Bangkit Sedikit

Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya mengutik-utik blog ini. Ingin menuangkan cerita, meyakinkan diri bahwa saya masih belum lupa cara menulis =D. Juga sedikit refleksi dan evaluasi agar bisa membopong diri sendiri melangkah ke depan.

Selama tahun ajaran ini saya tidak banyak menorehkan prestasi. Hari-hari diisi dengan bekerja dan berorganisasi (kuliah belakangan…hehe). Sekitar Agustus 2009 saya mendapat pekerjaan sebagai guru les Bahasa Inggris di sebuah lembaga pendidikan anak di Kota Malang. Meskipun gaji yang didapat tak seberapa, cukup banyak pengalaman yang diperoleh meski hanya seminggu sekali. Namun demikian, jadwal yang semakin padat membuat saya tampaknya harus melepaskan pekerjaan ini semester depan…ditambah lagi saya sudah mendapat pekerjaan yang lebih menjanjikan =D

Berawal dari tawaran seorang senior, saya mencoba menjadi freelancer editor sebuah studio buku di Jakarta. Tentunya bukan berarti saya harus bolak-balik Malang-Jakarta. Naskah yang sudah saya edit tinggal dikirim via e-mail dan honor tinggal transfer via bank. Inilah pekerjaan yang saya suka. Tidak ribet, fleksibel, dan tak harus ke kantor setiap hari (meski tetap terikat dengan deadline sih…)

Honor yang saya dapatkan dari pekerjaan ini cukup lumayan. Mengedit satu buku diselesaikan dalam 2 hari, honornya 10x lipat dari bayaran mengajar bahasa Inggris selama 2 jam setiap Sabtu. Intinya, untuk mendapat honor setara mengedit selama 2 hari itu, saya harus mengajar selama 10 minggu. Tentunya jauh lebih besar. Namun memang pekerjaan ini lebih individualis dan tidak mengasah talenta berorganisasi dan bersosialisasi seperti yang saya dapatkan di tempat les.

Puas dengan hasil kerja saya, pemilik studio buku itu menawari pekerjaan yang lain. Mengedit, membuat glosarium, hingga menulis buku dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pekerjaan terbaru adalah menyusun kamus bahasa Mandarin. Untuk ukuran mahasiswa, honor yang ditawarkan lumayan tinggi (mungkin karena mereka pakai standar Jakarta). Namun bila dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan, honor itu jadi terasa rendah T.T
Kadang2 naskah yang ditawarkan tidak masuk akal dengan deadline yang sangat mepet. Misalnya mengerjakan buku bahasa Inggris 70 halaman dalam waktu 3 hari. Di awal2 saya bekerja sangat cepat (maklum masih “on fire”, hehe) hingga mampu menepati “deadline gila” itu. Tapi lama2, ditambah dengan padatnya kuliah dan organisasi, pekerjaan saya mulai molor hingga sempat ditegur. Apalagi saat itu saya sedang mengalami masalah pribadi yang cukup menguras hati. Namun untungnya perlahan saya bangkit, dan masih diberi kepercayaan untuk menyelesaikan pesanan buku lagi.

Sering menulis buku pesanan, saya jadi sedikit mengerti seluk beluk dunia penerbitan. Tiba2 saya teringat akan cita2 lama saya menjadi novelis. Selama ini saya menulis buku seperti robot, hanya pakai otak saja dan sekadar menyusun bahan2 yang ada. Saya ingin menulis buku yang benar2 hasil pemikiran sendiri. Mumpung sudah ada koneksi =D

Ada banyak proyek2 fiksi yang terserak sejak SD sampai SMA. Cerita2 yang tidak terselesaikan, kumpulan cerpen yang tak pernah tamat, novel yang hanya prolognya saja. Mungkin sudah waktunya saya kembali menjadi apa yang seharusnya saya diciptakan untuk hidup.

I am born to be a writer.

Saya berniat untuk menyelesaikan semua tanggungan organisasi saya semester ini. UKM, kepanitiaan, dan les2an. Mulai semester depan saya tidak akan mengikuti organisasi apapun. Saya akan menulis dan berpetualang…dan kembali menjadi diri sendiri.