Bromo Bonanza

Bromo Bonanza

On a quick-sudden invitation and a rush preparation I joined my office mates to accompany our customers for weekend trip: yeah it’s Bromo attack! πŸ˜€ Sabtu siang kita berlima cabut dari kantor, jemput tiga bule Perancis di hotel, terus ciao ke Trawas–menuju villa bos tercinta. Yah kapan lagi sih bisa nginep di villa bos yang besar dan nyamaaannn banget; kamar kelas hotel, lantai kayu, kolam renang dan pemandangan langsung Gunung Welirang dari balkon atas. Perfect!

Perfect scenery

Perfect scenery

Jam 1 pagi kita bertolak dari Trawas ke Bromo via Pasuruan demi mengejar sunrise attack. Well ini pertama kalinya saya ke Bromo lewat “jalur wisatawan”. Sebelumnya 2-3 kali ke Bromo naik sepeda motor via Tumpang dan Ngadas alias lewat “jalur petualang”. Makanya belum pernah lihat sunrise di Bromo, duh kasian ya πŸ™

Kali ini berhubung semua on a company budget kita sewa 2 jeep untuk 8 orang, harga Rp 600.000 per jeep untuk perhentian di 4 titik (Penanjakan, Savannah, Pasir Berbisik, dan Kawah Bromo). Tips kalau mau agak murah bisa berhenti di 2 titik saja (Penanjakan dan Kawah Bromo) dengan harga Rp 450.000 per jeep, tapi bagi saya kurang asyik sih soalnya savannah itu kereeennn! Oya, kali ini jeep tidak menunggu di Wonokitri seperti pada umumnya, tapi di Ngadiwono, sebuah desa di kecamatan Tosari kab Pasuruan.

Konon harga sewa jeep dari Pasuruan lebih “normal” daripada Probolinggo yang lebih gila2an. Menurut mas sopir jeep kalau dikumpulkan total jeep yang ada di Bromo ini ada sekitar 600 jeep dari 4 kabupaten (Probolinggo, Pasuruan, Malang, Lumajang). Dari Pasuruan sendiri kalau gak salah ada 200 jeep. Kalau lagi sepi minimal mereka dapat order 1x seminggu pas weekend, kalau rame ya bisa 2-3 kali seminggu.

Yuk ah langsung aja simak skrinsyutnya yaaahhh!

Menjelang sunrise, orang2 ramai berkumpul di "Bukit Cinta"

Menjelang sunrise, orang2 ramai berkumpul di “Bukit Cinta” (Penanjakan 2). Pas itu kita datang agak kesiangan jadi gak bisa lihat sunrise dari Penanjakan 1 karena sudah full, jadi kita berhenti di Penanjakan 2. Tapi di sini juga kereeennn πŸ˜€

IMG_20131215_051440

And finally…the sun rises! πŸ˜€

Arjuna-Welirang dari Bukit Cinta

Latar Arjuna-Welirang dari Bukit Cinta

20131215_050016

Background-nya kayak foto kalender

Simply amazing

Simply amazing

Kayak Desktop background

Kayak Desktop background

Neverending savannah

Neverending savannah

20131215_065656

Corporate rookies πŸ˜€

Semedi di Segara Wedi

Semedi di Segara Wedi πŸ™‚

View from the top

View from the top

Sekedar info, berhubung kita datang pas musim hujan cuacanya gak terlaluΒ  dingin. Puncak “kedinginan” adalah musim kemarau yaitu sekitar bulan Agustus. Oya, dan padang pasirnya “beku” guys, karena pasirnya pada ngerempel kena hujan jadi gak perlu kuatir bakal ngitemin isi lobang hidungmu :p

Akhir kata perjalanan ini menyenangkan dan memuaskan πŸ˜€ Customer senang kita pun senang habis jalan2 order pun jalan! Ini baru namanya “bonanza” πŸ˜‰ (Bonanza = sudden fortune)

Antara Akademisi dan Praktisi

Antara Akademisi dan Praktisi

“Ya mungkin itu yang terbaik, kamu ditakdirkan untuk menjadi orang profesional.”

Begitu SMS dari Bapak saat saya kabari tentang kegagalan dalam seleksi awal beasiswa ADS. Sejujurnya saya juga enggak terlalu berharap untuk langsung memperoleh beasiswa dalam usaha pertama mencoba–I’m pretty sure that it’s gonna be difficult. Apalagi full scholarship dari pemerintah negara yang sudah populer, pasti banyaknya peminat akan bertabrakan dengan terbatasnya kuota. Dan–ini yang utama–lebih sedikit kesempatan beasiswa diberikan bagi pegawai swasta daripada bagi akademisi, pegawai pemerintah, atau aktivis LSM. A sad truth for me πŸ™

Bapak saya mungkin berpikir, memang anakku ini kayaknya lebih cocok jadi “orang profesional”Β  dalam artian jadi praktisi, kerja kantoran, jualan produk dan bergelut dalam bisnis manufaktur bertekanan tinggi (duh). Padahal kerja di pabrik itu capek–capek tenaga, pikiran, dan emosi. Masuk jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Kerja dari hari Senin sampai Sabtu. Rekan kerja yang keras dan kadang main sikut. Bos besar yang hobi ngamuk2. Customer yang cerewet, deadline yang mepet, hal-hal kayak gitulah.

Tapi somehow emang industri manufaktur punya tantangan tersendiri. Ya asik aja gitu kamu bisa tahu proses “penciptaan” suatu barang mulai sourcing parts sampai tiba di tangan konsumen. Industri manufaktur adalah industri yang paling kompleks–jika kamu sudah menguasai alurnya maka akan lebih mudah untuk terjun di bidang lainnya (someone said to me). Apalagi kalau mau punya bisnis sendiri, sungguh pabrik adalah tempat yang tepat untuk menimba ilmu.

I enjoy working here, tapi agak nggak terima aja kalo bapakku bilang kayak gitu. Apa itu artinya saya enggak ditakdirkan untuk bisa kuliah lagi? Duh ya jangan dong. Bisa2 jadi geblek beneran nih 😐 Baru 1,5 tahun kerja di sini aja rasanya otak udah tambah dhedhel–maunya mikir cepet yang praktis2 aja, jadi kurang kritis gitu.

a dream to study abroad

a dream to study abroad

Mestinya bisa kan jadi dua2nya–ya praktisi ya akademisi. Teori itu bukannya nggak penting lho ya. Kalau kamu tau teorinya, kerjaanmu jadi lebih gampang. Dosen sayaΒ dulu (MBA lulusan UK yang puluhan tahun kerja di perusahaan) pernah bilang, ibaratnya kalo kamu punya teori, kamu sudah punya ‘senjata’ sebelum berperang. Jadi misalnya ada permasalahan A, kamu tinggal keluarin ‘senjata’mu satu2, kalau gagal coba ‘senjata’ lain, dan seterusnya jadi gak perlu coba2 lagi. Meskipun kondisi lapangan tidak bisa ditebak, tapi setidaknya kamu punya pegangan awal, sisanya serahkan pada kreativitasmu sendiri.

Sebaliknya, kamu juga gak bisa memahami teori tanpa dipraktekkan. Kalo cuma belajar secara kognitif teori itu nggak akan nyantol…Kamu baru benar2 paham apa gunanya setelah ketemu kasus yang beneran di dunia nyata. Nanti setelah kamu berulangkali mempraktekkan teorimu, siapa tahu di lapangan kamu menemukan “celah” pada teori itu dan kemudian memperbaikinya. Akhirnya kamu jadi “pembuat” teorinya kan. Kesimpulannya…kamu perlu praktek untuk bisa memahami teori, dan teori itu sendiri sejatinya ya berasal dari praktek. Dua2nya sama pentingnya πŸ˜‰

Jadi akademisi atau praktisi–mengapa harus dipilih? We can choose NOT to choose. Belajar itu bisa dari mana saja kan…yang penting sekarang…..well, I just wanna study abroad πŸ˜€

Kamu juga kan?