Floating with “Float” Music

Floating with “Float” Music

“Float”, sebuah nama grup musik yang simpel tapi bermakna. Nama yang pas banget, sangat mewakili musik mereka yang bikin kita serasa “mengambang” saat mendengarnya. Grup musik ini ternyata sudah berdiri sejak 2004 di Jakarta, tapi ajaibnya saya baru tahu beberapa hari yang lalu gara2 mention-an seorang teman di Twitter. Jadi berasa “duuuhhh ke mana aja selama ini…?”

Pernah lihat film “3 Hari untuk Selamanya”? Nah mereka itu yang ngisi soundtrack film garapan Riri Riza dan dibintangi Nicholas Saputra tsb. Padahal film itu dirilis 2007 loh…saya sendiri belum pernah nonton…telaaattt banget deh baru tau sekarang~~

Yang jelas Float ini memang sempat vakum, dan mereka baru kelihatan eksis lagi setelah mengadakan even “Float2Nature” di dataran tinggi Dieng tahun 2012. Ini konsep pertunjukan yang keren banget sik, gabungan antara musik, perjalanan, dan alam. Jadi mereka manggung di alam terbuka gitu. Yah mirip2 even Jazz Bromo gitu kali yak. Sayang seribu sayang, even “Float2Nature” 2013 baru aja selesai 2-3 November kemarin di Sukabumi. Ketinggalan yaa =(( Even ini ternyata juga diliput sama MalesBanget.Com. Masih lama sih waktunya sebelum “Float2Nature” 2014, dan moga2 aja mereka mau ngadain di Jawa Timur…Ranu Kumbolo mungkin? *ngarep*

“Otak” dari Float ini adalah Hotma Roni Simamora alias Meng, sang penulis lagu, vokalis, dan gitaris. Bang Meng ini jago banget meracik musik yang unik dengan lirik yang menggigit *grauk*. Lagu2 Float ada yang bahasa Inggris dan Indonesia, tapi entah kenapa lagu yang bahasa Indonesia terasa lebih spesial. Ketika lagu2 Indonesia sekarang terkesan gombal, absurd, pakai kata2 cengeng atau slang nyeleneh yang merusak bahasa, Float serasa mengembalikan bahasa Indonesia pada posisinya yang terhormat. Seperti cara Ebiet G Ade meramu lirik2nya yang everlasting, pun demikian bahasa lirik Float. Puitis tanpa terkesan gombal. Getas, bernas, dan entah kenapa terasa lebih “kena” di hati *eilaahhh* Ini suatu kemajuan bagi kita yang sekarang lebih sering dibombardir kata2 indah dalam bahasa Inggris sampai lupa kalau bahasa ibu kita ini aslinya juga indah loh.

Float members (ki-ka): Meng, Raymond, Bontel

Float members (ki-ka): Meng, Raymond, Bontel

Dari segi musik, mereka mendeskripsikannya sebagai “folk rock”. Saya sih gak begitu ‘ngeh’ sama berbagai jenis aliran musik ya…pokoknya enak aja didenger gitu :3 Tapi emang “ramuan musik” mereka kaya rasa banget, bermacam2 bahan mereka masukin dan dimasak dengan luar biasa, bikin siapapun yang mencicipi musiknya jadi ketagihan pingin dengar lagi 😀 Komposisi utamanya tetaplah gitar akustik, tapi di beberapa lagu mereka masukkan berbagai jenis unsur musik sehingga kadang terasa agak “reggae”, “walts”, “jazz” yah macem2 lah pokoknya.

Gimana, udah penasaran kan sama grup musik yang satu ini? Yuk ah langsung aja dengerin karya2 orisinil mereka di sini. Kalau mau denger karya2 yang ditampilin di “Float2Nature” silakan cusss ke sini. Stay update juga dan follow mereka di @floatproject dan @float2nature *berasa ngiklan banget nih* 😛

FYI ini lagu2 Float favorit saya:

1) “3 Hari untuk Selamanya”, lagu ini ternyata punya versi awal berjudul “Biasa”. Musiknya “ngundang” banget dan gak bosen2nya dengerin. Racikan kata2 dalam liriknya hampir seperti puisi, membuat cerita tentang jatuh cinta terasa “nyeeesss” di hati…

Lewat sudah
Tiga hari ‘tuk s’lamanya
Dan kekallah
Detik-detik di dalamnya
Tumbuh sejuta rasa di hati yang dulu diingkari
“Mungkinkah cinta itu disana?” dua hati mereka

Kalau di lagu “Biasa”, liriknya jadi kayak gini:

Janji-janji
Terucap tanpa sadari
Kata hati
Tiada didengarkan lagi
Waktu berlalu, harap pun jadi hasrat ‘tuk memiliki
Cinta jelita masih di mata, belum turun ke hati

Lagu dengan notasi yang persis sama, beda lirik jadi beda cerita, tapi sama bagusnya 🙂

2) “Sementara”, kalau disimak2 sebetulnya ini tergolong “lagu galau”, tapi cerita patah hati ini berhasil dikemas dalam lirik yang PAS banget, emosional tanpa terkesan cengeng. Lagu yang terasa personal dan mendamaikan =))

Sementara… teduhlah, hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara… ingat lagi mimpi
Juga janji-janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Jangan henti disini

Nikmatilah lara

Untuk sementara saja

3) “Pulang”, satu lagi lagu yang teduh, dengan petikan gitar yang adem… bikin suasana mengharu biru dan jadi pengin “pulang” beneran 😛

Dan lalu…
Rasa itu tak mungkin lagi kini
Tersimpan di hati
Bawa aku pulang, rindu!
Bersamamu!

Dan lalu…
Air mata tak mungkin lagi kini
Bicara tentang rasa
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!

Jelajahi waktu
Ke tempat berteduh hati kala biru

4) “Too Much This Way”, musiknya unik, ada bau2 reggae atau ska gitu dengan latar saxophone yang kental. Liriknya tentang cinta apa adanya yang sweet banget lah pokoknya 😀

No star-gazing late at night
And no candle light
No French-speaking, no moonlight
It just came out right

No wondering words to say
And no music play
It’s just simply found today
Love’s too much this way

It takes no moon, it takes no sunshine
And neither June with the bluest skies
She wore no perfume, I brought no wine

My love is hers, her love is mine

5) “Surrender”, ini intro-nya sedeeeppp bangettt… Petikan gitarnya wow banget, dan di tengah2 ada kayak bau2 musik latin gitu. Emang di liriknya juga ada proverb Italia sik. Lagu ini jadi lagu temanya serial TV Hongkong “Heroes” session 2 loh 😉

To the future we surrender
Life’s to live and love’s to love
To the future we surrender
Life’s to live and love’s to love

6) “Waltz Musim Pelangi”, lagu unik berirama waltz yang memanjakan telinga…pernah dirilis dalam album kompilasi “Songs Inspired by Laskar Pelangi”.

Dahanku tampak dari jauh
dan sepuluh rupa pemuja
menanti pelangi meski dunia
tak lagi terpana

Dan tiap-tiap pandang tertuju
pada gerimis yang dirindu
Akankah kali ini bersamanya lagi
pelukis langitku?

7) “No-Dream Land” Musiknya kayak opera2 gitu, liriknya makjleb banget, nyindir pekerja kantoran yang terjebak dalam rutinitas dan gak berani merealisasikan mimpi sesungguhnya hahaha *jleb*

Running down the corridor in such fancy suit
To catch another 9 to 5
Hiding all your true desires and keep all of them mute
Seems the only way to survive
The never ending story of this no-dream land
Is on the morning headline all this time
Our hesitation is our every day’s game
Is this the land that God’s condemned?

Masih banyak lagi lagu2 jagoan Float lainnya: “I.H.I.” (Indah Hari Itu), “Stupido Ritmo”, “Ke Sana”, “Tiap Senja”, dll. Kalau mau lihat semua lirik lengkap lagu2 Float silakan ke sini. Selamat menikmati musik Indonesia 😀

Bersepeda kau kubonceng di depan
Kubilang jok b’lakangnya lenyap semalam
‘Ntah apa memang perlu
semua siasat itu

Kucuri hirup wangi rambut barumu
Makin cepat kukayuh pedal s’pedaku
Tawamu berhamburan
Raguku pudar
Yakin kupastikan
harapanku berkembang

Terang saja langitku
masih sempat c’rah biru
meski musim kian tak menentu
Indah hari itu

(Float, Indah Hari Itu)

Mencari Cakrawala

Mencari Cakrawala

Cakrawala bukan garis biasa. Di sana tempat bertemunya langit dan bumi, angkasa dan samudera. Di sana kamu bisa melihat betapa langit seolah berbatas, dan bumi seolah bersegi. Cakrawala hanya sebilah garis semu, tapi saat menatapnya terlihat sangat nyata. Dalam seni rupa, di cakrawala lah ujung perspektif bermula.

Cakrawala adalah tujuan hidup saya.

Dalam mengarungi rentang usia manusia, tentu kita menginginkan hidup yang damai dan nyaman. Kedamaian dan kenyamanan itu hanya bisa tercapai jika kita menemukan keseimbangan hidup. Seimbang antara urusan material dan spiritual, antara dunia dan akhirat, antara manusia dan Tuhan. Bukankah realita2 di bumi perlu diimbangi oleh keajaiban2 dari langit? Itu sebabnya kita harus bekerja dan berdoa, bukan salah satunya saja. Kadangkala setelah kita bekerja sekuat tenaga dan pikiran, belum juga ditemukan jalan keluar. Di sinilah kita butuh mukjizat, yang hanya bisa dicapai dengan terus-menerus berdoa. Sebaliknya, kita pun nggak bisa menjadi manusia yang sepenuhnya pasrah pada kehendak takdir, tanpa mau berusaha mengubah kehidupan.

Di dunia modern, di mana manusia sudah semakin canggih, kekuatan Tuhan seringkali dianggap remeh. Banyak orang menjadi agnostis atau atheis, dan dengan bangga mendeklarasikannya. Itu murni hak mereka. Tapi saya percaya, keyakinan pada Tuhan adalah sesuatu yang menguatkan jiwa kita. Kekuatan jiwa–kekuatan spiritual–inilah yang menjadi penyangga hidup kita. Keyakinan ini yang membedakan manusia dari robot–mendorongmu berkarya tidak hanya demi produktivitas dan rutinitas semata, tetapi untuk tujuan yang lebih mulia.

Menjadi orang yang sukses secara duniawi tanpa diimbangi kekuatan spiritual, seperti gelembung sabun yang besar tetapi rapuh. Nggak heran banyak artis2 dan pengusaha sukses yang saat kena musibah hidupnya jadi geje, atau malah meninggal secara tragis (I’ve been talked about this here). Meskipun fisik dan otakmu kuat, nggak banyak yang bisa kamu peroleh dengan jiwa yang kosong.

Demikianlah cakrawala yang saya cari. Sebuah garis pertemuan, sebuah titik keseimbangan. Dan saya yakin hampir semua orang juga menginginkannya: Elizabeth Gilbert mencarinya dalam perjalanan setahun keliling dunia, Piscine Patel menemukannya setelah 227 hari terombang-ambing di tengah samudera, dan kamu pun pasti juga sedang mencarinya sekarang–ya kan?

Manusia akan terus mencari2 dan bertanya2 selama hidup, karena jawaban sesungguhnya baru akan didapatkan saat ajal menjemput. Bukan begitu? Life is asking question, while death is getting the answer…

*Sebuah refleksi di awal tahun 2014*

Capek di-InsyaAllah-in

Capek di-InsyaAllah-in

Seberapa sering kamu mendengar jawaban “Insya Allah” saat kamu meminta kepastian dari seseorang? Well I think I have heard enough to say “STOP IT”. Jangan bilang “Insya Allah” lagi. Kalau iya bilang aja iya, kalau enggak ya enggak. Yang tegas gitu lho. Nggak usah pakai alasan religius untuk menutupi keragu-raguanmu, kesungkananmu, atau apalah itu.

insyaAllah

Kamu tahu kan artinya “Insya Allah”. Kurang lebih artinya itu “God’s willing”, “if God wills” atau seperti yang kerap kita dengar, “jika Allah menghendaki.” Ucapan ini menunjukkan bahwa kita menempatkan Tuhan dalam posisi penting di hidup kita, bahwa kita berserah diri pada Tuhan dan bahwa “manusia berencana Tuhan menentukan.” Singkatnya, ucapan ini dipakai justru saat kita BERNIAT hendak melakukan sesuatu, saat kita MAMPU mengerjakannya–tetapi kita rendah hati dengan mengatakan “Insya Allah”. Karena kita tidak tahu jika Allah punya takdir lain seperti misalnya kita kecelakaan, sakit, meninggal, ada bencana alam dll. Yaa hal2 besar kayak gitu lah. Jadi sebetulnya “Insya Allah” makna aslinya adalah “YA, SAYA BISA.”

Jadi lucu banget kalo kamu memakai “Insya Allah” justru di saat kamu ragu, nggak yakin bisa, atau malah sudah pasti tidak bisa tapi sungkan/malu mengakuinya. Ditanya “Bisa ketemuan besok nggak?” Bilangnya “Insya Allah.” Pas hari H, tiba2 rasanya “Duh males deh mau ketemuan” akhirnya batalin janji sepihak mendadak. Ngelesnya sih “Kan bilangnya Insya Allah…” Tau nggak? Itu sama aja kamu MENGKAMBING-HITAMKAN TUHAN untuk kesalahanmu sendiri.

Mengucapkan “Insya Allah” bukan berarti kamu tuh memasrahkan hal yang menjadi tanggung jawabMU, kehendakMU, dan atas kemauanMU sendiri, menjadi tanggung jawab Allah. Singkatnya, itu namanya MELEMPAR TANGGUNG JAWAB men. Hal yang harusnya jadi kehendakmu sendiri kamu lempar jadi seolah “kehendak Tuhan”. Kayak misalnya, kamu mau belajar atau enggak, itu kan murni dalam tanggung jawabmu, masa harus nunggu Allah berkehendak baru kamu mau belajar? Ya alesan aja itu sih namanya.

Jadi guys intinya nama Allah itu suci, jangan dipake sembarangan ya. Pikir2 dulu kalau mau bersumpah atau berjanji pakai nama Allah. Well ini ada tulisan bagus tentang Insya Allah I just found here:

http://cognitivefunctions.blogspot.com/2008/10/insyaallah.html

Dan ada juga sindiran dari bule Youtuber beken Sacha Stevenson soal nasib “di-Insya Allah-in” alias di-PHP-in…enjoy! 😉