Graduated (again)

Graduated (again)

Pernah dengar istilah “graduation effect“? Itulah perasaan yang muncul seperti saat kamu lulus sekolah–ketika kamu akan meninggalkan suatu tempat, orang2 di situ, dan semua kenangan yang ada di dalamnya. Rasanya nano-nano kan. Antara sedih karena harus pergi dari tempat yang berkesan dalam, tapi juga lega karena akan segera menyongsong masa depan. Dan saya sedang mengalami saat-saat itu lagi sekarang…

Hari ini adalah hari terakhir saya bekerja. Setelah 2 tahun menimba ilmu di perusahaan ini, tiba juga saatnya “level-up” ke tahap selanjutnya. Rasanya gado-gado. Jujur, perusahaan ini sudah seperti rumah kedua (jangan ketawa yaa!). Tinggal sendiri di kota tetangga tanpa keluarga, siapa lagi yang menjadi “keluarga”mu selain teman-teman kantormu? Hampir semua waktu juga dihabiskan di kantor. Masuk jam 7 pagi sampai jam setengah 5 sore, plus setengah hari Sabtu, bikin ‘thuwuk’ ketemu kantor…

Saat kuliah dulu, awalnya nggak sekalipun ada pikiran untuk bekerja di perusahaan ini. Tapi takdir berkata lain, dan saya percaya tidak ada yang namanya kebetulan. Tuhan mempertemukan kita dengan orang2 tertentu, meletakkan kita di tempat2 tertentu, dan menempatkan kita di saat2 tertentu, semata supaya kita bisa belajar sesuatu. Karena setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah, dan seumur hidup adalah proses pembelajaran.

Terima kasih SInar Baja. Terima kasih teman-teman semua. Dua tahun yang sangat mendewasakan. Semoga kita dapat bertemu lagi dan selamat menyongsong masa depan yang lebih baik 🙂

Surabaya, 25 Juli 2014.

Sunset di pabrik...

Sunset di pabrik…

 

Becoming a Mother

Becoming a Mother

Menjadi Ibu. Terasa masih jauh sekali dalam angan-angan. Meskipun setiap kali membuka news feed Facebook, ada saja berita tentang teman yang hamil, teman yang melahirkan, serta foto bayi-bayi mereka. Rasanya sedikit aneh memang, ketika teman yang seumuran dan menghabiskan masa muda menggila bersama, tiba-tiba sekarang sudah harus duduk anteng menimang bayi. Rasanya kayak…hallooo aku masih pencilak’an mblakrak ke mana2 dan kamu tiba2 udah harus nyusuin bayiii…??? It’s like WOW…

mother

Buat saya, menjadi Ibu adalah pencapaian tertinggi dalam hidup seorang perempuan, yang nggak bisa dilakukan begitu saja tanpa persiapan yang matang. Setiap kali menjenguk teman yang habis melahirkan dan melihat bayi mereka, ada suatu gelenyar aneh yang tiba2 muncul di dalam perut. Gak bisa bayangin gimana rasanya perut yang super kecil ini tiba2 diisi seorang anak manusia sebesar itu, yang dikeluarkan lewat lubang sesempit itu. Pasti perjuangan yang beraaattt sekali. Belum lagi setelah melahirkan, menyusui dengan payudara yang sakit dan bengkak, harus bangun tengah malam mengganti popok, dan siap siaga jika bayinya menangis tiba2. Pada saat yang sama, kamu juga harus tetap menunaikan tugas seorang istri; mengurus rumah tangga dan semua kebutuhan suami seperti biasanya. It’s just such a great job of woman…

Tiba2 saya langsung sadar diri. Kamar kos yang berantakan. Barang2 yang sering lupa ditaruh di mana. Hobi gegoleran dan #mager sampe lupa waktu. Mengurus diri sendiri saja belum becus, bagaimana bisa mengurus orang lain?

Pikiran saya pun tiba-tiba juga dipenuhi hal-hal seperti, “biaya melahirkan normal aja sekarang 8 juta…caesar 16 juta…harga susu sekaleng Rp 200ribu cuma buat seminggu…uang pangkal Madrasah favorit itu sekarang 20 juta…biaya les musik dan renang…” Duh luar biasa. Serentetan tanggung jawab yang muncul ketika memiliki seorang anak mendadak berkelebat seperti adegan flashback. 😐

Tapi lebih jauh dari segala tanggung jawab fisik dan finansial itu, saya memikirkan tanggung jawab mental. Sudah pantaskah saya dipanggil Ibu? Pantaskah anak saya mencontoh perilaku saya? Apakah saya sudah cukup capable untuk mendidiknya? Apakah saya layak menjadi teladan baginya? Bagaimana dia bisa belajar dari kesalahan-kesalahan saya? Bagaimana dia bisa tumbuh menjadi manusia yang jauh lebih baik daripada saya?

Ini tanggung jawab yang jauh lebih berat. Sementara saya masih sibuk mencari jati diri, menguatkan jiwa, menegaskan di garis mana saya akan berdiri dan di jalan mana saya akan menempuh perjalanan hidup.

Tapi bagaimanapun beratnya tanggung jawab itu, tentu saja saya sangat ingin menjadi seorang Ibu. It was my biggest dream. Even since few years ago I have already chosen a name for my own children. My son will be named “Rayhan Anggara”, and my daughter will be named “Kirana Aisha”. They will grow up legendary to be a great man and a great woman in their era. And people will ask…who’s their mother? And I couldn’t be prouder than ever…to be a mother of such a great persons like them :’)

mother2Halo Ray, anak lelakiku. Ibu tahu kamu akan menjadi laki-laki yang hebat. Kamu laki-laki yang tidak arogan, tidak kasar, dan tidak mementingkan dirinya sendiri. Kamu adalah laki-laki yang peka. Kamu kuat tapi melindungi. Kamu pandai tapi mengajari. Kamu berkecukupan tapi berbagi. Kamu punya prinsip dan dengan tegas menjalankannya. Karena kamu tahu? Laki-laki tidak dinilai dari hartanya ataupun jabatannya, tetapi dari kekuatan jiwa dan kebesaran hatinya.

Halo Ray, anak lelakiku. Jangan protes jika sekarang Ibu menyuruhmu les renang dan memintamu les musik. Manusia yang memahami kehidupan, adalah manusia yang menikmati seni dan alam bebas. Alam bebas menguatkan jiwamu, dan seni menjadikannya peka. Jiwa yang kuat tetapi peka, itulah yang Ibu harapkan dari seorang laki-laki tangguh sepertimu. Jadi Ray, selagi masih muda berpetuanglah, lakukan apa yang kamu mau, temukan apa yang menjadi renjanamu–Ibu tidak akan melarangmu, selama kamu tetap berpegang teguh pada prinsip hidupmu.

Halo Ray, anak lelakiku. Sangat penting untuk menjadi laki-laki tegas yang berprinsip kuat. Dunia semakin lama semakin berputar dengan cepat. Tidak bisa lagi dipisahkan mana yang salah dan mana yang benar. Kamu harus bergantung pada tali pegangan yang bisa diandalkan, yang tidak akan membuatmu tersesat, yang akan menjadi pijakanmu saat kamu harus memimpin keluargamu kelak. Kamu harus menjadi laki-laki yang berpegang teguh kepada ajaran Tuhan. Karena hanya Dia-lah, satu-satunya tempat yang layak untuk bergantung. Laki-laki diciptakan untuk menjadi pemimpin, Ray, dan yakinlah bahwa kamu akan menjadi pemimpin yang luar biasa dengan Tuhan berada di sisimu.

Halo Rana, anak perempuanku. Ibu tahu kamu akan menjadi perempuan yang mengagumkan. Kamu memiliki segalanya lebih dari seorang peserta kontes ratu kecantikan; beauty, brain, behavior, dan yang terpenting, belief. Ibu akan bilang padamu, nikmatilah masa mudamu. Hang-out lah dengan teman2 sebayamu, ke mall, kafe, menonton konser, berdandan, dan berkencan. Bertengkarlah dengan sahabatmu, patah hatilah dengan kekasihmu, karena di situlah kamu akan belajar untuk menjadi kuat dan dewasa. Asahlah kecerdasan emosimu dan kematangan spiritualmu, agar sebanding dengan kekuatan logikamu. Kamu akan menjadi gadis yang lembut tapi mandiri. Kamu bekerja keras tapi peduli. Kamu mengerti tapi tak banyak bicara. Kamu bisa mengungguli laki-laki, tapi kamu memilih untuk melengkapinya.

Halo Rana, anak perempuanku. Kamu tahu bahwa perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Kamu harus sadar bahwa sehebat-hebatnya kamu, tetaplah hanya sepotong tulang rusuk. Kamu membutuhkan tubuh tempatmu melekat, dan kamu akan mengikuti selalu ke mana tubuhmu itu pergi. Karena itu, pilihlah baik-baik pada tubuh mana kamu akan melekat. Pilihlah tubuh yang akan membawamu ke jalan yang benar, sehingga kamu tidak ikut tersesat. Pilihlah tubuh yang akan memperlakukanmu dengan hati-hati dan terhormat. Sebab itulah keputusan terbesar yang harus diambil perempuan–yang akan menentukan sisa hidupnya kelak.

Halo Rana, anak perempuanku. Akan Ibu pastikan kamu memperoleh apa yang dulu tidak Ibu peroleh. Kamu akan melakukan apa yang Ibu sesali tidak pernah Ibu lakukan sendiri. Kamu akan belajar dari semua kesalahan Ibu. Kamu akan memahami dari semua pengalaman Ibu. Kamu akan menjadi perempuan yang jauh lebih hebat daripada Ibu.

Halo Ray dan Rana, anak-anakku. Kamu tahu Ibu sedang memantaskan diri untuk bisa mendidik kalian menjadi manusia yang luar biasa…

Tentang “Chemistry”

Tentang “Chemistry”
"Chemistry" is actually a chemistry

“Chemistry” is actually a chemistry

Tau “chemistry” kan? Bukan, bukan pelajaran Kimia lah. Chemistry yang bisa bikin kamu merasa nyaman dengan seseorang. Somehow yang namanya chemistry ini penting banget dalam sebuah hubungan sosial-interpersonal. Kamu bisa dekat sama sahabat2mu karena ada chemistry kan? Kamu bisa lengket sama pacarmu juga karena chemistry kan?

Pertanyaannya kemudian—gimana chemistry itu bisa tercipta? Kadangkala kamu gak bisa mendeskripsikan “kok aku bisa dekat sama orang ini yah”? “Kok kita bisa kompak banget yah?” Padahal dilihat dari segi manapun kalian beda banget—misalnya, padahal kalian awalnya bermusuhan—misalnya, yaa pokoknya hal2 lain yang secara logis kayak nggak mungkin aja gitu bisa mendekatkan kalian.

But you have to understand it guys—chemistry grows emotionally, not logically. Kamu bisa dekat dengan seseorang karena merasa bisa berbagi emosi bersama. Yaa “klop” aja gitu. Indikator paling nyata dari chemistry yang kuat, adalah sejauh mana kamu bisa nyaman menjadi dirimu sendiri bersama orang tersebut. Saat bersama, kalian gak perlu bingung mencari topik pembicaraan, gak perlu pusing jaim, semuanya mengalir begitu saja. Rasanya begitu mudah menghabiskan waktu bersama mereka, ngobrolin apa aja dan gak pernah kehabisan topik pembicaraan. Orang2 seperti itulah: sahabat2mu, gebetan2mu, pasanganmu, dan mungkin juga saudara2mu yang punya chemistry kuat dengan kamu.

Dan kadang chemistry ini gak bisa ditebak aja munculnya. Misalnya, kamu lihat seseorang, wah dia keren yah, kayaknya dia sepemikiran, kayaknya kita bisa berteman dekat–eh tapi waktu kalian dekat kok rasanya malah beda ya? Kok malah kaku gak bisa ngalir gitu ngomongnya? Sebaliknya, orang yang semula gak kalian sangka2 ternyata malah bisa “klik” sama kalian. Setelah bareng2 cukup lama ternyata dia malah jadi sobat lengket yang semakin akrab sama kalian.

Ada juga sih jenis “chemistry” yang emang sudah muncul dari awal, dan terus berkembang seiring semakin dekatnya hubungan. Misalnya sejak awal kamu emang ngerasa tertarik sama seseorang, dan setelah ngobrol ternyata emang kalian bisa “klik”, dan semakin dekat jadi semakin nyaman dan tau2 aja kalian sudah jadi sahabat erat. Perfect!

Tapi yang jelas, chemistry bisa muncul karena ada KESAMAAN, entah itu kesamaan minat,  pemikiran, pengalaman, latar belakang, atau apa sajalah yang bikin kamu merasa cocok berdiskusi dengan dia. Pasti itu. Gimana2 gak mungkin kalian bisa nyambung sama orang yang gak ada satupun “irisan”nya sama kalian.

Dan yang pasti, chemistry dipupuk oleh satu hal: WAKTU. Sebetulnya gak berlebihan kalo orang Jawa bilang, “witing tresna jalaran saka kulina.” Perasaan nyaman dan saling membutuhkan satu sama lain itu akan bertumbuh semakin banyak kalian menghabiskan waktu bersama. Kamu dan teman kosmu pasti udah kayak “soulmate” banget karena ke mana2 barengan, mulai bangun tidur sampe tidur lagi. Kamu dan rekan kerjamu pasti juga akan memahami satu sama lain seiring seringnya frekuensi bekerja bersama. Well, meskipun waktu juga gak menjamin sih. Walaupun kamu udah lamaaa banget kenal sama orang, tapi kalo dasarnya gak ada chemistry, dan masing2 tidak memiliki ketertarikan satu sama lain, dan juga tidak berusaha saling membuka diri, ya gak bakal deket juga lah.

Cuma kadang, “bibit” chemistry itu butuh disiram oleh waktu supaya bisa tumbuh. Tapi kalau dasarnya “bibit”nya aja udah gak ada, mau disiram sampe kapan juga gak bakal ada yang tumbuh, ya kan?

Yang jelas…hargailah orang2 yang kamu sudah berbagi “chemistry” dengan mereka. Chemistry itu sesuatu yang istimewa loh. Kamu tidak bisa mendapatkannya di setiap orang. Memang sih, kalau sudah “profesional” dan pandai basa-basi kamu bisa ramah dan mengobrol asik dengan semua orang. Tapi justru ciri mendasar dari sebuah chemistry adalah “effortless communication”--di mana kamu bisa bicara tanpa basa-basi, tulus, jujur, dan tanpa perlu pakai “topeng”. Murni karena kalian memang ingin lebih tahu satu sama lain.

Semakin banyak kamu berbagi chemistry dengan orang lain, semakin bahagialah kamu. Kabar baiknya, chemistry bisa diusahakan dari diri kita sendiri. Because “chemistry occurred most often between people who are down-to-earth and sincere”. Semakin kamu tulus, peduli, dan merakyat tentunya akan semakin banyak orang yang bisa merasa “klik” dengan kamu 😉

God bless you people!

Bali “Tourist” Trip

Bali “Tourist” Trip

Setelah postingan soal backpacker-an ke Jogja, sekarang ada sedikit cerita tentang perjalanan ke Bali 19-21 April kemarin. Masih sama orang2 kantor sih. Cuman bedanya, kali ini staff satu kantor ikut semua. Yah namanya aja rekreasi bonus, jadi semuanya full dibayarin perusahaan. Makanya ini trip lebih pantes disebut “tourist” trip ya, bukan backpacker-an. Secara kita sudah pakai travel agent yang mengatur semua jadwal perjalanan, objek  wisata, akomodasi, konsumsi, transportasi, yah pokoknya tinggal terima jadi lah. Kita tinggal duduk dan seneng2 aja sih. Bener2 turis.

Honestly, selama 22 tahun tinggal di Indonesia, ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pulau Dewata. Serius. Ih, gak usah sampe mlongo gitu deh… Nih langsung aja simak skrinsyut-nya yah…!

Sebelum take-off from Juanda jam 05.15 pagi (gila) on Air Asia

Breakfast at Burger King Ngurah Rai Airport

Sesaji dan arca, selalu ada di depan hampir semua toko dan rumah Bali

Marketing girls at Danau Bratan – Bedugul

Sesi motivasi sambil lunch di Warung Rekreasi Bedugul

Pantai Tanah Lot, ombaknya pas lagi kenceng banget. Mampir ke Holy Water (sumber air tawar) di bawah pura tengah laut.

Penunggang Penyuuuuu

Ini nih ya. Pas  di Tanjung Benoa ini sempet ngicipin yang namanya mainan “FLYING FISH”. Sayang banget enggak ada fotonyaaa… huhuhu T^T. Ini mainan seru banget. Jadi ada 2 banana boat dijadikan satu, kamu dan 1 temanmu berdiri bersandar (kayak pose disalib) di atasnya. Ada guide-nya di tengah2. Lalu motorboat akan menarik kita  sehingga kita meluncur di atas airrr…so fasttt…sampe akhirnya kita melayang terbang di atas laut! Jadi kayak “layangan” gitu deh. Harganya Rp 150ribu. Bisa ditawar sih mestinya.

Private beach di belakang resto Bebek Bengil (The Bay, Nusa Dua)

Nah kalo yang ini di daerah elit-nya Bali: Nusa Dua. Jadi di sini ada kompleks resto mewah yang bagian belakangnya adalah deretan private beach…namanya THE BAY. Cocok lah kalo mau ngadain pesta pinggir pantai gitu.

Waiting for THE BLOW…yeaaaahhhh!!!

Nah ini nih…ini nih bagian PALING SERU dari rangkaian tur ke Bali ini…WATER BLOW!!! Tempatnya dekat The Bay. Ini adalah sebuah pantai dengan ombak kencang dan karang2 tajam nan besar. Perpaduan ini menjadikan deburan ombaknya terasa WOW bangeeettt. Konon katanya pernah ada yang meninggal gara2 tersapu ombak di sana. Makanya dibangunlah jembatan di atasnya supaya para turis bisa menikmati sangarnya ombak Water Blow tanpa khawatir.

Mau tau sensasinya? Kayak kena tsunami! Serius. Badan dihantam ombak setinggi 2 meter yang bikin kamu langsung basah kuyup dari ujung rambut sampai kaki. Tapi SERU GILA!!! Di sini tempatnya kamu seru2an dan gila2an sama  temen2 kamu, asal gak takut basah aja sih. Simak aja nih videonya, pasti kepingiiiinnn 😀

Nah habis dari Nusa Dua ini sebenernya kita ke Pura Uluwatu dan menonton Tari Kecak sambil lihat sunset. Ini juga KEREN BANGEEETTT. I took some good sunset pictures with Kecak Dance…but it’s on my friend’s camera…will post it later yaa!

Dinner romantis di pinggir pantai Jimbaran <3 Mau deh kalo ke sini lagi pas bulan madu :))

All SBE Crew at Garuda Wisnu Kencana

Pantai Kuta yang ramai, kotor, dan begini2 aja. Apa bagusnya?

Ya udah gitu aja sih. Namanya juga “tourist” trip, jadi ya begini2 aja. Tinggal ngikut guide-nya aja. Pulang-pergi naik pesawat, nginep di hotel bintang empat, makan di restoran mewah, pergi ke objek wisata “mainstream”…ya kalo gratis gini enggak apa-apa sih. Tapi lain kali bakal lebih seru lagi yaa kalo bisa “mbolang” backpacker-an di Bali. Masih pengin ke Ubud, masih pengin masuk Pura, masih pengin ngobrol2 sama seniman Bali, masih pengin ke pantai2 perawan yang turisnya sedikit. Well…someday I will…! 😀

Jogja-Gunung Kidul “Adventure” Trip

Jogja-Gunung Kidul “Adventure” Trip

Ini sedikit flashback aja sih tentang perjalanan saya dan teman2 kantor ke Jogja sekitar 2 bulan lalu (9-11 Maret 2013). Kami sembilan cewek yang  hobi jalan2 pengin aja gitu melancong ke Jogja, tepatnya ke daerah Gunung Kidul. Yang jelas ini perjalanan ala “backpacker”, karena kita gak ngambil paket tour dari suatu travel agent. Semua objek wisata, akomodasi, dan transportasi udah kita susun sendiri dari awal. Cukup melelahkan memang (terutama sulitnya cari akomodasi karena pas libur kejepit), but really, worth it! 😉

Cewek-cewek kantoran hobi jalan-jalan

Biarpun kalian udah pernah ke Jogja, tapi jarang  yang udah pernah ke Gunung Kidul kan? Daerah ini merupakan Kabupaten di Jogja yang paling miskin dan terbelakang, penduduknya sering kekurangan air, ya pokoknya kasian gitu deh. Padahal daerah gunung kapur ini potensi alamnya besar sekali lho. Well…bisa dibilang inilah surganya wisata alam Jogja! Well, kalau kamu pecinta nature travel, this is your home! Bayangin, dalam sehari aja, kita bisa mengunjungi 3 objek wisata alam berbeda dan semuanya gak ada yang mengecewakan! Simak nih ya:

1. Air Terjun Sri Gethuk

Air terjun kembar tiga. Tiket masuk cuma Rp 3.000. Kalo mau naik rakit tarif per orang sekali jalan Rp 5.000 (PP jadi Rp 10.000). Bening dan seger banget. Hati2 yah lantai air terjunnya licin, bisa kepeleset. Lebih bagus ke sini pas musim kemarau jadi sungainya enggak keruh kena lumpur.

Naik rakit menuju air terjun. Sayang pas musim ujan, jadi sungainya keruh.

Air Terjun Kembar Tiga

Jernihnya dan segarnya mata air…

Makan siang di pinggir kolam ikan

2. Cave Tubing Kalisuci

Ini yang paling asyik! Wisata susur gua di Indonesia satu2nya emang cuma ada di Gunung Kidul. Yang merintis ekowisata ini dulu adalah si Cahyo Alkantana–tau kan, petualang beken yang jadi host program “TEROKA” di Kompas TV itu loh. Tarifnya murah meriah, cuma Rp 65.000 per orang! (Bandingkan sama rafting yang bisa Rp 150.000-Rp 300.000 per orang).

Get ready before going down! Nine girls in action 😀

Basically di sini kamu di ajak menyusuri sungai dalam gua sambil naik ban (tube). Jadi bayangin aja badanmu telentang di atas ban dan kamu terombang-ambing mengikuti arus sungai, persis kayak kura-kura terbalik! 😀 Pada awalnya mungkin kamu bakalan takut memasuki gua yang gelap dan penuh kelelawar…tapi tenang aja, ada guide nya kok. Mereka yang membawa penerangan dan memberi penjelasan tentang relief2 dalam gua dll, kita tinggal tiduran sambil ngapung2 aja di atas ban =)) Well, di dalam gua gelap pekat sih, ya kayak mati lampu gitu. Mungkin kamu bakal merasa takut terpisah dari rombongan, apalagi kamu kan telentang jadi gak punya kontrol atas banmu. Tapi tenang aja, posisi kita udah dibikin berantai, kaki satu orang terkait pada pundak orang di depannya dan dipegang erat, jadi kita gak bakal terpisah.

Siap2 sebelum masuk gua

Kamu penasaran pengin lihat kelelawar dalam gua? Well, agak mengecewakan sih, soalnya di dalem gua gelap banget jadi kelelawarnya  enggak bisa kelihatan jelas, paling cuma kedengeran suara berisiknya aja (dan hati2 kejatuhan kotorannya :P) Lagian kata guide-nya, kelelawar di dalam gua semakin sedikit karena guanya sering dilewati wisatawan.

“Pating kemampul” di atas ban, kayak kura2 kebalik 😛

Menurutku bagian paling mengasyikkan dari cave tubing ini yaa…sensasi mengapung di atas bannya itu. Pas kita udah keluar gua, kita bisa telentang melihat langit dengan jelas. Feels so relaxing. Damai banget, terombang-ambing mengikuti arus sungai sambil lihat langit yang jernih. Sampe merem-melek gitu hihihi.

Sudah keluar dari mulut gua

POSE BINTANG 😀

Kalau tertarik pengin coba wisata Cave Tubing Kalisuci ini, silakan aja hubungi CP-nya. Namanya Pak Muslam (087 738 794 513). Sebenernya ada banyak gua lain yang bisa buat cave tubing, misalnya Gua Pindul, tapi infonya cari sendiri yah, hehehe. Oiya, kalau mau wisata cave tubing ini harus dilakukan pada saat musim kemarau, karena kalau pas hujan deras berbahaya bisa mengakibatkan kematian. Waspadalah!

3. Pantai Indrayanti

Ini juga asyik! Inilah pantai terkeren yang pernah saya datangi, terutama karena berhasil dapet foto sunset yang keren2! 😀 Memang Gunung Kidul terkenal dengan pantai2nya yang eksotis, yah kayak Malang Selatan gitu deh. Tapi bedanya di sini lebih dijaga kebersihannya dan lebih serius dikembangkan sebagai objek wisata. Di pantai ini juga ada semacam baywatch dan petugas kebersihan pantai lho! Toiletnya juga banyak dan bersih. Jadi ini pantainya betul2 bersih sekali enggak ada sampah, keren kan!

Pantai Indrayanti: laut biru, pasir putih, dan bukit karang

Pantai Indrayanti dilihat dari puncak bukit karang…KEREN!

Deburan ombak dari puncak bukit karang

Waktu yang paling tepat untuk datang ke sini sekitar jam setengah 5 sore. Matahari nya betul2 bagus dan kamu gak perlu menunggu lama untuk berburu sunset. Paling seru kalau kamu naik sampai puncak bukit karang dan menikmati pemandangan dari atas sana…betul2 luar biasa. Bikin kamu menahan napas dan berdecak kagum. Kamu serasa ada di puncak dunia *tsaaahhh* Yang sedikit merusak suasana adalah banyaknya muda-mudi pacaran sembarangan, jadi enggak khusyuk deh menikmati pemandangan alam *aslinya kepingin sih* 😛

Nih yaaaaaaaa…saya mau pamer foto-foto sunset yang keren-keren ini…Duh berasa udah jadi fotografer kalender aja. Tapi serius, pantai ini wajib dikunjungi bagi para pemburu sunset!

Sunset yang kereeeeennnnnnn bangeeetttttttt

Siluet sunset

Sunset yang SANGAT KEREN, Bali gak ada apa2nya!

 

Nah demikian sedikit kilas balik tentang perjalanan ke Jogja. Sebenernya hari kedua kami jalan2 di kota Jogja-nya sih, naik TransJogja, ke Candi Prambanan, Cokelat Monggo, Malioboro, dll. Tapi kayaknya udah biasa gitu, jadi gak perlu diceritain lah ya. Yang jelas, selamat mencoba wisata Gunung Kidul…! 😀

Kisah Bocah dari Masa Depan (4)


Sekarang di rumah ini tidak hanya ada Raihan Anggara. Umurku 3 tahun dan baru saja aku mendapatkan adik perempuan yang cantik, namanya Prameswari Aisha. Prameswari artinya permaisuri, istri raja yang anggun mempesona. Aisha adalah nama istri Nabi yang cantik, cerdas, dan berpikiran maju. Nama yang luar biasa, semoga adikku ini dapat menjadi seindah namanya.

Sekarang Ibu jadi sibuk mengurusi Aisha. Aku jadi lebih sering bermain dengan tetangga-tetanggaku. Mereka semua asik-asik dan pintar-pintar. Ada yang lebih tua sedikit dariku, dan dia sering berkata dengan bahasa aneh saat bicara. Kata Ibu itu namanya bahasa Inggris. Pernah aku minta diajari agar bisa mengerti ucapannya, tapi Ibu hanya memberitahu sedikit kata-kata saja. Kata Ibu nanti kalau sudah sekolah Ibu Guru akan mengajariku.

Ibu bilang, kalau di rumah aku bicara bahasa Indonesia saja, atau bahasa Jawa juga tak apa, jangan ikut-ikutan tetangga pakai bahasa Inggris. Kata Ibu sekarang semua orang sok berbahasa asing, tapi melupakan bahasa nasionalnya sendiri. Padahal kalau bukan kita, siapa lagi yang akan memakai bahasa nenek moyang? Teman-teman seusiaku banyak yang lancar bahasa Inggris tapi bahasa Indonesia-nya patah-patah, padahal mereka lahir dan besar di sini. Kasihan…

Menurut Ibu, ini namanya globalisasi kebablasan. Apa itu “globalisasi”? Susah sekali diucapkan. Tak tahulah. Ibu mengoceh saja…Katanya sekarang batas negara hampir tak ada artinya lagi. Orang asing, barang asing, budaya asing semua masuk Indonesia tanpa hambatan. Dulu Ibu masih sempat menikmati gurihnya tahu Kediri dan tempe Sanan yang khas. Tapi sekarang hampir tidak mungkin. Kalaupun ada, harganya selangit. Tempe dan tahu sekarang semua impor dari China! Tak cukup hanya kedelainya saja.

Tak cuma itu. Beras, sayuran, buah, daging, susu, bahkan ikan pun semuanya impor dari negara lain. Padahal kalau dari cerita Ibu, Indonesia itu negara agraris sekaligus negara bahari yang kaya sekali. Banyak gunung berapi sehingga tanahnya subur. Tapi kini banyak tanah yang rusak tak bisa ditanami. Apel Batu saja kini sudah punah. Tanah di Batu kerontang dan mandul, habis teracuni oleh pupuk kimiawi. Sebagai gantinya, apel Fuji yang berjajar di pasar tradisional.

Profesi nelayan sekarang tak ada lagi. Dulu ikan tangkapan masih banyak. Sekarang terumbu karang hancur karena dahulu dibom oleh kapal besar yang serakah menangkap ikan. Laut pinggiran tercemar oleh sampah sehingga ikan tak bisa hidup. Kalau mencari ikan harus agak ke tengah laut, tapi harga bahan bakar mahal, nelayan tak punya modal sehingga mereka gulung tikar.

Duh, apes sekali nasib bangsaku ini. Bangsa yang kaya tapi bodoh dan hanya bisa diperbudak bangsa lain. Tapi kukatakan pada Ibu, aku tak mau jadi budak. Aku mau jadi orang kuat yang bisa berdiri di atas kaki sendiri. Aku akan kerahkan semangat teman-teman seperjuangan, bersatu padu melawan penjajahan baru…

Ups, mungkin 20 atau 30 tahun lagi 😛

Kisah Bocah dari Masa Depan (3)


Raihan Anggara, itu namaku. Umurku sekarang 2 tahun. Aku sedih karena sekarang aku tidak lagi bisa minum Air Susu Ibu. Padahal aku paling suka karena saat menyusui Ibu akan bercerita macam-macam sampai aku tertidur. Sekarang aku minum susu botol. Pertama rasanya aneh tapi lama-lama terbiasa juga. Senangnya sekarang aku bisa makan makanan yang enak, tidak cuma bubur bayi. Ada biskuit, sayur, dan buah.

Bicaraku sudah lancar sekali. Meskipun agak cadel tapi Ibu selalu bisa mengerti maksudku. Ibu selalu mengajakku bicara supaya aku bisa hafal lebih banyak kata. Kalau menunjuk sesuatu Ibu selalu mengatakannya berulang-ulang supaya aku ingat. Aku bisa berhitung sampai dua puluh, aku bisa membedakan warna, dan aku tahu nama-nama hewan di sekitarku,
Setiap hari Sabtu Ibu membawaku ke dokter anak untuk periksa kesehatan rutin. Berat badanku dicek dan pertumbuhanku dipantau. Kata Ibu, saat dia masih kecil Mbah Uti juga rutin memeriksa kesehatannya. Bukan di dokter, tapi di Posyandu. Posyandu adalah Pos Pelayanan Terpadu. Di sini setiap pekan para ibu di kompleks datang memeriksakan anaknya, lalu diberi makanan bergizi. Kalau perlu juga ada imunisasi. Tapi sayang sekali, sekarang Posyandu tak ada lagi. Ibu-ibu sekarang sibuk sendiri-sendiri, tak mau mengurusi Posyandu, padahal itu demi anak mereka juga.

Kata Ibu, kalau ada Posyandu, tidak perlu ada anak-anak yang meninggal karena busung lapar. Tahu kan? Itu lho, penyakit perut buncit karena kekurangan protein. Apalagi di desa-desa, banyak ibu-ibu yang kurang paham makanan apa yang baik dan bernutrisi bagi bayi. Adanya Posyandu sangat penting sebagai sarana informasi cara merawat bayi.
Sekarang makin banyak saja bayi dan balita meninggal karena busung lapar, apalagi di daerah Timur. Ibu bilang saat dia masih muda kasus busung lapar sudah ada, tapi cuma seperti angin lalu. Berpuluh tahun berlalu, ternyata sama saja hasilnya. Bayi-bayi itu kelaparan di lumbung padi…

Aku bersyukur Ibu masih bisa memberiku makanan bergizi setiap hari. Kata Ibu, kalau anak-anaknya saja sakit-sakitan, bagaimana bangsa ini bisa maju…padahal anak-anak inilah calon generasi penerus…

Kisah Bocah dari Masa Depan (2)


Masih ingat denganku? Namaku Raihan Anggara, si bayi lincah. Sekarang umurku hampir 1 tahun. Aku sudah bisa berjalan, meskipun masih harus digandeng Ibu. Tapi aku belum bisa bicara lancar, hanya bunyi-bunyi nggak jelas yang keluar dari mulutku. Kata Ibu, anak laki-laki biasanya memang lebih cepat berjalan daripada bicara, berlawanan dengan anak perempuan.

Mbah Kakung dan Mbah Uti memujiku bayi yang pintar, seperti Ibu. Kata Ibu memang betul bahwa kecerdasan anak itu menurun dari ibunya, baik secara nature maupun nurture. Secara nature, gen kecerdasan menurun dari kromosom X yang disumbang oleh Ibu. Sedangkan secara nurture, Ibu sangat berperan dalam perawatan anaknya, mulai menyusui, mengajak bicara, dan mengajari tata krama. Ah, Ibu hanya sok bangga pada dirinya sendiri saja, hihihi.

Kami tinggal di sebuah kompleks perumahan yang asri. Setiap pagi Ibu mengajakku berjalan-jalan ke taman yang ada di dekat kompleks, katanya supaya aku mendapat sinar matahari yang cukup. Sinar matahari mengandung vitamin D yang bagus untuk pertumbuhan tulangku, supaya aku jadi laki-laki yang tinggi dan tegap. Taman di situ indah sekali, banyak pohon hijau dan ada kolam bening yang banyak ikannya. Kata Ibu, tempat ini adalah salah satu dari sedikit ruang hijau di kota ini. Saat Ibu masih muda, pulang pergi sekolah Ibu melewati sawah yang hijau dengan pemandangan gunung yang indah. Tapi sekarang, sawah itu sudah tak ada lagi, gunungnya sudah tak terlihat lagi. Berubah menjadi ruko-ruko di depan pasar yang dibangun saat Ibu kuliah dulu. Taman ini saja bisa bertahan karena hasil perjuangan warga kompleks, yang tidak rela ruang hijau ini digusur untuk proyek.

Kata Ibu, kalau lahan hijau terus-terusan dibabat, maka bumi akan semakin panas. Saat Ibu masih muda, kampanye penghijauan sudah sering digalakkan. Tapi hasilnya tidak sebanding dengan perusakan yang dilakukan penguasa serakah. Ibaratnya, setiap satu pohon ditanam, satu hektar hutan dibabat. Jadi laju perusakan lebih besar daripada penghijauan. Akibatnya sekarang, suhu udara rata-rata hampir 30 derajat celcius. Padahal kota ini di dataran tinggi yang dikelilingi gunung…

Seandainya aku sudah lahir saat itu, pasti aku akan ikut turun ke jalan dan menanam pohon sebanyak mungkin. Aku akan ikut memprotes pengusaha serakah yang menggilas hutan kota menjadi perumahan mewah. Akan kucegah mereka membuat bumi pada masaku menjadi sepanas ini…

Kisah Bocah dari Masa Depan (1)


Hai teman…namaku Raihan Anggara, panggil saja Ray atau Angga. Dua kata namaku berasal dari bahasa Arab dan Sansekerta, tapi punya arti yang sama, yaitu “harum.” Nama yang bagus, bukan?

Aku baru saja melihat dunia. Kulitku masih belepotan cairan putih dan merah. Suster-suster dengan hati-hati memotong tali ari-ariku. Ya, Ibuku baru saja melahirkan aku. Dia tampak lemas tapi wajahnya penuh senyuman bahagia. Suster menggendongku dan menyerahkanku pada Ibu.

Ibu, senyumnya bercampur tangis saat memandangku. Ia menciumiku seakan aku anugerah terindah yang pernah dia miliki. Ya, kelahiranku adalah cita-cita terbesar Ibu. Sejak masih remaja Ibu sudah ingin mempunyai anak laki-laki. Ibu berjanji akan merawat dan mendidikku sebaik mungkin supaya aku jadi laki-laki sempurna. Aku pun berjanji akan membahagiakan Ibu—begitu janjiku saat masih di kandungan dulu.

Setelah itu suster meletakkan aku di sebuah boks kecil, sementara Ibuku beristirahat. Dia pasti sangat lelah. Perutnya mulas seharian dan ia mengejan berjam-jam agar bisa melahirkan aku. Pasti sakit sekali rasanya. Ibu memilih melahirkanku secara normal, agar lebih baik bagi kesehatanku. Dia pernah membaca bahwa bayi yang lahir normal, sistem kekebalan tubuh dan pernapasannya akan lebih kuat.

Di dalam boks, aku menangis keras sekali. Menangis keras, tandanya bayi sehat dan lincah—begitu kata suster. Kaki dan tanganku oun tak berhenti bergerak-gerak. Ya, aku memang sangat bersemangat. Aku ingin segera melihat dunia luar. Aku ingin segera bisa tengkurap, merangkak, berjalan, lalu bicara. Aku ingin mengalami hal-hal yang unik dan menakjubkan. Aku ingin berpetualang, dan akan kuceritakan kisahku pada kalian semua…

My Bestest Sisters

-Trio Macan-


After sharing bout my Dad, now I’ll tell u bout my sisters. Hohoho… I have 3 little sisters, wo you san ge meimei^^. Tiga2nya gak waras bin pencilakan, suka bikin rumah heboh sedemikian rupa, meminjam barangku tanpa izin dan atau menghilangkannya, menggangguku belajar, and any other annoying things… Herannya, tiga cecunguk ini entah bagaimana bisa ‘mbrojol’ sedemikian rupa dengan karakter yang unik dan macem2, menambah ‘ke-bhinneka tunggal ika-an’ di rumah saia. Hahaha…

Punya sodara cewek semua, jangan dibayangin rumah bisa tenang yah…Kalo lagi ‘kumat’, jeritan, tangisan, jambakan, cubitan, grawukan, bisa bikin rumahku serasa kamp penyiksaan ^^; Dahsyat banget deh lihat adek2ku ini ‘bertarung’…trutama dua yang terkecil ituh…hohoho

Tapi kalo lagi akur, kita semua biasa ‘bergosip bersama’. Yaeyalah cewek gitu… Yang paling sering digosipin itu biasanya tetangga or sepupu, or berita2 laen lah yang gak penting2 amat, hahaha. Enaknya lagi kalo mau jalan gak usa repot cari temen…coz kita semua (terutama tiga tertua) doyan jalan2…=p

OK, let me introduce one by one…

Nah yang ini adekku yang pertama. Namanya Baity Rahma alias Bety. Umurnya 3 tahun di bawahku, sekarang kelas X SMK Negeri 2 Malang jurusan Restoran. Dia ini yang paling pendiam dan ‘nrimo’ di antara kami…makanya paling sering jadi ‘korban penyiksaan dan penindasan’ (terutama sama aku, hohoho)

Dalam hal akademis dia gak terlalu baik, tapi soal ketrampilan ala ibu rumah tangga…hoh, serahkan saja padanya! Sejak dulu ibuku selalu mengandalkan dia buat bantu2 urusan dapur dan bersih2…apalagi sejak sekolah di SMK, tiap pulang pasti bawa hasil praktik yang maknyussss….tinggal gw abisin aja deh =p

Hobinya nyapu, cuci piring, dan nonton TV…

Nah klo yang ini adekku yang nomor dua. Umurnya 6 tahun di bawahku. Namanya Nadya Rahmalia alias Nadya. Dia ini adalah yang paling uendhell, cerawak, kemayu, dkk =p. Sekarang dia kelas VII di SMP Negeri 4 Malang. Dia ini punya bakat2 jadi cewek populer. Selain cantik, anaknya supel dan menarik. Selain menjabat sbg Ketua Kelas, dia aktif jadi Pinru dan Regu Inti Pramuka, OSIS, dan kegiatan lain yang aku gak tau. Setiap hari adaaa aja anak yang nelponin dia, sampe telpon rumah krangg-kringg trusss…hahaha.

Hobinya FS-an, sms-an, dan nyanyi di kamar mandi…

Nah kalo yang ini adik bungsu sekaligus adek favoritku. Namanya Nabila Aulia Rahma alias Bela, umurnya 9 tahun di bawahku. Sekarang dia duduk di kelas IV SD Islam Insan Amanah (dulu namanya MIJS). Dia ini yang paling imuuutttt…di antara kita (yaeyalah). Hobinya nyeletuk2 gak jelas. Paling suka baca, mulai dari ensiklopedi sampe kertas bungkus lombok, dia baca semua…hohoho. Makanya pengetahuannya banyak. Aku sempat terkesima waktu tiba2 dia nyerocos soal penumpukan sampah plastik di bumi dan jarak bintang di antariksa. Buset. Apa ja yang loe baca?? -_-“

Soal akademik dia jagoan. Tiga besar di kelasnya. Ni anak suka banget berpetualang ke alam bebas (baca: jalan2 di sawah) dan sukanya nanyain pertanyaan2 kritis yang kadang bikin aku mikir juga…hoh, kakak yang memalukan=p

Hobinya nonton Si Bolang dan Si Unyil, baca majalah Bobo, dan blusukan ke sawah…

Nah begitulah sekilas tentang adek2ku. Biar satu benih, kita berempat gak ada yang sama persis. Hwkwkwk…and as an oldest sister, logikanya aku punya banyak keuntungan (banyak yang bisa disuruh2, ditindas, diperlakukan semena2, hohoho…xp) Tapi kenyataannya makin besar mereka semakin berani melanggar perintahku (sister devil mode on…XD)

Yah beginilah bidadari2 orangtuaku (huekkzzz…) Biar beraneka ragam tetap satu jua…Merdeka!!!


DUET MAUT!!!


*gendheng mode on*