Ma Chung University Uncategorized

About the Talkshow…

Beberapa pertanyaan dan pernyataan sukses menarik perhatianku saat talkshow CBDC 2 Sabtu kemarin. Karena jadi moderator, mau gak mau aku harus memperhatikan benar kata-kata setiap pembicara dan penanya. Padahal biasanya kalo dengerin seminar CBDC mataku gak bisa mbuka’ tanpa dipaksa…hahaha

Dari 7 pembicara, menurutku yang paling menarik adalah apa yang disampaikan Pak Jimmy Pardede dari Gereja Reformed Injili Indonesia. Biarpun nih orang ngomongnya cepet tanpa titik koma, tapi bener2 padat dan berisi. Satu hal yang kena banget di otakku adalah gagasan soal “kebebasan palsu”. Bahwa zaman sekarang orang2 banyak terkungkung oleh kebebasannya sendiri. Bahwa sebenarnya kebebasan yang berlebihan malah menimbulkan KECANDUAN, yang sebetulnya membuat kita terikat pada kebebasan itu. Kontradiktif, ya?

Seperti orang merokok, misalnya. Well, kamu bisa bilang “saya bebas merokok.” Kamu bebas melakukannya selama gak merugikan orang lain. Tapi ketika kamu merokok dan terus merokok, pada akhirnya kamu gak bisa hidup tanpa rokok. Kamu mulai ketagihan. Kamu mulai terikat pada apa yang kamu sebut ‘kebebasan merokok’. See, kamu mulai terkungkung oleh kebebasan yang kamu ciptakan sendiri. Wah, ‘nonjok’ banget nih.

Bicara soal Bapak xxx yang mewakili pemuka agama Islam, sebetulnya aku agak sedikit kecewa. Aku berharap yang diundang adalah seorang cendekiawan muslim keren yang sepemikiran dengan Nurcholis Madjid, atau sebijak Aa’ Gym, atau se-logic Quraish Shihab. Seseorang yang lebih moderat, logis, dan ilmiah tentunya. Yang kalo pidato gak panjang2 tapi langsung ke intinya. Yang kalo jawab pertanyaan to the point, memuaskan, dan mencerahkan.

Kemarin tuh cukup banyak pertanyaan yang nyerempet2 ke hukum Islam. Misalnya tentang nikah siri dan poligami. Well, pertanyaan nikah siri itu emang aku udah tau jawabannya. Dan soal poligami, aku agak kecewa karena Bapak xxx itu njawabnya kurang tegas, kurang logis, dan agak ‘mekso’. Jadinya, Ibu yyy jadi punya kesempatan untuk ‘mengkritik’ poligami sehingga seolah2 memperburuk citra agamaku.

Sebetulnya pertanyaan itu bisa kujawab kok. “Katanya seks bebas dengan berganti2 pasangan itu gak boleh. Lha terus gimana dengan poligami? Apa gak ketularan PMS juga karena ganti2 pasangan?” Oh, well, rasanya pengin aku teriakin langsung ke muka ‘si anak itu’ (yang emang dari sononya nyebelin dan sukanya nantangin debat orang) “Ya gak laaahhh!!!” Tolong ya, emangnya biar poligami kamu pilih istri sembarangan? Asal comot aja gitu? Ya pasti harus tau bibit, bebet, dan bobotnya lah. Kalo udah jelas sehat, ya gak bakal ketularan biar ganti2 juga. Yang dimaksud ‘ganti pasangan’ itu ya ketika kamu melakukan kumpul kebo, a.k.a. nge-seks dengan sembarang orang tanpa pilih2, orang2 yang gak dikenal jelas, yang asal saut di diskotek, panti pijat, ketemu di jalan atau apa lah ‘sex right in the place’ macam gitu.

Huff. Taun depan pengin deh nawarin ke Bu Vera buat pembicara Muslim-nya. Karena sekarang nih Islam lagi jadi kontroversi dan banyak yang mempersoalkan hukum2nya, aku rasa butuh seorang pembicara yang lugas dan ilmiah untuk menjelaskan kepada orang2 logis itu. Bukan pembicara yang biasa ceramah ngalor-ngidul di depan Ibu-ibu pengajian atau majlis ta’lim. Taun depan aku pengin nyaranin ulama yang lebih kereeennn!!!

BTW, setelah dipikir2 lagi aku masih harus belajar banyak untuk jadi moderator. Kemarin aku melakukan kesalahan fatal yaitu menyela pembicara yang sedang ngomong tanpa peringatan. Udah gitu pembicaranya nyindirin aku lagi. Aduh sumpah waktu itu seluruh badanku rasanya panas banget karena malu. Malu bangeeeeetttttt……… tapi gak mungkin kan aku turun dari panggung dan teriak2 ke Bu Sinta, “Bu maaf saya salaaaaaahhhhhh!!!!!!!!!!!” Jdhieenngg. eS-We-Te.

Kayaknya lebih enak jadi pembicara deh. Lebih enak waktu presentasi pas SOE. Atau jadi MC MaC-Maple. Itu gak terlalu sulit. Jadi moderator berarti harus siap duduk 3 jam tanpa kehilangan fokus, dengan otak yang selalu kritis, dan tangan yang selalu siap mencatat. Juga kemampuan ngobrol santai dengan pembicara yang notabene higher knowledge. Oh, juga ketahanan untuk selalu senyum, penuh percaya diri, dan (sedikit) sok tahu.

Aku jadi pikir2, kalo Grace yang tampil jadinya kayak apa yah? Jelas lebih keren dan hidup. Jelas lebih bisa meng-handle situasi. Secara dia udah dewasa dan gak bakal pasang tampang lugu-lugu bego kayak aku. Yah begitulah bedanya orang yang udah berpengalaman sama yang masih ‘ijo’ banget. Ya ampun, itu pertamakalinya aku disuruh jadi moderator, langsung disodorin 7 pembicara, dan Cuma dikasih waktu kurang dari sehari buat persiapan.

Sebenernya aku pengin coba lagi. Coba terus sampe lancar. Ini bakal berkaitan erat sama cita2ku sebagai jurnalis. Well, aku gak akan melulu menulis di media cetak kan. Bisa aja ntar juga jadi presenter kayak Meutia Hafidz atau Isyana Bagus Oka…hooo basic-nya dari moderator juga toh.

Nanti lah kalo ada kesempatan lagi. Kalo Grace sakit lagi mungkin. Hehehe. Karena kayaknya aku selalu jadi ‘serep’nya dia…pas MaC-Maple itu juga. Hoh.
Anyway, keep struggling! ^^p

3 Comments

  1. Every experience is worth having. Keep moderating the Ma Chungers. Sometimes the mdoerator is indeed smarter than the presenter.

    Patrisius

  2. Waduh,Mi,,,nyesel aq gak bisa dateng ke seminarnya….

    km tuh kyknya udah siap jd moderator profesional deh, Mi…

    next time, I won’t miss your other great performance,,, =)

  3. Setuju…

    Jujur aku juga kecewa dengan pak xxx dan ceramahnya, apalagi jawaban-jawabannya. Bahkan rasanya sebelum beliau tampil pun aku udah punya firasat tentang cara berpikir beliau. Dan ternyata benar. Terlalu kaku dan old-school. Mungkin bukan tempat yang tepat untuk bicara dihadapan mahasiswa yang kritis.

    Anyway, udah lumayan bagus kq kemaren jadi moderatornya. Nggak terlalu keliatan kalo masih “ijo”, lagian kan di mata temen2 kebanyakan kamu udah high experienced soal ginian, jadi walopun salah-salah dikit nggak terlalu dianggap gedhe. Hehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *