suitable to be 老师 ^^.

After that I asked老师 to come to my home. At that time the whole family was going to Surabaya, so there was only me and my 1st sister. I told 老师 about my family, I showed her the family photo album. She asked me to keep my baby photo^^.

Then I dropped her in her home. But at 3 p.m. we went back to Ken’s home to see the ceremonial’s wedding. This is the most interesting part. Ken asked 老师 to bring the ‘Kembang Mayang’. You know that in traditional Javanese wedding ceremony, there will always be two girls in bride side and two boys in broom side to hold the Kembang Mayang. Actually it’s Ken, but she want 老师 to replace her.

So 老师 wore ‘kebaya’ and ‘jarik’—she’s so cute, really, just see it in the photo^^. She changed the Kembang Mayang with the boy in broom side. Hooo…she’s a bit nervous~~. Then she asked me what was the meaning of changing the flower, but I couldn’t clearly answer (poor Javanese me -_-“).

Take a look at the photos…^^
I also share the photos and video on Facebook.

About the Talkshow…

Beberapa pertanyaan dan pernyataan sukses menarik perhatianku saat talkshow CBDC 2 Sabtu kemarin. Karena jadi moderator, mau gak mau aku harus memperhatikan benar kata-kata setiap pembicara dan penanya. Padahal biasanya kalo dengerin seminar CBDC mataku gak bisa mbuka’ tanpa dipaksa…hahaha

Dari 7 pembicara, menurutku yang paling menarik adalah apa yang disampaikan Pak Jimmy Pardede dari Gereja Reformed Injili Indonesia. Biarpun nih orang ngomongnya cepet tanpa titik koma, tapi bener2 padat dan berisi. Satu hal yang kena banget di otakku adalah gagasan soal “kebebasan palsu”. Bahwa zaman sekarang orang2 banyak terkungkung oleh kebebasannya sendiri. Bahwa sebenarnya kebebasan yang berlebihan malah menimbulkan KECANDUAN, yang sebetulnya membuat kita terikat pada kebebasan itu. Kontradiktif, ya?

Seperti orang merokok, misalnya. Well, kamu bisa bilang “saya bebas merokok.” Kamu bebas melakukannya selama gak merugikan orang lain. Tapi ketika kamu merokok dan terus merokok, pada akhirnya kamu gak bisa hidup tanpa rokok. Kamu mulai ketagihan. Kamu mulai terikat pada apa yang kamu sebut ‘kebebasan merokok’. See, kamu mulai terkungkung oleh kebebasan yang kamu ciptakan sendiri. Wah, ‘nonjok’ banget nih.

Bicara soal Bapak xxx yang mewakili pemuka agama Islam, sebetulnya aku agak sedikit kecewa. Aku berharap yang diundang adalah seorang cendekiawan muslim keren yang sepemikiran dengan Nurcholis Madjid, atau sebijak Aa’ Gym, atau se-logic Quraish Shihab. Seseorang yang lebih moderat, logis, dan ilmiah tentunya. Yang kalo pidato gak panjang2 tapi langsung ke intinya. Yang kalo jawab pertanyaan to the point, memuaskan, dan mencerahkan.

Kemarin tuh cukup banyak pertanyaan yang nyerempet2 ke hukum Islam. Misalnya tentang nikah siri dan poligami. Well, pertanyaan nikah siri itu emang aku udah tau jawabannya. Dan soal poligami, aku agak kecewa karena Bapak xxx itu njawabnya kurang tegas, kurang logis, dan agak ‘mekso’. Jadinya, Ibu yyy jadi punya kesempatan untuk ‘mengkritik’ poligami sehingga seolah2 memperburuk citra agamaku.

Sebetulnya pertanyaan itu bisa kujawab kok. “Katanya seks bebas dengan berganti2 pasangan itu gak boleh. Lha terus gimana dengan poligami? Apa gak ketularan PMS juga karena ganti2 pasangan?” Oh, well, rasanya pengin aku teriakin langsung ke muka ‘si anak itu’ (yang emang dari sononya nyebelin dan sukanya nantangin debat orang) “Ya gak laaahhh!!!” Tolong ya, emangnya biar poligami kamu pilih istri sembarangan? Asal comot aja gitu? Ya pasti harus tau bibit, bebet, dan bobotnya lah. Kalo udah jelas sehat, ya gak bakal ketularan biar ganti2 juga. Yang dimaksud ‘ganti pasangan’ itu ya ketika kamu melakukan kumpul kebo, a.k.a. nge-seks dengan sembarang orang tanpa pilih2, orang2 yang gak dikenal jelas, yang asal saut di diskotek, panti pijat, ketemu di jalan atau apa lah ‘sex right in the place’ macam gitu.

Huff. Taun depan pengin deh nawarin ke Bu Vera buat pembicara Muslim-nya. Karena sekarang nih Islam lagi jadi kontroversi dan banyak yang mempersoalkan hukum2nya, aku rasa butuh seorang pembicara yang lugas dan ilmiah untuk menjelaskan kepada orang2 logis itu. Bukan pembicara yang biasa ceramah ngalor-ngidul di depan Ibu-ibu pengajian atau majlis ta’lim. Taun depan aku pengin nyaranin ulama yang lebih kereeennn!!!

BTW, setelah dipikir2 lagi aku masih harus belajar banyak untuk jadi moderator. Kemarin aku melakukan kesalahan fatal yaitu menyela pembicara yang sedang ngomong tanpa peringatan. Udah gitu pembicaranya nyindirin aku lagi. Aduh sumpah waktu itu seluruh badanku rasanya panas banget karena malu. Malu bangeeeeetttttt……… tapi gak mungkin kan aku turun dari panggung dan teriak2 ke Bu Sinta, “Bu maaf saya salaaaaaahhhhhh!!!!!!!!!!!” Jdhieenngg. eS-We-Te.

Kayaknya lebih enak jadi pembicara deh. Lebih enak waktu presentasi pas SOE. Atau jadi MC MaC-Maple. Itu gak terlalu sulit. Jadi moderator berarti harus siap duduk 3 jam tanpa kehilangan fokus, dengan otak yang selalu kritis, dan tangan yang selalu siap mencatat. Juga kemampuan ngobrol santai dengan pembicara yang notabene higher knowledge. Oh, juga ketahanan untuk selalu senyum, penuh percaya diri, dan (sedikit) sok tahu.

Aku jadi pikir2, kalo Grace yang tampil jadinya kayak apa yah? Jelas lebih keren dan hidup. Jelas lebih bisa meng-handle situasi. Secara dia udah dewasa dan gak bakal pasang tampang lugu-lugu bego kayak aku. Yah begitulah bedanya orang yang udah berpengalaman sama yang masih ‘ijo’ banget. Ya ampun, itu pertamakalinya aku disuruh jadi moderator, langsung disodorin 7 pembicara, dan Cuma dikasih waktu kurang dari sehari buat persiapan.

Sebenernya aku pengin coba lagi. Coba terus sampe lancar. Ini bakal berkaitan erat sama cita2ku sebagai jurnalis. Well, aku gak akan melulu menulis di media cetak kan. Bisa aja ntar juga jadi presenter kayak Meutia Hafidz atau Isyana Bagus Oka…hooo basic-nya dari moderator juga toh.

Nanti lah kalo ada kesempatan lagi. Kalo Grace sakit lagi mungkin. Hehehe. Karena kayaknya aku selalu jadi ‘serep’nya dia…pas MaC-Maple itu juga. Hoh.
Anyway, keep struggling! ^^p

PKM Diary (5): Museum Zoology Tidar

Tadi pagi jam 09.00 kami ber-3 (Ami, Ko Cung, aku) akhirnya melaksanakan juga program pertama buat anak2 Sanggar Mergosono: KUNJUNGAN KE MUSEUM ZOOLOGY TIDAR. Asiknya, hari ini Ami juga mengajak teman2 istimewa, dosen2 bule dari Polandia: Jack and Marchin. Mereka juga ngajak satu bule lagi dari Belanda, namanya Tim. Ada juga 2 anak HI Unibraw yang ikut nemenin mereka. Mas Apong dan Mbak Mayang dari FH UB juga ikut dateng…Ce Arlinda juga…rame lah pokona^^
Kita berangkat naik bus Ma Chung. Sayangnya gak semua anak sanggar ikut. Cuma yang udah SD aja. Yaaahhh gak isa ketemu Wahyu ma Moris deh…=(
Di Museum Zoology kami lihat ular beneran, koleksi hewan2 yang diawetkan, juga buaya dan burung kasuari asli. Untuk jelasnya lihat foto2nya aja yah…=D
Siangnya anak2 makan bareng di sana. Aku bagi2 jelly yang udah dibuat semalem…langsung habis disikat…hehehe
Waktu pulang, anak2 penasaran minta liat kampus kita. Akirna sama pak supir diputerin deh ke Ma Chung. Hoaaooo..semuanya pada ‘ndlahom’ melihat kampus yang keren ini…^x^
Di jalan, mungkin karena ada yang gak sarapan dan kena AC bis ada yang muntah. Anggi, Bila, Doni juga muntah. Kami b’gotong royong bersihin muntahan. Huff, untung sedia kresek dan gak sampek tumpah2 ke kursi bis…
Waktu udah sampe Mergosono Anggi sama Bila udah gak kuat jalan, akirna digendong sama Ko Cung en Ce Arlinda. Waktu sampe rumah Bila ternyata gak ada orang. Akirna aku sama Ce Arlinda ganti’in bajunya dia.
Wah, hari ini menyenangkan! Ce Arlinda kelyatan seneng banget, dasarnya dia emang suka anak2 sih. Kalo ada even lagi dia minta diajak…
Lain kali aku ajak temen2ku juga. Makin rame makin seruuuuuu!!! ^^
BTW Wahyu abis kecelakaan. Kepalanya berdarah. Belum sempet jenguk…=(
Mergosono ROCKS!!!
“Wah kapan lagi nih bisa diapit dua bule keren begini XD”

“Ndeloki opo toh Mas Marchin?”

“Haumm…wenaaakkk^^”

“Buaya Berendam”

“Wiii biar uda di dalem stoples tetep ngeri aja ularnya”

“Mmmuaahhh…lama gak ketemu, Say =p”

“Aku gak takut ulaaaarrrr, hohoho”

“Siap memangsa”

“Panas ah…mandi dulu deh ularnya^^”

“Belajar di museum”

“Ini dia tampak depan museum-nya”

“Gerombolan pecinta anak”

“Horeee naik bus Ma Chung”