Belajar dari Ketidaknyamanan

Baru saja hari itu berakhir. Kemarin, 4 April 2010 selesai sudah rangkaian acara MaC-Maple, lomba Matematika, Fisika, Kimia, dan Logika untuk pelajar SMP dan SMA se-Jawa Timur yang diadakan di Universitas Ma Chung. Sejak Desember 2009, kami para panitia bekerja keras untuk mempersiapkan acara ini.

Terlibat dalam kepanitiaan yang sama setahun lalu membuat saya berani mencalonkan diri sebagai ketua. Meskipun, dari segi kepribadian (personality) dan pengalaman rasanya saya tidak pantas memangku jabatan itu. Saya semakin menyadarinya sekarang bahwa saya bukanlah tipe seorang pemimpin (baca: manajer).

Inkonsistensi, keraguan, ketidaktegasan, emosi yang tidak stabil, pelupa, tidak fokus, malas, dan tidak disiplin adalah kepribadian “bawaan” yang membuat saya tidak cocok menjadi seorang manajer yang bertanggung jawab atas sebuah organisasi.

Dengan kepribadian (baca: kebiasaan) seperti itu, saya juga melakukan kesalahan fatal dengan memangku jabatan ketua UKM Jurnalistik.

Untungnya dalam kepanitiaan MaC-Maple 2010 semua koordinator sie adalah orang2 yang “niat” dan berkompeten. Sehingga, meskipun dengan ketidaktegasan dan kemalasan saya acara ini masih tetap berjalan sebagaimana mestinya, bahkan meraih sukses karena diikuti oleh 452 peserta walaupun diadakan saat Paskah.

Pada awal2 kepanitiaan ini saya malah disuruh mendobel kepanitiaan lain yaitu LKTD 2010. Dalam kepanitiaan LKTD ini saya juga mendapat banyak pelajaran karena kesalahan saya. Untungnya saya tidak sampai mengulanginya di MaC-Maple. Namun tetap saja saya merasa belum berusaha maksimal.

Saya merasa masih sangat harus banyak belajar menjadi pemimpin. Seorang dosen pernah berkata bahwa menjadi pemimpin tidaklah nyaman. Ya, menjadi pemimpin memang tidak nyaman. Berbicara di depan orang banyak memang tidak nyaman. Menegur bawahan yang notabene adalah teman sendiri juga tidak nyaman. Mengambil keputusan yang keliru juga tidak nyaman. Tidak mengambil keputusan juga tidak nyaman. Disepelekan dan dilangkahi juga tidak nyaman. Dicaci maki juga tidak nyaman. Berdebat dengan anggota juga tidak nyaman. Ketika memutuskan menjadi seorang pemimpin, maka kamu harus bersiap menghadapi perasaan2 tidak nyaman selama tanggung jawabmu belum selesai. Meskipun sebenarnya toh kamu tidak melakukan apa-apa.

Ditambah pikiran saya yang selalu negatif dan berprasangka buruk, membuat sering kali emosi menjadi tidak stabil dan membuat saya seperti “orang gila”.

Ada hal-hal yang ketika kamu mengerjakannya sendiri hasilnya akan lebih baik. Namun kamu harus membaginya kepada orang lain dan mereka tidak ingin mengerjakannya seperti keinginanmu. Kamu harus belajar berkompromi, mengenal dirimu sendiri dan orang lain.

Saya berkesimpulan, saya tidak akan menjadi pemimpin lagi. Belum saatnya saya menjadi pemimpin. Saya ingin introspeksi diri dulu hingga sedalam-dalamnya. Banyak membaca, menulis, dan mengamati. Menentukan tujuan hidup sendiri. Saya ingin berusaha memimpin diri sendiri dulu sebelum memimpin orang lain.

Saya tidak akan memimpin lagi sebelum benar-benar siap menjadi pemimpin yang sesungguhnya.

Menempuh hidup menjadi seorang penulis, pengamat, dan petualang yang tidak terikat rasanya memang lebih mengasyikkan…