Antara Idealis dan Realistis

Antara Idealis dan Realistis

Keseimbangan antara Idealis dan Realistis

Pada masa kuliah ini, saya semakin merasakan bahwa manusia itu terbagi dalam dua kubu oleh sebilah garis imajiner, yaitu kubu idealis dan realistis.

Kubu idealis adalah mereka yang menganggap bahwa dunia ini seharusnya ideal, dan bisa diusahakan untuk mencapai kondisi ideal tersebut. Dunia ini seharusnya aman, tentram, bersih, hijau…kemiskinan bisa diberantas, lingkungan bisa diselamatkan, dan perang bisa dihentikan. Orang-orang idealis biasanya berpikiran mendalam, gemar berdiskusi, dan berusaha untuk mencapai ke-ideal-an dalam melakukan sesuatu. Makanya, orang idealis selalu berusaha untuk melakukan perubahan.

Sebaliknya, kubu realistis menganggap bahwa dunia ini ya…beginilah adanya. Kesempurnaan enggak akan pernah bisa terjadi. Memang sudah seharusnya ada orang jahat, ada perang, ada perusakan lingkungan, ada kemiskinan…semua itu memang dari dulu sudah terjadi dan akan terus terjadi di dunia ini. Orang2 realistis cenderung tidak berusaha melakukan perubahan, yang penting mereka menjalani hidup sesuai kemampuan mereka tanpa melanggar batasan yang ada.

Saya rasa, salah satunya enggak lebih baik dari yang lain.

Sejak SMP sampai SMA, saya menjadi orang yang sangat idealis. Banyak mengkritisi ini dan itu, mengomentari sini dan sana. Lalu saat kuliah, saya memasuki lingkungan yang berbeda, dan mulai merasa memasuki “kehidupan yang sesungguhnya”…

Universitas saya punya pendekatan dan prinsip2 “praktis-realistis” dalam pendidikannya. Maklum, yang bikin kan para kumpulan pengusaha-pebisnis sukses. Dan tanpa bermaksud bias etnis, kebanyakan mahasiswanya berasal dari keturunan Tionghoa. Di sinilah saya belajar sesuatu yang mungkin nggak akan saya dapatkan saat belajar di kampus lain…

Dalam kepanitiaan dan kerja kelompok, prinsip rekan-rekan adalah “langsung kerja”. Ya, pokoknya ada tugas apa, targetnya apa, langsung digarap. Selesai, ada hasilnya. Di BEM, ada proker2 apa, KPI-nya apa, langsung dilaksanakan. Gak usah banyak rapat dan banyak bacot. Nanti kalau sudah selesai baru dievaluasi berdasarkan KPI.

Sebagai perbandingan, beberapa kali saya mengikuti rapat organisasi di universitas negeri, memang lebih banyak “bacot”nya daripada kerjanya. Kalo rapat mbulet banget, adu argumensana-sini, nggak ada solusi yang riil dan aplikatif. Omongannya di awang2 semua, banyak gagasan abstrak dan bakalan susah kalau direalisasikan.

Saya merasakan sebuah perbedaan. Orang idealis, kadangkala, terlalu banyak omong dan tidak segera melakukan apa yang menjadi tugasnya sesungguhnya. Banyak mimpi, banyak gagasan, tapi gak segera dilaksanakan karena menunggu semuanya menjadi sempurna. Sebaliknya, orang realistis gak kebanyakan mikir…apa adanya langsung digarap dan yang penting jadi hasilnya sesuai target.

Kekurangan orang idealis, mereka sibuk berpikir tanpa bertindak nyata. Kekurangan orang realistis, mereka langsung bertindak tanpa didasari pemikiran yang kuat.

Orang realistis kalau ditanyain visi-misi pasti menganggap itu Cuma bullshit…yang penting kerja dan lihat hasilnya. Sayangnya, setiap tindakan mereka jadi terasa seperti “robot”, Cuma asal dilakukan tapi nggak tahu apa makna dan maksud di baliknya, apa pemikiran yang melandasinya. Sedangkan orang idealis kalo disuruh kerja pasti susah…lebih sibuk tebar pesona dengan gagasan2 manisnya yang Cuma di awang-awang. Namanya ide, sebagus apapun gak akan berhasil kalau gak dilaksanakan.

Maka, saya memutuskan untuk mengambil sikap di tengah-tengah.

Ide, gagasan, dan pemikiran itu penting…tapi harus disertai dengan tindakan nyata. Dan sebuah tindakan nyata itu bagus apabila didasari dengan idealism yang kuat, karena ia akan menjadi lebih bermakna. Contoh sederhana: SKRIPSI. Orang realistis kalau mengerjakan skripsi pasti mikirnya yang penting lulus, yang penting selesai, segera sidang dan kompre, lalu dapat gelar sarjana. Orang idealis pasti kepengin mengerjakan skripsi yang berbeda, yang bermakna, bermanfaat buat masyarakat dan gak sekedar lulus… Skripsi orang realistis tentunya akan lebih cepat selesai dan mencapai target, tetapi skripsi mereka hanya akan jadi seonggok kertas tanpa makna yang Cuma mengulang teori2 sebelumnya, tidak memberikan manfaat berarti buat masyarakat atau ilmu pengetahuan. Skripsi orang idealis tentunya akan lebih bermakna dan bermanfaat…tapi itu kalau skripsinya jadi. Masalahnya demi kesempurnaan skripsinya itu mereka malah menunda-nunda untuk mengerjakannya dan akhirnya gak selesai-selesai.

Kesimpulannya, jadilah seimbang. Kalau kamu orang realistis, tambahkanlah sedikit landasan ide/gagasan yang kuat dalam setiap tindakanmu, sehingga hasilnya akan lebih bermakna. Contohnya, kalau kamu ingin jadi pengusaha jangan sekedar untuk cari uang, tapi juga untuk membantu tetangga2mu yang pengangguran. Sisipkanlah sedikit niat untuk mengubah dunia ini menjadi lebih baik…itu akan jauh lebih membahagiakan hatimu. Setiap tindakanmu tidak akan menjadi “kosong”, hidupmu gak akan jadi seperti “robot”.

Kalau kamu orang yang idealis, tambahkanlah niat yang kuat untuk merealisasikan gagasan2 cemerlangmu, supaya kamu gak dibilang “OMDO” (Omong Doang). Sedikit bicara, banyak bertindak. Simpan dulu argumen dan pembelaanmu, tunjukkan dan buktikan dengan karya nyatamu. Itu akan jauh lebih bermakna dan “menohok” orang-orang di sekitarmu.

Ya…memang hidup ini harus seimbang… Orang-orang sukses adalah mereka yang idealis tapi juga realistis dalam mewujudkannya…