La Armonía de Cordoba

La Armonía de Cordoba

As soon as the sun slipped into the horizon, red tinge appeared on the sky. Its flaming colour blended perfectly with bone-like whiteness of Old Town buildings, while the green water of Guadalquivir refclected the light. Bewitched, we stand on the Roman Bridge with a dazzled look–enjoy the perfect moment and feel like never ever want to go home. Cordoba was showing its beautiful twilight to us, and that scenery was frozen forever in our memory…

Night view of Roman Bridge with Mezquita-Cathedral in the background

Night view of Roman Bridge with Mezquita-Cathedral in the background

Going to Cordoba was part of spiritual journey.

I still remember the day when I was in junior high school; sat in my class listening to my teacher’s lecture. He told us about magnificent Andalusia, Spanish region that was once conquered by Muslim rulers. Cordoba, the capital of Andalusian caliphate, became center of civilisation during Islamic golden age. It was the place where all greatest minds gathered, knowledge was developed and wisdom was reaped. It was the residence of famous Muslim scholars like Ibn Rusyd (Averroes), al Qurtubi and Ibn Arabi. It was, in short, the proof of glory of Muslim medieval civilisation.

At that time, my little mind was so fascinated by the story that it became a lifetime dream to visit Andalusia. However, when I actually reach the sacred city eleven years later, I knew that my mind has evolved. By the time I finish this journey, I no longer view Cordoba only as ‘the lost treasure’ of Muslim. It is, afterall, a living witness of how multiple civilisations clashed and tried to defeat each others.

Statue of Averroes (Ibnu Rusyd), great Philosopher who translated the lost Aristotle works into Latin, re-introduce it to the West

Statue of Averroes (Ibnu Rusyd), great Philosopher who translated the lost Aristotle works into Latin, re-introduce it to the West

Mezquita-Catedral de Cordoba is the prominent icon of this city. Originally built as Catholic church, it was turned into a mosque in 8th century when Muslim caliphate conquered the region. When Christian kingdom reconquested the city, the building changed back into cathedral. Thus, today it uniquely becomes a kind of ‘sandwich’ architecture; Christian decorations are stacked upon Muslims ornaments and so forth. In one side, you can still see a beautiful Mihrab that shows direction of Mecca where the Imam used to lead the pray, but on another side you can see a fully functional chapel with its mass preparation. Christ sculptures are everywhere but indeed you walk through the mosque pillars once used as praying rows. The church tower was once a mosque minaret but now is occupied with huge bell.

Seeing through those intertwined ornaments, it becomes clear that this building reflects how religion was used as a symbol of power. Still, isn’t it so beautiful to see how different cultures blend together?

Jesus sculpture with Moors ornaments background

Jesus sculpture with Moors ornaments background


Once mosque pillars


The Mihrab

Lely and I spent two nights in Cordoba. We stayed in a nice backpacker hostel where we met Gul Yoo, a funny Korean guy who lives in Russia and was in the middle of his one-year-travel-around-the-world. He was a keen fan of Renaissance art and told us bunch of interesting stories (and suggestions) about our next destination: Italy. Unfortunately we didn’t get a chance to walk around Cordoba together but still we manage to keep contact via Facebook. I think the best part of doing (semi) backpacking trip is that you always end up with new friends after 😉

Apart from Mezquita-Cathedral, another must-visit spot in Cordoba is of course the Old Town! It just feels amazing to stroll around those medieval buildings with its exotic corridors. Wander around. Get lost in the maze. For every entrance always lead you to another unexpected exit point. For every narrow street always surprise you with enchanting building in. And one typical charasteristic of this place is that that you can find ‘hanging flower pots’ arranged symmetrically on almost every wall of the buildings, especially the garden. Oh I really love the sensation of getting lost in Cordoba Old Town!

Cordoba Old Town seen from Cathedral Minaret

Cordoba Old Town seen from Cathedral Minaret

Strolling around the city corridors

Strolling around the city corridors

Typical hanging flower pots of Cordoba

Typical hanging flower pots of Cordoba

Another beautiful spot in Cordoba is Alcazar de los Reyes Cristianos. It is basically a palace for Christian king who visit Cordoba. I like the wonderful gardens and flowers and ponds and how we can spend the day taking pictures from any angles here 😉

Gardens of the King

Gardens of the King

Also, do not forget to enjoy the Roman Bridge of Cordoba. The twilight (and night) scenery was just unforgettable! The bridge was always busy; it somehow connects the old town with the new city of Cordoba. From this point you can see Mezquita-Cathedral, Guadalquivir river, and Calahorra Tower all in one scene.

Calahorra Tower on the end of the Roman Bridge and the Guadalqivir river flowing under

Calahorra Tower on the end of the Roman Bridge and the Guadalquivir flowing under

Not only church and mosque, Cordoba also has a Jewish synagogue, which is one of the only three synagogues left thorough Spain. Not many things left in this small synagogue but still it’s interesting to see that this city has a trace of three religions. At a glance it may look like a miniature of Jerussalem; a holy place for Abrahamic religions with their intertwined history.

The Synagogue

The Synagogue

Afterall, Cordoba might be the witness of some religious wars in the past, but still it maintains religious diversity in harmony. As written in the small handbook I got in Calahorra:

“Oh my Christ/ who welcomes Christian, Jew and Moor/ provided their faith/ is directed towards God”

“Let the Moors (Muslims) live among the Christians while preserving their own faith and not insulting ours.”

(Alfonso X, The Wise)

“My heart has become capable of every form/ It is a pasture for gazelles/ And a convent for Christian monks/ And a temple for idols and the pilgrim’s Kaaba/ And the tables of the Torah, and the book of the Koran/ I follow the religion of love/ Whatever way love’s camels take/ That is my religion and my faith”

(Ibn Arabi)

*) This post is part of my Euro Trip series. Cordoba, 6-8 September 2015.

Ramadhan Series: “Progressive Believer”

Ramadhan Series: “Progressive Believer”

Ramadhan adalah bulan kontemplatif. Dengan perut kosong dan pengendalian nafsu, Tuhan sebetulnya menyuruh kita untuk berpikir. Dengan mengistirahatkan perut, panca indera, dan alat reproduksi, Tuhan sesungguhnya meminta kita untuk menggunakan otak kita. Berpikir dan merasa, lebih daripada biasanya. Perenungan tentang Tuhan, iman, dan agama justru tidak bisa lepas dari hal-hal duniawi. Sebab pemahaman terbesar tentang Tuhan akan didapat tidak di dalam rumah peribadatanNya, melainkan dalam pergumulanmu dengan makhluk2 ciptaanNya. Dan ketika kamu sudah benar2 memahamiNya, kamu pun tak akan memperoleh manfaat apapun darinya kecuali jika kamu membaginya dengan makhluk2Nya. Sebab iman bukanlah untuk disimpan sendiri, melainkan untuk diaplikasikan demi kemajuan umat manusia. (Read: Agama Aplikatif) Tidak sepenuhnya benar jika ada yang bilang bahwa “iman itu urusan pribadi manusia dengan Tuhan”, karena justru perwujudan tertinggi iman seseorang dapat dilihat dari sikapnya terhadap makhluk ciptaan Tuhan. Sebab, bukankah manusia yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaq (budi pekerti)nya? Manusia yang benar2 beriman dan memahami agamanya, tidak akan terjebak dalam paradigma sempit mengenai Tuhan. Tuhan tidak sesimpel membenarkan ‘Tuhan’ sendiri dan menyalahkan ‘Tuhan’ lainnya. Tidak sesederhana mengejar pahala dan menghindari dosa. Tidak semudah hidup bagaikan biarawati lalu melupakan apa yang terjadi di dunia. (Baca: Menjadi Muslim Sesungguhnya) Agama bukan semata simbol. Sorban dan jilbabmu tidak mencerminkan ketakwaanmu. Keaktifanmu di organisasi keagamaan juga belum tentu menunjukkan derajatmu lebih tinggi daripada yang “awam”. Bukankah segala perbuatan dinilai dari niatnya? Karena itu ibadah bukan semata ritual fisik saja, tetapi makna di dalamnya itu yang lebih penting. (Baca: Esoterisme Agama) Iman yang ideal sudah selayaknya diwujudkan dalam kehidupan yang seimbang–dunia dan akhirat. Menjadi manusia yang sukses scara duniawi, tetapi juga tidak melupakan akhirat sebagai tujuan hidup abadi. Orang2 yang beriman tetapi berpikiran progresif. Beragama dengan akal sehat. Tanpa fanatik buta, tanpa merasa apriori terhadap cara hidup modern. Seorang yang bisa dikatakan sebagai “progressive believer”. “Progressive Believer”, tema inilah yang akan saya usung dalam rangkain blogpost Ramadhan tahun ini. Setelah seri “Renungan Ramadhan” beberapa tahun lalu, Ramadhan kali ini saya ingin membahas profil tokoh2 Muslim yang saya anggap sebagai “progressive believer”, seseorang yang berhasil meraih sukses duniawi dengan tetap berpegang teguh pada imannya. Mudah2an kisah tenang kehidupan mereka dapat menginspirasi kita untuk menjadi muslim yang lebih baik. Semoga bermanfaat dan selamat membaca 🙂 Ramadhan-Inspirational-Quotes-HD-Wallpapers

Mencari Cakrawala

Mencari Cakrawala

Cakrawala bukan garis biasa. Di sana tempat bertemunya langit dan bumi, angkasa dan samudera. Di sana kamu bisa melihat betapa langit seolah berbatas, dan bumi seolah bersegi. Cakrawala hanya sebilah garis semu, tapi saat menatapnya terlihat sangat nyata. Dalam seni rupa, di cakrawala lah ujung perspektif bermula.

Cakrawala adalah tujuan hidup saya.

Dalam mengarungi rentang usia manusia, tentu kita menginginkan hidup yang damai dan nyaman. Kedamaian dan kenyamanan itu hanya bisa tercapai jika kita menemukan keseimbangan hidup. Seimbang antara urusan material dan spiritual, antara dunia dan akhirat, antara manusia dan Tuhan. Bukankah realita2 di bumi perlu diimbangi oleh keajaiban2 dari langit? Itu sebabnya kita harus bekerja dan berdoa, bukan salah satunya saja. Kadangkala setelah kita bekerja sekuat tenaga dan pikiran, belum juga ditemukan jalan keluar. Di sinilah kita butuh mukjizat, yang hanya bisa dicapai dengan terus-menerus berdoa. Sebaliknya, kita pun nggak bisa menjadi manusia yang sepenuhnya pasrah pada kehendak takdir, tanpa mau berusaha mengubah kehidupan.

Di dunia modern, di mana manusia sudah semakin canggih, kekuatan Tuhan seringkali dianggap remeh. Banyak orang menjadi agnostis atau atheis, dan dengan bangga mendeklarasikannya. Itu murni hak mereka. Tapi saya percaya, keyakinan pada Tuhan adalah sesuatu yang menguatkan jiwa kita. Kekuatan jiwa–kekuatan spiritual–inilah yang menjadi penyangga hidup kita. Keyakinan ini yang membedakan manusia dari robot–mendorongmu berkarya tidak hanya demi produktivitas dan rutinitas semata, tetapi untuk tujuan yang lebih mulia.

Menjadi orang yang sukses secara duniawi tanpa diimbangi kekuatan spiritual, seperti gelembung sabun yang besar tetapi rapuh. Nggak heran banyak artis2 dan pengusaha sukses yang saat kena musibah hidupnya jadi geje, atau malah meninggal secara tragis (I’ve been talked about this here). Meskipun fisik dan otakmu kuat, nggak banyak yang bisa kamu peroleh dengan jiwa yang kosong.

Demikianlah cakrawala yang saya cari. Sebuah garis pertemuan, sebuah titik keseimbangan. Dan saya yakin hampir semua orang juga menginginkannya: Elizabeth Gilbert mencarinya dalam perjalanan setahun keliling dunia, Piscine Patel menemukannya setelah 227 hari terombang-ambing di tengah samudera, dan kamu pun pasti juga sedang mencarinya sekarang–ya kan?

Manusia akan terus mencari2 dan bertanya2 selama hidup, karena jawaban sesungguhnya baru akan didapatkan saat ajal menjemput. Bukan begitu? Life is asking question, while death is getting the answer…

*Sebuah refleksi di awal tahun 2014*

Capek di-InsyaAllah-in

Capek di-InsyaAllah-in

Seberapa sering kamu mendengar jawaban “Insya Allah” saat kamu meminta kepastian dari seseorang? Well I think I have heard enough to say “STOP IT”. Jangan bilang “Insya Allah” lagi. Kalau iya bilang aja iya, kalau enggak ya enggak. Yang tegas gitu lho. Nggak usah pakai alasan religius untuk menutupi keragu-raguanmu, kesungkananmu, atau apalah itu.


Kamu tahu kan artinya “Insya Allah”. Kurang lebih artinya itu “God’s willing”, “if God wills” atau seperti yang kerap kita dengar, “jika Allah menghendaki.” Ucapan ini menunjukkan bahwa kita menempatkan Tuhan dalam posisi penting di hidup kita, bahwa kita berserah diri pada Tuhan dan bahwa “manusia berencana Tuhan menentukan.” Singkatnya, ucapan ini dipakai justru saat kita BERNIAT hendak melakukan sesuatu, saat kita MAMPU mengerjakannya–tetapi kita rendah hati dengan mengatakan “Insya Allah”. Karena kita tidak tahu jika Allah punya takdir lain seperti misalnya kita kecelakaan, sakit, meninggal, ada bencana alam dll. Yaa hal2 besar kayak gitu lah. Jadi sebetulnya “Insya Allah” makna aslinya adalah “YA, SAYA BISA.”

Jadi lucu banget kalo kamu memakai “Insya Allah” justru di saat kamu ragu, nggak yakin bisa, atau malah sudah pasti tidak bisa tapi sungkan/malu mengakuinya. Ditanya “Bisa ketemuan besok nggak?” Bilangnya “Insya Allah.” Pas hari H, tiba2 rasanya “Duh males deh mau ketemuan” akhirnya batalin janji sepihak mendadak. Ngelesnya sih “Kan bilangnya Insya Allah…” Tau nggak? Itu sama aja kamu MENGKAMBING-HITAMKAN TUHAN untuk kesalahanmu sendiri.

Mengucapkan “Insya Allah” bukan berarti kamu tuh memasrahkan hal yang menjadi tanggung jawabMU, kehendakMU, dan atas kemauanMU sendiri, menjadi tanggung jawab Allah. Singkatnya, itu namanya MELEMPAR TANGGUNG JAWAB men. Hal yang harusnya jadi kehendakmu sendiri kamu lempar jadi seolah “kehendak Tuhan”. Kayak misalnya, kamu mau belajar atau enggak, itu kan murni dalam tanggung jawabmu, masa harus nunggu Allah berkehendak baru kamu mau belajar? Ya alesan aja itu sih namanya.

Jadi guys intinya nama Allah itu suci, jangan dipake sembarangan ya. Pikir2 dulu kalau mau bersumpah atau berjanji pakai nama Allah. Well ini ada tulisan bagus tentang Insya Allah I just found here:

Dan ada juga sindiran dari bule Youtuber beken Sacha Stevenson soal nasib “di-Insya Allah-in” alias di-PHP-in…enjoy! 😉

Newbie Diary (3): Renungan Ramadhan Galau

Newbie Diary (3): Renungan Ramadhan Galau

Ramadhan Jangan Galau

Sampai minggu terakhir Ramadhan tahun 2012 ini, enggak ada satupun tulisan serial Renungan Ramadhan ‘keluar’ dari jari-jariku seperti  tahun-tahun sebelumnya. Bagiku, Ramadhan tahun ini enggak khusyuk banget rasanya. Pertama kalinya Ramadhan di kota lain, pisah dari keluarga dan hidup sendirian, hari-hariku dihabiskan seperti ‘robot’ di tempat kerja dan kos-kosan.

Sahur dan buka yang biasanya tersedia di atas meja, sekarang harus dicari sendiri. Setiap sahur seringnya cuma makan roti, atau nasi yang dibeli semalam, karena malas pergi keluar. Pas sahur enggak bisa nonton Tafsir Al-Misbah karena mbak2 kos lebih suka nonton Mama Nori (well, gw juga suka sih sebenernya :P) Habis Subuhan enggak bisa tadarusan karena mesti cuci baju dan siap2 ngantri mandi. Bayangin, sampe sekarang di kosan Cuma sempet baca Al-Quran 3 kali, itupun Cuma beberapa lembar. Tarawih pun enggak pernah sama sekali, karena habis buka bawaannya ngantuk, masih asing sama masjid di sini, jadinya lebih sering ngobrol2 atau laptopan sampe ketiduran. Asupan rohaniah juga enggak ada karena nggak pernah baca rubrik Ramadhan di koran. Jadilah Ramadhan ini semacam ‘kosong’. Cuma sekedar puasa fisik menahan lapar dan dahaga, tapi batin enggak ada makanannya L

Untungnya di sini enggak terlalu kesepian. Ada Rahayu dan Desi, temen2 “satu geng” di kantor, teman buka bersama dan kadangkala sahur bersama. Di tanah rantau, teman menjadi sama berharganya seperti keluarga sendiri. Dan kami pun mengalami saat2 menyenangkan, buka bersama satu pabrik, buka bersama trainee2 lainnya, gantian menginap di rumah/kos, dan jalan2 keliling kota Surabaya.

Well, enggak kerasa sudah 1 bulan aku kerja di sini, dan aku mulai menikmati tempat ini J Memang benar, yang menjadikan  suatu tempat penuh kenangan adalah kebersamaan kita dengan orang2 di dalamnya. Aku bersyukur punya bos yang baik dan rekan2 kerja yang suportif di divisi Marketing Export. Aku juga senang punya rekan2 yang “gila” dan seru di divisi Produksi. Orang2 yang ramah di HRD, RnD, dan bahkan satpam2nya.

Meskipun aku tahu, saat masa training ku sudah selesai pasti aku juga akan menghadapi “bentrok” dan masalah dengan mereka, tapi itu hal yang wajar dalam pekerjaan. Seperti kata bosku, kalau kamu enggak pernah bentrok dengan rekan kerjamu, ya berarti itu kamu enggak kerja dengan sungguh2.

Progressive Believer, Sukses Dunia Akhirat

Progressive Believer, Sukses Dunia Akhirat

Kenapa Indonesia nggak maju-maju?

Percaya atau enggak, bisa jadi ini ada hubungannya dengan kualitas keimanan. Orang sekuler pasti berpendapat bahwa iman dan kemajuan suatu negara itu nggak ada korelasinya. Tengok saja Amerika Serikat dan Jepang. Di AS mayoritas penduduknya nggak punya agama, bahkan nggak percaya Tuhan. Orang Jepang percaya Dewa, tapi enggak lekat dengan tradisi agama tertentu kecuali agama nenek moyang. Nyatanya, kedua negara itu sukses jadi raksasa ekonomi dunia. Malahan negara2 dengan tradisi keagamaan yang kuat, seperti Timur Tengah, India, Kamboja, toh ya nggak maju-maju amat. Malah seolah-olah (dan ini yang sudah terlanjur mengakar di benak mayoritas penduduk dunia) agama itu menghambat kemajuan peradaban.

Sekarang saya bicara tentang Indonesia. Secara statistik 88,7% dari 240 juta penduduk Indonesia adalah Muslim. Lucunya, roda perekonomian Indonesia mayoritas digerakkan oleh pengusaha nonmuslim. Rasanya hidup 88,7% orang itu seperti ditopang oleh persentase orang yang nggak sampai 10%.

Makanya, kadang saya malu jadi Muslim Indonesia.

Kayaknya Muslim Indonesia cuma bisa ngurusin hal yang remeh temeh. Urusan menetapkan Lebaran aja ribut. Urusan presiden wanita juga ribut. Urusan foto pre-wedding dan naik ojek bukan muhrim juga ribut. Tapi mengentas kemiskinan enggak bisa, jadi juara Olimpiade enggak bisa, jadi atlet berprestasi enggak bisa. Apa Muslim yang baik itu kerjaannya cuma ngalor ngidul ke masjid, Yasinan tiap malam Jumat, menyembelih kurban yang dagingnya dimakan sendiri? Apakah itu yang diajarkan Al-Quran? Apakah itu yang dicontohkan Rasulullah?

Soal ini sebetulnya sudah pernah saya bahas di sini, di situ, dan di sana. Kita patut bersyukur karena punya tuntunan hidup yang sempurna. Kalau Anda Muslim, cobalah buka terjemahan Al-Quran dan baca isinya. Anda akan paham mengapa kita harus menjadikannya pedoman hidup. Semua tetek bengek urusan kehidupan manusia, mulai dari ritual ibadah, cara menikahi dan menceraikan pasangan, cara membagi warisan, tata cara jual beli, urusan catat mencatat utang dagang (Al-Baqarah ayat 282), semua itu diatur dalam Al-Quran!

Pedoman itu mestinya cukup untuk menjadikan urusan dunia akhirat kita tertata. Ironisnya, Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam malah jadi semrawut seperti ini. Ironisnya lagi, masih banyak pemuka2 agama Islam yang cuma bisa koar-koar tentang ayat2 Al-Quran tapi enggak menjalankannya, malah korupsi dan berzina. Artinya, mereka beragama tapi enggak beriman kan?

Di sinilah kualitas keimanan menjadi penting. Orang yang sungguh2 beriman, akan berupaya untuk terus meng-upgrade imannya supaya tercapai kebahagiaan dunia akhirat. Islam artinya berserah diri. Ketika kamu menyerahkan dirimu sepenuhnya pada Tuhan, maka secara otomatis kamu pun akan menghormati makhlukNya, ya kan? Ketika kamu benar-benar mencintai Tuhan, maka secara otomatis kamu akan berusaha merasakan tanda-tanda kebesaranNya, mencari dan meneliti rahasia2 alam yang Dia ciptakan.

Negara2 sekuler seperti AS dan Jepang berhasil maju tanpa iman, karena mereka mengambil nilai2 universal dari agama mereka meski membuang tradisi ritualnya. Tetapi tetap saja kemajuan mereka itu kosong, kan? Berapa banyak konglomerat Jepang yang bunuh diri karena mengalami kekosongan spiritualitas? Berapa banyak selebritis AS yang kecanduan obat-obatan terlarang, bahkan tergeletak mati karena overdosis? Kadangkala kemajuan dan kesuksesan tidak lebih dari gelas mewah bertatah permata yang tidak ada isinya. Kamu tertarik meraihnya tetapi ketika mendapatkannya, ternyata tak ada air yang bisa diminum untuk melegakan tenggorokanmu.

Itulah risiko sekularisme. Padahal, dengan mengimani dan menjalankan sepenuhnya agamamu, sebetulnya kamu sudah memperoleh keuntungan dunia akhirat. Kamu akan hidup sukses sekaligus bahagia. Sudah saatnya kita menjadi orang-orang beriman yang berpikiran maju lagi sejahtera.

Agama Aplikatif

Indonesia memang negeri yang ironis. Negara yang mencantumkan agama dalam KTP, tapi kelakukan penduduknya sama sekali nggak agamis. Negara yang lengkap jenis agama dan kepercayaannya, tapi lengkap juga jenis kejahatan dan kriminalitas penduduknya. Di sisi lain, banyak negara sekuler yang moralitasnya jauh lebih baik. Nah lho, ngapain beragama coba?

Sebenarnya agama dibuat untuk membimbing manusia agar hidup lebih baik kan? Namun ada kalanya, manusia terjebak pada aspek “ritualitas” dari agama, tapi lupa memaknai “spiritualitas”nya. Padahal bukankah setiap ibadah ritual dalam agama itu ada maknanya? Every “what” has “why”, setiap perbuatan ada alasannya.

Rasanya penyebab ironisme Indonesia jelas: orang Indonesia beragama, tapi enggak mengaplikasikan agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Agama cuma dipandang sebagai identitas sosial, alat identifikasi status dan golongan, rutinitas tanpa makna yang dilupakan hakikat serta tujuan sebenarnya. Cuma barisan ayat-ayat yang dipamer-pamerkan dan dibangga-banggakan, tapi tidak dilaksanakan.

Kalau para Nabi melihat umatnya sekarang seperti ini, pasti mereka sedih. Padahal maksud mereka mengajarkan agama pada pengikutnya adalah untuk memperbaiki hidup mereka, bukan malah memperburuk kehidupan dengan tindak amoral atas nama agama.

Agama bukan sekedar simbol, tapi jalan hidup. Jika memang ingin benar-benar hidup bahagia, ya terapkan saja nilai-nilai agamamu dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hanya menjalankan ritual kosong, tapi melupakan makna spiritualitasnya. Bukankah kadar iman seseorang tercermin dalam tingkah lakunya?

Dian Pelangi

Umurnya lebih muda dari saya, lahir Januari 1991. Tapi dalam usia belia, dia sudah mencapai apa yang orang seusia dia baru bisa memimpikannya. Dia sudah memimpin bisnisnya sendiri, diundang dalam ajang internasional, traveling keliling dunia, dan bahkan dia sudah menikah dengan laki-laki idamannya. Dia perempuan paling beruntung yang pernah saya tahu.

And she is a believer. Banyak perempuan muda yang sukses tapi tanpa didasari nilai moral yang kuat. Mereka sukses tapi akhirnya terjerat berbagai kasus memalukan; hamil, video porno, dll. Tapi dia malah memilih menikah muda meskipun masa depan karirnya merentang luas, dan terbukti, dia malah tambah beken setelahnya.

Well, dia adalah Dian Pelangi, alias Dian Wahyu Utami, seorang perancang busana muslim yang lagi naik daun. Gak sengaja follow twitternya semingguan lalu, ternyata dia udah ada di mana-mana. Udah masuk Jawa Pos, udah jadi duta AMD Rising Stars (AMD = processor saingannya Intel), udah tampil di Jakarta Fashion Week.

Dian punya segala yang saya inginkan sebagai seorang perempuan muslim-muda-modern. Cantik, modis, cerdas, punya karier, dan laki-laki idaman. Mungkin dia sedikit lebih beruntung karena terlahir di keluarga mapan yang mempercepat kesuksesannya di usia muda, tapi saya rasa dia sudah berhasil menjadi seorang idola baru. She shows that to be a progressive women believer is not impossible.

Orang sudah terlanjur menstigmakan perempuan muslimah seperti orang kolot, pasif, tertindas, dan hidup dalam kungkungan keluarga. Padahal ya nggak gitu-gitu amat kali, halllooo? Saya kagum sama perempuan2 bebas dan cerdas seperti gambaran perempuan2 Barat pada umumnya, dan saya ingin jadi seperti itu, tapi saya nggak seberapa setuju sama aliran feminisme yang mereka usung.

Apakah perempuan bebas berarti harus mau mengeksploitasi tubuhnya dengan berpakaian terbuka? Apakah perempuan bebas juga harus menjunjung seks bebas? Apakah perempuan bebas harus mengejar karir sampai puncak dan tidak menikah apalagi memilik anak?

Dian Pelangi menunjukkan bahwa jawabannya adalah enggak. Bagi perempuan muslim muda yang hidup dalam modernitas, nilai-nilai agama kerap terbentur dengan pergantian zaman. Bisa nggak sih tetap ngeksis, gaul, cerdas, dan terbuka tanpa harus ikut2an dugem, party—tanpa harus mengorbankan nilai-nilai moral religius?

Sebenarnya sedih lho melihat perempuan2 muda muslim di Indonesia kekurangan panutan. Ada beberapa temen yang dulu satu sekolah di madrasah, sekarang karena pengin keliatan gaul dan eksis jadi ikut2an minum, nongkrong2 nggak jelas, tapi gak punya prestasi. Kehilangan jati diri.

Padahal prinsip hidup itu penting. Kita bisa bergaul dengan siapa saja, terbuka menerima pemikiran apa saja, tapi selama kita pegang teguh prinsip kita itu, kita nggak akan terpengaruh. Obah tapi gak owah. Fleksibel tapi tegas.

Saya juga pingin punya bisnis sendiri, pingin traveling keliling dunia, dan pingin menikah dengan laki-laki yang saleh. Pingin rasanya bisa bahagia dunia akhirat, kamu juga kan? 🙂

Renungan Ramadhan (10): Tuhan Maha Demokratis

Kalau Tuhan ingin disembah manusia, mengapa dia membiarkan orang atheis? Padahal ia Maha Kuasa untuk membuat semua hambaNya beriman. Menurutku, Tuhan tidak hanya Maha Kuasa, tapi juga Maha Demokratis. Dia tidak mendikte, tetapi memberi pilihan. Namun Dia tidak melepaskan kita begitu saja. Dia tetap memberi panduan dan petunjuk melalui Rasul dan Kitab-Nya. Dia juga memberi kita akal agar bisa berpikir dan memilih sendiri mana jalan yang akan kita lalui, jalan yang lurus atau jalan yang sesat?

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (QS Yunus ayat 99)

Mudah saja bagi Tuhan menjadikan manusia semua pengikutNya. Tapi Dia mau manusia beriman karena kehendak mereka sendiri, bukan dengan terpaksa. Maka Dia hanya memberi kita petunjuk dan akal, tapi kita sendirilah yang mempergunakan akal kita ini dan memutuskan apakah hendak mengikuti petunjuk itu atau tidak.

”Dan katakanlah, kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir.” (QS. Al-Kahf ayat 29).

”Tidak ada paksaan dalam menganut agama. Sesungguhnya telah jelas antara yang benar dan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah 2:256).

Kepada para RasulNya pun Dia berpesan untuk tidak memaksa. BagiNya Rasul hanyalah seorang pemberi peringatan, keputusan untuk mengikuti atau tidak ada dalam diri setiap manusia masing2.

“Jika mereka berserah diri, maka sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanya menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat hamba-hambaNya.” (QS. Al-’Imran ayat 20)

Jadi begitulah… Nasib kita ada di tangan kita sendiri 🙂

Renungan Ramadhan (9): Tuhan Maha Tegas

Jika memang Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang, mengapa Dia menciptakan neraka dan menurunkan azab di dunia? Jangan lupa, Tuhan tidak hanya Maha Pengasih dan Penyayang, tetapi juga Maha Perkasa. Sebagai perumpamaan, orangtua mendidik anak2nya selain dengan kasih sayang pastilah dengan ketegasan. Sebab, jika anak itu dimanja terus menerus, tentunya si anak malah menjadi nakal dan seenaknya sendiri.

Demikian pula Tuhan…ia menganggap manusia sudah dewasa. Ia memberi pilihan jalan, tapi ditegaskanNya pula konsekuensi setiap jalan yang diambil. Bagiku, Tuhan itu pemimpin, dan pemimpin haruslah tegas. Dia harus tegas karena Dia mengatur alam semesta seisinya. Bukanlah Tuhan jika ia tidak bisa membela diriNya sendiri.

Namun azab Tuhan itu bukanlah dimaksudkan untuk menganiaya manusia. Itu adalah hukuman karena manusia telah menganiaya diri sendiri. Tuhan sudah cukup memberi kita petunjuk dan pengajaran yang baik melalui kitab suciNya, hanya saja manusia terlalu bebal untuk menggunakan akal dan nuraninya sehingga mengikuti hawa nafsunya.

Tuhan tidak pernah menganiaya manusia. Manusia lah yang menganiaya diri mereka sendiri.

“Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS Ali-Imran ayat 108)

“Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Ali-Imran ayat 117)

“(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran ayat 182)

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’ ayat 40)

“Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun”. (Qs Al-Kahfi ayat 49)

“Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya).” (QS Fussilat ayat 46)

“Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS Az-Zukhruf ayat 76)

“Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.” (QS Qaf ayat 29)

Manusia juga tidak bisa menganiaya Tuhan. Ketika berbuat dosa, sebenarnya tidak secuil pun manusia merugikan atau menganiaya Tuhan, melainkan manusia lah yang menganiaya diri mereka sendiri.

“Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Qs Al-Baqarah ayat 57)

“Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.” (QS Al-A’raf ayat 160)

Dengar kan suara ketegasan Tuhan?