Bunga dan Rumput Liar

Tidak ada yang meragukan keindahan bunga di taman. Entah itu anggrek, mawar, krissan, lily…bunga2 itu selalu cantik, segar, dan memancarkan aroma harum. Namun musim berganti. Beberapa bunga akan layu dan mati. Tidak akan ada kuncup yang mekar, tidak ada aroma wangi yang memancar. Bunga-bunga tidak tahan hidup pada musim dingin. Kelopak mereka terlalu halus untuk tersengat hawa beku. Tangkai mereka terlalu rapuh untuk diterjang badai salju.

Ketika tukang kebun lalai menyiram, bunga-bunga panik. Akar mereka begitu pendek dan halus, sulit menjangkau air yang terlalu dalam. Mereka kehausan, mereka selalu butuh diberi minum. Ketika ulat-ulat datang, mereka kebingungan. Daun-daun mereka yang hijau mulus berlubang digerogoti. Tanpa tukang kebun yang menyemprot anti-hama, mereka sangat menderita.

Bunga-bunga yang indah selalu punya lingkungan mereka sendiri. Di dataran tinggi, dataran rendah, atau pegunungan. Mereka hidup di suhu tertentu, kelembapan tertentu, jenis tanah tertentu. Sedikit saja ada yang berubah, mereka tidak bisa menyesuaikan diri. Mereka akan layu dan mati.

Namun rumput liar berbeda. Mereka bisa hidup di mana saja dan kapan saja. Gunung, dataran, pantai. Winter, summer, spring. Musim hujan atau musim kering. Rumput liar selalu ada! Tumbuh dan terus tumbuh. Tak pernah mati biarpun diinjak berulang kali. Tak pernah goyah biarpun musim berubah.

Rumput liar tak perlu disiram, dipupuk, dan disemprot anti-hama. Mereka punya akar yang sangat panjang dan kuat. Cukup panjang untuk menusuk air di dasar tanah. Cukup kuat untuk mempertahankan diri ketika kau mencabutnya.

Rumput liar tidak pernah dimuliakan, disanjung, diberi pot kehormatan. Namun dia terus hidup. Dia hidup karena dirinya sendiri. Betapapun kau memandangnya tidak berharga, dia tidak peduli. Dia tidak akan mati.

Dan aku pun akan menjadi rumput liar yang tangguh, tak peduli betapa sering kau menginjakku.

*Tulisan ini terinspirasi Yamazaki Tanpopo (Imadoki)*

Newest news…

Banyak hal yang terjadi dan saya sudah lama tidak menulis. Lima hari lagi untuk pertamakalinya saya akan pergi ke luar negeri, tepatnya ke Jerman selama 13 hari. Tapi sebelum itu banyak yang terjadi.

Semester 2 ini berlalu bagai shinkansen di rel kehidupan saya. Segalanya berlangsung begitu cepat dan tiba2. Patut disyukuri bahwa saya ketiban banyak prestasi pada semester ini. Itu juga yang mungkin menjadikan hari2 saya berlalu begitu cepat. Awal semester, bulan Februari tepatnya, tahu2 ada pengumuman bahwa PKMM kelompok saya dan ketiga teman saya lolos didanai Dikti. Jadi selama 4 bulan kami harus melakukan program abdimas tersebut.

Awal Maret, mendadak dapat email bahwa saya diundang ikut student conference ISWI 2009 di Jerman. Setelah itu marathon aktivitas seolah tak berhenti menghadang…

Waktu saya habis untuk keperluan cari sponsor keberangkatan. Mulai bikin proposal, konsultasi, ngurus surat, ketemu sponsor, dll. Di samping itu masih harus jalan PKMM. Dan tugas kuliah yang seabreg. Sisa2 tugas kepanitiaan yang belum terselesaikan. Belum lagi kegiatan insidental yang butuh persiapan mendadak…

Di sela2 waktu itu saya—entah kenapa—masih sempat daftar ikut lomba. Saya gak tahu apa yang ada di pikiran saya waktu itu tapi ternyata ikut juga. Saya satu tim dengan dua kakak tingkat saya. Karena sama2 sibuk, kami gak pernah latihan sama sekali bahkan sampai menjelang keberangkatan…

Sama sekali gak terpikirkan bahwa untuk ikut lomba debat itu harus menginap di dekat UK Petra selama 5 hari. Kami berangkat tanggal 25 dan pulang tanggal 29. Padahal tanggal 6 saya sudah harus terbang ke Jerman. Tapi saya sudah terlanjur mendaftar dan tidak boleh mundur, meskipun saya ingin…

Di Surabaya sama sekali tidak mengenakkan. Terutama karena saat keberangkatan tiba2 saya dapat ‘monthly guest’. Rasanya gak nyaman. Di sana saya bad mood dan dimarahi teman se-tim karena bête terus kalo diajak latihan. Padahal kan saya lagi gak enak badan. Anak laki2 gak bisa mengerti. Di sana saya cewek sendirian. Saya homesick berat. Dan saya hanya tidur 3-4 jam sehari. Tapi ternyata kami lolos terus dan gak bisa langsung pulang…

Meskipun masih ‘cupu’ dalam hal lomba debat, anehnya kami berhasil meraih juara 2. Ini keajaiban. Mengingat pengalaman dan persiapan kami yang sungguh pas2an. Sayang sekali, waktu mau pengumuman pemenang tiba2 ada berita duka. Ayah salah satu teman se-tim saya meninggal. Baru sekali itu saya lihat dia menangis dan saya jadi ikut sedih. Tapi saya bingung mau bilang apa jadi saya cep2in saja.

Pulang ke Malang saya sudah ditunggu oleh rentetan tugas yang menyesakkan. Banyak yang dikumpulkan hari Senin, padahal saya take off hari Rabu. Dan saya sama sekali belum mempersiapkan materi untuk dipresentasikan di ISWI. Saya lagi2 mengalami masalah dalam manajemen waktu…huhuhu

Baiklah rasanya cukup sekian laporan kegiatan saya sehari-hari. Nanti akan saya posting yang lebih bermutu. Semangat! ^^p

deepest feeling…

Ada kalanya sulit bagimu untuk tidak menyukai orang yang terbiasa ada di dekatmu. Apalagi kalau kamu adalah orang yang tidak percaya pada pandangan pertama. Kadang-kadang kamu merasa amat respek padanya, tapi di lain waktu perasaan itu menguap begitu saja. Selalu naik dan turun. Namun tak dapat dipungkiri bahwa dia menempati posisi yang spesial di hatimu. Mau tidak mau di waktu-waktu senggang pikiran itu muncul di benakmu.

Sayang sekali kamu tidak bisa terus bersikap seperti itu. Ada beberapa hal yang membuatmu harus menahan kuat-kuat perasaanmu. Ada beberapa hal yang membuatmu lebih baik menekan saja apa yang kamu rasakan. Memang cukup sulit, tapi setelah kamu pikir-pikir, memang itulah yang terbaik.

Kamu tidak habis pikir sebenarnya apa yang salah dengan dirimu. Mengapa kamu begitu sulit membuka diri dan mengapa kamu tidak mudah menceritakan apa yang sebenarnya kamu rasakan. Kadang-kadang kamu berpikir apakah dirimu ini sama sekali tidak menarik? Mengapa tidak ada orang yang memberi perhatian khusus padamu?

Kadang2 kamu mengira kamu diciptakan dengan dinding transparan di sekelilingmu, yang menghalangi orang-orang untuk mendekatimu. Malangnya, dinding itu sepertinya kamu buat sendiri secara tidak sengaja. Dan itu sudah berlangsung lama sekali. Kamu tidak pernah tahu bagaimana cara menghancurkannya. Kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya sampai kamu merasa bahwa ternyata kamu selalu sendirian. Tapi sudah terlambat. Dinding itu sudah tumbuh terlalu kuat untuk dihancurkan. Dan kamu akan selalu melolong minta pertolongan dari balik kungkungannya.

Kamu pun bertanya mengapa kamu tidak bisa bersikap baik kepada orang yang mencoba mendekatimu? Kamu hanya bisa menerima mereka yang memang ingin kamu terima. Sayangnya meskipun sudah menunggu mereka tidak pernah datang. Dan dinding yang kamu bangun pun tumbuh semakin tinggi dan tinggi. Kamu terbenam di dalamnya tanpa bisa menggapai-gapai lagi.

Orang-orang tidak tahu bahwa kamu sangat butuh pertolongan. Kamu menginginkan mereka ada di dekatmu tapi dinding transparan itu membuat mereka takut mendekatimu. Lama-lama kamu muak. Suatu hari kamu akan menghancurkan dinding itu. Pasti. Entah bagaimana.