Newbie Diary (3): Renungan Ramadhan Galau

Newbie Diary (3): Renungan Ramadhan Galau

Ramadhan Jangan Galau

Sampai minggu terakhir Ramadhan tahun 2012 ini, enggak ada satupun tulisan serial Renungan Ramadhan ‘keluar’ dari jari-jariku seperti  tahun-tahun sebelumnya. Bagiku, Ramadhan tahun ini enggak khusyuk banget rasanya. Pertama kalinya Ramadhan di kota lain, pisah dari keluarga dan hidup sendirian, hari-hariku dihabiskan seperti ‘robot’ di tempat kerja dan kos-kosan.

Sahur dan buka yang biasanya tersedia di atas meja, sekarang harus dicari sendiri. Setiap sahur seringnya cuma makan roti, atau nasi yang dibeli semalam, karena malas pergi keluar. Pas sahur enggak bisa nonton Tafsir Al-Misbah karena mbak2 kos lebih suka nonton Mama Nori (well, gw juga suka sih sebenernya :P) Habis Subuhan enggak bisa tadarusan karena mesti cuci baju dan siap2 ngantri mandi. Bayangin, sampe sekarang di kosan Cuma sempet baca Al-Quran 3 kali, itupun Cuma beberapa lembar. Tarawih pun enggak pernah sama sekali, karena habis buka bawaannya ngantuk, masih asing sama masjid di sini, jadinya lebih sering ngobrol2 atau laptopan sampe ketiduran. Asupan rohaniah juga enggak ada karena nggak pernah baca rubrik Ramadhan di koran. Jadilah Ramadhan ini semacam ‘kosong’. Cuma sekedar puasa fisik menahan lapar dan dahaga, tapi batin enggak ada makanannya L

Untungnya di sini enggak terlalu kesepian. Ada Rahayu dan Desi, temen2 “satu geng” di kantor, teman buka bersama dan kadangkala sahur bersama. Di tanah rantau, teman menjadi sama berharganya seperti keluarga sendiri. Dan kami pun mengalami saat2 menyenangkan, buka bersama satu pabrik, buka bersama trainee2 lainnya, gantian menginap di rumah/kos, dan jalan2 keliling kota Surabaya.

Well, enggak kerasa sudah 1 bulan aku kerja di sini, dan aku mulai menikmati tempat ini J Memang benar, yang menjadikan  suatu tempat penuh kenangan adalah kebersamaan kita dengan orang2 di dalamnya. Aku bersyukur punya bos yang baik dan rekan2 kerja yang suportif di divisi Marketing Export. Aku juga senang punya rekan2 yang “gila” dan seru di divisi Produksi. Orang2 yang ramah di HRD, RnD, dan bahkan satpam2nya.

Meskipun aku tahu, saat masa training ku sudah selesai pasti aku juga akan menghadapi “bentrok” dan masalah dengan mereka, tapi itu hal yang wajar dalam pekerjaan. Seperti kata bosku, kalau kamu enggak pernah bentrok dengan rekan kerjamu, ya berarti itu kamu enggak kerja dengan sungguh2.


Renungan Ramadhan (10): Tuhan Maha Demokratis

Kalau Tuhan ingin disembah manusia, mengapa dia membiarkan orang atheis? Padahal ia Maha Kuasa untuk membuat semua hambaNya beriman. Menurutku, Tuhan tidak hanya Maha Kuasa, tapi juga Maha Demokratis. Dia tidak mendikte, tetapi memberi pilihan. Namun Dia tidak melepaskan kita begitu saja. Dia tetap memberi panduan dan petunjuk melalui Rasul dan Kitab-Nya. Dia juga memberi kita akal agar bisa berpikir dan memilih sendiri mana jalan yang akan kita lalui, jalan yang lurus atau jalan yang sesat?

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (QS Yunus ayat 99)

Mudah saja bagi Tuhan menjadikan manusia semua pengikutNya. Tapi Dia mau manusia beriman karena kehendak mereka sendiri, bukan dengan terpaksa. Maka Dia hanya memberi kita petunjuk dan akal, tapi kita sendirilah yang mempergunakan akal kita ini dan memutuskan apakah hendak mengikuti petunjuk itu atau tidak.

”Dan katakanlah, kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir.” (QS. Al-Kahf ayat 29).

”Tidak ada paksaan dalam menganut agama. Sesungguhnya telah jelas antara yang benar dan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah 2:256).

Kepada para RasulNya pun Dia berpesan untuk tidak memaksa. BagiNya Rasul hanyalah seorang pemberi peringatan, keputusan untuk mengikuti atau tidak ada dalam diri setiap manusia masing2.

“Jika mereka berserah diri, maka sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanya menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat hamba-hambaNya.” (QS. Al-’Imran ayat 20)

Jadi begitulah… Nasib kita ada di tangan kita sendiri 🙂

Renungan Ramadhan (9): Tuhan Maha Tegas

Jika memang Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang, mengapa Dia menciptakan neraka dan menurunkan azab di dunia? Jangan lupa, Tuhan tidak hanya Maha Pengasih dan Penyayang, tetapi juga Maha Perkasa. Sebagai perumpamaan, orangtua mendidik anak2nya selain dengan kasih sayang pastilah dengan ketegasan. Sebab, jika anak itu dimanja terus menerus, tentunya si anak malah menjadi nakal dan seenaknya sendiri.

Demikian pula Tuhan…ia menganggap manusia sudah dewasa. Ia memberi pilihan jalan, tapi ditegaskanNya pula konsekuensi setiap jalan yang diambil. Bagiku, Tuhan itu pemimpin, dan pemimpin haruslah tegas. Dia harus tegas karena Dia mengatur alam semesta seisinya. Bukanlah Tuhan jika ia tidak bisa membela diriNya sendiri.

Namun azab Tuhan itu bukanlah dimaksudkan untuk menganiaya manusia. Itu adalah hukuman karena manusia telah menganiaya diri sendiri. Tuhan sudah cukup memberi kita petunjuk dan pengajaran yang baik melalui kitab suciNya, hanya saja manusia terlalu bebal untuk menggunakan akal dan nuraninya sehingga mengikuti hawa nafsunya.

Tuhan tidak pernah menganiaya manusia. Manusia lah yang menganiaya diri mereka sendiri.

“Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS Ali-Imran ayat 108)

“Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Ali-Imran ayat 117)

“(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran ayat 182)

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’ ayat 40)

“Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun”. (Qs Al-Kahfi ayat 49)

“Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya).” (QS Fussilat ayat 46)

“Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS Az-Zukhruf ayat 76)

“Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.” (QS Qaf ayat 29)

Manusia juga tidak bisa menganiaya Tuhan. Ketika berbuat dosa, sebenarnya tidak secuil pun manusia merugikan atau menganiaya Tuhan, melainkan manusia lah yang menganiaya diri mereka sendiri.

“Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Qs Al-Baqarah ayat 57)

“Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.” (QS Al-A’raf ayat 160)

Dengar kan suara ketegasan Tuhan?

Renungan Ramadhan (8): Esoterisme Agama

Istilah ‘esoterisme agama’ kedengarannya asing, tapi ternyata hal ini banyak kita rasakan sehari-hari. Secara garis besar, ada dua aspek dalam agama yaitu EKSOTERIS dan ESOTERIS. Eksoteris berbicara mengenai tampilan fisik yang terlihat, misalnya ritual ibadah, rumah ibadah, pakaian khas, dan lambang2 religiusitas lainnya. Sedangkan aspek endoteris berbicara mengenai persoalan spiritual, kebatinan, makna dari ajaran agama itu sendiri.

Setiap bulan Ramadhan, saya selalu senang mendengarkan kajian tafsir Al-Mishbah yang dibawakan oleh Bapak Quraish Shihab di Metro TV jam 3 pagi. Dia memaknai ayat-ayat Al-Quran secara mendalam, dan lebih menekankan pada aspek spiritualnya sehingga tidak menimbulkan pertentangan. Belakangan baru saya tahu, bahwa Pak Quraish adalah salah satu ulama beraliran esoteris di Indonesia. Pantas saja, apa yang beliau ajarkan terasa memberi pencerahan di dalam hati.

Sayang sekali memang kita dapati bahwa mayoritas Muslim Indonesia baru memahami agama sebatas aspek lahiriah saja, alias eksoteris. Orang Islam itu ya pokoknya sholat, mengaji, puasa, sedekah, naik haji… Urusan mengaji tapi nggak paham maksudnya itu belakangan. Urusan puasa tapi tetap menggosip itu belakangan. Urusan naik haji tapi uang hasil korupsi itu belakangan. Yang penting di mata masyarakat terlihat ‘alim’ karena melakukan ritual ibadah tadi.

Padahal agama lahir untuk mengisi kekosongan spiritual manusia, untuk mendekatkan kita kepada Tuhan. Artinya, seseorang baru bisa dikatakan benar-benar menjalankan agamanya ketika hubungan dengan Tuhan itu baik, yang berakibat hubungan dengan sesama manusia juga baik. Jika ‘hablu minallah’ baik, otomatis ‘hablu minannaas’nya juga baik. Karena orang yang benar2 mencintai Tuhan tentu akan mencintai makhlukNya juga.

Ini juga menjawab pertanyaan mengapa banyak orang yang STMJ alias ‘sholat terus maksiat jalan’. Ya karena aspek eksoteris tadi. Orang tidak paham apa sesungguhnya maksud dan tujuan shalat. Padahal shalat itu seperti meditasi, upaya agar kita selalu ingat Tuhan sehingga dicegah dari berbuat dosa. Kalau ada orang yang shalat tapi terus menerus berbuat dosa, berarti ia tidak khusyuk dalam shalatnya. Shalat baginya hanya ritual untuk melepaskan beban kewajiban, hanya sepaket gerakan dan doa2 yang dihafal di luar kepala tanpa dimengerti maknanya, tanpa diiringi dengan fokus batin untuk mendekat kepada Yang Kuasa.

Kalau setiap orang paham benar makna dan tujuan sesungguhnya dalam agama, pastilah tidak akan ada tindakan amoral yang mengatasnamakan agama.

Renungan Ramadhan (7): Sedekah itu Mudah

Sebenarnya, saya nggak terlalu setuju sama sedekah ala Ustadz YM, itu lho yang suka ceramah pagi2 di MNC TV (yang nggak tau…cari tau sendiri ya :P). Seolah2 kita sedekah hanya demi kepentingan diri kita (baca: memperbanyak harta kita sendiri), enggak murni karena ingin membantu saudara kita yang kurang mampu. Padahal nikmat sedekah sebenarnya ada pada ikhlas, kan?

Padahal Allah jelas2 berfirman:

“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS Al-Muddatstsir:6)

Nah lho…makjleb banget kan?

Ya, Allah memang menjanjikan balasan berlipat ganda bagi orang yang menafkahkan harta di jalanNya. Namun yang Dia hargai bukanlah jumlah sedekah itu, melainkah keikhlasan dan niat baik untuk memberinya. Nih buktinya.

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkan itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaaan si penerima). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS Al-Baqarah:262-263)

Jelas banget kan, inti dari sedekah adalah kepekaan untuk menolong sesama, bukan jumlah nominalnya. Jadi, menurutku “matematika sedekah” ala “ustadz-itu” enggak masuk akal. Kalau kita sedekah sekian, nanti kita dapet balasan sekian. Seolah2 sedekah itu alat mencari nafkah. Seolah2 sedekah melegalisasi kita untuk bermalas2an (hanya tinggal sedekah lalu menunggu balasan rezeki) tanpa bekerja keras.

Sedekah itu juga enggak melulu pakai materi. Hadits ini buktinya.

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap muslim harus bersedekah.”

Mereka bertanya: “Jika ia tidak punya?”

Nabi menjawab: ”Dia bekerja dengan kedua tangannya, maka ia memberikan manfaat untuk dirinya sendiri lalu bersedekah.”

Mereka bertanya lagi: ”Jika ia tidak mampu atau tidak melakukannya?”

Beliau menjawab: ”Ia menolong orang yang kesulitan.”

Mereka bertanya lagi: ”Jika ia tetap tidak melakukannya?”

Beliau menjawab: ”Hendaklah ia memerintahkan berbuat kebaikan.”

Mereka bertanya lagi: ”Jika ia tetap tidak melakukannya?”

Beliau menjawab: ”Hendaklah ia menahan diri dari perbuatan jahat, hal itu sudah merupakan sedekah.” (HR. Bukhari)

Pada hadits lain, beliau juga berkata:

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap persendian manusia harus bersedekah pada setiap hari dimana matahari terbit. Berlaku adil di antara dua orang merupakan sedekah, dan membantu seseorang mengangkat bagasi ke atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya merupakan sedekah, dan ucapan yang baik merupakan sedekah, dan setiap langkah yang diayunkannya menuju sholat (berjamaah) merupakan sedekah serta menyingkirkan apa-apa yang mengganggu dari jalanan merupakan sedekah.” (HR Bukhari)

Dan juga ini:

Rasulullah SAW bersabda:”Setiap perbuatan ma’ruf (kebaikan) adalah sedekah dan di antara perbuatan ma’ruf adalah engkau menemui saudaramu sekedar dengan wajah berseri-seri dan engkau menuangkan (air) dari timbamu ke dalam bejana saudaramu.” (HR. Tirmidzi)

Ya ampun…gampang banget kan ternyata sedekah itu? Nggak perlu nunggu kaya untuk bersedekah!

Renungan Ramadhan (6): Tuhan itu Fitrah Manusia

Keyakinan akan keberadaan Tuhan sebetulnya sudah tertanam secara naluriah dalam diri manusia. Seorang atheis pun, pada saat2 sekaratnya, saat antara hidup dan mati, di mana hanya mukjizat yang bisa menyelamatkannya, pasti akan teringat bahwa ia pernah diajari tentang Tuhan.

Sejak awal peradabannya, sosok Tuhan tidak bisa lepas dari manusia. Dalam bentuk apapun. Manusia terus mencari dan mencari, seperti apakah Tuhan itu? Dahulu, manusia menyembah roh-roh leluhur dan benda gaib (animisme dan dinamisme) sebagai wujud keyakinannya akan ‘sesuatu-yang-lebih-kuat-dan-agung-daripada-manusia’. Kemudian, manusia mulai menciptakan berhala-berhala, berharap bahwa ‘sesuatu-yang-agung’ itu akan bersemayam di dalamnya. Manusia lalu menyembah dewa-dewa. Zeus-nya Yunani. Yupiter-nya Romawi. Brahma-nya India. Serta dewa-dewi pendukung mereka. Ada juga manusia yang menyembah api, matahari, bulan, bintang, dll. Intinya sama. Manusia yakin Tuhan itu ada, hanya tidak tahu siapa dan bagaimana.

Karena itu kemudian turunlah para Nabi dan Rasul; mulai dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad yang membawa ajaran ketauhidan: mengesakan Tuhan. Simply monotheism.

Quraish Shihab mengatakan, tidak ada satu ayatpun dalam Al-Quran yang menegaskan tentang perwujudan (baca: eksistensi) Tuhan. Sebab ‘dari sononya’, manusia sudah dibekali dengan keyakinan naluriah akan keberadaan Tuhan. Itu fitrah manusia. Al-Quran hanya menegaskan tentang ke-Esa-an Tuhan. Bahwa Tuhan itu satu dan menguasai segalanya. Sebab, ketika Al-Quran turun, sudah banyak kepercayaan2 dan agama2 yang tentu saja menyembah Tuhan. Al-Quran hanya meluruskan itu.

Demikianlah, Tuhan sudah ada dalam diri manusia sejak Dia menciptakannya…

Renungan Ramadhan (5): Kesalahan Muhammad

Muhammad, sekalipun dia seorang Nabi, ternyata pernah berbuat kesalahan. Kesalahan itu bahkan “terekam” dalam Al-Quran, tepatnya Surat ‘Abasa ayat 1-12.

1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,

2. Karena Telah datang seorang buta kepadanya.

3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),

4. Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?

5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (tidak memerlukan apa-apa),

6. Maka kamu melayaninya.

7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).

8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),

9. Sedang ia takut kepada (Allah),

10. Maka kamu mengabaikannya.

11. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,

12. Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.

Peristiwa itu terjadi saat Muhammad sedang mendakwahi para pembesar suku Quraisy, lalu datanglah seorang miskin dan buta bernama Ibnu Maktum yang ingin belajar dari beliau. Namun beliau merasa terganggu, sehingga melengos dan memalingkan muka. Barangkali beliau menganggap para pembesar Quraisy itu lebih penting untuk didakwahi daripada orang buta tersebut. Ketika itulah firman Allah datang dan memperingatkan beliau.

Seperti yang dapat kita baca secara gamblang di ayat tersebut, Allah memperingatkan bahwa tidak penting bagaimana kedudukan sosial seseorang, selama ia sangat berniat untuk belajar, maka ia berhak untuk mendapatkan pelajaran tersebut. Ajaran Allah bukan hanya untuk orang kaya nan terhormat, tetapi untuk orang yang bersungguh-sungguh ingin menyucikan diri. Begitu pentingnya Allah menekankan hal ini, sampai2 Beliau memperingatkan sendiri Nabi-nya. Nabi Muhammad, meskipun ayat ini sedikit banyak “mencela” beliau, namun karena ini firman langsung dari Allah, beliau tetap menyampaikan kepada umatnya dan berharap kita tidak melakukan kesalahan yang sama.

(Tafsir ayat lebih jelas dapat dibaca di sini.)

Selain itu, apa yang dapat kita petik dari cuplikan ayat ini?

Allah tampaknya ingin menegaskan bahwa semulia apapun seorang manusia, tetaplah tak ada yang sempurna. Hanya Allah-lah, Tuhan semesta alam, yang Maha Sempurna. Nabi Muhammad pun memiliki ‘dosa’, meskipun itu hanya secuil. Namun di luar itu beliau tetaplah manusia yang mulia, yang meskipun sudah diangkat sebagai kekasih Allah, tetap tak henti bersujud memohon ampun padaNya.

Rasulullah sendiri pernah bersabda, “Manusia adalah tempatnya salah dan lupa.”

Ketika menciptakan manusia, Allah membekali kita dengan tiga “prosessor” sekaligus: hati nurani, akal, dan hawa nafsu. Karenanya Dia sudah paham sekali akan tingkah polah manusia. Karenanya Dia tak pernah mengharap kita bersih 100% dari dosa, tapi Dia mengharap kita mau bertobat dan memperbaiki dosa kita. Itulah taqwa.

Jadi…nggak perlu berkecil hati karena kita banyak dosa. Allah Maha Mendengar…selama kita mencoba mendekat, Dia pun akan mendekat pada kita…

Renungan Ramadhan (4): Heaven is not Our Right

Untuk apa kamu beribadah?

Untuk apa capek2 shalat? Untuk apa lapar2 berpuasa? Untuk apa membagi rezeki kita buat orang lain?

Mayoritas orang akan menjawab: Biar dapat pahala.

Kalau dapat pahala terus kenapa? Biar masuk surga.

Apakah ada jaminan bahwa dengan menumpuk pahala sudah pasti kita akan masuk surga?

Masih ingat sebuah kisah tentang seorang pezina yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing? Atau seorang ahli ibadah yang su’ul khatimah karena penasaran bagaimana rasanya berbuat dosa?

Surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah. Bukankah Dia sudah menyuruh kita beribadah dengan ikhlas dan tidak mengharap sesuatu selain ridho-Nya?

Allah sudah mengatakannya dengan gamblang:

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (QS Al-Isra’: 7)

Setiap perbuatan, baik dan buruk, ada konsekuensinya. Dan semua itu akan kembali ke diri kita sendiri. Bisa dibilang, inilah hukum karma. Kalau kita rajin shalat, hati dan pikiran akan tenang. Kalau rajin puasa, nafsu terkendali dan badan jadi sehat. Memberi sedekah is just simply help others, efeknya ada di ketentraman hati dan perasaan cinta yang timbul karena menolong orang lain.

Jadi seharusnya, kita berbuat baik tidaklah karena mengharap pahala atau surga…tapi hanya karena ingin mengharap ridho-Nya. Toh perbuatan baik itu manfaatnya akan kembali pada diri kita sendiri. Jika memahami prinsip ini, meskipun surga dan neraka tak pernah ada, kita masih akan tetap bersujud padaNya 🙂

Renungan Ramadhan (3): Puasa dan Produktivitas

Miris rasanya melihat foto yang terpampang di halaman depan surat kabar SURYA (2/8/2011). Para pria berseragam cokelat PNS tampak “tergeletak” tak berdaya di atas karpet masjid, tidur-tiduran sambil main HP. Baru hari pertama puasa, mereka tampak sudah loyo bekerja.

Padahal, setelah bulan puasa mereka akan dikejar pengeluaran besar untuk merayakan Idul Fitri. Ironis ya? Di Indonesia, bulan puasa adalah bulan terboros dalam pengeluaran konsumtif, sekaligus bulan di mana produktivitas menjadi rendah karena “keloyoan” para pekerja. Besar pasak daripada tiang.

Keadaan puasa bukanlah halangan untuk meningkatkan produktivitas. Kalau selama sebulan loyo, mau ke mana arah perekonomian negara? Jangan jadikan lapar sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Pengalaman pribadi, lapar itu hanya terasa pada awalnya. Ketika terbiasa dan diniatkan dengan ikhlas, apalagi ditambah dengan kesibukan, rasa lapar nggak akan terasa.

Seperta para orang suci zaman dulu (pertapa/pendeta/dll), perut kosong adalah saat di mana kita dituntut untuk mengendalikan diri, menjernihkan pikiran, dan berkontemplasi. Puasa adalah sarana untuk memperbaiki pekerjaan kita agar sejalur dengan jalan Tuhan, bukannya justru menunda/mengurangi pekerjaan kita. Bukankah bekerja adalah ibadah???

Renungan Ramadhan (2): Puasa Abadi Rakyat Miskin Afrika

Di saat kita sedang menjalankan ibadah puasa yang hanya setahun sekali, ternyata orang-orang miskin di Afrika tengah menjalani “puasa abadi”. Wilayah Afrika Timur (Tanduk Afrika) terutama Somalia, Ethiopia, dan Kenya mengalami kekeringan hebat sejak awal Juli 2011 yang berujung pada krisis pangan terparah dalam 60 tahun terakhir.

Opini di Kompas (2/8/2011) berjudul “Liberalisasi Kebablasan di Tanduk Afrika” dengan gamblang mengisahkan penyebab parahnya bencana kelaparan. Makanan sangat sulit didapat di pedesaan karena lahan pangan sudah diserahkan ke perushaan multinasional untuk ditanami pangan ekspor. Ini akibat pemerintah yang menggalakkan pasar liberal secara kebablasan. Para penduduk desa sampai harus berjalan jauh ke ibukota agar mendapat makanan. Sedihnya, banyak yang tidak kuat menahan lapar dan dahaga hingga mati di tengah perjalanan tersebut.

Di saat kebanyakan dari kita menjalankan ibadah puasa dengan setengah2, mengeluh, tak tahan lapar dan haus, ternyata kawan2 kita di Afrika sana mengalaminya sebagai bagian dari “rutinitas sehari2”. Kematian karena kelaparan adalah hal biasa. Padahal, kita hanya merasakan sepercik saja dari penderitaan mereka, tapi sudah mengeluh tak habis2nya.

Puasa melatih kepekaan kita kepada rakyat miskin. Puasa tidak hanya menampar perut, tapi juga menampar hati nurani kita untuk berhenti sejenak, menoleh, dan mengulurkan tangan pada orang-orang yang tertinggal di belakang kita. Seandainya ada yang bisa kita lakukan untuk hamba-hamba Tuhan yang kurang beruntung…