Renungan Ramadhan (10): Tuhan Maha Demokratis

Kalau Tuhan ingin disembah manusia, mengapa dia membiarkan orang atheis? Padahal ia Maha Kuasa untuk membuat semua hambaNya beriman. Menurutku, Tuhan tidak hanya Maha Kuasa, tapi juga Maha Demokratis. Dia tidak mendikte, tetapi memberi pilihan. Namun Dia tidak melepaskan kita begitu saja. Dia tetap memberi panduan dan petunjuk melalui Rasul dan Kitab-Nya. Dia juga memberi kita akal agar bisa berpikir dan memilih sendiri mana jalan yang akan kita lalui, jalan yang lurus atau jalan yang sesat?

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (QS Yunus ayat 99)

Mudah saja bagi Tuhan menjadikan manusia semua pengikutNya. Tapi Dia mau manusia beriman karena kehendak mereka sendiri, bukan dengan terpaksa. Maka Dia hanya memberi kita petunjuk dan akal, tapi kita sendirilah yang mempergunakan akal kita ini dan memutuskan apakah hendak mengikuti petunjuk itu atau tidak.

”Dan katakanlah, kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir.” (QS. Al-Kahf ayat 29).

”Tidak ada paksaan dalam menganut agama. Sesungguhnya telah jelas antara yang benar dan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah 2:256).

Kepada para RasulNya pun Dia berpesan untuk tidak memaksa. BagiNya Rasul hanyalah seorang pemberi peringatan, keputusan untuk mengikuti atau tidak ada dalam diri setiap manusia masing2.

“Jika mereka berserah diri, maka sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanya menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat hamba-hambaNya.” (QS. Al-’Imran ayat 20)

Jadi begitulah… Nasib kita ada di tangan kita sendiri 🙂

Renungan Ramadhan (9): Tuhan Maha Tegas

Jika memang Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang, mengapa Dia menciptakan neraka dan menurunkan azab di dunia? Jangan lupa, Tuhan tidak hanya Maha Pengasih dan Penyayang, tetapi juga Maha Perkasa. Sebagai perumpamaan, orangtua mendidik anak2nya selain dengan kasih sayang pastilah dengan ketegasan. Sebab, jika anak itu dimanja terus menerus, tentunya si anak malah menjadi nakal dan seenaknya sendiri.

Demikian pula Tuhan…ia menganggap manusia sudah dewasa. Ia memberi pilihan jalan, tapi ditegaskanNya pula konsekuensi setiap jalan yang diambil. Bagiku, Tuhan itu pemimpin, dan pemimpin haruslah tegas. Dia harus tegas karena Dia mengatur alam semesta seisinya. Bukanlah Tuhan jika ia tidak bisa membela diriNya sendiri.

Namun azab Tuhan itu bukanlah dimaksudkan untuk menganiaya manusia. Itu adalah hukuman karena manusia telah menganiaya diri sendiri. Tuhan sudah cukup memberi kita petunjuk dan pengajaran yang baik melalui kitab suciNya, hanya saja manusia terlalu bebal untuk menggunakan akal dan nuraninya sehingga mengikuti hawa nafsunya.

Tuhan tidak pernah menganiaya manusia. Manusia lah yang menganiaya diri mereka sendiri.

“Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS Ali-Imran ayat 108)

“Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Ali-Imran ayat 117)

“(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran ayat 182)

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’ ayat 40)

“Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun”. (Qs Al-Kahfi ayat 49)

“Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya).” (QS Fussilat ayat 46)

“Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS Az-Zukhruf ayat 76)

“Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.” (QS Qaf ayat 29)

Manusia juga tidak bisa menganiaya Tuhan. Ketika berbuat dosa, sebenarnya tidak secuil pun manusia merugikan atau menganiaya Tuhan, melainkan manusia lah yang menganiaya diri mereka sendiri.

“Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Qs Al-Baqarah ayat 57)

“Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.” (QS Al-A’raf ayat 160)

Dengar kan suara ketegasan Tuhan?

Renungan Ramadhan (8): Esoterisme Agama

Istilah ‘esoterisme agama’ kedengarannya asing, tapi ternyata hal ini banyak kita rasakan sehari-hari. Secara garis besar, ada dua aspek dalam agama yaitu EKSOTERIS dan ESOTERIS. Eksoteris berbicara mengenai tampilan fisik yang terlihat, misalnya ritual ibadah, rumah ibadah, pakaian khas, dan lambang2 religiusitas lainnya. Sedangkan aspek endoteris berbicara mengenai persoalan spiritual, kebatinan, makna dari ajaran agama itu sendiri.

Setiap bulan Ramadhan, saya selalu senang mendengarkan kajian tafsir Al-Mishbah yang dibawakan oleh Bapak Quraish Shihab di Metro TV jam 3 pagi. Dia memaknai ayat-ayat Al-Quran secara mendalam, dan lebih menekankan pada aspek spiritualnya sehingga tidak menimbulkan pertentangan. Belakangan baru saya tahu, bahwa Pak Quraish adalah salah satu ulama beraliran esoteris di Indonesia. Pantas saja, apa yang beliau ajarkan terasa memberi pencerahan di dalam hati.

Sayang sekali memang kita dapati bahwa mayoritas Muslim Indonesia baru memahami agama sebatas aspek lahiriah saja, alias eksoteris. Orang Islam itu ya pokoknya sholat, mengaji, puasa, sedekah, naik haji… Urusan mengaji tapi nggak paham maksudnya itu belakangan. Urusan puasa tapi tetap menggosip itu belakangan. Urusan naik haji tapi uang hasil korupsi itu belakangan. Yang penting di mata masyarakat terlihat ‘alim’ karena melakukan ritual ibadah tadi.

Padahal agama lahir untuk mengisi kekosongan spiritual manusia, untuk mendekatkan kita kepada Tuhan. Artinya, seseorang baru bisa dikatakan benar-benar menjalankan agamanya ketika hubungan dengan Tuhan itu baik, yang berakibat hubungan dengan sesama manusia juga baik. Jika ‘hablu minallah’ baik, otomatis ‘hablu minannaas’nya juga baik. Karena orang yang benar2 mencintai Tuhan tentu akan mencintai makhlukNya juga.

Ini juga menjawab pertanyaan mengapa banyak orang yang STMJ alias ‘sholat terus maksiat jalan’. Ya karena aspek eksoteris tadi. Orang tidak paham apa sesungguhnya maksud dan tujuan shalat. Padahal shalat itu seperti meditasi, upaya agar kita selalu ingat Tuhan sehingga dicegah dari berbuat dosa. Kalau ada orang yang shalat tapi terus menerus berbuat dosa, berarti ia tidak khusyuk dalam shalatnya. Shalat baginya hanya ritual untuk melepaskan beban kewajiban, hanya sepaket gerakan dan doa2 yang dihafal di luar kepala tanpa dimengerti maknanya, tanpa diiringi dengan fokus batin untuk mendekat kepada Yang Kuasa.

Kalau setiap orang paham benar makna dan tujuan sesungguhnya dalam agama, pastilah tidak akan ada tindakan amoral yang mengatasnamakan agama.

Renungan Ramadhan (7): Sedekah itu Mudah

Sebenarnya, saya nggak terlalu setuju sama sedekah ala Ustadz YM, itu lho yang suka ceramah pagi2 di MNC TV (yang nggak tau…cari tau sendiri ya :P). Seolah2 kita sedekah hanya demi kepentingan diri kita (baca: memperbanyak harta kita sendiri), enggak murni karena ingin membantu saudara kita yang kurang mampu. Padahal nikmat sedekah sebenarnya ada pada ikhlas, kan?

Padahal Allah jelas2 berfirman:

“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS Al-Muddatstsir:6)

Nah lho…makjleb banget kan?

Ya, Allah memang menjanjikan balasan berlipat ganda bagi orang yang menafkahkan harta di jalanNya. Namun yang Dia hargai bukanlah jumlah sedekah itu, melainkah keikhlasan dan niat baik untuk memberinya. Nih buktinya.

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkan itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaaan si penerima). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS Al-Baqarah:262-263)

Jelas banget kan, inti dari sedekah adalah kepekaan untuk menolong sesama, bukan jumlah nominalnya. Jadi, menurutku “matematika sedekah” ala “ustadz-itu” enggak masuk akal. Kalau kita sedekah sekian, nanti kita dapet balasan sekian. Seolah2 sedekah itu alat mencari nafkah. Seolah2 sedekah melegalisasi kita untuk bermalas2an (hanya tinggal sedekah lalu menunggu balasan rezeki) tanpa bekerja keras.

Sedekah itu juga enggak melulu pakai materi. Hadits ini buktinya.

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap muslim harus bersedekah.”

Mereka bertanya: “Jika ia tidak punya?”

Nabi menjawab: ”Dia bekerja dengan kedua tangannya, maka ia memberikan manfaat untuk dirinya sendiri lalu bersedekah.”

Mereka bertanya lagi: ”Jika ia tidak mampu atau tidak melakukannya?”

Beliau menjawab: ”Ia menolong orang yang kesulitan.”

Mereka bertanya lagi: ”Jika ia tetap tidak melakukannya?”

Beliau menjawab: ”Hendaklah ia memerintahkan berbuat kebaikan.”

Mereka bertanya lagi: ”Jika ia tetap tidak melakukannya?”

Beliau menjawab: ”Hendaklah ia menahan diri dari perbuatan jahat, hal itu sudah merupakan sedekah.” (HR. Bukhari)

Pada hadits lain, beliau juga berkata:

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap persendian manusia harus bersedekah pada setiap hari dimana matahari terbit. Berlaku adil di antara dua orang merupakan sedekah, dan membantu seseorang mengangkat bagasi ke atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya merupakan sedekah, dan ucapan yang baik merupakan sedekah, dan setiap langkah yang diayunkannya menuju sholat (berjamaah) merupakan sedekah serta menyingkirkan apa-apa yang mengganggu dari jalanan merupakan sedekah.” (HR Bukhari)

Dan juga ini:

Rasulullah SAW bersabda:”Setiap perbuatan ma’ruf (kebaikan) adalah sedekah dan di antara perbuatan ma’ruf adalah engkau menemui saudaramu sekedar dengan wajah berseri-seri dan engkau menuangkan (air) dari timbamu ke dalam bejana saudaramu.” (HR. Tirmidzi)

Ya ampun…gampang banget kan ternyata sedekah itu? Nggak perlu nunggu kaya untuk bersedekah!

Multikulturalisme Gagal?

Belakangan ini berita2 internasional di koran isinya nyaris seragam: kerusuhan. Akhir Juli lalu kerusuhan berdarah meletus di Kashgar, Xinjiang, China menewaskan 8 orang. Terjadi baku tembak antara polisi dan perusuh. Melihat ceceran darah di restoran TKP sungguh mengerikan. Pemerintah China menuding militan Islam sebagai dalangnya, mengingat Xinjiang adalah kawasan otonomi yang mayoritas dihuni etnis Uyghur. Namun para analis menyimpulkan bahwa diskriminasi sosial ekonomi adalah penyebab utamanya.

Sebagai minoritas, etnis Uyghur merasa tertekan dengan kebijakan pemerintah China. Pemerintah meremajakan kota tua Kashgar (yang dulunya bagian dari Jalur Sutera) dan menggusur rumah penduduk lokal dengan kompensasi yang tidak layak. Di saat pertumbuhan ekonomi China melaju pesat, warga Xinjiang merasa “ditinggal”. Selain itu, warga Uyghur merasa terdesak dengan imigran etnis Han (mayoritas China) yang masuk ke wilayah mereka dan segera menguasai sentra-sentra ekonomi penting. Warga Uyghur semakin merasa “direndahkan”, dan karenanya meletuslah kerusuhan tersebut. Mereka menuntut otonomi yang lebih luas dan bahkan ingin ‘merdeka’.

Sebenarnya, kejadian ini mirip sekali dengan kerusuhan berbau separatis yang pernah meletus di Papua dan Maluku. Sebagai minoritas di Indonesia, warga kulit hitam di sana merasa tertindas oleh kebijakan pemerintah yang ‘pilih kasih’, ditambah lagi masuknya imigran Jawa menguasai ekonomi mereka.

Lalu, baru Sabtu lalu (6/8/2011) meletus kerusuhan di London. Kerusuhan cepat menjalar sampai sekarang sudah menyebabkan 4 orang tewas. Anak-anak muda tiba-tiba seperti kesurupan, merusak dan menjarahi sudut2 kota Tottenham, Birmingham, Nottingham, dan kota2 besar lain di Inggris. Meski PM Inggris David Cameron bersikeras bahwa kerusuhan itu hanyalah “tindak kriminal murni”, lagi2 ada yang membuka tabir: kerusuhan ini berbau rasial. Gerakan anak muda ini dipicu oleh tewasnya …, seorang Afro-Karibia, karena ditembak polisi.

Lalu “bangkai” yang disembunyikan pun semakin terkuak. Inggris yang membanggakan multikulturalisme-nya, ternyata juga menyimpan bibit-bibit ketidakpuasan minoritas. Warga kulit hitam yang hidup di kantong kemiskinan, semakin terpojok akibat krisis ekonomi Eropa sejak 2009. Mereka banyak ter-PHK, sedang pemerintah memotong berbagai tunjangan kesejahteraan sehingga si miskin makin miskin. Lalu, turunlah mereka ke jalan2 menumpahkan kemarahan.

Apa yang tersirat dari kerusuhan2 ini?

Kalau kita perhatikan, banyak sekali konflik timbul karena masalah SARA. Padahal negara2 sekarang banyak yang mengampanyekan multikulturalisme. Tapi ternyata, pemerintah negara itupun sulit untuk menyembunyikan “pilih kasih”nya. Diakui atau tidak, kebijakan pemerintah sedikit banyak akan membela mayoritas dan menyudutkan minoritas. Seperti yang terjadi di Indonesia pada etnis China. Di Jerman pada warga Turki. Di Amerika pada orang negro.

Tidak dapat dipungkiri, setiap orang punya bibit rasis di dalam dirinya. Sekecil apapun itu. Seseorang pernah mengatakan pada saya tentang hal ini; bahwa jika ada 2 orang dari etnis A dan B menawarkan sesuatu kepada etnis A, sedangkan yang mereka tawarkan sama persis, maka penawar etnis A akan cenderung lebih dipilih. Seseorang di Konjen Frankfurt juga pernah bercerita, bahwa jika ada 2 orang dengan kemampuan yang setara di sebuah perusahaan, satunya asli Jerman dan satunya turunan Turki, pasti si Jerman yang akan dipilih untuk naik pangkat.

Pada Oktober 2010, Kanselir Jerman Angela Merkel bahkan dengan gamblang menyatakan: multikulturalisme telah gagal di Jerman. Lalu pada 22 Juli 2011, Anders Breivik menembaki orang2 di Norwegia karena sentimen anti-imigran nya. Gejala apa ini?

Kadang saya berpikir, kalau di setiap diri kita ada bibit2 rasis, lalu untuk apa kita diciptakan dalam sebuah keanekaragaman? Untuk apa semboyan ‘Unity in Diversity’? Bagi saya ini tetap menjadi misteri Tuhan.

Jika multikulturalisme telah gagal, mungkin selanjutnya demokrasi yang akan gagal. Lalu liberalisme. Lalu dunia akan kembali ke sistem monarki. Lalu manusia kembali terkotak-kotak dalam wilayahnya sendiri. Duh, jadi pusing sendiri.

*disarikan dari berita dan opini Kompas sebulan terakhir ditambah sedikit imajinasi*

Renungan Ramadhan (6): Tuhan itu Fitrah Manusia

Keyakinan akan keberadaan Tuhan sebetulnya sudah tertanam secara naluriah dalam diri manusia. Seorang atheis pun, pada saat2 sekaratnya, saat antara hidup dan mati, di mana hanya mukjizat yang bisa menyelamatkannya, pasti akan teringat bahwa ia pernah diajari tentang Tuhan.

Sejak awal peradabannya, sosok Tuhan tidak bisa lepas dari manusia. Dalam bentuk apapun. Manusia terus mencari dan mencari, seperti apakah Tuhan itu? Dahulu, manusia menyembah roh-roh leluhur dan benda gaib (animisme dan dinamisme) sebagai wujud keyakinannya akan ‘sesuatu-yang-lebih-kuat-dan-agung-daripada-manusia’. Kemudian, manusia mulai menciptakan berhala-berhala, berharap bahwa ‘sesuatu-yang-agung’ itu akan bersemayam di dalamnya. Manusia lalu menyembah dewa-dewa. Zeus-nya Yunani. Yupiter-nya Romawi. Brahma-nya India. Serta dewa-dewi pendukung mereka. Ada juga manusia yang menyembah api, matahari, bulan, bintang, dll. Intinya sama. Manusia yakin Tuhan itu ada, hanya tidak tahu siapa dan bagaimana.

Karena itu kemudian turunlah para Nabi dan Rasul; mulai dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad yang membawa ajaran ketauhidan: mengesakan Tuhan. Simply monotheism.

Quraish Shihab mengatakan, tidak ada satu ayatpun dalam Al-Quran yang menegaskan tentang perwujudan (baca: eksistensi) Tuhan. Sebab ‘dari sononya’, manusia sudah dibekali dengan keyakinan naluriah akan keberadaan Tuhan. Itu fitrah manusia. Al-Quran hanya menegaskan tentang ke-Esa-an Tuhan. Bahwa Tuhan itu satu dan menguasai segalanya. Sebab, ketika Al-Quran turun, sudah banyak kepercayaan2 dan agama2 yang tentu saja menyembah Tuhan. Al-Quran hanya meluruskan itu.

Demikianlah, Tuhan sudah ada dalam diri manusia sejak Dia menciptakannya…

Videoblogging; OBLONG (Obrolan BLOGger NGalam)

Videoblogging adalah istilah baru buat saya. Belum tau aja kalo ada satu blog yang isinya full video macam ini. Tapi ternyata, emang ada banyak hal yang lebih terkatakan dengan video. Dengan tulisan kita bisa membaca, dengan foto kita bisa melihat, tapi dengan video kita bisa melihat dan mendengar 😉

Terinspirasi dari salah satu sesi materi yaitu VIDEOBLOGGING (oleh Mbak Ima), ku coba tuk mewujudkannya dalam sebuah postingan ini. Masih amatir banget…Cuma pake kamera hape 3gp yang batere-nya di ambang kematian. Semoga berkenan…jangan lupa komennya yaa 😉

Renungan Ramadhan (5): Kesalahan Muhammad

Muhammad, sekalipun dia seorang Nabi, ternyata pernah berbuat kesalahan. Kesalahan itu bahkan “terekam” dalam Al-Quran, tepatnya Surat ‘Abasa ayat 1-12.

1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,

2. Karena Telah datang seorang buta kepadanya.

3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),

4. Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?

5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (tidak memerlukan apa-apa),

6. Maka kamu melayaninya.

7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).

8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),

9. Sedang ia takut kepada (Allah),

10. Maka kamu mengabaikannya.

11. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,

12. Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.

Peristiwa itu terjadi saat Muhammad sedang mendakwahi para pembesar suku Quraisy, lalu datanglah seorang miskin dan buta bernama Ibnu Maktum yang ingin belajar dari beliau. Namun beliau merasa terganggu, sehingga melengos dan memalingkan muka. Barangkali beliau menganggap para pembesar Quraisy itu lebih penting untuk didakwahi daripada orang buta tersebut. Ketika itulah firman Allah datang dan memperingatkan beliau.

Seperti yang dapat kita baca secara gamblang di ayat tersebut, Allah memperingatkan bahwa tidak penting bagaimana kedudukan sosial seseorang, selama ia sangat berniat untuk belajar, maka ia berhak untuk mendapatkan pelajaran tersebut. Ajaran Allah bukan hanya untuk orang kaya nan terhormat, tetapi untuk orang yang bersungguh-sungguh ingin menyucikan diri. Begitu pentingnya Allah menekankan hal ini, sampai2 Beliau memperingatkan sendiri Nabi-nya. Nabi Muhammad, meskipun ayat ini sedikit banyak “mencela” beliau, namun karena ini firman langsung dari Allah, beliau tetap menyampaikan kepada umatnya dan berharap kita tidak melakukan kesalahan yang sama.

(Tafsir ayat lebih jelas dapat dibaca di sini.)

Selain itu, apa yang dapat kita petik dari cuplikan ayat ini?

Allah tampaknya ingin menegaskan bahwa semulia apapun seorang manusia, tetaplah tak ada yang sempurna. Hanya Allah-lah, Tuhan semesta alam, yang Maha Sempurna. Nabi Muhammad pun memiliki ‘dosa’, meskipun itu hanya secuil. Namun di luar itu beliau tetaplah manusia yang mulia, yang meskipun sudah diangkat sebagai kekasih Allah, tetap tak henti bersujud memohon ampun padaNya.

Rasulullah sendiri pernah bersabda, “Manusia adalah tempatnya salah dan lupa.”

Ketika menciptakan manusia, Allah membekali kita dengan tiga “prosessor” sekaligus: hati nurani, akal, dan hawa nafsu. Karenanya Dia sudah paham sekali akan tingkah polah manusia. Karenanya Dia tak pernah mengharap kita bersih 100% dari dosa, tapi Dia mengharap kita mau bertobat dan memperbaiki dosa kita. Itulah taqwa.

Jadi…nggak perlu berkecil hati karena kita banyak dosa. Allah Maha Mendengar…selama kita mencoba mendekat, Dia pun akan mendekat pada kita…

Renungan Ramadhan (4): Heaven is not Our Right

Untuk apa kamu beribadah?

Untuk apa capek2 shalat? Untuk apa lapar2 berpuasa? Untuk apa membagi rezeki kita buat orang lain?

Mayoritas orang akan menjawab: Biar dapat pahala.

Kalau dapat pahala terus kenapa? Biar masuk surga.

Apakah ada jaminan bahwa dengan menumpuk pahala sudah pasti kita akan masuk surga?

Masih ingat sebuah kisah tentang seorang pezina yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing? Atau seorang ahli ibadah yang su’ul khatimah karena penasaran bagaimana rasanya berbuat dosa?

Surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah. Bukankah Dia sudah menyuruh kita beribadah dengan ikhlas dan tidak mengharap sesuatu selain ridho-Nya?

Allah sudah mengatakannya dengan gamblang:

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (QS Al-Isra’: 7)

Setiap perbuatan, baik dan buruk, ada konsekuensinya. Dan semua itu akan kembali ke diri kita sendiri. Bisa dibilang, inilah hukum karma. Kalau kita rajin shalat, hati dan pikiran akan tenang. Kalau rajin puasa, nafsu terkendali dan badan jadi sehat. Memberi sedekah is just simply help others, efeknya ada di ketentraman hati dan perasaan cinta yang timbul karena menolong orang lain.

Jadi seharusnya, kita berbuat baik tidaklah karena mengharap pahala atau surga…tapi hanya karena ingin mengharap ridho-Nya. Toh perbuatan baik itu manfaatnya akan kembali pada diri kita sendiri. Jika memahami prinsip ini, meskipun surga dan neraka tak pernah ada, kita masih akan tetap bersujud padaNya 🙂

Renungan Ramadhan (3): Puasa dan Produktivitas

Miris rasanya melihat foto yang terpampang di halaman depan surat kabar SURYA (2/8/2011). Para pria berseragam cokelat PNS tampak “tergeletak” tak berdaya di atas karpet masjid, tidur-tiduran sambil main HP. Baru hari pertama puasa, mereka tampak sudah loyo bekerja.

Padahal, setelah bulan puasa mereka akan dikejar pengeluaran besar untuk merayakan Idul Fitri. Ironis ya? Di Indonesia, bulan puasa adalah bulan terboros dalam pengeluaran konsumtif, sekaligus bulan di mana produktivitas menjadi rendah karena “keloyoan” para pekerja. Besar pasak daripada tiang.

Keadaan puasa bukanlah halangan untuk meningkatkan produktivitas. Kalau selama sebulan loyo, mau ke mana arah perekonomian negara? Jangan jadikan lapar sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Pengalaman pribadi, lapar itu hanya terasa pada awalnya. Ketika terbiasa dan diniatkan dengan ikhlas, apalagi ditambah dengan kesibukan, rasa lapar nggak akan terasa.

Seperta para orang suci zaman dulu (pertapa/pendeta/dll), perut kosong adalah saat di mana kita dituntut untuk mengendalikan diri, menjernihkan pikiran, dan berkontemplasi. Puasa adalah sarana untuk memperbaiki pekerjaan kita agar sejalur dengan jalan Tuhan, bukannya justru menunda/mengurangi pekerjaan kita. Bukankah bekerja adalah ibadah???