Renungan Ramadhan (8): Esoterisme Agama

Istilah ‘esoterisme agama’ kedengarannya asing, tapi ternyata hal ini banyak kita rasakan sehari-hari. Secara garis besar, ada dua aspek dalam agama yaitu EKSOTERIS dan ESOTERIS. Eksoteris berbicara mengenai tampilan fisik yang terlihat, misalnya ritual ibadah, rumah ibadah, pakaian khas, dan lambang2 religiusitas lainnya. Sedangkan aspek endoteris berbicara mengenai persoalan spiritual, kebatinan, makna dari ajaran agama itu sendiri.

Setiap bulan Ramadhan, saya selalu senang mendengarkan kajian tafsir Al-Mishbah yang dibawakan oleh Bapak Quraish Shihab di Metro TV jam 3 pagi. Dia memaknai ayat-ayat Al-Quran secara mendalam, dan lebih menekankan pada aspek spiritualnya sehingga tidak menimbulkan pertentangan. Belakangan baru saya tahu, bahwa Pak Quraish adalah salah satu ulama beraliran esoteris di Indonesia. Pantas saja, apa yang beliau ajarkan terasa memberi pencerahan di dalam hati.

Sayang sekali memang kita dapati bahwa mayoritas Muslim Indonesia baru memahami agama sebatas aspek lahiriah saja, alias eksoteris. Orang Islam itu ya pokoknya sholat, mengaji, puasa, sedekah, naik haji… Urusan mengaji tapi nggak paham maksudnya itu belakangan. Urusan puasa tapi tetap menggosip itu belakangan. Urusan naik haji tapi uang hasil korupsi itu belakangan. Yang penting di mata masyarakat terlihat ‘alim’ karena melakukan ritual ibadah tadi.

Padahal agama lahir untuk mengisi kekosongan spiritual manusia, untuk mendekatkan kita kepada Tuhan. Artinya, seseorang baru bisa dikatakan benar-benar menjalankan agamanya ketika hubungan dengan Tuhan itu baik, yang berakibat hubungan dengan sesama manusia juga baik. Jika ‘hablu minallah’ baik, otomatis ‘hablu minannaas’nya juga baik. Karena orang yang benar2 mencintai Tuhan tentu akan mencintai makhlukNya juga.

Ini juga menjawab pertanyaan mengapa banyak orang yang STMJ alias ‘sholat terus maksiat jalan’. Ya karena aspek eksoteris tadi. Orang tidak paham apa sesungguhnya maksud dan tujuan shalat. Padahal shalat itu seperti meditasi, upaya agar kita selalu ingat Tuhan sehingga dicegah dari berbuat dosa. Kalau ada orang yang shalat tapi terus menerus berbuat dosa, berarti ia tidak khusyuk dalam shalatnya. Shalat baginya hanya ritual untuk melepaskan beban kewajiban, hanya sepaket gerakan dan doa2 yang dihafal di luar kepala tanpa dimengerti maknanya, tanpa diiringi dengan fokus batin untuk mendekat kepada Yang Kuasa.

Kalau setiap orang paham benar makna dan tujuan sesungguhnya dalam agama, pastilah tidak akan ada tindakan amoral yang mengatasnamakan agama.

Renungan Ramadhan (7): Sedekah itu Mudah

Sebenarnya, saya nggak terlalu setuju sama sedekah ala Ustadz YM, itu lho yang suka ceramah pagi2 di MNC TV (yang nggak tau…cari tau sendiri ya :P). Seolah2 kita sedekah hanya demi kepentingan diri kita (baca: memperbanyak harta kita sendiri), enggak murni karena ingin membantu saudara kita yang kurang mampu. Padahal nikmat sedekah sebenarnya ada pada ikhlas, kan?

Padahal Allah jelas2 berfirman:

“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS Al-Muddatstsir:6)

Nah lho…makjleb banget kan?

Ya, Allah memang menjanjikan balasan berlipat ganda bagi orang yang menafkahkan harta di jalanNya. Namun yang Dia hargai bukanlah jumlah sedekah itu, melainkah keikhlasan dan niat baik untuk memberinya. Nih buktinya.

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkan itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaaan si penerima). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS Al-Baqarah:262-263)

Jelas banget kan, inti dari sedekah adalah kepekaan untuk menolong sesama, bukan jumlah nominalnya. Jadi, menurutku “matematika sedekah” ala “ustadz-itu” enggak masuk akal. Kalau kita sedekah sekian, nanti kita dapet balasan sekian. Seolah2 sedekah itu alat mencari nafkah. Seolah2 sedekah melegalisasi kita untuk bermalas2an (hanya tinggal sedekah lalu menunggu balasan rezeki) tanpa bekerja keras.

Sedekah itu juga enggak melulu pakai materi. Hadits ini buktinya.

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap muslim harus bersedekah.”

Mereka bertanya: “Jika ia tidak punya?”

Nabi menjawab: ”Dia bekerja dengan kedua tangannya, maka ia memberikan manfaat untuk dirinya sendiri lalu bersedekah.”

Mereka bertanya lagi: ”Jika ia tidak mampu atau tidak melakukannya?”

Beliau menjawab: ”Ia menolong orang yang kesulitan.”

Mereka bertanya lagi: ”Jika ia tetap tidak melakukannya?”

Beliau menjawab: ”Hendaklah ia memerintahkan berbuat kebaikan.”

Mereka bertanya lagi: ”Jika ia tetap tidak melakukannya?”

Beliau menjawab: ”Hendaklah ia menahan diri dari perbuatan jahat, hal itu sudah merupakan sedekah.” (HR. Bukhari)

Pada hadits lain, beliau juga berkata:

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap persendian manusia harus bersedekah pada setiap hari dimana matahari terbit. Berlaku adil di antara dua orang merupakan sedekah, dan membantu seseorang mengangkat bagasi ke atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya merupakan sedekah, dan ucapan yang baik merupakan sedekah, dan setiap langkah yang diayunkannya menuju sholat (berjamaah) merupakan sedekah serta menyingkirkan apa-apa yang mengganggu dari jalanan merupakan sedekah.” (HR Bukhari)

Dan juga ini:

Rasulullah SAW bersabda:”Setiap perbuatan ma’ruf (kebaikan) adalah sedekah dan di antara perbuatan ma’ruf adalah engkau menemui saudaramu sekedar dengan wajah berseri-seri dan engkau menuangkan (air) dari timbamu ke dalam bejana saudaramu.” (HR. Tirmidzi)

Ya ampun…gampang banget kan ternyata sedekah itu? Nggak perlu nunggu kaya untuk bersedekah!

Renungan Ramadhan (6): Tuhan itu Fitrah Manusia

Keyakinan akan keberadaan Tuhan sebetulnya sudah tertanam secara naluriah dalam diri manusia. Seorang atheis pun, pada saat2 sekaratnya, saat antara hidup dan mati, di mana hanya mukjizat yang bisa menyelamatkannya, pasti akan teringat bahwa ia pernah diajari tentang Tuhan.

Sejak awal peradabannya, sosok Tuhan tidak bisa lepas dari manusia. Dalam bentuk apapun. Manusia terus mencari dan mencari, seperti apakah Tuhan itu? Dahulu, manusia menyembah roh-roh leluhur dan benda gaib (animisme dan dinamisme) sebagai wujud keyakinannya akan ‘sesuatu-yang-lebih-kuat-dan-agung-daripada-manusia’. Kemudian, manusia mulai menciptakan berhala-berhala, berharap bahwa ‘sesuatu-yang-agung’ itu akan bersemayam di dalamnya. Manusia lalu menyembah dewa-dewa. Zeus-nya Yunani. Yupiter-nya Romawi. Brahma-nya India. Serta dewa-dewi pendukung mereka. Ada juga manusia yang menyembah api, matahari, bulan, bintang, dll. Intinya sama. Manusia yakin Tuhan itu ada, hanya tidak tahu siapa dan bagaimana.

Karena itu kemudian turunlah para Nabi dan Rasul; mulai dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad yang membawa ajaran ketauhidan: mengesakan Tuhan. Simply monotheism.

Quraish Shihab mengatakan, tidak ada satu ayatpun dalam Al-Quran yang menegaskan tentang perwujudan (baca: eksistensi) Tuhan. Sebab ‘dari sononya’, manusia sudah dibekali dengan keyakinan naluriah akan keberadaan Tuhan. Itu fitrah manusia. Al-Quran hanya menegaskan tentang ke-Esa-an Tuhan. Bahwa Tuhan itu satu dan menguasai segalanya. Sebab, ketika Al-Quran turun, sudah banyak kepercayaan2 dan agama2 yang tentu saja menyembah Tuhan. Al-Quran hanya meluruskan itu.

Demikianlah, Tuhan sudah ada dalam diri manusia sejak Dia menciptakannya…

Renungan Ramadhan (5): Kesalahan Muhammad

Muhammad, sekalipun dia seorang Nabi, ternyata pernah berbuat kesalahan. Kesalahan itu bahkan “terekam” dalam Al-Quran, tepatnya Surat ‘Abasa ayat 1-12.

1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,

2. Karena Telah datang seorang buta kepadanya.

3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),

4. Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?

5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (tidak memerlukan apa-apa),

6. Maka kamu melayaninya.

7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).

8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),

9. Sedang ia takut kepada (Allah),

10. Maka kamu mengabaikannya.

11. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,

12. Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.

Peristiwa itu terjadi saat Muhammad sedang mendakwahi para pembesar suku Quraisy, lalu datanglah seorang miskin dan buta bernama Ibnu Maktum yang ingin belajar dari beliau. Namun beliau merasa terganggu, sehingga melengos dan memalingkan muka. Barangkali beliau menganggap para pembesar Quraisy itu lebih penting untuk didakwahi daripada orang buta tersebut. Ketika itulah firman Allah datang dan memperingatkan beliau.

Seperti yang dapat kita baca secara gamblang di ayat tersebut, Allah memperingatkan bahwa tidak penting bagaimana kedudukan sosial seseorang, selama ia sangat berniat untuk belajar, maka ia berhak untuk mendapatkan pelajaran tersebut. Ajaran Allah bukan hanya untuk orang kaya nan terhormat, tetapi untuk orang yang bersungguh-sungguh ingin menyucikan diri. Begitu pentingnya Allah menekankan hal ini, sampai2 Beliau memperingatkan sendiri Nabi-nya. Nabi Muhammad, meskipun ayat ini sedikit banyak “mencela” beliau, namun karena ini firman langsung dari Allah, beliau tetap menyampaikan kepada umatnya dan berharap kita tidak melakukan kesalahan yang sama.

(Tafsir ayat lebih jelas dapat dibaca di sini.)

Selain itu, apa yang dapat kita petik dari cuplikan ayat ini?

Allah tampaknya ingin menegaskan bahwa semulia apapun seorang manusia, tetaplah tak ada yang sempurna. Hanya Allah-lah, Tuhan semesta alam, yang Maha Sempurna. Nabi Muhammad pun memiliki ‘dosa’, meskipun itu hanya secuil. Namun di luar itu beliau tetaplah manusia yang mulia, yang meskipun sudah diangkat sebagai kekasih Allah, tetap tak henti bersujud memohon ampun padaNya.

Rasulullah sendiri pernah bersabda, “Manusia adalah tempatnya salah dan lupa.”

Ketika menciptakan manusia, Allah membekali kita dengan tiga “prosessor” sekaligus: hati nurani, akal, dan hawa nafsu. Karenanya Dia sudah paham sekali akan tingkah polah manusia. Karenanya Dia tak pernah mengharap kita bersih 100% dari dosa, tapi Dia mengharap kita mau bertobat dan memperbaiki dosa kita. Itulah taqwa.

Jadi…nggak perlu berkecil hati karena kita banyak dosa. Allah Maha Mendengar…selama kita mencoba mendekat, Dia pun akan mendekat pada kita…

Renungan Ramadhan (4): Heaven is not Our Right

Untuk apa kamu beribadah?

Untuk apa capek2 shalat? Untuk apa lapar2 berpuasa? Untuk apa membagi rezeki kita buat orang lain?

Mayoritas orang akan menjawab: Biar dapat pahala.

Kalau dapat pahala terus kenapa? Biar masuk surga.

Apakah ada jaminan bahwa dengan menumpuk pahala sudah pasti kita akan masuk surga?

Masih ingat sebuah kisah tentang seorang pezina yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing? Atau seorang ahli ibadah yang su’ul khatimah karena penasaran bagaimana rasanya berbuat dosa?

Surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah. Bukankah Dia sudah menyuruh kita beribadah dengan ikhlas dan tidak mengharap sesuatu selain ridho-Nya?

Allah sudah mengatakannya dengan gamblang:

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (QS Al-Isra’: 7)

Setiap perbuatan, baik dan buruk, ada konsekuensinya. Dan semua itu akan kembali ke diri kita sendiri. Bisa dibilang, inilah hukum karma. Kalau kita rajin shalat, hati dan pikiran akan tenang. Kalau rajin puasa, nafsu terkendali dan badan jadi sehat. Memberi sedekah is just simply help others, efeknya ada di ketentraman hati dan perasaan cinta yang timbul karena menolong orang lain.

Jadi seharusnya, kita berbuat baik tidaklah karena mengharap pahala atau surga…tapi hanya karena ingin mengharap ridho-Nya. Toh perbuatan baik itu manfaatnya akan kembali pada diri kita sendiri. Jika memahami prinsip ini, meskipun surga dan neraka tak pernah ada, kita masih akan tetap bersujud padaNya 🙂

Renungan Ramadhan (3): Puasa dan Produktivitas

Miris rasanya melihat foto yang terpampang di halaman depan surat kabar SURYA (2/8/2011). Para pria berseragam cokelat PNS tampak “tergeletak” tak berdaya di atas karpet masjid, tidur-tiduran sambil main HP. Baru hari pertama puasa, mereka tampak sudah loyo bekerja.

Padahal, setelah bulan puasa mereka akan dikejar pengeluaran besar untuk merayakan Idul Fitri. Ironis ya? Di Indonesia, bulan puasa adalah bulan terboros dalam pengeluaran konsumtif, sekaligus bulan di mana produktivitas menjadi rendah karena “keloyoan” para pekerja. Besar pasak daripada tiang.

Keadaan puasa bukanlah halangan untuk meningkatkan produktivitas. Kalau selama sebulan loyo, mau ke mana arah perekonomian negara? Jangan jadikan lapar sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Pengalaman pribadi, lapar itu hanya terasa pada awalnya. Ketika terbiasa dan diniatkan dengan ikhlas, apalagi ditambah dengan kesibukan, rasa lapar nggak akan terasa.

Seperta para orang suci zaman dulu (pertapa/pendeta/dll), perut kosong adalah saat di mana kita dituntut untuk mengendalikan diri, menjernihkan pikiran, dan berkontemplasi. Puasa adalah sarana untuk memperbaiki pekerjaan kita agar sejalur dengan jalan Tuhan, bukannya justru menunda/mengurangi pekerjaan kita. Bukankah bekerja adalah ibadah???

Renungan Ramadhan (2): Puasa Abadi Rakyat Miskin Afrika

Di saat kita sedang menjalankan ibadah puasa yang hanya setahun sekali, ternyata orang-orang miskin di Afrika tengah menjalani “puasa abadi”. Wilayah Afrika Timur (Tanduk Afrika) terutama Somalia, Ethiopia, dan Kenya mengalami kekeringan hebat sejak awal Juli 2011 yang berujung pada krisis pangan terparah dalam 60 tahun terakhir.

Opini di Kompas (2/8/2011) berjudul “Liberalisasi Kebablasan di Tanduk Afrika” dengan gamblang mengisahkan penyebab parahnya bencana kelaparan. Makanan sangat sulit didapat di pedesaan karena lahan pangan sudah diserahkan ke perushaan multinasional untuk ditanami pangan ekspor. Ini akibat pemerintah yang menggalakkan pasar liberal secara kebablasan. Para penduduk desa sampai harus berjalan jauh ke ibukota agar mendapat makanan. Sedihnya, banyak yang tidak kuat menahan lapar dan dahaga hingga mati di tengah perjalanan tersebut.

Di saat kebanyakan dari kita menjalankan ibadah puasa dengan setengah2, mengeluh, tak tahan lapar dan haus, ternyata kawan2 kita di Afrika sana mengalaminya sebagai bagian dari “rutinitas sehari2”. Kematian karena kelaparan adalah hal biasa. Padahal, kita hanya merasakan sepercik saja dari penderitaan mereka, tapi sudah mengeluh tak habis2nya.

Puasa melatih kepekaan kita kepada rakyat miskin. Puasa tidak hanya menampar perut, tapi juga menampar hati nurani kita untuk berhenti sejenak, menoleh, dan mengulurkan tangan pada orang-orang yang tertinggal di belakang kita. Seandainya ada yang bisa kita lakukan untuk hamba-hamba Tuhan yang kurang beruntung…

Renungan Ramadhan (1): Ramadhan di Negeri Orang

Islamic Centre England

Ramadhan dan Idul Fitri identik dengan “pulang kampung”. Menghabiskan waktu bersama keluarga, silaturahmi, lekat dengan istilah “kembali ke fitrah”. Namun bagi orang2 yang sudah menghabiskan seumur hidupnya berlebaran di kampung halaman, mereka yang ingin keluar dari ‘tempurung’ dan mengetahui dunia luar, merasakan suasana Hari Raya di negeri orang adalah sebuah impian.

Mengamati dan merasakan secara langsung menjadi Muslim di negeri orang, bagi saya adalah suatu hal yang luar biasa. Dua puluh tahun berpuasa di sebagai ‘mayoritas’ di negeri sendiri, keinginan untuk mencari tahu apa yang terjadi di luar sana sangat menggebu-gebu. Merasakan menjadi minoritas di negeri orang, tentunya akan meningkatkan kepekaan terhadap minoritas di negeri sendiri, kan?

Ingin sekali bertemu langsung dengan Yvonne Ridley, Sarah Joseph, Sami Yusuf, Maher Zain, dan orang2 penting lainnya yang memperjuangkan Islam di dunia global. Ingin melihat Islamic Center di London dan New York. Ingin berkeliling mengamati mantan2 masjid di Cordova. Ingin merasakan suasana puasa di Timur Tengah. Ingin ini ingin itu banyak sekaliii…………..

Someday I gotta travel to Muslim communities in every continent in the world, live with them, taste the difference, and write it as a report.

That’s gonna be a spiritual journey to seek the true meaning of life…

Healing: a simple message that can heal us


This song is pretty touching…!!! It is the newest Ramadhan single of Sami Yusuf. The video shooting location is in Jeddah, Saudi Arabia. You can see the video here! Listen to the music via headset while watching the video, I’m sure you’ll about to cry, coz it’s deeply touching :'(

Yang lebih mengena, ternyata lagu ini merupakan proyek sosial kerja sama antara Sami Yusuf dan Dr Walid Fitaihi (CEO International Medical Center). Dr Fitaihi yang seorang tenaga medis memiliki visi mulia bahwa penyembuhan (healing) tidak hanya berfokus dari segi fisik saja, melainkan keseluruhan jiwa dan pikiran. Semua orang bisa melakukan penyembuhan; melalui senyum dan kebaikan sederhana. Jika kita menyembuhkan, maka kita akan disembuhkan. A simple message that can heal our life 🙂

Sami Yusuf – Healing

It’s so hard to explain
What I’m feeling
But I guess it’s ok
Cause I’ll keep believing
There’s something deep inside
Something that’s calling
It’s calling you and I
It’s taking us up high

CHORUS: Read more