Candi Singosari, Jejak Dinasti Penguasa Nusantara

Tau nggak, kalau ada candi di Indonesia yang ternyata belum selesai dibangun? Ya, itulah Candi Singosari. Candi yang merupakan peninggalan Kerajaan Singhasari (1222-1292 M) ini nyatanya adalah sebuah karya yang terbengkalai, alias ditinggalkan saat masih dalam proses pengerjaan.

Masak sih? Padahal candi itu kelihatan utuh kok?

Kalau teman-teman berkunjung ke Candi Singosari, cobalah perhatikan dengan seksama. Seperti candi pada umumnya, dinding Candi Singosari juga dihiasi ornamen ukiran. Namun, ornamen pada candi ini tampak seperti belum selesai. Pada bagian atas candi, ukiran ornamen terlihat detail, rata, dan rapi. Tetapi di bagian bawah candi, ukiran ornamen tampak kasar dan tidak mendetail, menandakan bahwa ornamen tersebut masih setengah jadi. Padahal menurut Wikipedia, candi ini dibangun dengan sistem menumpuk batu andhesit hingga ketinggian tertentu, lalu mengukirnya dari atas baru turun ke bawah. Ukiran di bawah yang masih belum jadi memperkuat dugaan bahwa candi ini sebenarnya belum selesai dibangun. Begitchu…!

Perhatikan perbedaan ornamen candi yang dilingkari

Lantas, apa sebabnya candi ini nggak selesai dibangun? Apa karena dana dari pusat dikorupsi sama pejabat daerahnya? Atau dikemplang sama kontraktor yang menang tender? Jawabannya nggak ada yang pasti. Sejarawan hanya bisa menduga-duga. Konon, candi ini dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa Syiwa. Namun, dalam proses pengerjaannya, Kerajaan Singhasari mendadak “gonjang-ganjing”. Kertanegara, raja termasyhur sekaligus raja terakhir Singhasari, tiba-tiba diserang oleh Jayakatwang, raja bawahannya dari Kadiri. Pemberontakan itu sangat tak terduga. Mulanya, Kertanegara mengira Jayakatwang akan menyerang dari arah Utara Kerajaan, sehingga ia mengirim Raden Wijaya, menantunya untuk menghalau serangan tersebut. Nyatanya, serangan dari utara itu hanyalah pancingan agar Istana kosong tanpa penjagaan. Saat itulah, Jayakatwang dan pasukan lainnya menerobos masuk Istana Singhasari dari arah Selatan. Dengan cepat istana pun diserang, Kertanegara dibunuh, dan Kerajaan Singhasari akhirnya runtuh. Tamat deh!

Keruntuhan Singhasari itulah yang diperkirakan menghentikan pengerjaan candi ini. Candi yang belum selesai itu konon dijadikan tempat pendharmaan bagi Kertanegara, sang raja terakhir.

Nah, Candi Singosari adalah tempat kontemplasi yang tepat untuk merenungi sejarah Nusantara dalam bingkai Dinasti Rajasa, dinasti para raja Singhasari dan Majapahit. Kalau teman-teman tertarik, silakan datang saja ke Jalan Kertanegara, Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Letaknya nggak jauh kok dari pusat keramaian, hanya beberapa ratus meter dari Pasar Singosari. Kompleks candi ini bersih dan indah. Kalau masuk kita harus mengisi buku tamu, lalu mengisi “uang kas” seikhlasnya kepada penjaga pos, yaa kira-kira goceng lah.

Sebelum datang ke tempat ini, ada baiknya teman-teman sudah memiliki sedikit pengetahuan tentang sejarah Kerajaan Singhasari dan Majapahit. Kalau sudah “mudheng” ceritanya, rasanya melihat candi ini akan lebih “marem”. Di sini kita bisa menghayati benar kisah-kisah para raja leluhur yang penuh intrik tetapi sungguh menarik. Berikut ini saya paparkan beberapa hasil ngelamun perenungan sejarah saat berwisata ke Candi Singosari…

Ken Dedes, Ibunda para Raja

Di halaman kompleks Candi Singosari, ada arca-arca yang dipajang berjejer lurus dengan pos jaga. Arca-arca tersebut dahulunya ditemukan bersama reruntuhan Candi Singosari pada tahun 1800-an. Sebagian arca diboyong ke Museum Leiden oleh penjajah Belanda tukang nyolong warisan budaya negara lain dan sisanya ditinggalkan di sekeliling candi. Kalau kita perhatikan, salah satu dari arca tersebut ada yang tidak punya kepala alias kepalanya hancur!

Arca itu sebenarnya adalah salah satu dari tiga arca Dewi Prajnaparamita yang telah ditemukan sejarawan. Dua arca ditemukan di Candi Singosari, sedangkan satu arca lagi di Candi Gilang, Tulungagung. Namun, di Candi Singosari hanya arca tanpa kepala yang bisa kita saksikan sekarang. Lantas, di mana arca Prajnaparamita satunya—yang masih utuh, cantik, nan anggun???

Usut punya usut, arca itu ternyata dahulu juga ikut diboyong ke Museum Leiden, Belanda. Untungnya, pada 1978 akhirnya Pemerintah Belanda mau mengembalikan arca tersebut dan kini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Fyuhhh…

Emangnya apa sih istimewanya arca itu?

Arca Prajnaparamita tanpa kepala

Oleh para sejarawan, arca Dewi Prajnaparamita ini diyakini sebagai perwujudan dari Ken Dedes, permaisuri Ken Arok yang merupakan pendiri Dinasti Rajasa. Dalam kitab Pararaton, diceritakan bahwa Ken Dedes adalah seorang nareswari, perempuan istimewa yang ditakdirkan menjadi “ibu para raja”. Lelaki manapun yang menikahinya akan menjadi seorang raja. Tanda-tandanya adalah, dari “daerah kewanitaannya” memancarkan cahaya yang terang benderang. (nah lho…! hebring banget tuh! :D)

Oleh karena itulah, saat tak sengaja melihat kain Ken Dedes tersingkap di Taman Boboji, Ken Arok langsung berhasrat ingin menikahinya karena melihat “sinar” tersebut. Padahal, saat itu Arok telah memiliki istri bernama Ken Umang. Namun ambisi Arok menjadi seorang raja membuat dia memaksa ingin menikahi Dedes dan menjadikannya permaisuri—meskipun saat itu Dedes telah bersuamikan Tunggul Ametung.

Alhasil, pada suatu malam Arok pun membunuh Tunggul Ametung di tempat tidurnya dengan keris Mpu Gandring, disaksikan oleh Dedes yang saat itu tidur di samping suaminya. Arok pun menjadi penguasa Tumapel dan menikahi Dedes. Selanjutnya, ia menaklukkan Raja Kertajaya dari Kadiri, lalu mendirikan Kerajaan Singhasari. Di kemudian hari, ramalan Dedes sebagai perempuan nareswari ternyata terbukti. Raja-raja Singhasari dan Majapahit semuanya adalah keturunan langsung dari rahim Ken Dedes, baik hasil pernikahannya dengan Tunggul Ametung maupun dengan Ken Arok. Keturunan Ken Arok dengan istrinya yang lain justru tidak bertahan lama menjadi raja.

Keberadaan Ken Dedes menjadikan Dinasti Rajasa terasa istimewa. Dinasti kerajaan terbesar di Nusantara itu ternyata berpangkal pada seorang perempuan, bukan seorang laki-laki. Ken Dedes mengejawantahkan peran utama seorang perempuan sebagai ibu. Melalui Ken Dedes kita dapat melihat bahwa generasi yang istimewa, terlahir dari seorang ibu yang istimewa.

Raden Wijaya, Pejuang yang Bertahan Hidup

Buah Maja di kompleks Candi Singosari

Di dalam kompleks Candi Singosari ditanam beberapa batang pohon Maja dengan buahnya yang bergelantungan lebat. Buah Maja bentuknya bulat besar seukuran jeruk Bali, tapi sangat pahit jika dimakan. Buah inilah yang ditemukan oleh Raden Wijaya, seorang survivor bangsawan Singhasari yang lolos dari penyerbuan Jayakatwang, saat dia membuka daerah baru di suatu hutan.

Bagaimana kisahnya Raden Wijaya bisa selamat dari keruntuhan Singhasari? Alkisah saat Istana Singhasari diserbu Jayakatwang pada 1292, Raden Wijaya dan pasukan Singhasari sedang bertempur di Utara Kerajaan. Ketika ia kembali, Istana Singhasari telah hancur lebur dan Kertanegara sudah dibunuh. Raden Wijaya pun melarikan diri bersama keempat putri Kertanegara, lalu meminta perlindungan kepada Arya Wiraraja, penguasa Sumenep, Madura.

Dengan bantuan Arya Wiraraja, Raden Wijaya berpura-pura menyerah kepada Jayakatwang, lalu memohon untuk diberikan sebidang tanah di Hutan Tarik, sebelah timur Kadiri. Di hutan inilah ia kemudian membangun sebuah desa bernama Majapahit, diambil dari nama pohon Maja berbuah pahit yang banyak terdapat di hutan itu.

Tak dinyana, tak diduga, ndilalah tak sampai setahun kemudian, pada 1293 Kerajaan Mongol mengerahkan 20.000 pasukan dan 1.000 kapal untuk menyerang Kertanegara dan Kerajaan Singhasari. Mereka merasa terhina atas sikap Kertanegara dahulu yang tidak mau tunduk kepada Raja Kubilai Khan dari Mongol, sehingga memutuskan menyerang Singhasari. Namun sesampainya di Jawa, pasukan Mongol mendapat kabar “ngglethek” bahwa Kertanegara ternyata telah tewas dan Singhasari kini dikuasai Jayakatwang.

Tapi kedatangan pasukan Mongol ini berhasil dimanfaatkan dengan cerdik oleh Raden Wijaya. Dia bergabung dengan pasukan Mongol dan membantu mereka menyerang Jayakatwang. Pasukan Mongol sih oke-oke saja karena merasa terbantu dengan dukungan “orang dalam”. Setelah Jayakatwang kalah dalam pertempuran besar itu, pasukan Mongol pun berpesta pora.

Tak disangka, sebulan kemudian Raden Wijaya ganti memberontak dan menyerang pasukan Mongol. Saat itu Raden Wijaya dikawal 200 prajurit Mongol menuju Majapahit untuk mempersiapkan persembahan kepada Kubilai Khan. Namun di tengah perjalanan apa yang terjadi? Raden Wijaya dan para prajuritnya justru berbalik membunuh pasukan Mongol tersebut. Wow! Lalu dengan pasukan yang lebih besar, Raden Wijaya memukul mundur seluruh pasukan Mongol yang ada di Jawa, dan memaksa mereka kembali ke negaranya. Kapok koen!

Setelah itu Raden Wijaya pun resmi mendirikan kerajaan baru bernama Majapahit dan menjadi rajanya yang pertama bergelar Prabu Kertarajasa Jayawardana. Hebat kan? Kalau kita cermati, berdirinya Majapahit itu berlangsung hanya sekitar setahun setelah runtuhnya Singhasari. Kebangkitan Dinasti Rajasa yang sangat cepat itu tidak lepas dari taktik Raden Wijaya yang sangat lihai. Melalui sosoknya, kita dapat melihat bahwa untuk bangkit dari kehancuran, dibutuhkan pejuang yang tangguh dan cerdik seperti Raden Wijaya, tidak putus asa dan mampu bertahan hidup!

***

Silsilah Dinasti Rajasa

Demikianlah selarik kisah tentang Kerajaan Singhasari dan Majapahit, yang direfleksikan melalui kontemplasi di Candi Singosari. Sebagai jejak peninggalan Dinasti Rajasa, pesona Candi Singosari sungguh menawan. Kisah mengenai dinasti penguasa Nusantara ini banyak termaktub dalam kitab kuno, prasasti, dan catatan kerajaan lain di luar negeri. Kedua kerajaan yang mereka dirikan (Singhasari dan Majapahit) memang termasyhur di kalangan sejarawan mancanegara. Kitab Nagarakretagama yang merupakan sumber utama kisah Dinasti Rajasa bahkan diterjemahkan oleh sejarawan Belanda, Dr Pigeaud. Banyak tulisan-tulisan Barat menceritakan tentang Ken Arok dan Ken Dedes. Karena itu, sering pula para wisatawan asing berkunjung ke Candi Singosari.

Sebagai putra Indonesia, kita juga harus memahami sejarah bangsa sendiri. Dengan mengunjungi objek wisata sejarah seperti Candi Singosari, ternyata banyak sekali ilmu yang didapat. Ingat, jejak sejarah akan selalu berulang. Intrik politik yang kita lihat pada zaman sekarang, sesungguhnya telah ada sejak zaman kerajaan dahulu kala. Hasut menghasut dan bunuh membunuh seperti sudah menjadi lakon manusia yang telah dirasuki nafsu kekuasaan. Kerajaan Singhasari yang didirikan dengan pertumpahan darah, berakhir pula dengan pertumpahan darah. Namun dari kekalahan dan keruntuhan itu, ternyata masih ada pejuang yang bisa bertahan, tidak putus asa melanjutkan perjuangan. Kerajaan baru pun tumbuh berkembang lagi menjadi kerajaan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.

Karena itu, seperti kata Bung Karno, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dengan mempelajari sejarah, kita akan lebih mengenal dan menyadari siapa diri kita sebenarnya. Karena pemahaman yang dalam akan masa lalu, membuat kita lebih berhati-hati sebelum melangkah di masa depan… 🙂

Landungsari, Desa di Batas Kota

Di Landungsari kamu bisa melihat deretan perumahan, ruko, dan pasar seperti tiada henti dibangun. Di Landungsari pula kamu bisa melihat hutan bambu yang rapat, serta sawah yang hijau membentang. Di Landungsari kamu bisa melihat potret mahasiswa dan pekerja urban, berbaur dalam keramaian kota yang ingar bingar. Di Landungsari pula kamu bisa melihat para petani menuntun sapi-sapinya di tengah jalan. Landungsari adalah sepotong paradoks, sebuah desa di batas kota.

Meskipun statusnya “Desa” di bawah Kecamatan Dau dan masuk wilayah Kabupaten Malang, tapi Landungsari sangat dekat dengan kota. Di sini ada Terminal Landungsari yang sempat jadi sengketa antara pemerintah Kota dan Kabupaten. Ada juga daerah kos-kosan mahasiswa yang jaraknya “tinggal loncat” dari Univ. Muhammadiyah (padahal UMM ada di Kelurahan Tlogomas-Kecamatan Lowokwaru-Kota Malang). Ada juga jalan perbatasan yang biar rame tapi gak pernah diaspal, karena pemerintah Kota dan Kabupaten pada gak mau ngalah tuk ngaspalin.

Landungsari itu unik. Di sini kamu seperti melihat proses “suksesi peradaban”, peralihan dari desa ke kota. Landungsari punya 3 dusun; Klandungan, Bendungan, dan Rambaan. Dusun Klandungan adalah potret “ndeso”nya Landungsari. Masih banyak sawah, ladang, hutan bambu, dan sungai di sini. Penduduknya juga relatif lebih miskin dan kurang berpendidikan. Dusun Bendungan ada di tengah2. Sawah dan ladang masih banyak dijumpai, tapi mulai tergerus oleh pembangunan perumahan dan pasar desa. Penduduknya campuran antara pendatang (sebutannya “wong perumahan”) dan penduduk asli (“wong kampung”). Sedangkan Rambaan adalah Dusun yang paling “meng-kota”. Hampir tak ada sawah lagi di sini. Semua berubah jadi ruko, rumah kos, warung, fotokopian, rental, warnet, dan laundry. Rambaan adalah “kampung mahasiswa”. Denyut nadi para mahasiswa UMM pusatnya ada di sini. Makanya, kalau pas musim mudik, dusun ini dipastikan sepi mamring!

Dengan segala keunikannya ini, saya senang tinggal di Landungsari. Kita masih bisa beli jagung dan ubi langsung dari pak tani di sawah, tapi juga gak perlu jauh-jauh untuk reparasi laptop atau beli modem. Kita bisa lihat Gunung Kawi, Arjuna, dan Bromo-Semeru, juga bisa nongkrong di kafe Wi-Fi di desa yang sama. Pokoknya Landungsari itu komplit. All in one! What you need for life is here. Kelemahannya cuma letaknya cukup jauh dari pusat kota, jadi kalau mesti ke kantor2 di sana lumayan ngabisin waktu (dan bensin).

Landungsari is my hometown. Eventhough I wasn’t born here, but the most precious memories of my life had happened here 🙂

God Bless Landungsariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Kisah Bocah dari Masa Depan (4)


Sekarang di rumah ini tidak hanya ada Raihan Anggara. Umurku 3 tahun dan baru saja aku mendapatkan adik perempuan yang cantik, namanya Prameswari Aisha. Prameswari artinya permaisuri, istri raja yang anggun mempesona. Aisha adalah nama istri Nabi yang cantik, cerdas, dan berpikiran maju. Nama yang luar biasa, semoga adikku ini dapat menjadi seindah namanya.

Sekarang Ibu jadi sibuk mengurusi Aisha. Aku jadi lebih sering bermain dengan tetangga-tetanggaku. Mereka semua asik-asik dan pintar-pintar. Ada yang lebih tua sedikit dariku, dan dia sering berkata dengan bahasa aneh saat bicara. Kata Ibu itu namanya bahasa Inggris. Pernah aku minta diajari agar bisa mengerti ucapannya, tapi Ibu hanya memberitahu sedikit kata-kata saja. Kata Ibu nanti kalau sudah sekolah Ibu Guru akan mengajariku.

Ibu bilang, kalau di rumah aku bicara bahasa Indonesia saja, atau bahasa Jawa juga tak apa, jangan ikut-ikutan tetangga pakai bahasa Inggris. Kata Ibu sekarang semua orang sok berbahasa asing, tapi melupakan bahasa nasionalnya sendiri. Padahal kalau bukan kita, siapa lagi yang akan memakai bahasa nenek moyang? Teman-teman seusiaku banyak yang lancar bahasa Inggris tapi bahasa Indonesia-nya patah-patah, padahal mereka lahir dan besar di sini. Kasihan…

Menurut Ibu, ini namanya globalisasi kebablasan. Apa itu “globalisasi”? Susah sekali diucapkan. Tak tahulah. Ibu mengoceh saja…Katanya sekarang batas negara hampir tak ada artinya lagi. Orang asing, barang asing, budaya asing semua masuk Indonesia tanpa hambatan. Dulu Ibu masih sempat menikmati gurihnya tahu Kediri dan tempe Sanan yang khas. Tapi sekarang hampir tidak mungkin. Kalaupun ada, harganya selangit. Tempe dan tahu sekarang semua impor dari China! Tak cukup hanya kedelainya saja.

Tak cuma itu. Beras, sayuran, buah, daging, susu, bahkan ikan pun semuanya impor dari negara lain. Padahal kalau dari cerita Ibu, Indonesia itu negara agraris sekaligus negara bahari yang kaya sekali. Banyak gunung berapi sehingga tanahnya subur. Tapi kini banyak tanah yang rusak tak bisa ditanami. Apel Batu saja kini sudah punah. Tanah di Batu kerontang dan mandul, habis teracuni oleh pupuk kimiawi. Sebagai gantinya, apel Fuji yang berjajar di pasar tradisional.

Profesi nelayan sekarang tak ada lagi. Dulu ikan tangkapan masih banyak. Sekarang terumbu karang hancur karena dahulu dibom oleh kapal besar yang serakah menangkap ikan. Laut pinggiran tercemar oleh sampah sehingga ikan tak bisa hidup. Kalau mencari ikan harus agak ke tengah laut, tapi harga bahan bakar mahal, nelayan tak punya modal sehingga mereka gulung tikar.

Duh, apes sekali nasib bangsaku ini. Bangsa yang kaya tapi bodoh dan hanya bisa diperbudak bangsa lain. Tapi kukatakan pada Ibu, aku tak mau jadi budak. Aku mau jadi orang kuat yang bisa berdiri di atas kaki sendiri. Aku akan kerahkan semangat teman-teman seperjuangan, bersatu padu melawan penjajahan baru…

Ups, mungkin 20 atau 30 tahun lagi 😛

Kisah Bocah dari Masa Depan (3)


Raihan Anggara, itu namaku. Umurku sekarang 2 tahun. Aku sedih karena sekarang aku tidak lagi bisa minum Air Susu Ibu. Padahal aku paling suka karena saat menyusui Ibu akan bercerita macam-macam sampai aku tertidur. Sekarang aku minum susu botol. Pertama rasanya aneh tapi lama-lama terbiasa juga. Senangnya sekarang aku bisa makan makanan yang enak, tidak cuma bubur bayi. Ada biskuit, sayur, dan buah.

Bicaraku sudah lancar sekali. Meskipun agak cadel tapi Ibu selalu bisa mengerti maksudku. Ibu selalu mengajakku bicara supaya aku bisa hafal lebih banyak kata. Kalau menunjuk sesuatu Ibu selalu mengatakannya berulang-ulang supaya aku ingat. Aku bisa berhitung sampai dua puluh, aku bisa membedakan warna, dan aku tahu nama-nama hewan di sekitarku,
Setiap hari Sabtu Ibu membawaku ke dokter anak untuk periksa kesehatan rutin. Berat badanku dicek dan pertumbuhanku dipantau. Kata Ibu, saat dia masih kecil Mbah Uti juga rutin memeriksa kesehatannya. Bukan di dokter, tapi di Posyandu. Posyandu adalah Pos Pelayanan Terpadu. Di sini setiap pekan para ibu di kompleks datang memeriksakan anaknya, lalu diberi makanan bergizi. Kalau perlu juga ada imunisasi. Tapi sayang sekali, sekarang Posyandu tak ada lagi. Ibu-ibu sekarang sibuk sendiri-sendiri, tak mau mengurusi Posyandu, padahal itu demi anak mereka juga.

Kata Ibu, kalau ada Posyandu, tidak perlu ada anak-anak yang meninggal karena busung lapar. Tahu kan? Itu lho, penyakit perut buncit karena kekurangan protein. Apalagi di desa-desa, banyak ibu-ibu yang kurang paham makanan apa yang baik dan bernutrisi bagi bayi. Adanya Posyandu sangat penting sebagai sarana informasi cara merawat bayi.
Sekarang makin banyak saja bayi dan balita meninggal karena busung lapar, apalagi di daerah Timur. Ibu bilang saat dia masih muda kasus busung lapar sudah ada, tapi cuma seperti angin lalu. Berpuluh tahun berlalu, ternyata sama saja hasilnya. Bayi-bayi itu kelaparan di lumbung padi…

Aku bersyukur Ibu masih bisa memberiku makanan bergizi setiap hari. Kata Ibu, kalau anak-anaknya saja sakit-sakitan, bagaimana bangsa ini bisa maju…padahal anak-anak inilah calon generasi penerus…

Kisah Bocah dari Masa Depan (2)


Masih ingat denganku? Namaku Raihan Anggara, si bayi lincah. Sekarang umurku hampir 1 tahun. Aku sudah bisa berjalan, meskipun masih harus digandeng Ibu. Tapi aku belum bisa bicara lancar, hanya bunyi-bunyi nggak jelas yang keluar dari mulutku. Kata Ibu, anak laki-laki biasanya memang lebih cepat berjalan daripada bicara, berlawanan dengan anak perempuan.

Mbah Kakung dan Mbah Uti memujiku bayi yang pintar, seperti Ibu. Kata Ibu memang betul bahwa kecerdasan anak itu menurun dari ibunya, baik secara nature maupun nurture. Secara nature, gen kecerdasan menurun dari kromosom X yang disumbang oleh Ibu. Sedangkan secara nurture, Ibu sangat berperan dalam perawatan anaknya, mulai menyusui, mengajak bicara, dan mengajari tata krama. Ah, Ibu hanya sok bangga pada dirinya sendiri saja, hihihi.

Kami tinggal di sebuah kompleks perumahan yang asri. Setiap pagi Ibu mengajakku berjalan-jalan ke taman yang ada di dekat kompleks, katanya supaya aku mendapat sinar matahari yang cukup. Sinar matahari mengandung vitamin D yang bagus untuk pertumbuhan tulangku, supaya aku jadi laki-laki yang tinggi dan tegap. Taman di situ indah sekali, banyak pohon hijau dan ada kolam bening yang banyak ikannya. Kata Ibu, tempat ini adalah salah satu dari sedikit ruang hijau di kota ini. Saat Ibu masih muda, pulang pergi sekolah Ibu melewati sawah yang hijau dengan pemandangan gunung yang indah. Tapi sekarang, sawah itu sudah tak ada lagi, gunungnya sudah tak terlihat lagi. Berubah menjadi ruko-ruko di depan pasar yang dibangun saat Ibu kuliah dulu. Taman ini saja bisa bertahan karena hasil perjuangan warga kompleks, yang tidak rela ruang hijau ini digusur untuk proyek.

Kata Ibu, kalau lahan hijau terus-terusan dibabat, maka bumi akan semakin panas. Saat Ibu masih muda, kampanye penghijauan sudah sering digalakkan. Tapi hasilnya tidak sebanding dengan perusakan yang dilakukan penguasa serakah. Ibaratnya, setiap satu pohon ditanam, satu hektar hutan dibabat. Jadi laju perusakan lebih besar daripada penghijauan. Akibatnya sekarang, suhu udara rata-rata hampir 30 derajat celcius. Padahal kota ini di dataran tinggi yang dikelilingi gunung…

Seandainya aku sudah lahir saat itu, pasti aku akan ikut turun ke jalan dan menanam pohon sebanyak mungkin. Aku akan ikut memprotes pengusaha serakah yang menggilas hutan kota menjadi perumahan mewah. Akan kucegah mereka membuat bumi pada masaku menjadi sepanas ini…

Kisah Bocah dari Masa Depan (1)


Hai teman…namaku Raihan Anggara, panggil saja Ray atau Angga. Dua kata namaku berasal dari bahasa Arab dan Sansekerta, tapi punya arti yang sama, yaitu “harum.” Nama yang bagus, bukan?

Aku baru saja melihat dunia. Kulitku masih belepotan cairan putih dan merah. Suster-suster dengan hati-hati memotong tali ari-ariku. Ya, Ibuku baru saja melahirkan aku. Dia tampak lemas tapi wajahnya penuh senyuman bahagia. Suster menggendongku dan menyerahkanku pada Ibu.

Ibu, senyumnya bercampur tangis saat memandangku. Ia menciumiku seakan aku anugerah terindah yang pernah dia miliki. Ya, kelahiranku adalah cita-cita terbesar Ibu. Sejak masih remaja Ibu sudah ingin mempunyai anak laki-laki. Ibu berjanji akan merawat dan mendidikku sebaik mungkin supaya aku jadi laki-laki sempurna. Aku pun berjanji akan membahagiakan Ibu—begitu janjiku saat masih di kandungan dulu.

Setelah itu suster meletakkan aku di sebuah boks kecil, sementara Ibuku beristirahat. Dia pasti sangat lelah. Perutnya mulas seharian dan ia mengejan berjam-jam agar bisa melahirkan aku. Pasti sakit sekali rasanya. Ibu memilih melahirkanku secara normal, agar lebih baik bagi kesehatanku. Dia pernah membaca bahwa bayi yang lahir normal, sistem kekebalan tubuh dan pernapasannya akan lebih kuat.

Di dalam boks, aku menangis keras sekali. Menangis keras, tandanya bayi sehat dan lincah—begitu kata suster. Kaki dan tanganku oun tak berhenti bergerak-gerak. Ya, aku memang sangat bersemangat. Aku ingin segera melihat dunia luar. Aku ingin segera bisa tengkurap, merangkak, berjalan, lalu bicara. Aku ingin mengalami hal-hal yang unik dan menakjubkan. Aku ingin berpetualang, dan akan kuceritakan kisahku pada kalian semua…

Materialisme Madrasah

Rilis hasil survey KPK muncul di Kompas tanggal 29/11/2011, memampang besar2 headline “Kementerian Agama Terkorup”. Nah lho. Padahal sebagian besar pegawainya bergelar Haji, berkali-kali pergi haji, eh malah mengkorupsi dana penyelanggaran haji. Bapak, Ibu, mau ditaruh di mana mukanya? Pengetahuan agamanya buat apa? Nggak malu sama Tuhan dan sesama hambanya?

“Peringkat” Depag ini bukan baru pertama kali, ternyata tahun2 sebelumnya, bahkan sejak 2006, Depag selalu masuk daftar Kementerian negara terkorup. Perilaku pegawai pusat yang sudah membudaya ini ternyata menular juga ke institusi2 di bawah Depag, termasuk madrasah negeri.

Sudah bukan rahasia lagi kalau beberapa madrasah negeri terkenal, khususnya di Malang, memasang tarif gila-gilaan untuk biaya masuk. Memang sih madrasah-madrasah ini beda dengan madrasah “ndeso” yang biasanya mencil, reyot, dan tertinggal. Di sini madrasahnya punya gedung mewah, fasilitas lengkap, dan prestasi lumayan. Semuanya itu mungkin lalu menjadikan madrasah2 ini dapat cap “bergengsi”, sehingga mereka berani “jual mahal” dengan menaikkan “tarif”.

Sedih lho sebenarnya. Apalagi peningkatan biaya itu tidak dibarengi dengan peningkatan prestasi substansial, yaitu kualitas pengajaran dan output SDM, melainkan hanya peningkatan prestasi fisik berupa gedung dan fasilitas. Bangunannya mentereng, tapi prestasi, akhlaq, dan daya juang anak2 didiknya belum menunjukkan hasil maksimal. Jika dibandingkan dengan sekolah agama lain, misalnya sekolah Kristen, masih kalah jauh kualitas outputnya. Padahal mereka ya nggak segitu matrenya. Kalaupun mereka mahal itu wajar karena mereka sekolah swasta. Lha madrasah itu sekolah negeri lho, dapat sokongan dana dari negara.

Sebenarnya ortu ikhlas aja kok bayar mahal, asalkan jelas penggunaan anggarannya, enggak terkesan “mengada-ada”. Dan yang jelas, pengelola madrasah harus mengubah cara pandang, berhenti pada orientasi pembangunan fisik, coba untuk membangun manusia dan sistemnya. Karena output pendidikan yang baik berasal dari sistem dan SDM yang baik, bukan semata gedung yang megah. Sederhana saja. Pembinaan lomba-lomba yang berkelanjutan, pelatihan SDM guru, pembiasaan karakter baik–bukankah hal2 seperti itu yang lebih penting? Apalah artinya gedung dan fasilitas mewah, jika manusia di dalamnya tak bermoral. Jangan2, nantinya mereka hanya bisa melanjutkan tradisi korupsi para pendahulunya di Depag, bukan malah memberantasnya.

Cukup sudah kita letakkan agama cuma sebaagai hiasan dan tameng sosial. Cukup sudah pergi haji hanya demi gengsi, sholat hanya karena dilihat, baca Quran cuma untuk formalitas. Tapi kita nggak ngerti apa makna di balik semua ritual ibadah itu, kita enggak menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Padahal agama harus diaplikasikan, bukan hanya sekedar pajangan.

Moga-moga kualitas keimanan bangsa Indonesia semakin baik supaya bangsa ini tambah maju jaya sentosa.