My Bestest Dad

-The Princess and The King-

Ngomong soal bapakku, gak akan habis kata2 pujian dipake. He’s the bestest man in the world I’ve ever seen. Better than Obama. Better than Gandhi. Better than Luther. For me, he’s not only the best, but the bestest.

I’ve seen so many illogical sacrifice he had done for me. For the sake of his family. Bapakku tipe family man sejati. Dia tipe ayah yang gak bisa jauh2 dari keluarga. Dia bukan tipe orang yang suka kerja keras nun jauh di sana dan meninggalkan keluarganya sendirian. Dia tipe ayah yang gak suka ngelihat anak-anaknya tumbuh dewasa tanpa kehadirannya. Dia tipe ayah yang selalu ada setiap dibutuhkan, selalu setia kapanpun diperlukan. Dia tipe ayah yang pasti diinginkan semua anak di dunia ini. Dan aku beruntung banget, memilikinya sebagai ayahku…

Aku hampir nggak pernah lihat Bapakku marah. Cadangan kesabarannya yang luar biasa melimpah ruah seringkali bikin orang2 di dekatnya terheran-heran. Susah deh kalo mau musuhan sama bapakku. Orangnya gak pernah cari gara2 dan gak pernah menyulut emosi orang. Selalu mengalah, selalu memberi kesempatan bagi yang lain, selalu dicintai dan dinanti. That’s my Papa.

Bapakku orang yang suka berada di comfort zone. Gak suka neko2 dan suka hidup tenang. Impiannya adalah suatu saat bisa kembali ke kampung, bertani di tegalan…=D Bapakku suka banget denger lagu2 nostalgia dan campursari, terutama Ebiet G.Ade, Gombloh, Iwan Fals, Didi Kempot, Cak Diqin, dll (ini juga yang akhirnya nular ke aq…hohoho) Lagu favoritnya berjudul “Lagu untuk Sebuah Nama”, karangannya Ebiet G.Ade. Katanya sih lagu ini ngingetin dia pas zaman2 SMP dulu…waktu dia naksir cewek dan gak berani ngomong. Hehehe…

Bapakku orang yang gak jaim sama sekali. Seperti laki2 pada umumnya, dia gak lepas dari kebiasaan2 ‘manusiawi’ seperti: suka ngorok, ngiler, dan kentut sembarangan (hahaha…xp). Tapi salutnya, dia GAK NGEROKOK. Sekali2 pernah sih kalo lagi ngumpul sama temen2nya, tapi gak pernah sampe ketagihan. Rumah saia higienis dan sehat, bebas nikotin. Hohoho…

Berlawanan sama ibuku, bapakku adalah orang yang super pendiam. Kalo senang cukup ditunjukkan sama senyumnya yang sederhana. Kalo marah cukup diam tanpa kata2. Pernah baca buku Sang Pemimpi-nya Andrea Hirata? Bapakku nyaris persis dengan ayah Andrea yang dia lukiskan di bukunya. Pendiam. Tulus. Rendah hati. Tapi punya sejuta kasih dan pengharapan di dalam hatinya.

Kasihnya nggak pernah berhenti. Mengalir deras buatku dan keluargaku, sampai aku nggak bisa lagi menampungnya. Tumpah, meluber ke mana-mana. Menghujani hari-hari kami. Mengaliri langkah-langkah kami. Membentuk sebuah sungai yang membawa kami mengarungi kehidupan…

Di dunia ini, dialah satu2nya orang yang nggak mau aku kecewakan. Satu2nya orang yang bisa bikin aku melakukan apapun demi melihatnya tersenyum. Buat dialah semua yang udah dan akan diraih aku persembahkan. Coz I’m really proud of being his daughter…

…and I really wanna make you proud of me.

I luph ya, Dad^^