Tak Akan Lari Puncak Dikejar (2)

Tak Akan Lari Puncak Dikejar (2)

To read before: Tak Akan Lari Puncak Dikejar (1)

Gagal mencapai puncak, bukan berarti kami kehilangan semangat. Turun dari Gunung Lawu, kami sudah merencanakan untuk berwisata ke Cemoro Sewu dan Telaga Sarangan. Perjalanan “turun gunung” terasa lebih menyenangkan karena semua tim dalam kondisi sehat setelah beristirahat semalam. Rombongan kami juga ketambahan 2 pendaki gokil asal Kediri yang gak henti2nya mencairkan suasana dengan tingkah “absurd” mereka.

Teman2 baru di gunung

Teman2 baru di gunung

Di sebuah jalur batu yang cukup curam, mendadak kami dikejutkan oleh kedatangan seorang ibu tua. Beliau memikul bakul yang cukup berat sambil menawarkannya kepada kami. Ternyata, ibu itu adalah seorang penjual nasi. Bakulnya berisi aneka barang dagangan: gorengan, nasi bungkus, dan minuman instan. Sungguh luar biasa perjuangan ibu ini: di usia yang tak lagi muda, beliau masih kuat mendaki gunung sambil memikul beban berat demi mencari penghidupan.

IMG_20140816_082728

Super woman

Kami pun berhenti sejenak untuk menikmati dagangan sang ibu. Gorengan yang sedikit keras terkena udara dingin, mencerminkan betapa kerasnya perjuangan beliau. Menurutnya, telah lama beliau berjualan makanan kepada para pendaki Gunung Lawu. Setiap hari jam 7 pagi beliau berangkat mendaki. Saat musim mendaki (17 Agustus dan Suroan), ada lebih banyak ibu2 yang berjualan seperti dirinya. Namun di hari biasa, beliau adalah satu2nya. Saya pun teringat pada Mbok Yem, pemilik warung nasi di pos 5 yang gagal kami sambangi. Dengan keberhasilannya mendirikan warung di puncak gunung, mungkin Mbok Yem telah mencapai “puncak karier” sebagai penjual makanan bagi para pendaki. Inilah uniknya Gunung Lawu ๐Ÿ™‚

IMG_20140816_082806

Andok tengah gunung

Setelah istirahat sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan. Mas Yogi, pendaki Kediri yang gokil tapi lembut hatinya, menyelipkan tip selembar uang merah bergambar Soekarno-Hatta ke tangan si ibu. Alhamdulillah, rejekinya ibu ya ๐Ÿ™‚ Sesampainya di kaki gunung, kami makan siang bersama sebelum berpisah jalan.

Selepas Zhuhur, ayah Lila datang menjemput kami. Segera kami tancap gas menuju perkebunan stroberi. Letaknya persis di seberang gerbang pendakian Cemoro Sewu. Kita bisa memetik stroberi sepuasnya…gratisss. Asalkan stroberi hasil petikan tadi dibeli…hehe jumlahnya minimal 5 ons. Harga per ons Rp 6.000. Kalau stroberi yang dipetik kurang dari 5 ons, nanti ditambahi oleh ibu penjualnya sampai 5 ons.

IMG_20140816_125129

Landscape kebun stroberi di kaki gunung

IMG_20140816_124425

Namakuuu…stroberiiiii *nyanyi*

IMG_20140816_124712

Merah dan ranum

IMG_20140816_125906

Tips dari ibu penjual stroberi: jangan mencuci stroberi, nanti cepet busuk (mblenyek). Langsung simpan di kulkas saja.

Puas berlagak petani stroberi, kami lanjut ke spot berikutnya yaitu Telaga Sarangan. Telaga ini adalah telaga alami di kaki Gunung Lawu yang telah lama populer sebagai jujugan wisata. Dengan luas sekitar 30 hektar, figurnya membentang bagaikan ceruk air raksasa di antara pegunungan. Airnya yang berwarna hijau menyatu sempurna dengan vegetasi rapat di sekitarnya. Di tepian telaga tampak berderet-deret perahu cepat (boat) dan sepeda angsa. Kami berlima memutuskan untuk menyewa satu boat seharga Rp 50.000 per putaran untuk mengelilingi telaga. Satu boat bisa muat untuk 5-6 orang (exclude sopir boat).

IMG_20140816_133612

Jejeran boat di tepi Telaga Sarangan

IMG_20140816_133622

Pulau kecil di tengah telaga

Pengalaman naik boat ini seru sekali ๐Ÿ˜€ Sang sopir yang sudah berpengalaman akan membawa kita mengelilingi telaga dengan hentakan2 asyik. Entah bagaimana telaga Sarangan ini punya arus gelombang yang cukup kuat. Ditambah kepiawaian sopir meliuk-liukkan boat-nya, rasanya jadi seperti naik jet ski di pantai. Kami para cewek tak henti2nya berteriak heboh. Wajib dicoba deh pokoknya ๐Ÿ˜€ (Tips: kalau sewa boat langsung 3 putaran dapat diskon jadi Rp 130.000)

IMG_20140816_134316

Wooohooo! ๐Ÿ˜€

Puas naik boat, kami berjalan kaki mengelilingi telaga. Sebetulnya kita bisa menyewa kuda, tapi jalan kaki lebih seru (dan murah) pastinya. Di sekeliling telaga banyak dijumpai warung2 yang menjual makanan khas Sarangan yaitu Sate Kelinci. Harganya murah, cuma Rp 10.000 per 10 tusuk. Di atas deretan warung tersebut, ada perbukitan dengan vegetasi rapat. Kita masih bisa menjumpai kawanan monyet hutan yang bergelantungan di pohon.

IMG_20140816_140815

Tempat kongkow asik ๐Ÿ™‚

Lelah berjalan, kami memutuskan untuk beristirahat di salah satu warung lesehan dan memesan sate kelinci. It was a perfect place: duduk lesehan di tepi telaga sambil mengobrol dan menikmati pemandangan. Belum lagi ditemani gurihnya sate kelinci dengan citarasa bumbu kacang pedas-manis yang lezat… Asik deh pokoknya ๐Ÿ˜€ (Buat yang belum pernah makan, tekstur daging kelinci ada di antara daging ayam dan daging kambing, jadi pas lah)

IMG_20140816_144336

Sate kelinci, enyaaaakkk :3

Pulang dari Sarangan, kami mampir untuk membeli buah yang bikin penasaran: kabocha namanya. Katanya buah ini juga baru2 ini happening ditanam di lahan sekitar Telaga Sarangan. Warnanya oranye cerah dan sungguh mencolok mata. Perawakannya seperti labu (waluh), hanya saja ukuran lebih kecil dan warna jingga terang. Harganya Rp 10.000 per kg. Bisa dibuat kolak, campuran agar2, dll. IMHO, saat dikolak teksturnya lebih padat dari waluh hingga cenderung seperti ubi…tapi enaaakkk ๐Ÿ™‚

IMG_20140816_152409

Labu kabocha, banyak dijual di pinggir jalan bersama stoberi

Setelah mandi dan beberes di rumah Lila di Ngawi (perbatasan dengan Magetan), kami pamit pulang. Berterimakasih sama ortu Lila karena sudah dipersilakan menginap semalam sebelum kami berangkat ke Lawu kemarin, juga sudah diantar jemput ke sana kemari. Berhubung hari sudah malam, sebelum balik Malang, Irul, Yusup, dan saya mampir menginap di rumah neneknya di Madiun. Kami kulineran pecel Madiun di malam hari bersama pakliknya. Paginya kami bertiga jalan2 di pasar dekat rumah dan ketemu makanan lucu, namanya gendhis; bola2 tepung beras dengan kuah santan asin. Harganya muraaahhh, cuma Rp 1.000 per bungkus. Plus kudapan jagung pipil rebus bersawut kelapa parut dibungkus daun pisang, harganya cuma Rp 500 saja. Betapa uang jauh lebih berharga di desa ๐Ÿ˜ฎ

IMG_20140817_080820

Bubur gendhis

IMG_20140817_081537

Kudapan jagung-kelapa, biasanya barengan gatot, cenil, dsj

IMG_20140817_081649

Pecel Madiun, bungkus daun jati ๐Ÿ™‚

Siangnya kami pulang ke Malang, sampai rumah sekitar jam 7 malam. Selesai sudah perjalanan Gunung Lawu selama 14-17 Agustus 2014. Semoga berikutnya masih diberi kesempatan untuk mencapai puncak yang lain. Semangaaattt!!! ๐Ÿ˜‰

Tak Akan Lari Puncak Dikejar (1)

Tak Akan Lari Puncak Dikejar (1)

“Sometimes it’s not about the destination, but the journey.”

Jumat 15 Agustus 2014. Hamparan cemara gunung menyambut kami berenam di gerbang pendakian Cemoro Sewu; Irul, Yusup, Reki, Lila, Arum, dan saya. Yusup adalah adik laki2 Irul, sedangkan Reki saudara sepupunya. Arum adalah adik perempuan Lila. Well I’m the only one who doesn’t bring my sibling here. Pendakian ini sudah direncanakan beberapa minggu sebelumnya. Hanya saja sedikit di luar perkiraan, paman Lila sebagai guide batal mengikuti rombongan. Kami akhirnya tetap berangkat walaupun tanpa pemandu.

Gerbang pendakian Cemoro Sewu

Gerbang pendakian Cemoro Sewu

Dengan tinggi 3.265 mdpl, Gunung Lawu bukanlah gunung tertinggi di Pulau Jawa, tetapi konon adalah yang tertua. Terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, gunung ini membagi wilayahnya untuk 4 kabupaten (Karanganyar, Wonogiri, Ngawi, Magetan) yang menggantungkan hidup dari perkebunan sayur dan wisata alam di lerengnya. Ini adalah gunung ketiga (setelah Panderman dan Ranu Kumbolo) yang pernah saya daki, dan yang saya harapkan bisa mencapai puncaknya untuk pertama kali.

Kami memulai pendakian lebih siang dari yang direncanakan. Menjelang pukul 3 sore kami baru mulai jalan–setelah membayar tiket masuk Rp 10.000 di gerbang Cemoro Sewu. Sebetulnya ada satu jalur pendakian lagi di Cemoro Kandang yang lebih landai, namun jalurย Cemoro Sewu dipilih karena lebih cepat rutenya–hanya butuh 5-6 jam untuk mencapai puncak.

Tidak banyak logistik yang kami bawa. Bahkan kami tidak membawa tenda dan perlengkapan memasak. Sebuah keputusan yang berani (yang belakangan sedikit kami sesali). Dari pengalaman teman sebelumnya, kami mengandalkan “hidup” pada Mbok Yem, pemilik warung nasi di pos 5, pos terakhir sebelum puncak Gunung Lawu (iya, ada warung nasi di puncak gunung). Kami beranggapan dapat mencapai pos tersebut tepat waktu, sehingga bisa menginap di pondok Mbok Yem dan membeli makanan di sana. Namun ternyata, perkiraan kami keliru.

Arbei gunung

Arbei gunung

Cemoro Sewu adalah jalur pendakian yang cukup curam. Sebetulnya jalur ini sudah dilapisi bebatuan yang tertata rapi (seperti jalan makadam) sehingga memudahkan para pendaki. Namun kontur jalurnya yang curam tetap saja menyulitkan para pemula, apalagi saat perjalanan malam hari.

Secara normal jarak antar pos dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam. Namun karena rombongan kami kebanyakan pemula (termasuk saya), perjalanan agak terhambat karena sering berhenti istirahat. Perjalanan mencapai pos 1 terasa cukup panjang, gara2 ada 3 “pos palsu” yang membuat kami merasa “ter-PHP”. Untungnya, di antara pos2 itu ada pos mata air yaitu “Sumber Panguripan”. Kami berhenti sejenak untuk mengisi air di sana.

Setelah melewati pos 1, jalur semakin menanjak curam. Kami semakin sering berhenti untuk istirahat. Sebagai anggota termuda dan belum pernah naik gunung, Arum tampak sangat kelelahan. Kasihan juga melihatnya harus terengah-engah berjalan. Sepertinya berat sekali perjuangan kami. Tak lama kemudian, Reki pamit undur diri. Dia turun kembali karena kakinya kram. Akhirnya, tersisa hanya 5 orang dalam rombongan.

Senja menjelang

Senja menjelang

Matahari semakin condong ke barat. Langit semakin gelap dan jalur batu tak lagi jelas terlihat. Udara dingin semakin terasa menggigit. Senter-senter pun mulai dikeluarkan. Dalam keadaan demikian, Arum tampak semakin kepayahan. Tak jauh sebelum tiba di pos 2, dia akhirnya tidak kuat lagi. Terduduk dan ambruk di pinggir jalan. Kami semua terkejut dan buru-buru menolongnya. Saya pikir dia hanya kelelahan, tapi kata Irul dia mengalami gejala hipotermia–kekurangan kalor dalam tubuh atau simply kedinginan.

Buru-buru kami kerahkan semua bawaan kami untuk menghangatkan tubuh Arum. Jaket, kaos kaki, sarung tangan, syal semua didobelkan pada pakaiannya. Arum tampak semakin lemah dan hampir kehilangan kesadaran. Bibirnya terus meracau namun kami tetap mengajaknya bicara agar dia tidak pingsan. Dalam keadaan begitu, Lila betul2 sigap menangani adiknya. Saya benar-benar salut dengan aksi cekatannya sebagai seorang kakak yang sangat memahami dan melindungi adiknya.

Untungnya, kami berlima tidak sendirian. Dalam perjalanan kami bertemu banyak rombongan pendaki lain yang dengan sukarela ikut membantu saat melihat Arum hampir tak sadarkan diri. Di malam gelap, di tengah jalur berbatu, semua rombongan pendaki itu berhenti hanya untuk memastikan kami baik2 saja. Mereka meminjamkan pakaian2 hangat dan bahkan mengeluarkan kompor untuk membuatkan minuman hangat. Sekali lagi, di gunung siapapun bisa jadi teman ๐Ÿ™‚

Untuk memulihkan tenaga, akhirnya kami memutuskan untuk lanjut ke pos 2 dan menginap semalam di sana. Masalahnya adalah, kami tidak membawa tenda dan perlengkapan memasak. Namun rupanya kami masih beruntung. Salah seorang rombongan yang membantu kami, Om Catur dari Madiun, dengan sukarela meminjamkan tenda dan peralatan memasaknya pada kami. Sementara kami berlima tidur di dalam tenda, beliau dengan besar hati tidur di pelataran tenda. Luar biasa :’) Malam itu kami lewatkan bersama api unggun, teman2 baru, dan obrolan penuh canda hingga kantuk tiba.

Pos 2

Pos Dua

Sabtu 16 Agustus 2014. Saat kami terbangun di pagi yang dingin itu, kondisi Arum sudah membaik. Kami dihadapkan pada 2 pilihan: lanjut mendaki ke puncak atau kembali turun. Menjelang upacara bendera 17 Agustus, puncak Lawu sungguh menggoda–apalagi kami sudah mencapai separuh perjalanan. Sungguh sayang rasanya. Tapi bagaimanapun kami harus tetap mengutamakan keselamatan diri. Akhirnya pagi itu kami pun berkemas dan turun gunung. Bersama 2 pendaki lain dari Kediri, kami menangguhkan keinginan untuk mencapai puncak. Ya, puncak gunung tak akan lari dikejar. Ia akan tetap berdiri di sana dan menunggu. Suatu saat kami bisa mendatanginya kembali. Tapi untuk saat ini, puncak bukanlah milik kami.

Keputusan itu ternyata adalah keberuntungan terbesar kami. Sekitar tengah hari kami tiba di gerbang pendakian Cemoro Sewu. Malam harinya, tersiar kabar bahwa jalur pendakian Gunung Lawu terbakar hebat. Kebakaran itu bahkan merambat mulai pos 5 hingga ke pos 3. Jalur pendakian ditutup, upacara bendera di puncak dibatalkan, dan 700 pendaki terjebak di gunung. Pada saat itu, kami bersyukur karena sudah berada di dalam rumah dengan aman. Seandainya pagi itu kami memutuskan untuk lanjut ke puncak, mungkin kami akan sampai di sana, tapi tidak akan bisa kembali. Kami yang tidak membawa tenda dan logistik, mungkin akan kedinginan, kelaparan, dan kehausan sementara terjebak di gunung. Luar biasa bagaimana semua kejadian sudah diatur sedemikian rupa olehNya…

Tak akan lari puncak dikejar :)

Tak akan lari puncak dikejar

Well, pendakian kali ini memang tidak bisa dibilang sukses, tapi bukan berarti gagal. Sometimes it’s not about the destination, but the journey. Selalu ada yang bisa dipelajari dari sebuah perjalanan. Karena setiap langkah yang kita tempuh adalah upaya untuk memperkaya hidup. ๐Ÿ™‚

Part 2: bakul nasi Gunung Lawu, wisata petik stroberi Cemoro Sewu, Telaga Sarangan, dan pecel Madiun

Obsesi Cantik

Obsesi Cantik

Semua cewek di dunia ini pasti pengin kelihatan cantik. Iyalah. Adalah sebuah gombalan klasik kalau ada yang bilang “kecantikan fisik itu gak penting, yang penting inner beauty-nya…” Salah besar. Cantik fisik itu penting. Bukan berarti inner beauty nggak penting, of course itu penting banget. Tapi pintu untuk mengenal inner beauty itu tentunya dari kecantikan fisik ya kan. Dan jangan lupa, cowok itu makhluk yang sangat visual, bagi mereka cinta memang datangnya dari mata turun ke hati.

Meskipun begitu, tentunya cewek tampil cantik bukan hanya untuk menarik perhatian cowok, tapi karena emang dasarnya suka aja kelihatan cantik. Merasa cantik itu bikin pede. Coba deh kalau pagi2 temen kamu bilang “Ih kamu cantik banget deh hari ini” Pasti langsung jadi mood booster ya kan. Langsung deh seharian itu kamu ngerasa hepiii terus ๐Ÿ™‚

Tapi kadang ya, suka sedih aja gitu kalau lihat obsesi perempuan akan kecantikan ini sudah kelewat batas, sampai kadang menyakiti dirinya sendiri. Sekarang lagi happening banget tuh yang namanya “thigh gap“, yang bikin saya jadi terinspirasi juga untuk nulis postingan ini. Maksudnya, itu tren kok aneh banget sih? Sejak kapan cewek yang pahanya gak nempel dibilang cantik? Duh dek. Salah besar kamu. Coba lihat cewek2 seksi dari jaman baheula di mana2 kalo foto bikini pahanya pasti nempel lah. Aneh2 aja kamu. Emangnya boneka barbie? Kalo pahanya gak nempel tandanya mah itu cewek CUNGKRING, CACINGAN, dan kurang gizi. Sana kasih makan banyak2.

No Thigh Gap vs Thigh Gap, pilih mana hayo?

No Thigh Gap vs Thigh Gap, pilih mana hayo?

Tren2 kecantikan yang gak masuk akal kayak gini, entah kenapa kok ya dengan cepat diamini sama para cewek. Penyebabnya apa? Media. Media lah yang udah gila2an mem-brainstorming para cewek dengan standar kecantikan supaya produk perusahaan mereka laku (baca: ngiklan). Kita mungkin gak asing lagi dengan bombardir iklan bahwa cewek cantik itu harus “putih, langsing, mulus, rambut panjang lurus, dll.” Akibatnya, cewek jadi terobsesi untuk mencapai standar itu dengan menghalalkan segala cara.

Sebagai cewek, saya pun punya pengalaman dengan “obsesi kecantikan” itu. Ada bagian tubuh yang paling tidak saya sukai, yaitu pipi. Saya nggak suka pipi saya karena gak mulus dan dipenuhi bekas jerawat. Sumpah saya benci banget tiap kali bercermin dan mendapati bopeng2 nista itu terlihat dengan jelas. Apalagi kalau pas siang2, kumus2, muka berminyak maksimal, duh tambah keliatan ancur cur cur.

Jujur, masalah jerawat itu emang paling bikin saya enggak pede sejak jaman masih muda dulu. Kulit berminyak dan “bakat jerawat” warisan ortu menjadikan hari2 remaja saya dipenuhi keminderan dan keputusasaan *halah*. Dan emang dasarnya dulu saya cuek abis sih anaknya, jadi jerawat yang dipencet2 itu akhirnya menyisakan bekas luka yang mendalam sampai sekarang (literally). Duh. Sakiiiiittttt.

Sekarang setelah beranjak tua, baru sadar kalau jerawat dan bekasnya ini sangatlah mengganggu. Sejak remaja saya emang udah coba berbagai macam produk dan dokter anti jerawat tapi yah…tetep aja jerawatan. Jadi inget dialog dengan seorang dokter di RSSA bertahun2 yang lalu:

Dokter: Umurnya berapa dek?

Saya: 16 tahun Pak.

Dokter: Oh…kalau gitu cuma ada 2 cara supaya jerawatnya hilang dek.

Saya: Hah, apa pak?

Dokter: Kamu kawin sekarang, atau kamu tunggu 19 tahun lagi. Pasti jerawatmu langsung berhenti.

Saya: *terpana*

Waktu itu saya kayak ketiban palu aja divonis sama dokter bakal jerawatan selamanya sampai umur 35 tahun, kecuali kalo kawin. Kejam banget gak tuh. Tapi setelah berbagai macam ikhtiar, doa, tawakkal, keringat, darah, dan air mata saya cucurkan demi menghilangkan jerawat membandel, kayaknya tuh dokter emang bener. Kayaknya saya emang harus kawin biar jerawatnya ilang. Duh.

Saat udah mulai kerja, ketika penampilan menjadi semakin penting dan dompet udah cukup tebel untuk mendukung treatment wajah, saya mulai perawatan rutin di sebuah klinik kecantikan. Udah berbagai macam treatment saya lakukan di klinik tsb, Mulai disuntik, disinar, dilaser, di-peeling, sampek digerus pipinya pakek gilingan jarum (serius!), semuanya sudah pernah saya alami. Hasilnya ya udah mentok begini. Udah maksimal (sesuai takaran dompet). Kalau mau semulus SNSD gitu mungkin saya harus jual rumah orang tua dulu buat ampelas muka. Well, jadi kalau ada yang bilang “beauty is pain”, itu gak sepenuhnya bener. Karena meskipun kamu udah “pain” luar biasa, sampek berdarah2 (dalam arti sesungguhnya), kadang “beauty” itu gak datang2 juga. Hahahahahahaha nasibbb *ketawa hampa*

Sekarang setelah saya pikir2 lagi, isi ATM ini udah lumayan terkuras untuk “obsesi kecantikan” tersebut, sampai harus mengorbankan kepentingan2 lainnya. Kadang menyesal juga saat dengan gampangnya keluar uang banyak untuk treatment, tapi buat servis motor aja pelitnya minta ampun. Kadang saya masih sebel kalo bercermin dan lihat bekas jerawat yg seakan jadi “kutukan abadi”, tapi lama2 capek juga. Capek meratapi nasib dan terus2an merasa tidak puas. Mungkin saya harus mulai menerima kenyataan bahwa bekas jerawat ini adalah bagian dari identitas wajah saya. Mungkin saya harusnya mulai berpikir positif bahwa bekas jerawat ini bisa jadi personal branding saya. “Oh, Umi yang mukanya ada bekas jerawat itu ya?” Huahahahahaha ya gak gitu juga sih. Tapi somehow, ada hal lain yang lebih penting daripada sekedar noda sedikit (err, banyak sih) di wajah–yaitu aura.

Iya, mbaknya emang cantik sih...

Iya, mbaknya emang cantik sih…

Sebenernya, orang terlihat cantik atau tampan (baca: menarik), itu dari aura dia. Serius. Setelah bertahun2 mengamati para perempuan cantik (lebih sering ngelihatin cewek cantik daripada cowok ganteng), saya memperoleh kesimpulan bahwa cantik itu aura. Aura percaya diri, semangat, dan kebahagiaan yang terpancar dari seorang perempuan–itulah yang menjadikan dirinya cantik. Serius deh, gak gombal. Masalahnya kemudian ada pada rasa percaya diri tsb. Gak semua cewek bisa pede dengan apa yang dia punya.

Misalnya nih ya, ada cewek putih banget, menurut standar Indonesia pasti dia dianggap cantik kan ya. Tapi dia gak merasa cantik karena menurutnya dia agak gendut (padahal juga gak gendut2 amat). Nah, daripada berfokus pada betapa putih dan cerah kulitnya, dia malah sibuk khawatir dengan lipatan perutnya (padahal juga ga keliatan). Dia jadi terlihat gak nyaman sama dirinya sendiri. Padahal aslinya dia cantik loh, tapi karena dia gak merasa begitu, akhirnya malah kelihatan biasa aja.

Coba bandingin sama cewek yang, misalnya nih ya, kulitnya gelap dan hidungnya pesek. Tapi dia pede2 aja gitu. Dia merasa kulit dia tuh “selera bule”. Terus dia juga ngerasa bodinya lumayan oke. Dia fokus ke bodi seksinya, bukan ke hidung peseknya. Ini cuma masalah mengubah sudut pandang aja sih. Dia masa bodo amat mau dibilang “item”, “muka ndeso” dll. Itu mah cuma omongan cewek2 iri aja yang gak bisa kelihatan semenarik dia, sehingga berusaha menjatuhkan kepedeannya. But hey girls, nobody can take you down if you don’t let them to!

Jadi intinya, perasaan cantik itu keluar dari kemampuan kita untuk “menghargai kelebihan2 diri kita tanpa terlalu terbebani dengan kekurangan2 kita”. Karena setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Bukan berarti kita gak berusaha memperbaiki ya. Kalau masih bisa diusahakan secara wajar, sah2 aja dong kita memperbaiki penampilan. Asalkan gak sampe jadi obsesif dan menyengsarakan diri, gak sehat jadinya. Misalnya kita ngerasa agak gendut, ya silakan diet tapi yang wajar aja, gak usah sampe anoreksia gitu. Kalau udah diet mulu tapi gak seberapa turun, mungkin emang perawakan kamu kayak gitu. Ya udah terima aja, udah bawaan lahir. Kalau tujuanmu untuk memikat lawan jenis, gak usah khawatir, selera cowok itu beda2 gals. Ada yang suka bodi kurus, agak gemukan, bahenol dll. Jangan terpaku sama standar kecantikan dari iklan, karena kenyataannya preferensi lawan jenis itu bervariasi.

Sekarang coba katakan pada dirimu sendiri. Mungkin kamu agak gendut, berkulit gelap, ada bekas luka, dsb…tapi hey, kamu juga punya lesung pipi yang cantik, rambut yang halus, hidung yang bangir, dll. Jangan lupa, intelektualitas dan kepribadianmu adalah juga magnet yang menambah daya tarikmu, jauh melebihi penampilan fisikmu. Jadi fokuslah pada kelebihanmu sambil memperbaiki kekuranganmu. Senyum percaya diri lah hai kaum hawa, dan pancarkan aura cantikmu ๐Ÿ™‚