Kerudung, Jilbab, dan Ketaatan Seorang Muslimah

Kerudung bukanlah jilbab dan jilbab berbeda dengan kerudung. Meskipun wacana ini sudah ‘basi’ di kalangan anak pesantren dan madrasah macam saya, tetapi rasanya masih perlu diluruskan untuk kalangan awam.

Jilbab BUKAN hanya penutup kepala. Jilbab—singkatnya—adalah pakaian panjang dan longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dewasa, kecuali wajah dan telapak tangan. SALAH KAPRAH sekali kalau orang2 masih menyebut selembar kain yang menutupi kepala sebagai jilbab. Itu bukan JILBAB, sodara2, tapi KERUDUNG.

Saya pribadi tidak pernah menyebut diri saya sebagai gadis berjilbab. Saya masih berkerudung. Saya masih memakai kaos, kemeja, kardigan, jins, rok, dan pakaian2 kasual lainnya. Namun untuk menunjukkan bahwa saya berniat menutup aurat, maka saya mengenakan selembar kain yang menutupi kepala. Itu saja.

Mana yang lebih taat, wanita berkerudung atau wanita berjilbab?
Well, tentu tidak bisa divonis begitu saja. Pada umumnya umat Islam cenderung menganggap wanita berjilbab jauh lebih taat dan kaffah (menyeluruh) dalam melaksanakan hukum2 Islam. Mereka umum disebut muslim radikal. Sedangkan wanita berkerudung masih punya kompromi dalam menafsirkan hukum2 Islam. Mereka umum disebut muslim moderat.

Sebetulnya penggolongan seperti ini tidak terlalu baik. Muslim ya muslim. Kenapa harus dibedakan berdasarkan jenis penutup kepala yang dipakai?

Di luar pertentangan apakah itu jilbab atau kerudung, banyak yang beranggapan bahwa ketika seorang muslimah menutup seluruh auratnya maka saat itu pula lah ia telah dianggap sebagai wanita beriman yang sholihah.

Perlu digarisbawahi bahwa: Menutup aurat TIDAK MENANDAKAN bahwa seorang muslimah sudah sepenuhnya sholihah, tetapi MEMBANTUNYA untuk menjadi lebih sholihah. Ketika seorang wanita memakai jilbab atau kerudung, maka mau tidak mau ia membawa sebuah stigma di kepalanya: Anda orang saleh dan Anda tidak boleh berbuat macam2. Pakaian Anda mengendalikan hawa nafsu Anda. Pakaian Anda menjaga tingkah laku Anda. Ketika Anda melakukan sesuatu yang tidak baik dengan memakai pakaian tersebut, maka seluruh simbol dan stigma yang melekat padanya akan tercoreng habis-habisan.

Jika Anda memakai penutup kepala, maka tentu Anda akan berpikir dua kali sebelum pesta miras di diskotek, “Pantaskah saya melakukannya? “
Anda akan menimbang-nimbang sebelum berkencan di kamar hotel bersama kekasih Anda, “Tidak malukah saya melakukannya? Malu terhadap pakaian yang saya kenakan? Malu terhadap Tuhan yang memberi pakaian ini untuk menjaga kehormatan?”

Itulah makna sebenarnya yang terkandung dalam penutup aurat. Bukan sebagai alat politik. Bukan sebagai alat untuk menarik simpatisan kampanye. Bukan sebagai alat untuk membentuk topeng religiusitas.

Jadi mulailah berpikir ulang tentang kerudung, jilbab, dan ketaatan seorang muslimah.