Obsesi Cantik

Obsesi Cantik

Semua cewek di dunia ini pasti pengin kelihatan cantik. Iyalah. Adalah sebuah gombalan klasik kalau ada yang bilang “kecantikan fisik itu gak penting, yang penting inner beauty-nya…” Salah besar. Cantik fisik itu penting. Bukan berarti inner beauty nggak penting, of course itu penting banget. Tapi pintu untuk mengenal inner beauty itu tentunya dari kecantikan fisik ya kan. Dan jangan lupa, cowok itu makhluk yang sangat visual, bagi mereka cinta memang datangnya dari mata turun ke hati.

Meskipun begitu, tentunya cewek tampil cantik bukan hanya untuk menarik perhatian cowok, tapi karena emang dasarnya suka aja kelihatan cantik. Merasa cantik itu bikin pede. Coba deh kalau pagi2 temen kamu bilang “Ih kamu cantik banget deh hari ini” Pasti langsung jadi mood booster ya kan. Langsung deh seharian itu kamu ngerasa hepiii terus 🙂

Tapi kadang ya, suka sedih aja gitu kalau lihat obsesi perempuan akan kecantikan ini sudah kelewat batas, sampai kadang menyakiti dirinya sendiri. Sekarang lagi happening banget tuh yang namanya “thigh gap“, yang bikin saya jadi terinspirasi juga untuk nulis postingan ini. Maksudnya, itu tren kok aneh banget sih? Sejak kapan cewek yang pahanya gak nempel dibilang cantik? Duh dek. Salah besar kamu. Coba lihat cewek2 seksi dari jaman baheula di mana2 kalo foto bikini pahanya pasti nempel lah. Aneh2 aja kamu. Emangnya boneka barbie? Kalo pahanya gak nempel tandanya mah itu cewek CUNGKRING, CACINGAN, dan kurang gizi. Sana kasih makan banyak2.

No Thigh Gap vs Thigh Gap, pilih mana hayo?

No Thigh Gap vs Thigh Gap, pilih mana hayo?

Tren2 kecantikan yang gak masuk akal kayak gini, entah kenapa kok ya dengan cepat diamini sama para cewek. Penyebabnya apa? Media. Media lah yang udah gila2an mem-brainstorming para cewek dengan standar kecantikan supaya produk perusahaan mereka laku (baca: ngiklan). Kita mungkin gak asing lagi dengan bombardir iklan bahwa cewek cantik itu harus “putih, langsing, mulus, rambut panjang lurus, dll.” Akibatnya, cewek jadi terobsesi untuk mencapai standar itu dengan menghalalkan segala cara.

Sebagai cewek, saya pun punya pengalaman dengan “obsesi kecantikan” itu. Ada bagian tubuh yang paling tidak saya sukai, yaitu pipi. Saya nggak suka pipi saya karena gak mulus dan dipenuhi bekas jerawat. Sumpah saya benci banget tiap kali bercermin dan mendapati bopeng2 nista itu terlihat dengan jelas. Apalagi kalau pas siang2, kumus2, muka berminyak maksimal, duh tambah keliatan ancur cur cur.

Jujur, masalah jerawat itu emang paling bikin saya enggak pede sejak jaman masih muda dulu. Kulit berminyak dan “bakat jerawat” warisan ortu menjadikan hari2 remaja saya dipenuhi keminderan dan keputusasaan *halah*. Dan emang dasarnya dulu saya cuek abis sih anaknya, jadi jerawat yang dipencet2 itu akhirnya menyisakan bekas luka yang mendalam sampai sekarang (literally). Duh. Sakiiiiittttt.

Sekarang setelah beranjak tua, baru sadar kalau jerawat dan bekasnya ini sangatlah mengganggu. Sejak remaja saya emang udah coba berbagai macam produk dan dokter anti jerawat tapi yah…tetep aja jerawatan. Jadi inget dialog dengan seorang dokter di RSSA bertahun2 yang lalu:

Dokter: Umurnya berapa dek?

Saya: 16 tahun Pak.

Dokter: Oh…kalau gitu cuma ada 2 cara supaya jerawatnya hilang dek.

Saya: Hah, apa pak?

Dokter: Kamu kawin sekarang, atau kamu tunggu 19 tahun lagi. Pasti jerawatmu langsung berhenti.

Saya: *terpana*

Waktu itu saya kayak ketiban palu aja divonis sama dokter bakal jerawatan selamanya sampai umur 35 tahun, kecuali kalo kawin. Kejam banget gak tuh. Tapi setelah berbagai macam ikhtiar, doa, tawakkal, keringat, darah, dan air mata saya cucurkan demi menghilangkan jerawat membandel, kayaknya tuh dokter emang bener. Kayaknya saya emang harus kawin biar jerawatnya ilang. Duh.

Saat udah mulai kerja, ketika penampilan menjadi semakin penting dan dompet udah cukup tebel untuk mendukung treatment wajah, saya mulai perawatan rutin di sebuah klinik kecantikan. Udah berbagai macam treatment saya lakukan di klinik tsb, Mulai disuntik, disinar, dilaser, di-peeling, sampek digerus pipinya pakek gilingan jarum (serius!), semuanya sudah pernah saya alami. Hasilnya ya udah mentok begini. Udah maksimal (sesuai takaran dompet). Kalau mau semulus SNSD gitu mungkin saya harus jual rumah orang tua dulu buat ampelas muka. Well, jadi kalau ada yang bilang “beauty is pain”, itu gak sepenuhnya bener. Karena meskipun kamu udah “pain” luar biasa, sampek berdarah2 (dalam arti sesungguhnya), kadang “beauty” itu gak datang2 juga. Hahahahahahaha nasibbb *ketawa hampa*

Sekarang setelah saya pikir2 lagi, isi ATM ini udah lumayan terkuras untuk “obsesi kecantikan” tersebut, sampai harus mengorbankan kepentingan2 lainnya. Kadang menyesal juga saat dengan gampangnya keluar uang banyak untuk treatment, tapi buat servis motor aja pelitnya minta ampun. Kadang saya masih sebel kalo bercermin dan lihat bekas jerawat yg seakan jadi “kutukan abadi”, tapi lama2 capek juga. Capek meratapi nasib dan terus2an merasa tidak puas. Mungkin saya harus mulai menerima kenyataan bahwa bekas jerawat ini adalah bagian dari identitas wajah saya. Mungkin saya harusnya mulai berpikir positif bahwa bekas jerawat ini bisa jadi personal branding saya. “Oh, Umi yang mukanya ada bekas jerawat itu ya?” Huahahahahaha ya gak gitu juga sih. Tapi somehow, ada hal lain yang lebih penting daripada sekedar noda sedikit (err, banyak sih) di wajah–yaitu aura.

Iya, mbaknya emang cantik sih...

Iya, mbaknya emang cantik sih…

Sebenernya, orang terlihat cantik atau tampan (baca: menarik), itu dari aura dia. Serius. Setelah bertahun2 mengamati para perempuan cantik (lebih sering ngelihatin cewek cantik daripada cowok ganteng), saya memperoleh kesimpulan bahwa cantik itu aura. Aura percaya diri, semangat, dan kebahagiaan yang terpancar dari seorang perempuan–itulah yang menjadikan dirinya cantik. Serius deh, gak gombal. Masalahnya kemudian ada pada rasa percaya diri tsb. Gak semua cewek bisa pede dengan apa yang dia punya.

Misalnya nih ya, ada cewek putih banget, menurut standar Indonesia pasti dia dianggap cantik kan ya. Tapi dia gak merasa cantik karena menurutnya dia agak gendut (padahal juga gak gendut2 amat). Nah, daripada berfokus pada betapa putih dan cerah kulitnya, dia malah sibuk khawatir dengan lipatan perutnya (padahal juga ga keliatan). Dia jadi terlihat gak nyaman sama dirinya sendiri. Padahal aslinya dia cantik loh, tapi karena dia gak merasa begitu, akhirnya malah kelihatan biasa aja.

Coba bandingin sama cewek yang, misalnya nih ya, kulitnya gelap dan hidungnya pesek. Tapi dia pede2 aja gitu. Dia merasa kulit dia tuh “selera bule”. Terus dia juga ngerasa bodinya lumayan oke. Dia fokus ke bodi seksinya, bukan ke hidung peseknya. Ini cuma masalah mengubah sudut pandang aja sih. Dia masa bodo amat mau dibilang “item”, “muka ndeso” dll. Itu mah cuma omongan cewek2 iri aja yang gak bisa kelihatan semenarik dia, sehingga berusaha menjatuhkan kepedeannya. But hey girls, nobody can take you down if you don’t let them to!

Jadi intinya, perasaan cantik itu keluar dari kemampuan kita untuk “menghargai kelebihan2 diri kita tanpa terlalu terbebani dengan kekurangan2 kita”. Karena setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Bukan berarti kita gak berusaha memperbaiki ya. Kalau masih bisa diusahakan secara wajar, sah2 aja dong kita memperbaiki penampilan. Asalkan gak sampe jadi obsesif dan menyengsarakan diri, gak sehat jadinya. Misalnya kita ngerasa agak gendut, ya silakan diet tapi yang wajar aja, gak usah sampe anoreksia gitu. Kalau udah diet mulu tapi gak seberapa turun, mungkin emang perawakan kamu kayak gitu. Ya udah terima aja, udah bawaan lahir. Kalau tujuanmu untuk memikat lawan jenis, gak usah khawatir, selera cowok itu beda2 gals. Ada yang suka bodi kurus, agak gemukan, bahenol dll. Jangan terpaku sama standar kecantikan dari iklan, karena kenyataannya preferensi lawan jenis itu bervariasi.

Sekarang coba katakan pada dirimu sendiri. Mungkin kamu agak gendut, berkulit gelap, ada bekas luka, dsb…tapi hey, kamu juga punya lesung pipi yang cantik, rambut yang halus, hidung yang bangir, dll. Jangan lupa, intelektualitas dan kepribadianmu adalah juga magnet yang menambah daya tarikmu, jauh melebihi penampilan fisikmu. Jadi fokuslah pada kelebihanmu sambil memperbaiki kekuranganmu. Senyum percaya diri lah hai kaum hawa, dan pancarkan aura cantikmu 🙂

Graduated (again)

Graduated (again)

Pernah dengar istilah “graduation effect“? Itulah perasaan yang muncul seperti saat kamu lulus sekolah–ketika kamu akan meninggalkan suatu tempat, orang2 di situ, dan semua kenangan yang ada di dalamnya. Rasanya nano-nano kan. Antara sedih karena harus pergi dari tempat yang berkesan dalam, tapi juga lega karena akan segera menyongsong masa depan. Dan saya sedang mengalami saat-saat itu lagi sekarang…

Hari ini adalah hari terakhir saya bekerja. Setelah 2 tahun menimba ilmu di perusahaan ini, tiba juga saatnya “level-up” ke tahap selanjutnya. Rasanya gado-gado. Jujur, perusahaan ini sudah seperti rumah kedua (jangan ketawa yaa!). Tinggal sendiri di kota tetangga tanpa keluarga, siapa lagi yang menjadi “keluarga”mu selain teman-teman kantormu? Hampir semua waktu juga dihabiskan di kantor. Masuk jam 7 pagi sampai jam setengah 5 sore, plus setengah hari Sabtu, bikin ‘thuwuk’ ketemu kantor…

Saat kuliah dulu, awalnya nggak sekalipun ada pikiran untuk bekerja di perusahaan ini. Tapi takdir berkata lain, dan saya percaya tidak ada yang namanya kebetulan. Tuhan mempertemukan kita dengan orang2 tertentu, meletakkan kita di tempat2 tertentu, dan menempatkan kita di saat2 tertentu, semata supaya kita bisa belajar sesuatu. Karena setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah, dan seumur hidup adalah proses pembelajaran.

Terima kasih SInar Baja. Terima kasih teman-teman semua. Dua tahun yang sangat mendewasakan. Semoga kita dapat bertemu lagi dan selamat menyongsong masa depan yang lebih baik 🙂

Surabaya, 25 Juli 2014.

Sunset di pabrik...

Sunset di pabrik…

 

Tentang Scarlett O’Hara

Tentang Scarlett O’Hara

“Tuhan adalah saksiku, Tuhan adalah saksiku, orang-orang Yankee tidak akan menjatuhkanku. Aku akan mampu hidup melewati ini, dan ketika ini semua berakhir, aku tidak akan pernah kelaparan lagi. Tidak, begitupun keluargaku. Bahkan jika aku harus mencuri atau membunuh sekalipun–Tuhan adalah saksiku, aku tak akan pernah kelaparan lagi!”

Demikianlah Scarlett O’Hara mengucapkan sumpah yang kemudian mengubah hidupnya–dan caranya menjalani hidup. Di bawah terik matahari panas, dalam kondisi perut yang kelaparan, ia mengais-ngais sisa sayuran di kebun para budak di Twelve Oaks yang sudah hancur lebur diserang prajurit Union. Perang Sipil Amerika sungguh luar biasa memporak-porandakan hidupnya. Perkebunan kapas milik keluarganya musnah, Ibunya meninggal, ayahnya menjadi gila, kedua adik perempuannya sakit parah, dan ia punya tanggungan 9 perut (wanita, bayi, dan budak) di rumahnya yang harus diberi makan. Sejak saat itu, Scarlett O’Hara bukan lagi gadis remaja primadona yang gemar berpesta–ia adalah janda perempuan kepala keluarga yang harus berjuang mempertahankan hidupnya, tanahnya, dan keluarganya.

Si cantik penggoda pria, Scarlett O'Hara

Si cantik menggoda, Scarlett O’Hara

Pada bagian2 awal buku ini saya merasakan kekaguman luar biasa pada kegigihan sosok Scarlett. Dia adalah perempuan yang sangat kuat dan berkemauan keras untuk mencapai apa yang ia inginkan. Di saat kerabat2nya masih sibuk meratapi nasib, syok dengan kebangkrutan mendadak dan kematian sanak saudara, dia sudah bangkit dan mulai menata hidupnya. Di kepalanya hanya ada satu tujuan: hidup makmur seperti sebelum perang. Ia melakukan apa saja untuk mendapatkan uang: mengais kebun, bertani, beternak, menembak seorang Yankee dan merampok mayatnya, bahkan merebut kekasih adiknya sendiri lalu menikahinya untuk menguasai hartanya. Runtuh sudah semua nilai2 luhur kebangsawanan yang dulu diajarkan ibunya. Nasib pahit perlahan telah mengubah Scarlett menjadi gadis licik nan oportunis. Ia hanya peduli bagaimana caranya agar mendapatkan banyak uang–walaupun harus menyakiti kerabat2nya dan dikucilkan masyarakat.

Margaret Mitchell menciptakan karakter Scarlett dengan begitu detail dan nyata. Tokoh ini begitu manusiawi–begitu abu-abu. Tokoh utama yang cenderung antagonis, tapi sebetulnya memiliki motif2 yang masuk akal di baliknya. Somehow, Scarlett adalah karakter yang unik. Ada beberapa hal dalam dirinya yang bisa saya pahami sepenuhnya, tapi banyak juga yang sama sekali tidak dapat dimengerti.

Orang bilang, kisah “Gone with the Wind” ini adalah salah satu cerita cinta tragis yang legendaris. Tapi bagi saya novel ini lebih seperti sepotong biografi Scarlett O’Hara, mulai umur 15 tahun sampai 28 tahun. Caranya berpikir dan perubahan karakternya tahun demi tahun begitu terasa bagi pembaca. Saya yang awalnya mengagumi ketangguhan Scarlett sebagai perempuan, seiring berjalannya cerita menjadi geregetan dengan tingkahnya yang semakin egois, namun akhirnya juga ikut merasakan sedih di akhir cerita. Ya, “nelongso” rasanya setelah mengikuti perjuangan Scarlett sepanjang 1100 halaman lebih, ternyata ending-nya dia pun belum bisa meraih kebahagiaan.

Si cantik yang egois dan oportunis

Si cantik yang egois dan oportunis

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, sebetulnya Scarlett bisa merasa bahagia–hanya saja wataknya yang tidak peka menolak merasakan itu. Setelah menamatkan novel ini saya kepikiran cukup lama (sampe kebawa mimpi) kenapa gadis malang seperti Scarlett, yang sudah berjuang habis2an untuk mempertahankan hidup, harus berakhir menyedihkan seperti ini? Nggak adil banget memang. Tapi jawabannya, agaknya, terletak pada sosok Scarlett sendiri. Rasanya saya mulai paham “hikmah” apa yang sesungguhnya ingin disampaikan Margaret Mitchell melalui kisahnya ini. Moral of the story is: pandai2lah bersyukur.

Kenapa? Begini alasannya.

Saat Scarlett menikah (untuk ketiga kalinya) dengan Rhett Butler, seharusnya Scarlett sudah bahagia. Ya, kalau saya jadi Scarlett, bagi saya itu sudah merupakan happy ending. Dia tidak perlu bekerja banting tulang lagi untuk menghidupi keluarganya. Dia bisa bersenang2 seperti saat sebelum perang. Rhett seorang pria kaya raya, keturunan bangsawan, tampan-gagah, dan yang terpenting, sangat memahami Scarlett apa adanya. Bukankah Scarlett sendiri merasa nyaman bersamanya? Bukankah Scarlett hanya bisa menjadi diri sendiri di dekatnya? Tapi Scarlett sungguh gadis yang kelewat ‘cuek’ untuk bisa merasakan kasih sayang Rhett yang teramat besar padanya. Dengan bodohnya dia masih mengejar bayang2 Ashley Wilkes yang sudah menjadi suami Melanie Hamilton. Kenapa sih dia nggak bisa menganalisis perasaannya sendiri?

Padahal sebagai suami–Rhett kurang baik gimana coba? Dia bersedia membiayai Tara–rumah dan perkebunan keluarga O’Hara. Dia membebaskan Scarlett membeli apa saja untuknya dan keluarganya. Dia membuatkan sebuah rumah mewah dan mengadakan pesta2 sosialita untuk Scarlett. Dia juga tidak mengekang Scarlett melakukan pekerjaannya sebagai pengusaha pabrik penggergajian (padahal sangat tabu bagi wanita untuk bekerja pada masa itu). Dia bahkan menyayangi anak2 Scarlett dari pernikahannya terdahulu seperti anak2nya sendiri. Kurang apa coba, kurang apa?

Kurangnya adalah, Scarlett merasa sudah memiliki Rhett.

Scarlett hanya terobsesi pada hal-hal yang tidak bisa dimilikinya: contohnya, Ashley Wilkes yang tidak mungkin bercerai dari istrinya. Scarlett tidak bisa menghargai apa saja yang telah ia miliki. Scarlett adalah tipe orang yang tidak menyadari betapa berharganya sesuatu sebelum dia kehilangannya. Buktinya, dia baru merasa kasihan telah menyia2kan Frank Kennedy (suami keduanya) baru setelah suaminya itu tewas tertembak.

Jadi inget lagunya Passenger yang Let Her Go.

Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

Jadi ketika di akhir cerita semuanya itu terungkap, ketika Scarlett menyadari perasaan yang sesungguhnya, semuanya sudah terlambat. Scarlett layak mendapat pelajaran pahit. Sebelum dia merasa kehilangan, dia tidak akan pernah menyadari arti memiliki.

Well, overall cerita ini berhasil merekam potret kehidupan. Banyak banget pelajaran yang bisa dipetik dari sini. Tentang perang, tentang watak manusia, tentang berdiri dan hancurnya sebuah peradaban. Kalau nggak baca buku ini, mungkin saya nggak tahu kalau Amerika Serikat pernah terlibat Perang Sipil tahun 1861-1865 (ke mana aja pelajaran Sejarah-nyaaa). Saya juga nggak tahu kalau United States of America adalah pemenang dari perang habis2an itu, dan Confederate States of America adalah pihak yang kalah/ dihapuskan. Saya mungkin juga nggak tahu kalau Amerika Serikat pernah terbagi menjadi 2 kubu, yaitu kubu “Utara” (United States) yang liberal, oportunis, anti-perbudakan, dan industrialis; serta kubu “Selatan” (Confederate States) yang konservatif, aristokratik, pro-perbudakan, dan agraris. Dua kubu itu pula yang menjadi asal mula 2 partai besar di AS, yaitu Partai Republik (Utara) dan Partai Demokrat (Selatan).

Yang jelas novel terbitan 1936 ini memang layak disebut karya sastra legendaris. Setiap susunan kalimatnya adalah karya seni yang berharga. Sejak paragraf2 awal kita pasti akan terkagum-kagum dengan kemampuan deskriptif sang penulis yang luar biasa. Film “Gone with the Wind” sudah dibuat pada 1939 dan juga menjadi selegendaris novelnya. Akhir kata, untuk Margaret Mitchell di alam sana, terimakasih sudah menciptakan Scarlett O’Hara.

Becoming a Mother

Becoming a Mother

Menjadi Ibu. Terasa masih jauh sekali dalam angan-angan. Meskipun setiap kali membuka news feed Facebook, ada saja berita tentang teman yang hamil, teman yang melahirkan, serta foto bayi-bayi mereka. Rasanya sedikit aneh memang, ketika teman yang seumuran dan menghabiskan masa muda menggila bersama, tiba-tiba sekarang sudah harus duduk anteng menimang bayi. Rasanya kayak…hallooo aku masih pencilak’an mblakrak ke mana2 dan kamu tiba2 udah harus nyusuin bayiii…??? It’s like WOW…

mother

Buat saya, menjadi Ibu adalah pencapaian tertinggi dalam hidup seorang perempuan, yang nggak bisa dilakukan begitu saja tanpa persiapan yang matang. Setiap kali menjenguk teman yang habis melahirkan dan melihat bayi mereka, ada suatu gelenyar aneh yang tiba2 muncul di dalam perut. Gak bisa bayangin gimana rasanya perut yang super kecil ini tiba2 diisi seorang anak manusia sebesar itu, yang dikeluarkan lewat lubang sesempit itu. Pasti perjuangan yang beraaattt sekali. Belum lagi setelah melahirkan, menyusui dengan payudara yang sakit dan bengkak, harus bangun tengah malam mengganti popok, dan siap siaga jika bayinya menangis tiba2. Pada saat yang sama, kamu juga harus tetap menunaikan tugas seorang istri; mengurus rumah tangga dan semua kebutuhan suami seperti biasanya. It’s just such a great job of woman…

Tiba2 saya langsung sadar diri. Kamar kos yang berantakan. Barang2 yang sering lupa ditaruh di mana. Hobi gegoleran dan #mager sampe lupa waktu. Mengurus diri sendiri saja belum becus, bagaimana bisa mengurus orang lain?

Pikiran saya pun tiba-tiba juga dipenuhi hal-hal seperti, “biaya melahirkan normal aja sekarang 8 juta…caesar 16 juta…harga susu sekaleng Rp 200ribu cuma buat seminggu…uang pangkal Madrasah favorit itu sekarang 20 juta…biaya les musik dan renang…” Duh luar biasa. Serentetan tanggung jawab yang muncul ketika memiliki seorang anak mendadak berkelebat seperti adegan flashback. 😐

Tapi lebih jauh dari segala tanggung jawab fisik dan finansial itu, saya memikirkan tanggung jawab mental. Sudah pantaskah saya dipanggil Ibu? Pantaskah anak saya mencontoh perilaku saya? Apakah saya sudah cukup capable untuk mendidiknya? Apakah saya layak menjadi teladan baginya? Bagaimana dia bisa belajar dari kesalahan-kesalahan saya? Bagaimana dia bisa tumbuh menjadi manusia yang jauh lebih baik daripada saya?

Ini tanggung jawab yang jauh lebih berat. Sementara saya masih sibuk mencari jati diri, menguatkan jiwa, menegaskan di garis mana saya akan berdiri dan di jalan mana saya akan menempuh perjalanan hidup.

Tapi bagaimanapun beratnya tanggung jawab itu, tentu saja saya sangat ingin menjadi seorang Ibu. It was my biggest dream. Even since few years ago I have already chosen a name for my own children. My son will be named “Rayhan Anggara”, and my daughter will be named “Kirana Aisha”. They will grow up legendary to be a great man and a great woman in their era. And people will ask…who’s their mother? And I couldn’t be prouder than ever…to be a mother of such a great persons like them :’)

mother2Halo Ray, anak lelakiku. Ibu tahu kamu akan menjadi laki-laki yang hebat. Kamu laki-laki yang tidak arogan, tidak kasar, dan tidak mementingkan dirinya sendiri. Kamu adalah laki-laki yang peka. Kamu kuat tapi melindungi. Kamu pandai tapi mengajari. Kamu berkecukupan tapi berbagi. Kamu punya prinsip dan dengan tegas menjalankannya. Karena kamu tahu? Laki-laki tidak dinilai dari hartanya ataupun jabatannya, tetapi dari kekuatan jiwa dan kebesaran hatinya.

Halo Ray, anak lelakiku. Jangan protes jika sekarang Ibu menyuruhmu les renang dan memintamu les musik. Manusia yang memahami kehidupan, adalah manusia yang menikmati seni dan alam bebas. Alam bebas menguatkan jiwamu, dan seni menjadikannya peka. Jiwa yang kuat tetapi peka, itulah yang Ibu harapkan dari seorang laki-laki tangguh sepertimu. Jadi Ray, selagi masih muda berpetuanglah, lakukan apa yang kamu mau, temukan apa yang menjadi renjanamu–Ibu tidak akan melarangmu, selama kamu tetap berpegang teguh pada prinsip hidupmu.

Halo Ray, anak lelakiku. Sangat penting untuk menjadi laki-laki tegas yang berprinsip kuat. Dunia semakin lama semakin berputar dengan cepat. Tidak bisa lagi dipisahkan mana yang salah dan mana yang benar. Kamu harus bergantung pada tali pegangan yang bisa diandalkan, yang tidak akan membuatmu tersesat, yang akan menjadi pijakanmu saat kamu harus memimpin keluargamu kelak. Kamu harus menjadi laki-laki yang berpegang teguh kepada ajaran Tuhan. Karena hanya Dia-lah, satu-satunya tempat yang layak untuk bergantung. Laki-laki diciptakan untuk menjadi pemimpin, Ray, dan yakinlah bahwa kamu akan menjadi pemimpin yang luar biasa dengan Tuhan berada di sisimu.

Halo Rana, anak perempuanku. Ibu tahu kamu akan menjadi perempuan yang mengagumkan. Kamu memiliki segalanya lebih dari seorang peserta kontes ratu kecantikan; beauty, brain, behavior, dan yang terpenting, belief. Ibu akan bilang padamu, nikmatilah masa mudamu. Hang-out lah dengan teman2 sebayamu, ke mall, kafe, menonton konser, berdandan, dan berkencan. Bertengkarlah dengan sahabatmu, patah hatilah dengan kekasihmu, karena di situlah kamu akan belajar untuk menjadi kuat dan dewasa. Asahlah kecerdasan emosimu dan kematangan spiritualmu, agar sebanding dengan kekuatan logikamu. Kamu akan menjadi gadis yang lembut tapi mandiri. Kamu bekerja keras tapi peduli. Kamu mengerti tapi tak banyak bicara. Kamu bisa mengungguli laki-laki, tapi kamu memilih untuk melengkapinya.

Halo Rana, anak perempuanku. Kamu tahu bahwa perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Kamu harus sadar bahwa sehebat-hebatnya kamu, tetaplah hanya sepotong tulang rusuk. Kamu membutuhkan tubuh tempatmu melekat, dan kamu akan mengikuti selalu ke mana tubuhmu itu pergi. Karena itu, pilihlah baik-baik pada tubuh mana kamu akan melekat. Pilihlah tubuh yang akan membawamu ke jalan yang benar, sehingga kamu tidak ikut tersesat. Pilihlah tubuh yang akan memperlakukanmu dengan hati-hati dan terhormat. Sebab itulah keputusan terbesar yang harus diambil perempuan–yang akan menentukan sisa hidupnya kelak.

Halo Rana, anak perempuanku. Akan Ibu pastikan kamu memperoleh apa yang dulu tidak Ibu peroleh. Kamu akan melakukan apa yang Ibu sesali tidak pernah Ibu lakukan sendiri. Kamu akan belajar dari semua kesalahan Ibu. Kamu akan memahami dari semua pengalaman Ibu. Kamu akan menjadi perempuan yang jauh lebih hebat daripada Ibu.

Halo Ray dan Rana, anak-anakku. Kamu tahu Ibu sedang memantaskan diri untuk bisa mendidik kalian menjadi manusia yang luar biasa…

Tentang Perempuan di Tempat Kerja

Tentang Perempuan di Tempat Kerja

Zaman sudah canggih begini, ternyata masih ada aja lho diskiriminasi gender di tempat kerja. Memang nggak ekstrim2 banget sih, tapi pasti ada saja alasan bos yang lebih memilih untuk merekrut karyawan laki-laki daripada perempuan. Bos-bos yang masih tradisional cenderung memilih pekerja laki-laki karena dianggap “lebih bisa kerja”. Hmm…

womanNggak bisa disalahkan juga sih, karena somehow cara kerja laki2 dan perempuan memang berbeda. Bukan berarti perempuan kalah pintar lho ya. Oh no no. Soal kualitas pekerjaan, perempuan tidak bisa dinomorduakan. Kadang2 malah cewek itu lebih pintar daripada cowok. Masalahnya ada pada cara bekerja. Nggak bisa dipungkiri kalau perempuan cenderung mengedepankan emosi daripada logika. Kalau di kantor, yang hobi ngrasani, meledak-ledak, dan penuh prasangka mayoritas adalah perempuan. So, saya paham sekali kenapa rata2 Dept Head adalah laki-laki. Mereka memang lebih jago berpikir secara rasional dan netral dalam keadaan apapun. Perempuan, sebaliknya, kalau udah kadung nggak suka sama seseorang/sesuatu, cenderung untuk berprasangka negatif terus–nggak bisa bekerja secara fair dan profesional.

Memang nggak semua perempuan seperti itu. Ada juga perempuan tegas yang bisa menyeimbangkan logika dan emosi. Dan nggak sedikit juga laki2 yang suka bergosip dan ngrasani *ati2 loh cyiinn* Tapi yaa, karakter mayoritas itu memang melekat di masing2 gender.

Saya sendiri, jujur, lebih suka punya bos laki2. Bagi saya mereka lebih netral, tegas, dan nggak terlalu dipusingkan soal2 emosional yang remeh. Nggak mikir sungkan, nggak gampang sakit hati, nggak gampang berprasangka negatif, dan nggak suka rasan2 unimportant. Tapi gimanapun, perempuan memang punya kelebihan tersendiri. Mereka lebih teliti, detail, dan care. Kelemahan pemimpin perempuan, kadangkala cenderung micromanaging, ribet mengurusi hal2 kecil tanpa punya big picture, rencana strategis yang seharusnya lebih penting untuk menentukan arah organisasi.

Tapi ya kembali lagi, itu semua tergantung pada kepribadian masing2 orang. Gender memang tidak sepenuhnya menentukan, tapi laki2 dan perempuan diciptakan berbeda bukan tanpa alasan. Tanpa bermaksud menyerang kaum feminis, pada satu titik saya merasa memang laki-laki lebih pantas menjadi pemimpin. Ketegasan dan rasionalitas adalah syarat utama menjadi pemimpin, dan itu semua (mayoritas) terdapat pada laki-laki–meskipun tidak jarang juga ditemui pada perempuan.

Well, itu soal gaya bekerja. Satu lagi kesulitan perempuan di tempat kerja adalah, sexual harassment. Emang udah dari sononya ya perempuan itu diciptakan dengan bentuk yang menarik. Sulit untuk berinteraksi dengan perempuan tanpa ada perhatian pada bentuk fisiknya. Saya yakin di setiap tempat kerja pasti ada sajalah “godaan” yang dialamatkan ke pekerja perempuan, apalagi yang masih muda. Pelecehan itu nggak hanya berupa fisik lho, tapi kata2 yang “menjurus” itu juga tergolong kurang ajar. Cuma rasanya, kalo di kantor semua itu seolah2 “dimaklumi”. Ya selama masih dalam batas wajar oke2 saja sih. Kadang itu bisa jadi “senjata” perempuan untuk “mempermulus” proses pekerjaan, tapi kadang juga bisa jadi boomerang. Terutama kalau si cewek menarik itu ada di posisi pemimpin.

Bayangin kamu cowok yang punya bos cewek dengan penampakan semacam Maia Estianty–sulit kan untuk nggak memperhatikan dia secara fisik. Sulit juga untuk benar2 take her instruction objectively. Satu2nya cara untuk mempertahankan wibawa adalah dengan bersikap keras dan judes. Kalau terlalu banyak guyon somehow wibawanya jadi jatuh sedikit–soalnya sisi feminin dan ‘lemah’nya jadi kelihatan. Ya itu juga nggak adilnya. Pemimpin cowok bisa “guyonan sampek elek” dan tetap kelihatan berwibawa. Tapi pemimpin cewek… ya balikin aja ke kasus Maia tadi. Kalo si Maia judes sama bawahan cowoknya pasti mereka bakal manut. Coba Maia terlalu akrab dan guyon sama mereka…yang ada mereka bisa2 jadi naksir si bos 😐 Nggak heran juga orang bilang bos cewek kadang lebih judes dan jahat–tuntutan posisi sih. Perempuan harus melakukan effort lebih untuk menunjukkan wibawanya daripada laki2.

Jadi kesimpulannya…ya gitu deh. Banyak tantangan yang dihadapi perempuan di dunia kerja. Tapi selama kita bisa menunjukkan kualitas2 profesional (berpikir logis, rasional, tegas dll), rekan2 kerja yang tadinya meremehkan label perempuan pasti akan berubah segan kepada kita. Ya kan ya kan 🙂

P.S. perempuan yang sudah menikah dan mempunyai anak (jadi ibu) somehow aura wibawanya lebih kelihatan.

 

There is No Such Thing as a Free Gift

There is No Such Thing as a Free Gift

You must be thinking that I’m gonna preach you an evil idea to drive you away from sincerity act. No, it’s not. In fact, I’m gonna tell you some secret behind the working scheme of our society. Do you know that social relationship works by not giving a “free gift”? Oh yes, by not giving a free gift we create social bonds, thus develop and maintain alliances along with social solidarity.

How come?

Well, I just jumped on a passage about “theory of gift” and mesmerized by the idea that Marcell Mauss sparked 89 years ago: there’s no such thing as a free gift. In his opinion, practice of giving does not only involve the act “to give” and “to receive”, but also “to reciprocate”. When the giver gives the gift, eventhough he does it sincerely, it will create “moral duty” imposed on the receiver. The receiver will feel that in the future he has to reciprocate what has been given to him. Until that time, giver and receiver will develop mutual interdependence.

"Here is a free gift for you!"

“Here is a free gift for you!”

This is the passage quoted from Wikipedia:

“Because of this bond between giver and gift, the act of giving creates a social bond with an obligation to reciprocate on part of the recipient. To not reciprocate means to lose honour and status, but the spiritual implications can be even worse…”

“Mauss distinguished between three obligations: giving – the necessary initial step for the creation and maintenance of social relationships; receiving, for to refuse to receive is to reject the social bond; and reciprocating in order to demonstrate one’s own liberality, honour and wealth.”

“According to Mauss, the “free” gift that is not returned is a contradiction because it cannot create social ties.”

See? You must have ever experienced this kind of feeling. When you receive an aid from someone, eventhough he gave it genuinely without expecting any return from you, you’ll indirectly feel that this is “a loan you have to pay back”. Then this feeling will make you cling to him until you’re able to “settle the loan”. If someday you’re the first to grant him a gift, then it’s his turn to be subjected a “moral duty” of reciprocation. This cycle will keep evolving, both of you will be attached to each other, thus maintaining the so-called “social bond”. See your families, neighbors, friends, colleagues, communities, business partners, and even government of countries. It’s the way our society works.

For example, your parents. You didn’t ask them to feed or raise you, and they also didn’t expect you to return it, but you will automatically feel a duty to pay their merit. Your friends, your lover, they give you something simply because they like you, but however you have to do something back to “zero-sum” it. This what keeps you relationship going. They give you love, you have to return their love, too.

Beware of the gift

Beware of the gift

So, in contrast, the theory can also work vice versa. If you feel you don’t want to build a social bond with someone or certain group, do not receive any aid from him/them. Receiving help will tie you up with the giver, so unless you’re in favor to have a long-term relationship with them, just do not turn the button on.

This advice might sound selfish and arrogant, but you can counter it back. I myself don’t thoroughly agree with Mauss idea anyway. In some point, people can be entirely sincere about their act of giving, especially in individual level. For instance, when you donate your blood to unknown recipient, both of you don’t know each other, so there’s no opportunity for “reciprocation relationship”.

But I think in a group level, such as organizations and countries interaction, Mauss theory works very well. Do you remember when Soekarno rejected the aids given by Western countries to help Indonesian economy? I think he clearly understood this way of “gift economy” works. He didn’t want to trap Indonesia in a grasp of capitalist country by burdening a “moral duty” on us. He preferred not to “turn the button on”. He thought that we better be independent, stand our own feet, so we don’t need to be a bondman of any country.

Somehow I think, the aid given by those developed countries are based on their understanding of this “gift theory”. They want to reign and control the poor countries by letting them dependent on their help. You see what happen to Kuba, Iran, or North Korea: they build their own technology and reject assistance from other countries, simply because they don’t want to be under control of the superpowers.

To think some “evil way”, you can utilize this theory. If you want to bind someone into a strong social bond, or even take control of him, you can just help him. Give him an aid that he badly needs: a treasure, an authority, an opportunity, or even a life. This way he will be your slave forever. *evil laugh*

Well, I guess now we understand better about the prophet teaching of “the upper hand is better than the lower hand.” 🙂

(Live on Stage) Finally Floating with Float!

(Live on Stage) Finally Floating with Float!

As the music turned louder, we immediately turned wilder. In that night, that place, those people were voluntarily hypnotized. In a magical way, every second the night got “older”, we became a second “younger”. Even though the rain has fallen few hours before, temperature seemed risen even hotter. Everybody flocked up in front of stage, singing and dancing altogether. Meng’s voice became higher, and Bontel looked trance on his guitar. They all played vivaciously that their skin was flooded by dripping sweat. Everyone became one, and I felt so ALIVE.

That was the first time I saw “Float” played their music on a live stage. For me it feels so fast since the first time I knew them and enjoyed their songs. It’s just two months ago, but I have already felt so close to them. And the chance to see the persons directly has suddenly come: Folk Music Festival 2014.

Poster of "Folk Music Festival" 2014

Poster of “Folk Music Festival” 2014

I didn’t actually expect to meet them this quick, since I planned to join 2014 Float2Nature event later this year. However, it was an honour to be able to see their first live performance in Surabaya. Eventhough no one of my friends here knew who the “Float” is, and refused to watch their performance (hiks), I forced myself to go. And guess what, it appears that my friend’s sister knew the band! So I didn’t end up to be the one who talked passionately while the others seem clueless and have no idea of what I was talking about ^^” We finally watched the concert together: my friend, her sister, and me, while then her sister’s friends came later to join.

Honestly, I didn’t have any interest about this “Folk Music Festival”, and just came to see “Float” playing. But you know, it appeared that the other bands were also magnificent! I coincidentally spotted a unique band “Stars and Rabbit” (Jogja) with its phenomenal vocalist Elda Suryani, who look gorgeous with her “freaky but cool” singing style. They’re really worth to listen, guys! You also have to try “Angsa dan Serigala” (Bandung). I didn’t have a chance to see them on stage but from their songs on SoundCloud, I knew they are incredible!

Well, back to the “Float”. I was very enthusiastic about this “Float” thing that we have stayed at Sutos since around 7 pm. Meng, Bontel, Raymond, and the other line-ups just appeared at nearly 11 pm. My friend and I have stood in front of stage since around 9 pm to make sure that we will get the foremost space, and yes WE GOT IT! I was just 50 centimeters away from the Float guys! I could clearly saw the dripping sweat on Meng’s neck and the wild hair move of Bontel. Eventhough my phone camera was sooo horrible that I can’t capture them clearly, I didn’t regret it. Whatsoever, I got the memory very clear through my own eyes, in my own head 🙂

Meng the vocalist

Meng the vocalist

Their performance started with catchy “No-Dream Land”, title of their first mini album in 2005. They continued to play rhythmic “Stupido Ritmo” which was also in the same album, and then followed by beautiful “Song of Seasons”, soundtrack of “Wonderful Indonesia” TV advertisement. Tense began to warm up when they played “3 Hari Untuk Selamanya”, since everybody started singing together. Oh yes this song was quite popular since it became original soundtrack of the 2007 same-titled movie starred by Nicholas Saputra.

The track then moved to arousing melody of “Indah Hari Itu”. Damn I love this song and in this live performance they played it much much better…!!! The melodic guitar tunes sound so clear and cool, yet it successfully melted my eardrum (ouch!) The way Meng voiced its lyrics was even more hypnotizing. I was in the stage of semi-trance by their miraculous playing–my body was deliberately moving, my lips didn’t stop singing, and as all audience carried it out together, I knew that we have blended into the same sense of music–I apparently got my “eargasm” (!)

Now that everybody heated up, we continued it vigorously. People were screaming, shouting, and yelling for their wanted song. Most audiences begged for “Sementara”, the others requested “Pulang”, while me, loudly shouted for “Surrender”. Yeah, SURRENDER…!!! And the Float guys knew that these three songs is probably people most favorite hits today, so they “save the best for the last”. Those three was played in sequence to close their performance.

Well, when the music stopped and the stage was closed down, we felt that we haven’t had enough. Some people yelled for “we want more!” But the guys have already turned to backstage. My friends brought me to follow them, but they seem so busy that I was a bit shy to take a picture with them…ha! Poor me 😐 Anyhow I felt sooo happy and sooo excited…! I went back home at 1 am that night while I have to be ready at office to work on 7 am promptly. I didn’t have good sleep but apparently I had a wonderful dream-comes-true. Thank you, Float! I hope we can meet again later this year. And I do hope you have prepared a surprise of new songs for us–the FloatMates! 😉

Tentang “Chemistry”

Tentang “Chemistry”
"Chemistry" is actually a chemistry

“Chemistry” is actually a chemistry

Tau “chemistry” kan? Bukan, bukan pelajaran Kimia lah. Chemistry yang bisa bikin kamu merasa nyaman dengan seseorang. Somehow yang namanya chemistry ini penting banget dalam sebuah hubungan sosial-interpersonal. Kamu bisa dekat sama sahabat2mu karena ada chemistry kan? Kamu bisa lengket sama pacarmu juga karena chemistry kan?

Pertanyaannya kemudian—gimana chemistry itu bisa tercipta? Kadangkala kamu gak bisa mendeskripsikan “kok aku bisa dekat sama orang ini yah”? “Kok kita bisa kompak banget yah?” Padahal dilihat dari segi manapun kalian beda banget—misalnya, padahal kalian awalnya bermusuhan—misalnya, yaa pokoknya hal2 lain yang secara logis kayak nggak mungkin aja gitu bisa mendekatkan kalian.

But you have to understand it guys—chemistry grows emotionally, not logically. Kamu bisa dekat dengan seseorang karena merasa bisa berbagi emosi bersama. Yaa “klop” aja gitu. Indikator paling nyata dari chemistry yang kuat, adalah sejauh mana kamu bisa nyaman menjadi dirimu sendiri bersama orang tersebut. Saat bersama, kalian gak perlu bingung mencari topik pembicaraan, gak perlu pusing jaim, semuanya mengalir begitu saja. Rasanya begitu mudah menghabiskan waktu bersama mereka, ngobrolin apa aja dan gak pernah kehabisan topik pembicaraan. Orang2 seperti itulah: sahabat2mu, gebetan2mu, pasanganmu, dan mungkin juga saudara2mu yang punya chemistry kuat dengan kamu.

Dan kadang chemistry ini gak bisa ditebak aja munculnya. Misalnya, kamu lihat seseorang, wah dia keren yah, kayaknya dia sepemikiran, kayaknya kita bisa berteman dekat–eh tapi waktu kalian dekat kok rasanya malah beda ya? Kok malah kaku gak bisa ngalir gitu ngomongnya? Sebaliknya, orang yang semula gak kalian sangka2 ternyata malah bisa “klik” sama kalian. Setelah bareng2 cukup lama ternyata dia malah jadi sobat lengket yang semakin akrab sama kalian.

Ada juga sih jenis “chemistry” yang emang sudah muncul dari awal, dan terus berkembang seiring semakin dekatnya hubungan. Misalnya sejak awal kamu emang ngerasa tertarik sama seseorang, dan setelah ngobrol ternyata emang kalian bisa “klik”, dan semakin dekat jadi semakin nyaman dan tau2 aja kalian sudah jadi sahabat erat. Perfect!

Tapi yang jelas, chemistry bisa muncul karena ada KESAMAAN, entah itu kesamaan minat,  pemikiran, pengalaman, latar belakang, atau apa sajalah yang bikin kamu merasa cocok berdiskusi dengan dia. Pasti itu. Gimana2 gak mungkin kalian bisa nyambung sama orang yang gak ada satupun “irisan”nya sama kalian.

Dan yang pasti, chemistry dipupuk oleh satu hal: WAKTU. Sebetulnya gak berlebihan kalo orang Jawa bilang, “witing tresna jalaran saka kulina.” Perasaan nyaman dan saling membutuhkan satu sama lain itu akan bertumbuh semakin banyak kalian menghabiskan waktu bersama. Kamu dan teman kosmu pasti udah kayak “soulmate” banget karena ke mana2 barengan, mulai bangun tidur sampe tidur lagi. Kamu dan rekan kerjamu pasti juga akan memahami satu sama lain seiring seringnya frekuensi bekerja bersama. Well, meskipun waktu juga gak menjamin sih. Walaupun kamu udah lamaaa banget kenal sama orang, tapi kalo dasarnya gak ada chemistry, dan masing2 tidak memiliki ketertarikan satu sama lain, dan juga tidak berusaha saling membuka diri, ya gak bakal deket juga lah.

Cuma kadang, “bibit” chemistry itu butuh disiram oleh waktu supaya bisa tumbuh. Tapi kalau dasarnya “bibit”nya aja udah gak ada, mau disiram sampe kapan juga gak bakal ada yang tumbuh, ya kan?

Yang jelas…hargailah orang2 yang kamu sudah berbagi “chemistry” dengan mereka. Chemistry itu sesuatu yang istimewa loh. Kamu tidak bisa mendapatkannya di setiap orang. Memang sih, kalau sudah “profesional” dan pandai basa-basi kamu bisa ramah dan mengobrol asik dengan semua orang. Tapi justru ciri mendasar dari sebuah chemistry adalah “effortless communication”--di mana kamu bisa bicara tanpa basa-basi, tulus, jujur, dan tanpa perlu pakai “topeng”. Murni karena kalian memang ingin lebih tahu satu sama lain.

Semakin banyak kamu berbagi chemistry dengan orang lain, semakin bahagialah kamu. Kabar baiknya, chemistry bisa diusahakan dari diri kita sendiri. Because “chemistry occurred most often between people who are down-to-earth and sincere”. Semakin kamu tulus, peduli, dan merakyat tentunya akan semakin banyak orang yang bisa merasa “klik” dengan kamu 😉

God bless you people!

Behind Kelud Volcano Eruption

Behind Kelud Volcano Eruption

In every natural disaster, there will always be a miracle. And today, Malang is the miracle. Located only few tens of kilometers from Kelud Mountain, Malang city feels nothing about the volcano eruption effect. While far away cities like Jogja and Solo (300 km) are suffered by Kelud materials rain, Malang stays “cool and clean”, just like nothing enormous has happened.

Right on Valentine’s Day 140214, Kelud volcano suddenly erupted. It was around 00.00 a.m. when people from surrounding area saw a very bright color in the sky, followed by frightening sound just like a thunderstorm. In the morning, many people surprisingly woke up with a sudden dust rain coming to their house.

Live picture of Kelud eruption taken from Wlingi-Blitar

Live picture of Kelud eruption taken from Wlingi-Blitar

I was in Surabaya that day and ready to go to office. The dust rain has also come to this city. Our factory floor becomes white because of the volcano ash, but a sudden (water) rain before evening washed away the ash trails–fortunately. In the same day, @bloggerngalam and @bmtberjamaahmlg community has connected to collect donation and distribute it to the victim areas near Malang city. The news then spreading and donations flowing till we can collect some million rupiahs in a day. Thanks God! Late in the evening I went back to Malang and we got prepared to distribute logistics we have bought.

The guys of @bloggerngalam and @BMTBerjamaahMlg ready to go :)

The guys of @bloggerngalam and @BMTBerjamaahMlg ready to go

The next morning, @haqqi @rendriy @_sandynata @fajarembun @winawibiy @elfarqy @sakekelana @ranirakhma @firasti @_oktavianidewi and me, made our journey to Batu and Pujon. The devastating effect of Kelud volcano was clearly shown there. Nothing left as a bare surface—the streets, roofs, and plants have all been covered by volcanic dust. Just like the city of ash. Situation has become even worse in the higher area of Ngantang and Kasembon. We didn’t go way up there because people said it was too dangerous, dust on the road was too thick (5-10 cm), and people there have been evacuated down hill to Batu and Pujon.

The city of ash

The city of ash

Those areas are only a stone’s throw away from Malang. Even from my house it’s only 30 minutes drive. But again, amazingly we didn’t get even a single particle of volcanic dust. The main reason is, at the time of Kelud eruption, the wind blew to the west, bringing 100-200 million cubic of volcano materials spreading over the western part of Java Island. Malang is a bit in the east side of Kelud, so eventhough we’re so close we didn’t get the dust rain. And you know what? People said that we were protected by Panderman hills—stand right between Batu and Pujon. These hills blocked Kelud materials rain from blowing into Malang city. See, how unbelievable it all goes 🙂

I cannot imagine how would it be if the dust rain has come so heavy over our houses. It’s so pity to see life of the refugees and I don’t want my family to live there. Malang is a miracle today, and we should all feel grateful because God bless us this time.

"White House"

“White House”

The gray village

The gray village

Well back to the guys, we kept walking (by car of course) around Batu-Pujon, and dropped logistics in several refuge centers. Schools, meeting buildings, and sport centers became a sudden place to live for all refugees. And then we continued walking until reaching the isolated village up there beyond Pujon, named Ndelik village (and all villages behind that I forgot the name). There, people still stayed at their house eventhough dust rained so heavy that all places became like sea of the ash. They even didn’t get a chance to obtain masks for protecting their respiratory–because the villages were just too far from logistic center. So when we came there, they enthusiastically snatched the masks we brought in just like a precious treasure.

When masks become treasure

When masks become treasure

Good girl gone masks

Good girl gone masks

On mid-day we have spent all logistics we had and going down back to Malang city. Every body was tired because we spent last night buying logistics and had less sleep. However we all feel grateful that we can at least do something to help the victims. We got new friends and built new connection–and yes for the sake of kindness and humanity, we will be stronger if we’re going together 🙂

God bless Malang!

Floating with “Float” Music

Floating with “Float” Music

“Float”, sebuah nama grup musik yang simpel tapi bermakna. Nama yang pas banget, sangat mewakili musik mereka yang bikin kita serasa “mengambang” saat mendengarnya. Grup musik ini ternyata sudah berdiri sejak 2004 di Jakarta, tapi ajaibnya saya baru tahu beberapa hari yang lalu gara2 mention-an seorang teman di Twitter. Jadi berasa “duuuhhh ke mana aja selama ini…?”

Pernah lihat film “3 Hari untuk Selamanya”? Nah mereka itu yang ngisi soundtrack film garapan Riri Riza dan dibintangi Nicholas Saputra tsb. Padahal film itu dirilis 2007 loh…saya sendiri belum pernah nonton…telaaattt banget deh baru tau sekarang~~

Yang jelas Float ini memang sempat vakum, dan mereka baru kelihatan eksis lagi setelah mengadakan even “Float2Nature” di dataran tinggi Dieng tahun 2012. Ini konsep pertunjukan yang keren banget sik, gabungan antara musik, perjalanan, dan alam. Jadi mereka manggung di alam terbuka gitu. Yah mirip2 even Jazz Bromo gitu kali yak. Sayang seribu sayang, even “Float2Nature” 2013 baru aja selesai 2-3 November kemarin di Sukabumi. Ketinggalan yaa =(( Even ini ternyata juga diliput sama MalesBanget.Com. Masih lama sih waktunya sebelum “Float2Nature” 2014, dan moga2 aja mereka mau ngadain di Jawa Timur…Ranu Kumbolo mungkin? *ngarep*

“Otak” dari Float ini adalah Hotma Roni Simamora alias Meng, sang penulis lagu, vokalis, dan gitaris. Bang Meng ini jago banget meracik musik yang unik dengan lirik yang menggigit *grauk*. Lagu2 Float ada yang bahasa Inggris dan Indonesia, tapi entah kenapa lagu yang bahasa Indonesia terasa lebih spesial. Ketika lagu2 Indonesia sekarang terkesan gombal, absurd, pakai kata2 cengeng atau slang nyeleneh yang merusak bahasa, Float serasa mengembalikan bahasa Indonesia pada posisinya yang terhormat. Seperti cara Ebiet G Ade meramu lirik2nya yang everlasting, pun demikian bahasa lirik Float. Puitis tanpa terkesan gombal. Getas, bernas, dan entah kenapa terasa lebih “kena” di hati *eilaahhh* Ini suatu kemajuan bagi kita yang sekarang lebih sering dibombardir kata2 indah dalam bahasa Inggris sampai lupa kalau bahasa ibu kita ini aslinya juga indah loh.

Float members (ki-ka): Meng, Raymond, Bontel

Float members (ki-ka): Meng, Raymond, Bontel

Dari segi musik, mereka mendeskripsikannya sebagai “folk rock”. Saya sih gak begitu ‘ngeh’ sama berbagai jenis aliran musik ya…pokoknya enak aja didenger gitu :3 Tapi emang “ramuan musik” mereka kaya rasa banget, bermacam2 bahan mereka masukin dan dimasak dengan luar biasa, bikin siapapun yang mencicipi musiknya jadi ketagihan pingin dengar lagi 😀 Komposisi utamanya tetaplah gitar akustik, tapi di beberapa lagu mereka masukkan berbagai jenis unsur musik sehingga kadang terasa agak “reggae”, “walts”, “jazz” yah macem2 lah pokoknya.

Gimana, udah penasaran kan sama grup musik yang satu ini? Yuk ah langsung aja dengerin karya2 orisinil mereka di sini. Kalau mau denger karya2 yang ditampilin di “Float2Nature” silakan cusss ke sini. Stay update juga dan follow mereka di @floatproject dan @float2nature *berasa ngiklan banget nih* 😛

FYI ini lagu2 Float favorit saya:

1) “3 Hari untuk Selamanya”, lagu ini ternyata punya versi awal berjudul “Biasa”. Musiknya “ngundang” banget dan gak bosen2nya dengerin. Racikan kata2 dalam liriknya hampir seperti puisi, membuat cerita tentang jatuh cinta terasa “nyeeesss” di hati…

Lewat sudah
Tiga hari ‘tuk s’lamanya
Dan kekallah
Detik-detik di dalamnya
Tumbuh sejuta rasa di hati yang dulu diingkari
“Mungkinkah cinta itu disana?” dua hati mereka

Kalau di lagu “Biasa”, liriknya jadi kayak gini:

Janji-janji
Terucap tanpa sadari
Kata hati
Tiada didengarkan lagi
Waktu berlalu, harap pun jadi hasrat ‘tuk memiliki
Cinta jelita masih di mata, belum turun ke hati

Lagu dengan notasi yang persis sama, beda lirik jadi beda cerita, tapi sama bagusnya 🙂

2) “Sementara”, kalau disimak2 sebetulnya ini tergolong “lagu galau”, tapi cerita patah hati ini berhasil dikemas dalam lirik yang PAS banget, emosional tanpa terkesan cengeng. Lagu yang terasa personal dan mendamaikan =))

Sementara… teduhlah, hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara… ingat lagi mimpi
Juga janji-janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Jangan henti disini

Nikmatilah lara

Untuk sementara saja

3) “Pulang”, satu lagi lagu yang teduh, dengan petikan gitar yang adem… bikin suasana mengharu biru dan jadi pengin “pulang” beneran 😛

Dan lalu…
Rasa itu tak mungkin lagi kini
Tersimpan di hati
Bawa aku pulang, rindu!
Bersamamu!

Dan lalu…
Air mata tak mungkin lagi kini
Bicara tentang rasa
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!

Jelajahi waktu
Ke tempat berteduh hati kala biru

4) “Too Much This Way”, musiknya unik, ada bau2 reggae atau ska gitu dengan latar saxophone yang kental. Liriknya tentang cinta apa adanya yang sweet banget lah pokoknya 😀

No star-gazing late at night
And no candle light
No French-speaking, no moonlight
It just came out right

No wondering words to say
And no music play
It’s just simply found today
Love’s too much this way

It takes no moon, it takes no sunshine
And neither June with the bluest skies
She wore no perfume, I brought no wine

My love is hers, her love is mine

5) “Surrender”, ini intro-nya sedeeeppp bangettt… Petikan gitarnya wow banget, dan di tengah2 ada kayak bau2 musik latin gitu. Emang di liriknya juga ada proverb Italia sik. Lagu ini jadi lagu temanya serial TV Hongkong “Heroes” session 2 loh 😉

To the future we surrender
Life’s to live and love’s to love
To the future we surrender
Life’s to live and love’s to love

6) “Waltz Musim Pelangi”, lagu unik berirama waltz yang memanjakan telinga…pernah dirilis dalam album kompilasi “Songs Inspired by Laskar Pelangi”.

Dahanku tampak dari jauh
dan sepuluh rupa pemuja
menanti pelangi meski dunia
tak lagi terpana

Dan tiap-tiap pandang tertuju
pada gerimis yang dirindu
Akankah kali ini bersamanya lagi
pelukis langitku?

7) “No-Dream Land” Musiknya kayak opera2 gitu, liriknya makjleb banget, nyindir pekerja kantoran yang terjebak dalam rutinitas dan gak berani merealisasikan mimpi sesungguhnya hahaha *jleb*

Running down the corridor in such fancy suit
To catch another 9 to 5
Hiding all your true desires and keep all of them mute
Seems the only way to survive
The never ending story of this no-dream land
Is on the morning headline all this time
Our hesitation is our every day’s game
Is this the land that God’s condemned?

Masih banyak lagi lagu2 jagoan Float lainnya: “I.H.I.” (Indah Hari Itu), “Stupido Ritmo”, “Ke Sana”, “Tiap Senja”, dll. Kalau mau lihat semua lirik lengkap lagu2 Float silakan ke sini. Selamat menikmati musik Indonesia 😀

Bersepeda kau kubonceng di depan
Kubilang jok b’lakangnya lenyap semalam
‘Ntah apa memang perlu
semua siasat itu

Kucuri hirup wangi rambut barumu
Makin cepat kukayuh pedal s’pedaku
Tawamu berhamburan
Raguku pudar
Yakin kupastikan
harapanku berkembang

Terang saja langitku
masih sempat c’rah biru
meski musim kian tak menentu
Indah hari itu

(Float, Indah Hari Itu)