Ada Pelangi di Bhinneka Camp

Ada Pelangi di Bhinneka Camp

Kamu tau pelangi, kan? Pelangi itu indah, dan pelangi itu beraneka warna. Keindahan pelangi tercipta justru karena dia berwarna-warni, bukan cuma satu warna saja. Coba bayangin kalo pelangi itu merah aja atau ungu aja, bakal boring banget kan? Bahkan meskipun sejatinya setiap warna itu cantik…

Peserta dan panitia Bhinneka Camp 2012 (angkatan pertama)

Itu salah satu pelajaran yang kami dapat selama mengikuti kegiatan multikultural bertajuk “Bhinneka Camp”. Hari Kamis s.d. Minggu kemarin (23-26 Februari 2012), kami 21 orang mahasiswa berbeda suku, ras, dan agama berkumpul di Villa Refa Bungkoh, Dau, dalam kegiatan yang diadakan Encompass Indonesia itu.

Jalan-jalan di sawah dekat villa

Pertamanya enggak nyangka banget karena tempatnya persis di depan Bakso Bakar Bambu Wulung. Tempat itu udah jadi lokasi favorit nongkrong sehabis jalan-jalan ke Bedengan, atau kalau baru pulang mudik dari Kediri. Baru nyadar kalo di depannya itu ada villa yang keren dan nyaman bangeeettt…

Villa ini ternyata punya kafe yang namanya “Reef Café”. Asik banget nongkrong di sini karena bisa menikmati pemandangan Kota Malang malam hari dari atas, serasa ada bintang di langit dan “bintang” di bumi (tsaaahhh). Harga makanannya pun murah banget. Plus, kalau kita sewa villa, kita juga bisa naik sampek ke gazebo di atap dan melihat pemandangan yang asli romantis bangeeettt…

 

Well, tentang Bhinneka Camp… Di Camp ini berkumpul orang Melayu, Minang, Makassar, Alor, Tionghoa, Bali, dan Jawa…yang semuanya masih bicara dengan logat daerah yang kental. Dan itu lucu banget. Asing tapi unik. Kayak nonton Upin-Ipin. Kayak nonton film Laskar Pelangi. Kayak denger secara ‘live’ logat-logat daerah yang biasanya cuman bisa didenger pas lihat “Si Bolang”.

"Onion Layers": prioritas dalam hidup

Saya merasa seperti katak dalam tempurung. Rasanya jadi pengin “mbolang” seliar-liarnya. Rasanya pengin menjejakkan kaki di pulau-pulau yang dari dulu cuman dilihatin aja di peta. Jangankan ke Alor di NTT. Ke Bawean, Kangean, dan Nusa Barung yang sama-sama Jawa Timur aja masih belum pernah 🙁

Game outbond "menjatuhkan diri", gampang2 susah 🙁

Game outbond "bola berjalan"

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di camp ini kami belajar bahwa multikulturalisme enggak terbatas dalam ruang-ruang kelas. Walaupun pelajaran itu sejatinya sudah ada di PPKn sejak kita SD, tapi kita nggak akan benar2 memahaminya kalau tidak mengalaminya. Cara terbaik untuk mengajarkan keanekaragaman adalah dengan mengalami sendiri “perbedaan” itu…

Foto narsis sebelum pulang

Rasanya, semakin banyak yang kita pahami tentang Indonesia, semakin sulit kita diadu domba. Kalau kamu memahami karakter suatu suku, kamu akan menghindari melakukan yang dia tidak suka, sehingga lebih sedikit kemungkinan terjadi konflik dengan dia. Bukan begitu?

Selain itu, satu yang saya dapat dari camp ini: “bersatu bukan berarti melebur”. Persatuan enggak harus mengikis nilai2 keunikan. Bukan berarti adat istiadat itu harus dihilangkan…bukan berarti ritual agama itu harus dihapuskan…sehingga kita jadi nggak punya suku dan nggak punya agama. Batas-batas itu harus tetap ada tanpa harus menyinggung yang lain…itulah pluralitas yang ideal…

Makasih Bhinneka Camp 🙂

 

All photoworks by Hamka Rasufit

Progressive Believer, Sukses Dunia Akhirat

Progressive Believer, Sukses Dunia Akhirat

Kenapa Indonesia nggak maju-maju?

Percaya atau enggak, bisa jadi ini ada hubungannya dengan kualitas keimanan. Orang sekuler pasti berpendapat bahwa iman dan kemajuan suatu negara itu nggak ada korelasinya. Tengok saja Amerika Serikat dan Jepang. Di AS mayoritas penduduknya nggak punya agama, bahkan nggak percaya Tuhan. Orang Jepang percaya Dewa, tapi enggak lekat dengan tradisi agama tertentu kecuali agama nenek moyang. Nyatanya, kedua negara itu sukses jadi raksasa ekonomi dunia. Malahan negara2 dengan tradisi keagamaan yang kuat, seperti Timur Tengah, India, Kamboja, toh ya nggak maju-maju amat. Malah seolah-olah (dan ini yang sudah terlanjur mengakar di benak mayoritas penduduk dunia) agama itu menghambat kemajuan peradaban.

Sekarang saya bicara tentang Indonesia. Secara statistik 88,7% dari 240 juta penduduk Indonesia adalah Muslim. Lucunya, roda perekonomian Indonesia mayoritas digerakkan oleh pengusaha nonmuslim. Rasanya hidup 88,7% orang itu seperti ditopang oleh persentase orang yang nggak sampai 10%.

Makanya, kadang saya malu jadi Muslim Indonesia.

Kayaknya Muslim Indonesia cuma bisa ngurusin hal yang remeh temeh. Urusan menetapkan Lebaran aja ribut. Urusan presiden wanita juga ribut. Urusan foto pre-wedding dan naik ojek bukan muhrim juga ribut. Tapi mengentas kemiskinan enggak bisa, jadi juara Olimpiade enggak bisa, jadi atlet berprestasi enggak bisa. Apa Muslim yang baik itu kerjaannya cuma ngalor ngidul ke masjid, Yasinan tiap malam Jumat, menyembelih kurban yang dagingnya dimakan sendiri? Apakah itu yang diajarkan Al-Quran? Apakah itu yang dicontohkan Rasulullah?

Soal ini sebetulnya sudah pernah saya bahas di sini, di situ, dan di sana. Kita patut bersyukur karena punya tuntunan hidup yang sempurna. Kalau Anda Muslim, cobalah buka terjemahan Al-Quran dan baca isinya. Anda akan paham mengapa kita harus menjadikannya pedoman hidup. Semua tetek bengek urusan kehidupan manusia, mulai dari ritual ibadah, cara menikahi dan menceraikan pasangan, cara membagi warisan, tata cara jual beli, urusan catat mencatat utang dagang (Al-Baqarah ayat 282), semua itu diatur dalam Al-Quran!

Pedoman itu mestinya cukup untuk menjadikan urusan dunia akhirat kita tertata. Ironisnya, Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam malah jadi semrawut seperti ini. Ironisnya lagi, masih banyak pemuka2 agama Islam yang cuma bisa koar-koar tentang ayat2 Al-Quran tapi enggak menjalankannya, malah korupsi dan berzina. Artinya, mereka beragama tapi enggak beriman kan?

Di sinilah kualitas keimanan menjadi penting. Orang yang sungguh2 beriman, akan berupaya untuk terus meng-upgrade imannya supaya tercapai kebahagiaan dunia akhirat. Islam artinya berserah diri. Ketika kamu menyerahkan dirimu sepenuhnya pada Tuhan, maka secara otomatis kamu pun akan menghormati makhlukNya, ya kan? Ketika kamu benar-benar mencintai Tuhan, maka secara otomatis kamu akan berusaha merasakan tanda-tanda kebesaranNya, mencari dan meneliti rahasia2 alam yang Dia ciptakan.

Negara2 sekuler seperti AS dan Jepang berhasil maju tanpa iman, karena mereka mengambil nilai2 universal dari agama mereka meski membuang tradisi ritualnya. Tetapi tetap saja kemajuan mereka itu kosong, kan? Berapa banyak konglomerat Jepang yang bunuh diri karena mengalami kekosongan spiritualitas? Berapa banyak selebritis AS yang kecanduan obat-obatan terlarang, bahkan tergeletak mati karena overdosis? Kadangkala kemajuan dan kesuksesan tidak lebih dari gelas mewah bertatah permata yang tidak ada isinya. Kamu tertarik meraihnya tetapi ketika mendapatkannya, ternyata tak ada air yang bisa diminum untuk melegakan tenggorokanmu.

Itulah risiko sekularisme. Padahal, dengan mengimani dan menjalankan sepenuhnya agamamu, sebetulnya kamu sudah memperoleh keuntungan dunia akhirat. Kamu akan hidup sukses sekaligus bahagia. Sudah saatnya kita menjadi orang-orang beriman yang berpikiran maju lagi sejahtera.

Black Valentine, Setangkai Bunga untuk Negeri

Black Valentine, Setangkai Bunga untuk Negeri

Apa yang ada di balik setangkai bunga? Apa yang ada di balik sebatang cokelat? Setiap menjelang 14 Februari benda-benda itu selalu menghiasi toko-toko dan jalan-jalan, diburu pria dan wanita yang mengidamkan kasih sayang. Meski tak seorangpun bisa memastikan, bagaimana bisa membandingkan bunga dengan setangkai kasih, dan cokelat dengan sebatang sayang. Meskipun semua orang tahu, kasih sayang terlalu absurd, terlampau mulia untuk dimanifestasikan dalam sekotak cokelat seharga 20 ribuan.

Awal Februari ini, Indonesia memperoleh “kado Valentine” yang sangat manis. Seorang putri yang 10 tahun lalu digadang-gadang mengharumkan nama Indonesia, tiba-tiba diumumkan menjadi biang kebusukan negara. Publik terpana, antara syok, kaget, dan tak percaya. “Sang putri” dulu tampak begitu elegan dan innocent, berkampanye di televisi tentang anjuran anti korupsi. Siapa sangka, virus korupsi ternyata sudah terlalu dalam menggerogoti Indonesia.

Uang negara sebanyak lima miliar tak ubahnya seperti koin seratusan. Bisa dilempar sana-sini asal jago melobi. Bisa masuk kantong siapa saja asal pandai berpura-pura. Sementara bagi seorang tunanetra pemanjat kelapa di Cianjur, Jawa Barat, koin seratusan justru seperti uang lima miliar. Setiap butir kelapa yang diperolehnya dengan matanya yang buta, dengan mempertaruhkan nyawa, hanya diberi upah 200 rupiah. Negeri ini sudah seperti negeri dongeng. Dongeng Rahwana tanpa Rama dan Anoman, dongeng penyamun tanpa pahlawan, dongeng kesedihan tanpa kebahagiaan.

Bulan Februari yang identik dengan warna pink seakan menjadi hitam, ternodai oleh tingkah laku yang tidak terpuji. Dan kita pemuda-pemudi seperti tidak peduli. Kasih sayang masih berkejaran dengan nafsu, masih terbelenggu oleh ego. Di Jogja, para mahasiswa membagi “kasih sayang”nya pada kekasihnya dengan memborong kondom di apotek. Apa bagi kita mahasiswa, cuma sebegitu saja makna kasih sayang? Sementara kita sibuk mengumbar nafsu pribadi, menyedot anggaran untuk pesta sesaat demi gengsi, banyak orang di luar sana yang jauh lebih membutuhkan kasih sayang kita. Kasih sayang yang sebenarnya, kasih sayang yang timbul dari kepekaan kita terhadap nasib manusia di lingkungan kita.

Barangkali kita perlu introspeksi. Barangkali kita butuh menumbuhkan kasih sayang yang sejati itu. Dimulai dari peduli, lalu simpati, lalu empati, pada akhirnya rasa kasih sayang itu akan muncul, diikuti oleh keinginan untuk membantu meringankan beban sesama. Apakah hal yang sulit? Rasanya tidak. Bukankah Tuhan maha pengasih dan maha penyayang? Dan pada setiap manusia, Dia tanamkan bibit kasih sayang itu di dalam hatinya, hanya saja kita harus terus menyiram dan memupuknya agar tumbuh subur berbunga.

Jadi…Setangkai bunga di Hari Valentine, kepada siapakah seharusnya kita persembahkan? Kita telah cukup dewasa untuk menentukan. Namun jangan sampai lupa…ada Ibu Pertiwi yang menunggu, rangkaian bunga dari anak-anaknya. Kita adalah anak muda harapannya. Kita harus bisa membuatnya bangga, menghapus air matanya, tidak hanya pada “hari kasih sayang”, tetapi sepanjang hidup kita persembahkan bunga padanya…

*Ditulis untuk lomba Mading SSAW &Valentine Univ. Ma Chung*

“Arok Dedes”, Kudeta Politik di Tanah Jawa

“Arok Dedes”, Kudeta Politik di Tanah Jawa

“Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum di depan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu.”

Demikian kutipan dialog yang digubah oleh Pramoedya Ananta Toer dalam roman sejarahnya, “Arok Dedes”. Novel setebal 553 halaman itu sangat istimewa, menceritakan kembali kisah legendaris leluhur kerajaan terhebat di Nusantara dengan ramuan intrik politik ala masa kini.

“Roman Arok Dedes bukan roman mistika-irasional (kutukan keris Gandring tujuh turunan). Ini adalah roman politik seutuh-utuhnya. Berkisah tentang kudeta pertama di Nusantara. Kudeta ala Jawa.  Arok adalah simpul dari gabungan antara mesin paramiliter licik dan politisi sipil yang cerdik-rakus (dari kalangan sudra/agrari yang merangkakkan nasib menjadi penguasa tunggal tanah Jawa).”

Catatan penerbit yang ada di belakang buku ini saja sudah sungguh menarik, mengundang para peminat sejarah untuk melahap lembar demi lembar naskah berkualitas ini. Dan memang benar, menelan kata demi kata dalam buku ini, para pembaca akan digiring masuk dalam suasana tanah Jawa pada awal abad ke-13, ketika wangsa Isyana yang didirikan Mpu Sindok berkuasa di tanah Jawa.

Pram memang penulis jenius. Ia mampu mencocok-cocokkan fakta sejarah dengan imajinasinya yang begitu cerdas. Keberadaan penganut Hindu Syiwa, Hindu Wisynu, Buddha, Kalacakra, Tantrayana pada masa itu dijadikannya semacam “ideologi”, semacam landasan politik. Dikisahkannya tanah Jawa pada masa itu seolah-olah sedang dalam “cengkraman” Hindu Wisynu, agama yang dianut para raja wangsa Isyana, termasuk Kretajaya sang raja Kadiri yang berkuasa saat itu. Wisynu ala Isyana itu mulanya dicetuskan oleh Raja Airlangga, yang di sini diposisikan seolah seperti “pendiri ideologi”.

Ideologi Wisynu-nya Airlangga ini meski telah 200 tahun berkuasa, ternyata diam-diam ditentang oleh kaum brahmana. Para brahmana kebanyakan beraliran Syiwa atau Buddha, tidak setuju dengan cara Airlangga “meremehkan” para dewa. Airlangga raja yang terlalu merakyat, raja para petani. Ia menganggap dirinya titisan Dewa Wisynu, memuja para leluhurnya dan menyerupakan mereka bagai dewa, menyembah mereka lebih di atas dewa sendiri. Airlangga mempopulerkan “wayang”, sehingga dapat mengisahkan kitab2 pada rakyat biasa, kitab yang selama ini hanya boleh dibaca oleh kaum brahmana saja.

Kaum brahmana yang angkuh tidak suka dengan cara Airlangga itu. Bagi mereka para dewa terlalu mulia untuk digambarkan dalam wayang, terlalu tinggi untuk diserupakan pada manusia. Maka, selama bertahun-tahun para brahmana ini memendam dalam hati pertentangan mereka terhadap “rezim yang berkuasa”, dan mulai mendapatkan “angin segar” saat Arok muncul…

Sebenarnya dalam kitab-kitab kuno yang mengisahkan tentang Arok, tidak jelas apakah tokoh ini seorang protagonis atau antagonis. Saat membaca buku pelajaran SD atau SMP, cara Arok mendirikan Singhasari terasa begitu kasar dan licik. Ia membunuhi semua orang dengan keris Mpu Gandring lalu menyebar fitnah. Namun Pram menggambarkan kudeta ala Arok itu dengan lebih elegan. Ia menciptakan seorang Arok yang bagaikan pahlawan. Arok yang biarpun Sudra tapi berlaku Satria dan berotak Brahmana.

Satu hal lagi yang unik di sini adalah penggambaran Dedes. Dedes tetaplah seorang cantik rupawan nan mempesona, tapi Pram menghilangkan mitos nareswari yang melekat pada Dedes. Mitos bahwa Dedes adalah perempuan yang akan melahirkan raja-raja terbesar di tanah Jawa karena daerah kewanitaannya memancarkan sinar yang terang benderang.

Ya, Dedes tetaplah ibu dari para raja Jawa. Tapi Pram menggambarkan wanita ini adalah seorang yang sangat cerdas, putra Brahmana, berkemauan keras dan sebenarnya juga haus kekuasaan. Ditambah lagi, meskipun ia menentang perbudakan, Dedes dilukiskan sebagai seorang Syiwa yang cukup “ortodoks” dan agak “rasis”. Ia sangat bangga akan darah Hindu (Arya) yang mengalir dalam tubuhnya. Ia membenci suaminya (Tunggul Ametung), yang berkasta Sudra dan beraliran Wisynu, dan baginya cuma alat penguasa yang bodoh.

Maka ketika ia bertemu Arok, seorang jago brahmana beraliran Syiwa, cerdas dan cakap luar biasa, ia langsung jatuh cinta. Baginya Arok lah yang seharusnya pantas menjadi suaminya. Ditambah lagi, Arok dengan sokongan para Brahamana berniat menggulingkan Tunggul Ametung. Jadilah Dedes terlibat dalam persekongkolan dengan Arok untuk menjatuhkan suaminya sendiri.

Namun ketika kekuasaan telah didapat, Dedes “syok” mengetahui bahwa Arok telah memiliki istri seorang sudra beraliran Wisynu, yaitu Umang, gadis lugu yang telah membantu perjuangan Arok sejak dari bawah. Ia merasa terhina karena Umang juga diangkat sebagai pramesywari seperti dirinya. “Kerasisannya” berontak melihat Arok berkuasa dengan membawa segenap teman2nya, rakyat jelata dari kasta rendahan dan berbagai macam aliran non-Syiwa. Memang dalam buku sejarah dikisahkan bahwa hak Dedes sebagai pramesywari tidak sempurna karena Arok lebih mencintai istrinya yang lain, yaitu Umang.

Well…Kisah ini sungguh sangat menarik. Pram mampu menyajikan deskripsi detail mengenai suasana Jawa masa lampau, perwatakan tokoh yang kuat melekat, alur cerita yang mengalir menegangkan, membuat pembaca benar-benar tenggelam dalam kisah yang mempermainkan nalar dan emosi. Novel seperti ini sudah seharusnya diangkat menjadi film. Bangsa Indonesia harus mengetahui sejarahnya sendiri. Membaca kisah Arok dan Singhasari tak ubahnya seperti membaca perseteruan politik yang terjadi di negeri sendiri saat ini. Seperti kata Bung Karno, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Karena sejarah memang selalu berulang…

Pasar Merjosari dan Gunung Kawi

Pasar Merjosari dan Gunung Kawi

Warga Malang pasti udah pada tau kan tentang pemindahan Pasar Dinoyo ke Merjosari…Ceritanya Pasar Dinoyo ituh mau digusur dan diganti jadi Mall Dinoyo City oleh walikota Malang yang matre, gak tau diri, selalu mengorbankan rakyat kecil dan lingkungan hidup, mbangun kota gak pake konsep tata ruang tapi tata duit (you-know-who). Jadinya Pasar Dinoyo sekarang dipindah ke tempat penampungan SEMENTARA (yang alamat jadi SELAMANYA) dan jadilah Pasar Merjosari…

Pasar Merjosari, Tempat Penampungan Sementara (baca: Selamanya) Pasar Dinoyo

Yang bikin sedih adalah, lokasi Pasar Merjosari dulu adalah areal persawahan di sebelah timur jalan raya Merjosari. Dari dulu sampe sekarang jalan itu sering saya lewati. Waktu SD setiap pagi berangkat sekolah diantar Bapak naik sepeda motor lewat jalan itu…dan saya selalu suka melihat pemandangan gunung-gunung di sekelilingnya…Tempat itu adalah salah satu dari sedikit tempat di Malang di mana kita bisa melihat 3 (tiga) gunung yang mengeliling Malang sekaligus…

Di sebelah timur jalan (menoleh ke kiri kalau dari arah Landungsari), kita bisa lihat siluet pegunungan Bromo-Semeru. Biasanya kelihatan siluet kebiruan kalau hari sedang cerah, karena jaraknya memang cukup jauh dari Malang. Tapi sekarang kita nggak bisa lihat lagi karena sudah tertutup oleh bangunan Pasar Merjosari…

Terus di arah utara (menoleh ke belakang) kita bisa lihat Gunung Arjuna…Kalau yang ini kita bisa lihat dengan jelas, tapi kaki gunungnya ketutup sama perumahan2 di arah Dinoyo…

Yang paling perfect adalah pemandangan di sebelah barat (menoleh ke kanan)…Kita bisa melihat Gunung Kawi dengan sangat jelas saat pagi hari cerah…Bayangin, sebuah gunung dan areal persawahan yang semilir ditiup angin…bener2 mendamaikan 🙂

Kalau malam, pemandangan gak kalah bagusnya. Di kaki Gunung terlihat lampu-lampu rumah yang berkelap-kelip kayak pemandangan di Batu…indaaaahhh banget 🙂

Dan sekarang…setelah adanya Pasar Merjosari…areal persawahan di sebelah barat jalan itu tampaknya akan digusur juga… Baru2 ini saya lewat sana, sudah ada patok-patok kayu dan gunungan material di sana…menandakan bahwa areal persawahan itu akan segera digusur dan dibangun entah apalagi…mungkin ruko atau apa…

Dengan adanya patok2 itu pemandangan ini akan segera lenyap 🙁

Patok-patok bangunan di sawah seberang Pasar Merjosari (latar belakang Gunung Kawi)

Entah berapa jengkal sawah lagi yang akan digusur…Entah berapa mall lagi yang akan dibangun…Sejujurnya saya nggak mau Malang jadi Kota Metropolitan seperti Surabaya…Kami memang butuh mall, tapi nggak perlu banyak2. Kami nggak butuh bangunan2 dan apartemen2 tinggi…Kami nggak rela langit Kota Malang yang cerah “dinodai” oleh gedung2 pencakar langit…Biarlah Malang tetap jadi Kota Pelajar, Kota Pariwisata, kota yang kecil tapi damai dan sejuk…

Car Free Day ala Malang

Car Free Day ala Malang

Setelah jalan2 ke Pasar Minggu itu, kita para “gembokers” jadi suka jalan2 ke sana, apalagi ada Car Free Day (CFD) sih. Jalan Ijen setiap hari Minggu pagi jam 05.00 – 09.30 ditutup total untuk kendaraan bermotor. Konon katanya buat mengurangi polusi dan jadi tempat jalan2 buat warga Kota Malang gitchu… Tapi rasanya kok malah nambah2 polusi yaa…soalnya orang2 jadi pada banyak yang pergi keluar tuk nongkrong di sini, dan datengnya tuh pake sepeda motor/mobil…ditaruh di parkiran terus jalan kaki ke CFD, hahaha 😀

Pada perkembangannya, CFD ini jadi ajang berkumpul komunitas2 Kota Malang. Terbukti CFD ini jadi sarana promosi ampuh lho buat memperkenalkan komunitas2 itu. Ada beberapa komunitas yang jadi makin “eksis” setelah sering nongkrong di CFD. Sekarang makin macem2 aja komunitas yang sering nongkrong di sana. Selain fixie, breakdance, skateboard, ada juga komunitas reptil yang suka bawa2 ular dan iguana ke mana2. Ular2 ini laris loh dijadikan objek foto bareng (buat keren2an)…gratis lagi. Kadang2 CFD juga bisa buat promosi klub unjuk bakat tertentu, misalnya agensi model atau bahkan drumband sekolahan…

Drumband SDN Purwodadi 1 Malang

Contoh komunitas yang makin ngeksis di CFD ini Komunitas Landak Mini (Hedgehog Ngalam) dan Komunitas Pecinta dan Pelatih Anjing (Von den Bosch). Tentang “landak mini” udah dibahas sekilas di postingan sebelumnya…Komunitas ini tergolong masih baru banget (baru berdiri November 2010), tapi herannya udah bisa ngeksis banget sampe diliput Trans TV dua kali…yang terbaru pas CFD kemaren itu. Padahal Komunitas Blogger Ngalam yang udah dari jaman nggak enak belum juga diliput TV nasional…melas banget 😛 Mungkin soalnya kita lebih sibuk TePe-TePe online kali yaa…hihihi

Ngeksis disyuting Trans TV

Saya sendiri sebenernya nggak terlalu suka binatang…Dasarnya nggak telaten dan nggak pinter “ngerumat” hewan…*kecuali ngerumat bojo #eh* Tapi karena ada mbak Nawang yang ngebet banget punya landak mini, jadi ya ikut-ikutan nimbrung deh 😀

Oya, kemarin itu si Husky muncul lagi! Nggak tau kenapa saya suka banget ngeliatin anjing Siberian Husky ini…badannya seksi dan mukanya eksotis–mirip serigala. Kali ini ada Husky baru, lebih keren dan lebih seksi! Warna bulunya abu2, badannya lebih kurus dan macho, dan dia jantan…namanya Ray (Ray siapa gitu…ribet namanya), umurnya 14 bulan.

Saya berkesempatan untuk foto bareng Marsha dan Ray…meskipun dengan takut2. Takut digigit dan takut kena liurnya 🙁

Marsha si Husky Betina

Ray si Husky Jantan

Heran juga yaa…kenapa nama2 anjing itu mesti yang keren2 dan kebarat2an gitu…kenapa gak ada anjing namanya “Soimah” atau “Sule”… 😀

Yang paling seru dari CFD kemarin adalah…ketemu bule!!! 😀 Bukannya nggak pernah ketemu bule, tapi bule yang satu ini unik banget. Bayangin, dia bisa nyanyi lagu “Sewu Kutho”-nya Didi Kempot dengan lancar dan fasih…and that’s my favorite song!!! Pertamanya enggak nyangka kalo yang nyanyi lagu itu bule. Begitu nyamperin ke panggung, terpampanglah sosok ganteng (setengah ndlahom) yang lagi nyanyi lagu favoritku…duh seneng banget rasanya *usap air mata*

Bule ganteng setengah cupu nyanyi "Sewu Kutho"

Setelah itu saya dan Lisa ngikutin dia terus…pingin ngobrol en minta foto bareng tapi nggak berani :S Setelah sempet ilang, akhirnya tuh bule muncul lagi! Dengan keberanian Nawang kita kuntit tuh bule…and finally GOTCHA! Dapet deh fotonya 😀

Umi, Simon, dan Lisa

Bule itu namanya Simon, dari Jerman, umurnya masih 19 tahun (ternyata brondong…!!!). Dia di Indonesia melalui program volunteering AFS. Sayangnya kita nggak sempet ngobrol lebih lama…padahal masih pengin tanya2 kok dia bisa tau lagu Sewu Kutho, gimana belajarnya, dari Jerman mana, dsb dll dkk huaaaaaaaaaaa ><

Well, I hope next time we’ll meet again…or some other foreigners who interested to Indonesia 🙂

Kayaknya gitu aja deh cerita tentang CFD…kalo banyak2 nanti Bapak P*ni harus bayar royalti review dong 😎

Suatu Pagi Kucium Aroma Belanda di Rumah Sendiri

Suatu Pagi Kucium Aroma Belanda di Rumah Sendiri

Kisah fiktif tentang dramatisasi suasana pagi hari di rumah seorang anak Indonesia, di mana ia tiba-tiba mendapati barang-barangnya bisa berbicara! Barang-barang itu mendadak hidup dan menceritakan semua kisahnya pada si anak…tentang sebuah negeri bernama Belanda, dan bagaimana ‘aroma’ mereka masih ‘tercium kuat’ di Indonesia…

Pagi ini setelah bangun tidur kubasuh wajahku dengan air, lalu kuraih sebotol sabun muka bermerk POND’S. Kupencet wadah sabun itu namun tiba-tiba…

“Auwww!!!” wadah POND’S itu berteriak. “Sakit tau! Jangan keras-keras dong mencetnya!” Aku yang luar biasa kaget spontan menjatuhkan sabun itu ke lantai. “Kamu kok bisa ngomong…?” aku menatapnya terpana seperti orang bego. “Yah…hanya pagi ini aku diberi kesempatan berbicara,” katanya santai. “Bukan cuma aku kok, teman-teman lain juga.”

Sebelum sempat terkejut, rumahku tiba-tiba dipenuhi teriakan membahana. “Hai!” pasta gigi PEPSODENT menyapaku. “Halo!” shampo SUNSILK mengerlingkan mata, diikuti deterjen RINSO di kaki wastafel. Aku hampir pingsan tak percaya!

“Kami ini produk UNILEVER lho,” urai POND’S. “Perusahaan ini milik Belanda, join dengan Inggris. Kamu tahu tidak, rumahmu dan kehidupanmu diwarnai produk buatan perusahaan Belanda lho!”

Belum sempat berkata apa-apa, POND’S meloncat-loncat ke dapur sehingga aku terpaksa mengikutinya. “Lihat!” katanya bersemangat. “Penyedap rasa ROYCO itu juga milik UNILEVER.” Dia mengitari dapur menyebutkan merk-merk yang dikenalnya. “Susu bendera FRISIAN FLAG! Itu milik perusahaan ROYAL FRIESLAND FOODS dari Belanda. Es krim WALL’S dan CAMPINA di kulkasmu itu juga dari Belanda.Cat tembokmu yang bermerk DULUX itu juga buatan AKZO NOBEL Belanda!”

POND’S semakin menggila, ia keluar dapur dan menudingi barang-barang di garasi dan gudang. “Bir BINTANG itu buatan HEINEKEN Belanda!” katanya menunjuk gundukan botol bekas. “Oli PENNZOIL ini juga buatan ROYAL DUTCH SHELL Belanda. Lampu PHILIPS rumahmu juga buatan Belanda!”

Meskipun kesal, lama-lama penasaran juga aku dibuatnya. “Lalu apalagi yang buatan Belanda?” tanyaku. “Maskapai penerbangan KLM, Bank ABN AMRO, bahkan E-BUDDY di hape-mu itu juga milik Belanda!” serunya.

Aku terperangah. “Wow, berarti Belanda kaya sekali ya!”

“Tentu saja!” ujar POND’S sedikit angkuh. “Belanda itu ‘kan negara dengan penghasilan per kapita terbesar ke-9 di dunia. Menurut IMF pada 2010 nilainya mencapai 40.765 dolar!”

“Wuaahh…banyak sekali!” aku terkagum-kagum. “Tapi kok bisa ya mereka membangun perusahaan-perusahan raksasa? Produknya ada di mana-mana pula,” tanyaku heran.

“Tentu bisa,” jelasnya. “Karena mereka menempati peringkat ke-8 dunia dalam Globalization Index, yaitu negara yang paling banyak berhubungan dengan negara-negara lain. Belanda juga menempati peringkat ke-5 Digital Economy, artinya mereka memanfaatkan teknologi informasi untuk mendorong pertumbuhan ekonominya, jadi informasi dan jaringan juga cepat meluas. Dari segi modal mereka juga tidak kesulitan karena ditopang bank-bank yang kuat. Perlu diketahui, Belanda menempati peringkat ke-7 dunia dalam International Banking, yang artinya bank-bank mereka hanya sedikit terkena dampak krisis keuangan.”

“Waaaahhh……..hebat sekali negara asalmu itu!” kataku tak percaya. “Apa ya rahasianya? Aku juga ingin Indonesia negeriku jadi seperti itu…”

“Gampang kok,” cetusnya. “Sistem pendidikan jadi kuncinya. Di Belanda, pendidikan tinggi dibagi dua jenis, yaitu WO (Wetenschappelijk Onderwijs) yang berorientasi pada penelitian dan HBO (Hoger Beroepsonderwijs)yang mengarah pada pembentukan profesional. WO dijalankan oleh universitas dan HBO oleh hogescholen.Keduanya saling mendukung satu sama lain. Jadi pemuda Belanda bisa memilih dan mendalami minatnya masing-masing, apakah ia hendak terjun sebagai akademisi ataupun profesional. FOKUS…itu kuncinya. Lebih baik menguasai sedikit keahlian tapi dipelajari terus-menerus hingga benar-benar menjadi pakarnya.”

Aku pun terpana mendengar pidatonya. Ternyata selama ini Indonesia masih ‘dijajah’ Belanda melalui produk-produknya. Apabila kita bisa menerapkan sistem pendidikan yang baik seperti Belanda, maka majulah perekonomian negeri tercinta ini…

*Dibuat dalam rangka mengikuti “KompetiBlog 2011” bertema Belanda yang diadakan NESO Indonesia*

http://kompetiblog2011.studidibelanda.com/news/2011/05/10/612/suatu_pagi_kucium_aroma_belanda_di_rumah_sendiri.html

Cultuurstelsel and Netherlands Agricultural Advance

Cultuurstelsel and Netherlands Agricultural Advance

“For the joy is not in cutting paddy; the joy is in cutting the paddy which one has planted.  And the soul of man does not rejoice in wages, but in the labour that earns those wages.” (Max Havelaar; or the Coffee Auctions of The Dutch Trading Company, Multatuli, 1860)

Those words in the preface strongly reflects the emotion of Eduard Douwes Dekker (pen name: Multatuli), a Dutch author who criticize Dutch colonial policy, Cultuurstelsel in Indonesia.

Applied in 1830, Cultuurstelsel was a system of compulsory planting, where Javanese farmers were forced to plant tradable plants to be exported, such as coffee, sugar, and nila. For Indonesians, it’s true that it was very cruel slavery. But, despite of that ‘black history’, Cultuurstelsel indirectly left footprints in Indonesian agricultural development. It turned Indonesian traditional agriculture into export-orientation farmland. Clifford Geertz (1963) explained how Cultuurstelsel creates Agricultural Involution, contributes to the process of ecological change in Indonesia. Even some Indonesian current agriculture facilities such as irrigation system and flood control means was build by Dutch colonialist in 1880-1939.

This ‘experience’ of Dutch colonialist in Indonesia might be linked to what Netherland has achieved in present day. Netherlands is the world third largest exporter of agricultural produce, after US and France. The surprising fact is that there are only 3% of Dutch populations employed in agriculture sector! This achievement become more fascinating since Netherland is a very tight country (sized only 2,2% of Indonesia). Truly, Netherlands is really a small country with limited land and labor, so how come it becomes such a huge exporter of agriculture products?

Yes, it must have very intensive agriculture system. We can look back on Cultuurstelsel period, where Dutch colonialist applied some steps of land intensification in Indonesia. Geertz (1963) wrote the steps which result in agriculture efficiency, started from pre-germination, transplanting, razor blade harvesting, etc.

But, more than that, it is a systematic and specified system of agricultural education which brings Netherlands into agricultural high productivity. Unlike other countries, agriculture education in Netherlands is separated from general schools, and is organized specifically in 4 (four) different levels. Refer to Martin Mulder and Hendrik Kupper (2006), at junior secondary level (VMBO) students can choose a track on agriculture. Then in senior secondary level (MBO) there are agriculture vocational schools (AOC). On the next level there are agricultural institutes (HAO) as professional agriculture education. The last is academic agriculture education at Wageningen University.

In agriculture vocational schools, students are intensively educated in and trained where they work as a trainee on a farm, trade, or industry. It rises their deeply understanding of agriculture problem in real field which then galvanize problem solving ability. Information technology also plays important role in agriculture education, where students can attain information in “Livelink”, a subsection of Netherlands educational intranet.

Those intensive agricultural education results in high quality of human resources, which then creates high value process of Netherlands agriculture products. So, no wonder that now Netherlands supplies 60% of the world flowers and produces millions kilogram of sugar beets, potatoes, and barley.

Behind all, we have to be proud that Netherlands might learn those agricultural advances from Indonesia, the land where they experiment mass crops planting 150 years ago…

*Dibuat dalam rangka mengikuti “KompetiBlog 2011” bertema Belanda yang diadakan NESO Indonesia*

http://kompetiblog2011.studidibelanda.com/news/2011/05/08/481/cultuurstelsel_and_netherlands_agricultural_advance.html

Berjalan dengan Dua Roda di Belanda

Berjalan dengan Dua Roda di Belanda

“Holland and bicycles go together like bread and jam,” demikian kutipan dalam situs Top 10 Hell, yang memposisikan Belanda sebagai ‘Country of Cyclists’. Ya, Belanda dan sepeda adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Dari total 16.652.800 penduduk, Belanda memiliki 16.500.000 sepeda. Ini berarti, sekitar 99,1% penduduk Belanda memiliki sepeda! Jumlah yang sangat fantastis…

‘Keramahtamahan’ Belanda terhadap sepeda ini sudah diakui internasional. Dalam daftar 10 besar negara dengan paling banyak sepeda, Belanda selalu menduduki posisi pertama. Bahkan, ‘cycling in the Netherlands’ telah menjadi frase yang popular di kalangan para turis, baik sebagai sarana transportasi maupun rekreasi.

Tampaknya bersepeda di Belanda memang sangat menyenangkan. Ada banyak jalur sepeda yang terorganisir, rambu-rambu yang jelas, dan rute jalan yang lebih memprioritaskan sepeda daripada kendaraan bermotor. Ditambah lagi pemandangan alam dan kota yang menyegarkan, bersepeda di Belanda terasa sangat nyaman. Tak heran jika warga Belanda sangat suka ‘berjalan dengan dua roda’. Di Belanda, sebanyak 27% dari seluruh perjalanan dan 25% dari seluruh perjalanan kerja dilakukan dengan sepeda. Setiap hari seorang warga Belanda rata-rata bisa bersepeda sejauh 2,5 km. Maka layaklah jika Amsterdam, ibukota Belanda, telah dijuluki sebagai ‘ibukota sepeda di dunia’.

Sejarah ‘persepedaan’ di Belanda dimulai pada 1868, ketika Mr. J.T. Schotte of Amsterdam mengimpor sepeda buatan orang Prancis bernama Michaux. Awalnya, kegiatan bersepeda dianggap sebagai hobi orang-orang kaya kelas atas. Namun pada 1896, dengan slogan “Everybody on the bicycle” penggunaan sepeda di Belanda meluas menjadi ‘kendaraan rakyat’.

Sepeda paling terkenal di Belanda adalah buatan Royal Dutch Gazelle, perusahaan sepeda terbesar di negeri ini. Gazelle didirikan pada 1892 dan setiap tahunnya dapat memproduksi 300.000 sepeda. Tak dinyana, sepeda merk Gazelle ini ternyata juga diekspor ke pasar Indonesia. Warga pribumi biasa mengenalnya sebagai sepeda onthel Belanda, sepeda unta, atau sepeda kebo. Lucu sekali, kan?

Uniknya, tidak ada yang dapat memastikan mengapa warga Belanda sangat gemar bersepeda. Bisa jadi, faktor geografis menjadi pemicunya. Belanda adalah negara mungil yang relatif datar, sehingga sangat mudah dilalui sepeda. Jarak antarkota juga relatif dekat sehingga cepat dicapai dengan sepeda. Asal tahu saja, mayoritas anak-anak dan remaja terbiasa bersepeda ke sekolah. Mungkin kegemaran inilah yang terus terbawa sampai mereka tumbuh dewasa.

Uniknya lagi, posisi Belanda dalam 10 Besar Negara Paling Banyak Sepeda ini dipengaruhi pula oleh posisi Belanda di 10 Besar kategori yang lain. Belanda ternyata tercatat sebagai peringkat ke-2 dunia negara yang paling banyak mengeluarkan perjanjian perlindungan lingkungan. Akademisi Belanda pun menaruh perhatian besar dalam penelitian mengenai lingkungan. Menurut Thomson Scientific’s Essential Science Indicators, Belanda menempati peringkat ke-6 negara yang paling banyak melakukan riset di bidang lingkungan/ekologi.

Fakta tersebut mencerminkan tingginya tingkat kepedulian pemerintah dan warga Belanda. Faktor inilah yang tampaknya mempengaruhi kebiasaan bersepeda di Belanda. Ya, sepeda memang sarana transportasi tanpa polusi yang ramah lingkungan. Yuk, bersepeda di Belanda!

*Dibuat dalam rangka mengikuti “KompetiBlog 2011” bertema Belanda yang diadakan NESO Indonesia*

http://kompetiblog2011.studidibelanda.com/news/2011/05/04/345/berjalan_dengan_dua_roda_di_belanda.html

Kabupaten Malang: Luas Bangeeettt…!!!

Kabupaten Malang: Luas Bangeeettt…!!!

Peta Kabupaten Malang

Kabupaten Malang ini unik banget loh. Coba bayangin, sebuah kota yang di dalam wilayahnya ada dua kota lagi! Kayaknya cuman satu2nya di Indonesia ini deh…

Luas wilayah Kabupaten Malang adalah 3.534,86 km2 (353.486 hektar), nomor 2 terluas di Jawa Timur setelah Kabupaten Banyuwangi. Eits…tapi coba lihat peta di atas, di dalam wilayah Kabupaten Malang masih ada 2 kota, yaitu Kota Malang dan Kota Batu. Jadi jarak antar ujung2 Kabupaten Malang ini sebenarnya LEBIH LUAS lagi…

Sebagai warga Kabupaten Malang, saya merasakan sendiri gimana susahnya punya wilayah segede gambreng, gak kira2 luasnya. Kebetulan saya tinggal di Desa Landungsari, Kecamatan Dau, yang letaknya di bagian barat Kabupaten (lihat peta). Sekedar info, ibukota Kabupaten Malang terletak di Kecamatan Kepanjen, yang letaknya di bagian selatan. Untuk ke sana saya harus menyerberangi Kota Malang…Naik motor dengan kecepatan sedang habisnya bisa 1 jam lebih…! Padahal, untuk ngurus SIM, surat izin usaha, dan surat2 lainnya semua warga Kabupaten mesti bertandang ke Kepanjen, karena kantor Bupati dan kantor2 Dinas semuanya ada di sana.

Coba bayangin aja gimana susahnya warga Kecamatan Kasembon (ujung paling barat-utara) atau Kecamatan Lawang (ujung paling utara) kalo mau ngurus SIM. Warga Kasembon mesti menyeberangi 2 kota sekaligus (Kota Batu dan Kota Malang) untuk sampai ke Kepanjen. Perkiraan waktunya bisa hampir 3 jam (kalo naik motor)…Rasanya udah kayak pergi keluar kota aja!

Kenapa yaa…kecamatan2 yang lokasinya “nanggung” itu nggak dijadikan satu aja dengan Kota Batu misalnya? Atau dilebur dengan Kota Malang…. Kasihan kan mereka jadi ribet kalau mau ngurus apa2, waktunya habis di jalan, capeeekkk *curcol*