That Marriage Between Business and Society

That Marriage Between Business and Society

What comes to your mind when you hear those words of ‘social business’, ‘corporate social responsibility’, or any other noble things that seem too idealistic to do? The middle line between business and social charity?The marriage between capitalism and socialism?

Since CSR term coined years ago, it suddenly became such a ‘happening trend’. Corporations started to engage CSR projects into their annual strategic plan and realise that somehow it can boost their reputation among community–and target market of course.

However, business is business. They suppose to make money, they are not charity foundation. They will not do something without any cost/benefit analysis behind. It’s a common argument I’ve used to hear about people who are skeptic about CSR. Corporation’s bosses might say, “Just let the government and NGOs take care of society. Our job is to make money. And this is the way we contribute to society. By making money, we provide employment, we create living for our workers.”

Well, somehow that’s not entirely wrong–yet not completely true.

CSR Reports

When I was still an idealistic fresher college student, this idea of CSR was so ‘sparkling’ that I feel mad to those irresponsible companies ruining their environment and communities. However, as I worked in a commercial corporation for 2 years and get to know how the business is actually run, I began to understand businesspeople point of view.

It’s not that I’m at the side of Freeport with their Papua nature devastation, or Nike with their ruthless labor condition. They still do unforgivable things. However, CSR projects somehow draw a border line between business and society–which make it even worse. By thinking that CSR is a marriage between business and society, we are deliberately considering that the two parties are exactly different. And why should we differ business from society? Why can’t we think of it as the whole entity?

It’s like business is ‘evil’, and society is ‘good’. Business can do anything to earn profit as long as they share (tiny) portion of the profit to community. Nike can continue enslave their workers as long as the owner donate to education charity. Danone Aqua can keep exploiting East Java springs as long as they build a kindergarten for local people near the factory. Those giants can still do all the evils–as long as they commit those CSR projects to ‘erase their sins’.

The truth is, society is the part of business, and vice versa.

I once read about The Five Capitals. It is the concept invented by British NGO, Forum for the Future,  as the framework for understanding and achieving sustainable development of organisation. Basically it says that all organisation (corporations) can do sustainable business as long as they maintain their five capitals in balance: natural capital (environment, climate, resources etc), human capital, social capital, financial capital, and manufactured capital. As long as company carefully source and manage those five capitals, they can run sustainable business.

For example, you can source as much financial capital, but you can’t harm another capital (such as natural capital & human capital) in doing so–because in long term it will negatively affect your own company. Your business can’t run without healthy climate condition–for instance. Your business can’t run without satisfied suppliers and workers. This way we think business and society as a blending entity. As long as they do business in this sustainable way, I think companies do not need to compensate their ‘sin’ by doing CSR charity merit.

In a last week seminar, the Head of CSR in Innocent Drinks, UK’s leading smoothies company, frankly said that she didn’t like the term ‘CSR’. She prefers to do a community program that directly impact their business. For instance, they set up mango plantation improvement project in India to enhance their productivity and quality. They did it because, aside of benefiting community farmers, they knew they will get quality raw material (fruit) for their end product (smoothie).

In the end, CSR has no point if it’s just used as a mask to cover your unfair business practice. As long as company behave well and fair in their business process, they don’t need to spend additional budget for ‘charity’. They already did the charity.

Sepenggal Kisah Pendidik dari Pulau Mamburit

Sepenggal Kisah Pendidik dari Pulau Mamburit

Aroma ikan cakalang asap menyeruak di tengah malam yang dingin. Tiga pemuda dan seorang pria paruh baya duduk lesehan di pelataran kelas sebuah sekolah. Dengan wajah ramah, Pak Nurul, pria paruh baya itu, mempersilakan para tamunya untuk menikmati hidangan lezat yang dimasak istrinya. “Sambalnya ini yang mantap,” ujarnya setengah promosi sambil menyodorkan sepiring sambal kacang dengan irisan cabai yang menggugah selera. Dengan penuh semangat, ketiga pemuda yang menjadi tamunya menyantap sajian makan malam yang jarang mereka nikmati itu.

Ikan cakalang adalah salah satu makanan khas Pulau Mamburit, pulau kecil yang terletak nun jauh di sebelah timur Pulau Madura. Pulau ini termasuk dalam gugusan Kepulauan Kangean yang terletak 10 jam perjalanan laut dari pelabuhan Kalianget, Sumenep. Dengan luas 8 hektar, Pulau Mamburit dihuni oleh sekitar 600 KK dengan jumlah penduduk hampir 2.000 orang. Mayoritas penduduknya hidup sederhana dari hasil melaut atau berkebun. Di siang hari, pulau dengan pantai dan taman laut yang indah ini bahkan tidak dialiri listrik dari PLN.

Malam itu, Pak Nurul tampak begitu senang menerima kedatangan para tamunya. Ketiga pemuda tersebut adalah pelancong alias backpacker dari Pulau Jawa yang datang untuk menikmati keindahan alam bawah laut Pulau Mamburit. Pak Nurul sendiri dulunya adalah seorang guru senior yang telah puluhan tahun mengajar di SDN Kalisangka 2, satu-satunya sekolah yang ada di pulau tersebut. Rumah kediaman beliau juga terletak di dalam kompleks sekolah. Namun karena suatu masalah internal, Pak Nurul dipindahtugaskan ke Sekolah Dasar lainnya di Pulau Kangean.

IMG_20140528_081352

Di antara gemerisik daun pepohonan yang tertiup angin laut, Pak Nurul sedikit demi sedikit menceritakan kisahnya. “Jumlah murid di sini 136 orang mas, totalnya ada 6 kelas. Tapi gurunya cuma 5 orang, sudah termasuk kepala sekolah. Semuanya orang Kangean. Setiap hari mereka berangkat naik perahu menyeberang ke Mamburit. Kalau lancar tidak kena ombak, jam 8 baru sampai sekolah, jam 8.15 baru mulai mengajar, dan jam 11 sudah dibubarkan,” paparnya dengan wajah prihatin.

Pak Nurul mengaku dahulu dirinyalah satu-satunya guru asal Mamburit yang mengajar di SD tersebut. Jika guru lainnya belum datang, beliau lah yang menangani murid kelas-kelas lain. “Sekarang setelah saya dipindah, anak-anak jadi semakin terlantar,” tuturnya dengan nada sedih.

Dedikasi Pak Nurul dalam mengajar murid-muridnya tampak tak perlu diragukan lagi. Beliau berprinsip untuk mendidik mereka melalui keindahan seni. Berulang kali beliau membuat sendiri karya seni berupa puisi, lukisan, dan musik sebagai sarana pendidikan bagi para siswanya. “Pernah saya buat lukisan pemandangan alam sepanjang 5 meter, lalu ditanya oleh pengawas ‘untuk apa Bapak membuat lukisan ini?’ Saya jawab, ini kan juga media pembelajaran. Di lukisan ini ada sawah, gunung, sungai…masak anak-anak harus dibawa langsung ke sana, di Mamburit kan hanya ada laut. Lewat lukisan ini anak-anak jadi tahu objek alam yang lain,” kenangnya.

Pak Nurul juga pernah mendirikan orkes musik untuk para muridnya. Di situ beliau mengajari mereka bermain gitar hingga bisa mengadakan pentas musik sendiri. Beliau juga kerap mengadakan kegiatan perkemahan seperti Persami di halaman sekolah. “Anak-anak semangat kalau diajak kemah, buat api unggun begitu,” ujarnya. Sayangnya, langkah itu sempat ditentang oleh pihak manajemen sekolah yang memiliki konflik dengan dirinya. Meski begitu, beliau bersikeras mengadakan kegiatan tersebut bahkan dengan menggunakan dana pribadi.

Secara umum, kondisi pendidikan di Pulau Mamburit tidak dapat dikatakan baik. Untuk melanjutkan sekolah, para siswa SD Mamburit harus menyeberang ke SMP yang hanya ada di Pulau Kangean. Sebetulnya beberapa tahun lalu sempat didirikan SMP yang bangunannya menjadi satu dengan SD di Pulau Mamburit. Namun SMP itu kemudian dibubarkan sehingga anak-anak harus melanjutkan SMP ke Pulau Kangean.

“Sebetulnya murid di sini itu pintar-pintar mas,” katanya dengan sungguh-sungguh. “Pernah ada guru SMP di Kangean bilang begitu. Murid saya banyak yang dapat ranking di sana. Cuma ya itu, sayang waktu SD belajarnya kurang maksimal. Padahal aslinya mereka IQ-nya bagus. Kan sering makan ikan. Ibaratnya, sudah ada wadahnya cuma tidak pernah diisi.”

Pak Nurul mengeluhkan tindakan pihak manajemen sekolah yang dianggapnya mengganggu proses pembelajaran dan berpotensi membunuh karakter anak didik. Adanya pungli biaya, kekerasan verbal, dan pembatasan kreativitas pengajar menjadikan proses pembelajaran di satu-satunya sekolah di Pulau Mamburit itu kurang maksimal. Meskipun sudah tidak lagi mengajar di SD tersebut, Pak Nurul masih menaruh kepedulian tinggi terhadap proses pembelajaran di sekolah yang telah menjadi tempatnya mengabdi sejak baru lulus kuliah itu.

“Harapan saya, semoga saja ada pemerhati pendidikan lain yang mau peduli dengan kondisi di sekolah ini,” tuturnya mengakhiri kisahnya. Pak Nurul hanyalah satu dari sekian banyak pendidik idealis lainnya yang rela mengabdi di pulau-pulau terpencil demi mendidik putra bangsa. Pulau Mamburit saja, yang masih termasuk ke dalam wilayah Jawa Timur, masih menyimpan potret pendidikan yang memprihatinkan. Bagaimana dengan sekolah-sekolah lain di pulau-pulau yang lebih terpencil? Sudah saatnya kita memberi perhatian khusus pada pendidikan di daerah pelosok Indonesia.

***

Keterangan:

*) Tulisan ini dibuat pada 26 Agustus 2014 untuk memenuhi amanah beliau. Selamat berjuang Pak!

 

Dua Puluh Empat

Dua Puluh Empat

Empat November dua ribu empat belas. Dua puluh empat. Mungkin angka keramat. Pada usia 24, Mark Zuckerberg jadi bilyuner. Pada usia 24, ibu saya menikah. Pada usia 24, saya terdampar di sebuah desa di barat laut Inggris bernama Lancaster.

Dua puluh empat, dulu terasa jauh dan terasa tua. Kini setelah mengalaminya, dua puluh empat terasa biasa saja–saya masih muda.

Ya, muda dan tua bukan lagi soal usia, tapi soal rasa. Banyak orang berumur 45 tapi merasa 25. Banyak juga orang berumur 25 tapi semangatnya sudah seperti 45 *duh*

Usia bukan lagi sebuah penanda dewasa. Usia adalah penanda berapa lama waktu yang sudah kamu habiskan untuk belajar–tapi bukan berapa banyak yang berhasil kamu pelajari. Dalam rentang usia sama, apa dan berapa yang dipelajari bisa saja berbeda.

Di usia 24, banyak kemajuan yang saya peroleh, dan tidak sedikit pula kemunduran yang saya rasakan. Manusia berubah, tetapi tidak pernah sempurna. Satu hal yang masih sama, saya selalu ingin menjadi orang yang berada di batas cakrawala. Saya suka berada di tengah2. Bukan konservatif, bukan liberal. Bukan dominan, bukan plegmatis. Bukan agamis, bukan agnostis. Bukan tomboy, bukan feminin. Bukan otoriter, bukan demokratis. Bukan kapitalis, bukan sosialis. Bukan keras kepala, bukan pasrah. Bukan realistis, bukan idealis. Bukan penguasa, bukan rakyat jelata.

Tapi apa jadinya? Seperti berdiri di atas dua perahu. Ketika keduanya melaju, yang ada saya malah jatuh tercebur ke sungai…

Seperti orang yang tak punya pendirian, ya?

Iya, saya takut memilih. Saya takut ketika berpindah ke satu sayap, akan kehilangan apa yang bisa saya dapatkan di sayap yang lain. Maka saya berdiri di antara 2 sayap, dengan harapan bisa beralih ke sayap kanan atau sayap kiri–tergantung mana yang sedang untung atau rugi.

Itu berarti saya oportunis, ya?

Nah kan. Tapi saya sedang dalam perjalanan mencari keseimbangan hidup. Bukankah seimbang harusnya berada di tengah-tengah? Tidak memihak? Non-blok? Seri?

Tipis bedanya antara seimbang dan tidak melakukan apa-apa.

Atau mungkin, perlu saya isi dulu timbangan kanan dan kiri itu, supaya jelas bedanya antara yang diam dan yang menyeimbangkan…

*tulisan random seminggu setelah ulang tahun ke-24*

keep-calm-because-i-m-twenty-four