Tentang “Chemistry”

Tentang “Chemistry”
"Chemistry" is actually a chemistry

“Chemistry” is actually a chemistry

Tau “chemistry” kan? Bukan, bukan pelajaran Kimia lah. Chemistry yang bisa bikin kamu merasa nyaman dengan seseorang. Somehow yang namanya chemistry ini penting banget dalam sebuah hubungan sosial-interpersonal. Kamu bisa dekat sama sahabat2mu karena ada chemistry kan? Kamu bisa lengket sama pacarmu juga karena chemistry kan?

Pertanyaannya kemudian—gimana chemistry itu bisa tercipta? Kadangkala kamu gak bisa mendeskripsikan “kok aku bisa dekat sama orang ini yah”? “Kok kita bisa kompak banget yah?” Padahal dilihat dari segi manapun kalian beda banget—misalnya, padahal kalian awalnya bermusuhan—misalnya, yaa pokoknya hal2 lain yang secara logis kayak nggak mungkin aja gitu bisa mendekatkan kalian.

But you have to understand it guys—chemistry grows emotionally, not logically. Kamu bisa dekat dengan seseorang karena merasa bisa berbagi emosi bersama. Yaa “klop” aja gitu. Indikator paling nyata dari chemistry yang kuat, adalah sejauh mana kamu bisa nyaman menjadi dirimu sendiri bersama orang tersebut. Saat bersama, kalian gak perlu bingung mencari topik pembicaraan, gak perlu pusing jaim, semuanya mengalir begitu saja. Rasanya begitu mudah menghabiskan waktu bersama mereka, ngobrolin apa aja dan gak pernah kehabisan topik pembicaraan. Orang2 seperti itulah: sahabat2mu, gebetan2mu, pasanganmu, dan mungkin juga saudara2mu yang punya chemistry kuat dengan kamu.

Dan kadang chemistry ini gak bisa ditebak aja munculnya. Misalnya, kamu lihat seseorang, wah dia keren yah, kayaknya dia sepemikiran, kayaknya kita bisa berteman dekat–eh tapi waktu kalian dekat kok rasanya malah beda ya? Kok malah kaku gak bisa ngalir gitu ngomongnya? Sebaliknya, orang yang semula gak kalian sangka2 ternyata malah bisa “klik” sama kalian. Setelah bareng2 cukup lama ternyata dia malah jadi sobat lengket yang semakin akrab sama kalian.

Ada juga sih jenis “chemistry” yang emang sudah muncul dari awal, dan terus berkembang seiring semakin dekatnya hubungan. Misalnya sejak awal kamu emang ngerasa tertarik sama seseorang, dan setelah ngobrol ternyata emang kalian bisa “klik”, dan semakin dekat jadi semakin nyaman dan tau2 aja kalian sudah jadi sahabat erat. Perfect!

Tapi yang jelas, chemistry bisa muncul karena ada KESAMAAN, entah itu kesamaan minat,  pemikiran, pengalaman, latar belakang, atau apa sajalah yang bikin kamu merasa cocok berdiskusi dengan dia. Pasti itu. Gimana2 gak mungkin kalian bisa nyambung sama orang yang gak ada satupun “irisan”nya sama kalian.

Dan yang pasti, chemistry dipupuk oleh satu hal: WAKTU. Sebetulnya gak berlebihan kalo orang Jawa bilang, “witing tresna jalaran saka kulina.” Perasaan nyaman dan saling membutuhkan satu sama lain itu akan bertumbuh semakin banyak kalian menghabiskan waktu bersama. Kamu dan teman kosmu pasti udah kayak “soulmate” banget karena ke mana2 barengan, mulai bangun tidur sampe tidur lagi. Kamu dan rekan kerjamu pasti juga akan memahami satu sama lain seiring seringnya frekuensi bekerja bersama. Well, meskipun waktu juga gak menjamin sih. Walaupun kamu udah lamaaa banget kenal sama orang, tapi kalo dasarnya gak ada chemistry, dan masing2 tidak memiliki ketertarikan satu sama lain, dan juga tidak berusaha saling membuka diri, ya gak bakal deket juga lah.

Cuma kadang, “bibit” chemistry itu butuh disiram oleh waktu supaya bisa tumbuh. Tapi kalau dasarnya “bibit”nya aja udah gak ada, mau disiram sampe kapan juga gak bakal ada yang tumbuh, ya kan?

Yang jelas…hargailah orang2 yang kamu sudah berbagi “chemistry” dengan mereka. Chemistry itu sesuatu yang istimewa loh. Kamu tidak bisa mendapatkannya di setiap orang. Memang sih, kalau sudah “profesional” dan pandai basa-basi kamu bisa ramah dan mengobrol asik dengan semua orang. Tapi justru ciri mendasar dari sebuah chemistry adalah “effortless communication”--di mana kamu bisa bicara tanpa basa-basi, tulus, jujur, dan tanpa perlu pakai “topeng”. Murni karena kalian memang ingin lebih tahu satu sama lain.

Semakin banyak kamu berbagi chemistry dengan orang lain, semakin bahagialah kamu. Kabar baiknya, chemistry bisa diusahakan dari diri kita sendiri. Because “chemistry occurred most often between people who are down-to-earth and sincere”. Semakin kamu tulus, peduli, dan merakyat tentunya akan semakin banyak orang yang bisa merasa “klik” dengan kamu 😉

God bless you people!

Behind Kelud Volcano Eruption

Behind Kelud Volcano Eruption

In every natural disaster, there will always be a miracle. And today, Malang is the miracle. Located only few tens of kilometers from Kelud Mountain, Malang city feels nothing about the volcano eruption effect. While far away cities like Jogja and Solo (300 km) are suffered by Kelud materials rain, Malang stays “cool and clean”, just like nothing enormous has happened.

Right on Valentine’s Day 140214, Kelud volcano suddenly erupted. It was around 00.00 a.m. when people from surrounding area saw a very bright color in the sky, followed by frightening sound just like a thunderstorm. In the morning, many people surprisingly woke up with a sudden dust rain coming to their house.

Live picture of Kelud eruption taken from Wlingi-Blitar

Live picture of Kelud eruption taken from Wlingi-Blitar

I was in Surabaya that day and ready to go to office. The dust rain has also come to this city. Our factory floor becomes white because of the volcano ash, but a sudden (water) rain before evening washed away the ash trails–fortunately. In the same day, @bloggerngalam and @bmtberjamaahmlg community has connected to collect donation and distribute it to the victim areas near Malang city. The news then spreading and donations flowing till we can collect some million rupiahs in a day. Thanks God! Late in the evening I went back to Malang and we got prepared to distribute logistics we have bought.

The guys of @bloggerngalam and @BMTBerjamaahMlg ready to go :)

The guys of @bloggerngalam and @BMTBerjamaahMlg ready to go

The next morning, @haqqi @rendriy @_sandynata @fajarembun @winawibiy @elfarqy @sakekelana @ranirakhma @firasti @_oktavianidewi and me, made our journey to Batu and Pujon. The devastating effect of Kelud volcano was clearly shown there. Nothing left as a bare surface—the streets, roofs, and plants have all been covered by volcanic dust. Just like the city of ash. Situation has become even worse in the higher area of Ngantang and Kasembon. We didn’t go way up there because people said it was too dangerous, dust on the road was too thick (5-10 cm), and people there have been evacuated down hill to Batu and Pujon.

The city of ash

The city of ash

Those areas are only a stone’s throw away from Malang. Even from my house it’s only 30 minutes drive. But again, amazingly we didn’t get even a single particle of volcanic dust. The main reason is, at the time of Kelud eruption, the wind blew to the west, bringing 100-200 million cubic of volcano materials spreading over the western part of Java Island. Malang is a bit in the east side of Kelud, so eventhough we’re so close we didn’t get the dust rain. And you know what? People said that we were protected by Panderman hills—stand right between Batu and Pujon. These hills blocked Kelud materials rain from blowing into Malang city. See, how unbelievable it all goes 🙂

I cannot imagine how would it be if the dust rain has come so heavy over our houses. It’s so pity to see life of the refugees and I don’t want my family to live there. Malang is a miracle today, and we should all feel grateful because God bless us this time.

"White House"

“White House”

The gray village

The gray village

Well back to the guys, we kept walking (by car of course) around Batu-Pujon, and dropped logistics in several refuge centers. Schools, meeting buildings, and sport centers became a sudden place to live for all refugees. And then we continued walking until reaching the isolated village up there beyond Pujon, named Ndelik village (and all villages behind that I forgot the name). There, people still stayed at their house eventhough dust rained so heavy that all places became like sea of the ash. They even didn’t get a chance to obtain masks for protecting their respiratory–because the villages were just too far from logistic center. So when we came there, they enthusiastically snatched the masks we brought in just like a precious treasure.

When masks become treasure

When masks become treasure

Good girl gone masks

Good girl gone masks

On mid-day we have spent all logistics we had and going down back to Malang city. Every body was tired because we spent last night buying logistics and had less sleep. However we all feel grateful that we can at least do something to help the victims. We got new friends and built new connection–and yes for the sake of kindness and humanity, we will be stronger if we’re going together 🙂

God bless Malang!

Bu Risma dan Pemimpin Perempuan

Bu Risma dan Pemimpin Perempuan

Ibu Risma. Hampir 2 tahun tinggal di kota di mana beliau menjadi walikota, ini pertama kalinya saya melihat dan mendengarkan beliau bicara. Sudah kerap terdengar kabar di media tentang sepak terjangnya sebagai walikota berprestasi. Tapi saya bukan orang asli Surabaya, kurang merasakan perubahan apa yang beliau bawa. Kalau menurut teman2, yang paling nyata adalah berkurangnya banjir dan tata kota yang semakin asri.

Dekat tempat tinggal saya, di daerah jalan Banyu Urip, Tanjungsari, sampai Benowo menurut cerita hujan deras sedikit, banjir bisa sampai setinggi dada. Sekarang setiap lewat situ sehabis hujan paling banter hanya genangan setapak kaki. Rupanya perubahan ini adalah dampak positif dari proyek pembangunan box culvert di sungai sepanjang Banyu Urip hingga Benowo. Proyek ini adalah ide yang sangat brilian–mengatasi banjir sekaligus mengurangi kemacetan. Sungai di tepi jalan Banyu Urip dikeruk untuk menambah kapasitas sungai (supaya air tidak meluber saat hujan). Lalu di badan sungai “ditanamlah” box culvert, semacam kotak saluran air tertutup untuk mencegah masuknya sampah dsj. Jadi bayangkan, ada sebuah jalan raya yang sempit dan macet, di sampingnya ada sungai yang sering banjir. Sungai ini “ditutup” dengan box culvert, lalu bagian atasnya diaspal dan “disulap” menjadi jalan raya lagi. Jadi jalan kembar! Efeknya, aliran sungai lancar (tidak banjir), ruas jalan pun bertambah lebar (tidak macet). Selesai dua masalah sekaligus kan?

Desain jalan raya dan sungai yang "ditanami" box culvert

Desain jalan raya dan sungai yang “ditanami” box culvert

box culvert

Realisasi proyek box culvert di Jalan Banyu Urip (sekarang sudah full kelar)

Jalan Banyu Urip adalah jalan penting yang menjadi “pintu masuk” Surabaya Barat. Jalan ini pasti saya lewati kalau mau ke pusat kota, dan baru2 ini saja saya tahu kalau ternyata di bawah jalan ini adalah sungai! Keren banget nggak sih.

Selain itu, katanya di Surabaya juga semakin banyak taman asri. Meskipun saya hampir enggak pernah ke taman selama di Surabaya (duh), tapi komunitas2 di Surabaya banyak yang menjadikan Taman Bungkul/ Taman Prestasi/ Taman BMX/ Taman Pelangi dll sebagai titik kumpul dan tempat nongkrong mereka. Bukan di kafe atau di mall. Jadi kayak taman udah jadi bagian gaya hidup sosial gitu. Enak sih…segar indah dan gratis :))

Semua kemajuan ini dicapai dalam tempo 3 tahun masa bakti beliau–bisa dibilang luar biasa. Tentu saja masih banyak prestasi Ibu Risma yang lain. Tapi anehnya, saat ini beliau justru diisukan ingin mundur dari jabatan walikota. Kenapa?

Dalam tayangan Mata Najwa tadi, Ibu Risma tampak emosional sekali. Beliau menunjukkan perasaannya dengan gamblang, termangu, terisak, hingga akhirnya menangis. Beliau menceritakan semuanya: tentang wakil walikota, tentang Dolly, tentang KBS, tentang semua sepak terjangnya selama menjabat. Satu hal yang paling kentara adalah: beliau orang yang sangat peka terhadap perasaan dan penderitaan orang lain. Beliau bercerita tentang hasil “blusukan”nya ke lokalisasi Dolly sampai tidak bisa berkata-kata hingga meneteskan air mata. Bu Risma berdialog dengan anak2 sekitar lokalisasi, berkunjung ke sekolah mereka, bahkan sampai menyambangi rumah seorang PSK berusia 60 tahun. Di sinilah beliau merasa hatinya teriris karena PSK lansia itu memiliki pelanggan bocah2 di bawah umur, yang masih berusia SD-SMP. Uang jajan mereka hanya seribu-dua ribu perak, dan hanya PSK lansia sajalah yang mau dibayar serendah itu. Hati siapa yang tidak merasa perih mendengarnya?

Ibu Risma adalah seorang perempuan, dan juga seorang ibu. Tentu saja beliau sangat peduli pada nasib perempuan dan anak2. Di sinilah insting keperempuanan beliau bermain penting dalam mengambil kebijakan sebagai walikota. Tanpa bermaksud bias gender, tapi kenyataannya emosi dan perasaan sulit dipisahkan dari perempuan. Walikota laki-laki barangkali tidak akan menjadikan Dolly persoalan utama “sampai segitunya”. Tentunya karena simpati mereka tidak bisa sedalam Bu Risma yang seorang perempuan, dan merasa anak2 kampung Dolly adalah anak2nya sendiri yang harus dia selamatkan sebagai seorang ibu.

Bu Risma juga senang “blusukan”. Kalau ada masalah beliau suka langsung turun menanganinya sendiri. Kalau macet jalan diatur sendiri, kalau banjir got dicemplungin sendiri, kalau kebakaran selang disemprot sendiri. Mungkin kelihatan “lebay”, tapi itu adalah bagian dari sikap responsif-nya. Dia ingin kalau ada masalah langsung selesai saat itu juga, dan tidak sungkan untuk “nyemplung” sendiri menyelesaikannya hingga ke detail.

Bu Risma Walikota Surabaya

Bu Risma Walikota Surabaya

Somehow gaya kepemimpinan Bu Risma ini mengingatkan saya pada bos saya sendiri, yang kebetulan juga seorang perempuan. Tentu saja beliau berdua berbeda jauh, tapi ada sedikit kesamaan dalam memimpin, yaitu mengutamakan perasaan dan cenderung micromanaging. Bos saya juga sering merasa kasihan dan kadang mudah terbawa perasaan. Beliau juga cenderung over mengurusi sesuatu sampai ke detail2nya dan kadang hal remeh temeh ditangani sendiri (micromanaging). Saya tidak tahu apakah ini hanya kebetulan, atau perempuan memang cenderung memimpin seperti itu? Tapi yang jelas berbeda adalah, Bu Risma memiliki spiritualitas luar biasa, yang menjadikan apapun yang dia lakukan terasa tulus dan mengena.

Ketika seseorang sudah mencapai keseimbangan spiritual, maka dunia bukan lagi menjadi yang utama. Dalam perkataannya Bu Risma selalu mengulang-ulang kata2 “untuk Tuhan”, “demi Tuhan”, “Tuhan kasitau saya”, “pertanggungjawaban di depan Tuhan”, dst. Bahkan beliau nggak mau jadi presiden karena–dengan polosnya–beliau takut nggak bisa masuk surga jika ada rakyat yang tidak puas dengan kepemimpinannya. Dalam persoalan KBS, beliau tahu ada mafia yang bermain dalam proyek tsb, dan beliau langsung lapor KPK, dengan gamblangnya berkata “Saya dan keluarga saya sudah siap mati karena kasus ini”.

Bagi Bu Risma, tidak ada yang perlu ditakuti selain Tuhan.

Satu hal yang kelihatan jelas dari beliau adalah, beliau tipe pekerja keras, bukan politisi. Beliau tidak pandai bicara, public speakingnya kurang jelas dan terstruktur. Pilihan kata2nya kadang terdengar “clumsy”. Bagi saya, itu justru menunjukkan bahwa beliau jujur mengutarakan apa yang ada di pikirannya, tidak perlu pakai bahasa berbunga-bunga. Ia tidak sedang mengobral janji, tapi memaparkan bukti.

Pada akhirnya saya berharap, semoga Tuhan melindungi Bu Risma. God bless you Madam, and God bless Surabaya.

Eyang Habibie

Eyang Habibie

the-third-indonesian-president-bj-habibie-file-photo-_121212204837-833He has probably been a “raising idol” for the last four years. His wife died, he came back to his homeland, he released a book about their life stories, he gave speech in various events, and finally they created a movie about him. Yes he was such a brilliant leader in his era, but many of younger generation have never been get the chance to know him deeper. Thanks God that he’s blessed with long age (77 years now) so that he can share all the inspiring stories today.

God always has a better plan. God took his wife first so he can go back here to Indonesia. What would happen if it was him who died first—far away in overseas country of Germany? Probably his precious story would have been buried with him. We would have never been inspired by the story about idealist scientist, businessman, statesman, father and husband who fought for his country.

We were somewhat between 3 to 10 years old when he ran the first Indonesian plane. We had no idea what was going and we just read the name of CN-235 and N-250 in “Buku Paket IPS Depdikbud”. Now that we start our professional work, we need some image of how the older generation situation was actually going, and what we suppose to do as a climbing stake-holder today.

The very important thing is: STAND ON OUR OWN FEET.

He urges Indonesian people to never LETTING GO strategic industries under foreign control—we have to build it ourselves. And yes he’s completely true. Because Indonesia’s over-dependance to other countries will just lead to a new era of colonialism.