A Sunday with Peng Laoshi

On Sunday morning Ken invited me along with 彭洁, our中文老师 (Chinese lecturer in Ma Chung University) to go to her family’s marriage. We arrived at Ken’s home early at 7 a.m. (Actually I was a bit late coz I almost forgot the appointment =p). Well, at that time we watch the marriage promise (akad nikah) and 彭老师 asked me few questions about that.

After ‘akad nikah’ we spent the time talking about many things in Ken’s room. 彭老师 was interested with the history of Chinese-descent people in Indonesia, the topic that Ken and I also like to discuss. We also compared about people habit in Indonesia and China, the culture, even we talked about guy. 彭洁liked suggesting people, she’s really suitable to be 老师 ^^.

After that I asked老师 to come to my home. At that time the whole family was going to Surabaya, so there was only me and my 1st sister. I told 老师 about my family, I showed her the family photo album. She asked me to keep my baby photo^^.

Then I dropped her in her home. But at 3 p.m. we went back to Ken’s home to see the ceremonial’s wedding. This is the most interesting part. Ken asked 老师 to bring the ‘Kembang Mayang’. You know that in traditional Javanese wedding ceremony, there will always be two girls in bride side and two boys in broom side to hold the Kembang Mayang. Actually it’s Ken, but she want 老师 to replace her.

So 老师 wore ‘kebaya’ and ‘jarik’—she’s so cute, really, just see it in the photo^^. She changed the Kembang Mayang with the boy in broom side. Hooo…she’s a bit nervous~~. Then she asked me what was the meaning of changing the flower, but I couldn’t clearly answer (poor Javanese me -_-“).

Take a look at the photos…^^
I also share the photos and video on Facebook.

Poligamy in Islamic View

Well, this post is dedicated to anybody who wishes to know more about polygamy in Islam. Since one of my lecture point this topic I wrote in previous post, I decide to explain about Islamic polygamy in detail.

Banyak orang protes, mengapa poligami dibolehkan? Ya, poligami memang secara sah DIBOLEHKAN, bukan DIANJURKAN. Jelas dan gamblang sekali Allah menjelaskan di QS An-Nisa’ ayat 3:

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yang yatim, maka nikahilah wanita2 yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak2 yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Ada alasan tentunya mengapa seseorang boleh berpoligami (well, istilah yang tepat sebetulnya poligini, yaitu seorang pria menikah dengan lebih dari 1 wanita. Kalau poliandri=seorang wanita menikahi lebih dari 1 pria. Poligami=menikah dengan lebih dari 1 pasangan. Baik poligini maupun poliandri keduanya termasuk poligami. Tapi karena sudah terlanjur salah kaprah… apa boleh buat -_-“).

Misalnya jika istrinya gak mampu memberikan keturunan. Atau gak mampu melayani nafkah batin suami. Atau untuk mengangkat derajat wanita janda dan anak2 yatim yang dibawanya, menafkahi dan melindungi mereka. Dan perlu diingat, untuk melakukannya gak asal cablak aja ya. Ini yang disayangkan kenapa banyak orang memposisikan poligami seolah2 seperti “seenaknya kawin lagi”, “asal nyaut istri baru”, dsb, dkk, emangnya kita ini kebo apa??? Kalo kebo mau kawin ya kawin aja. Gak perlu ribet minta izin istri pertama, menafkahi secara adil, membagi waktu secara proporsional, dll. Poligami itu bukan sekedar menikah lagi, Sodara2. Ada aturannya, ada syaratnya yang kalo dilanggar malah bikin dosa.

Di ayat Al-Quran di atas udah jelas diterangkan, kalo nggak bisa berbuat ADIL, mending gak usah nikah lagi deh. Kalo gak punya cukup duit, siap secara mental, finansial, emosional, intelektual, dan spiritual mending gak usah poligami. Daripada maksain malah jadi dosa? Nah, sekarang jadi muncul pertanyaan. Kalo emang dasarnya monogami itu lebih baik, kenapa poligami dibolehin?

Well, ada tiga alasan seenggaknya. Ini kesimpulan pribadi, hasil membaca-baca beberapa buku poligami.

Pertama. Anda pernah belajar Biologi, khususnya Genetika? Anda tahu bahwa laki2 memiliki kromosom kelamin bergenotip XY, dan perempuan XX? Anda tahu bahwa kromosom X lebih mudah hidup pada lingkungan bersifat asam, sifat alamiah pada organ reproduksi wanita? Anda tahu bahwa kromosom Y hanya bisa hidup di lingkungan basa, kondisi yang jarang terjadi pada organ reproduksi wanita, kecuali saat orgasme? Intinya adalah: Bikin anak cowok itu lebih SULIT daripada bikin anak cewek, dan karenanya WAJAR kalo dari dulu sampe sekarang jumlah wanita selalu lebih banyak daripada pria, dan karenanya WAJAR pula jika suami beristri dobel lebih BANYAK daripada istri bersuami dobel.

Kedua. Anda tahu pria diciptakan dengan hasrat seksual menggebu-gebu, bergejolak, selalu minta disalurkan—sungguh merepotkan dan menyusahkan -_-“. Nah, apa yang terjadi jika pria berlebih nafsu ini tidak terpuaskan? Jawabannya mudah sekali, semudah menemukan poster caleg saat kampanye pemilihan. Anda tahu kasus perselingkuhan? Pemerkosaan? Prostitusi? Atau bahkan Anda pernah melakukannya sendiri? Itu adalah akibat dari hasrat pria yang tidak tersalurkan pada tempatnya.

Heran juga ya, kenapa orang2 seperti lebih mudah memaafkan suami yang berselingkuh daripada suami yang berpoligami? Ketika seorang pria berselingkuh, maka ia mencari kepuasan seksual tanpa ingin terikat pada tanggung jawab. Gampangannya begini,” Aku nge-seks sama kamu, aku puas, kamu puas, tapi jangan paksa aku bertanggung jawab. Kamu mau duit? Aku kasih. Tapi kalo kamu hamil, jangan panggil aku bapaknya. Kamu gugurkan, silakan. Nggak mau aborsi, jangan harap aku mau nafkahi. Jangan pernah minta warisan biar dia darah dagingku. I just wanna having fun. Free, tanpa ikatan.”
Lihat kan betapa PENGECUT-nya pria2 macam itu?

Nah, sekarang bandingkan dengan kasus ini. “Aku tertarik sama kamu. Tapi aku nggak mau kita berhubungan tanpa ikatan. Aku nggak mau kamu terlunta-lunta. Kalau kamu cuma kujadikan simpanan, status anak kita nggak jelas. Aku bisa nafkahi kamu tapi nggak bisa mengangkat derajatmu. Aku nggak mau itu. Aku mau bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat. Jadi aku nikahi kamu, kita bisa berhubungan dengan sah dan aman. Aku terikat secara resmi padamu.”
See, mana yang lebih bertanggung jawab???

Nggak benar sebetulnya kalo poligami dibilang merendahkan derajat wanita. Lha, jadi wanita simpanan sama jadi istri resmi ya jelas lebih terhormat jadi istri resmi toh? Mana sih yang lebih menyakitkan sebagai seorang wanita, ketika kamu dihadapkan pada suami yang sok2 berlagak setia di hadapanmu, tapi di belakangnya selingkuh sama pelacur2 murahan dan punya banyak simpanan? Atau suami yang jujur mengakui kalo dia jatuh cinta sama perempuan lain, tapi mau bertanggung jawab dan menikahinya secara terhormat? Mau terus dibohongi dan berlagak harmonis, atau mau diberi kejujuran biarpun menyakitkan?
Well, itu pilihan. Dan pilihan perempuan memang nggak pernah mudah.

Ketiga. Anda tahu beberapa wanita tidak dapat melahirkan keturunan? Anda tahu beberapa wanita mungkin terkena penyakit dan tidak bisa melayani kebutuhan biologis suami? Tapi suami masih mencintai dia, dan nggak mau menceraikan dia. Tapi suami juga butuh nafkah batin, butuh anak kandung. Solusinya nggak perlu berselingkuh. Dia bisa menikahi satu wanita lagi.

Well, kesimpulannya poligami bukan sembarang lakon. Bisa dibilang ini adalah jalan keluar secara sah untuk menghindari zina a.k.a. seks bebas. Pelaku poligami dibebani tanggung jawab yang sangat besar. Bukan seperti pelaku seks bebas yang seenaknya mencampakkan wanita yang udah dia ‘campurin’. Waktu milih istri baru pun harus betul2 dipikir, sama seperti ketika pilih istri pertama. Dilihat bibit, bebet, dan bobotnya. Jadi bego banget kalo ada orang yang dengan lugunya menyamakan poligami dengan seks bebas, apalagi sampe menuduh bisa menularkan PMS. How dare!

Tapi sekali lagi, poligami itu bukan ANJURAN, apalagi kewajiban, tapi hanya emergency exit untuk kasus2 tertentu. Kalo dengan satu istri aja udah bisa hidup bahagia, kenapa harus nambah lagi?

Roxalen Reminds…

Ashya Mubin Arumbhi terpana menatap makhluk di hadapannya. Gadis kecil itu baru empat tahun dan ia baru saja mendapati mukjizat kedua muncul dalam hidupnya. Matanya yang besar hitam, khas wanita India, tak berkedip menatap seonggok keajaiban di telapak tangannya. Seekor bayi ikan yang luar biasa menakjubkan. Bayi itu tidak lebih besar dari telapak tangan Aaya. Ekornya putih keperakan, memendarkan pelangi saat cahaya matahari mengenainya. Ekor itu berkecipak lemah di tangannya, menimbulkan sensasi geli yang menyenangkan di kulit si gadis.

“Aduh, kau lucu sekali,” Aaya kecil tertawa senang. Namun ekor putih itu bukanlah keajaiban utama si bayi ikan. Semakin ke atas, sisik pada ekor itu semakin menipis, menyamar, hingga akhirnya berubah menjadi kulit. Kulit manusia lengkap dengan segala kerutannya. Lebih menakjubkan lagi, bayi ikan itu berkepala manusia. Betul-betul kepala bayi manusia. Matanya berbinar-binar lucu dan bibir mungilnya terus saja megap-megap seolah minta susu.

“Tapi…” Aaya kecil menatapnya ragu. “Kau ini apa, ya?” Gadis kecil itu berpikir sebentar. Kemarin ia baru saja mendapat mukjizat pertamanya. Saat bercermin, tiba-tiba ia mendapati bayangannya bisa berbicara. “Hai,” sapa bayangannya di dalam cermin. “Kau Ashya, kan? Aku Aysha, bayanganmu. Mulai hari ini kita akan menjadi teman dekat.”

Keajaiban rupanya belum berhenti. Belum selesai Aaya mereka-reka makhluk di hadapannya, bayi ikan itu tiba-tiba melompat dari tangannya. “Hei!” pekik Aaya. Bayi itu menyelam kembali ke laut, persis di dekat karang, tempat di mana Aaya menemukannya tergeletak berselimut pasir.

Seolah ditarik oleh pesona bayi ikan itu, tanpa sadar Aaya ikut melompat ke dalam laut. Di dalam air, bayi ikan itu masih berenang lincah di depannya. Aaya bermaksud meraihnya sebelum ia sadar bahwa ia tidak bisa berenang! Sungguh bodoh, ia masih empat tahun dan Ayah belum pernah mengajarinya berenang. Gadis kecil itu megap-megap meminta oksigen. Gaya gravitasi terus menariknya turun…tenggelam ke dasar…sekuat apapun ia berusaha menyentakkan kakinya menuju ke atas. Aku tidak bisa bernapas! Ayah, Ibu, tolong aku! Paru-parunya yang serasa terbakar memaksa kelenjar di ujung matanya mengeluarkan airmata. Meskipun toh tak ada gunanya karena ia sekarang berada di dalam air, menangis atau tidak tak akan ada bedanya.

Namun lagi-lagi keajaiban itu muncul. Saat hampir pingsan keracunan karbondioksida, seekor kepiting biru tiba-tiba muncul di dekatnya dan mencapit ujung jarinya seketika. Cukup sakit, tapi itu juga cukup untuk membuatnya tersadar kembali. Entah mengapa tiba-tiba aliran udara menerobos langsung ke paru-parunya. Melegakan. Air laut masih tetap ada di sana, namun entah bagaimana kini ia dapat menyerap oksigen di dalam air tersebut. Ia bisa bernapas! Ia menggerakkan tangan dan kakinya. Ringan! Ia bisa melayang! Ia tidak lagi terseret ke dasar laut. Buru-buru Aaya menoleh ke sekeliling dan mendapati ekor putih bayi ikan itu berenang jauh di depannya. Dengan semangat Aaya mengejarnya serupa kelincahan seekor lumba-lumba yang baru saja ia dapatkan.

Samudera Pasifik sangatlah luas. Bayi ikan itu berenang begitu cepat namun Aaya selalu dapat mengimbanginya. Kulitnya seakan menyatu dengan air di sekelilingnya. Begitu sejuk dan elastis. Ia bisa meliuk dengan cepat, tangkas, sungguh seakan terbang di angkasa bersih tanpa awan. Ia berenang dalam kecepatan tinggi, seperti warp di ruang antarplanet. Ini menyenangkan! pikirnya. Aaya terus berenang dengan senyum lebar terkembang—serupa layar perahu jauh di permukaan, tempat kedua orangtuanya sibuk mencari anak gadisnya yang tiba-tiba menghilang. Namun tentu saja Aaya tak mendengar teriakan mereka. Bayi ikan setengah manusia itu begitu menarik perhatiannya, dan kini ia hanya tinggal sejengkal saja dari ekor putihnya yang meliuk-liuk lucu.

Tangan Aaya menggapai-gapai mencoba meraihnya. Namun baru saja ujung jarinya menyentuh sisik keperakan itu, sebuah pemandangan luar biasa muncul di hadapannya. Dalam sekejap waktu di sekitarnya seolah berhenti. Untuk kesekian kalinya Aaya terpana. Dua hari terakhir ia telah mengalami rangkaian keajaiban tak masuk akal, namun inilah yang paling istimewa.
Sebuah karya arsitektur yang begitu megah berdiri menjulang di depannya. Sungguh tak menyangka bangunan menakjubkan itu bisa tertanam di sini, beribu-ribu mil di dasar Samudera Pasifik. Tempat itu tak terkatakan. Ada kubah besar di tengahnya, melengkung melindungi bangunan utama berupa lingkaran di bawahnya. Di sekeliling kubah koridor-koridor panjang silang menyilang mengitarinya. Koridor itu dilapisi ivies, tanaman merambat yang menjurai menutupi atap dan dindingnya. Dari kejauhan, bangunan itu serupa planetarium di dasar laut yang dikelilingi kebun percobaan.

“Ini…apa?” Aaya tak bisa menahan emosi. Menatap bangunan itu, rasanya seperti ada pisau-pisau rindu yang tiba-tiba menusuki hatinya. Rasanya seperti menatap rumah yang telah lama ditinggalkan. Rasanya seperti ada begitu banyak kenangan di tempat ini, tempat di mana ia selalu ingin kembali.

Roxalen.
Sebelas tahun kemudian, ia benar-benar kembali ke tempat itu lagi.

About the Talkshow…

Beberapa pertanyaan dan pernyataan sukses menarik perhatianku saat talkshow CBDC 2 Sabtu kemarin. Karena jadi moderator, mau gak mau aku harus memperhatikan benar kata-kata setiap pembicara dan penanya. Padahal biasanya kalo dengerin seminar CBDC mataku gak bisa mbuka’ tanpa dipaksa…hahaha

Dari 7 pembicara, menurutku yang paling menarik adalah apa yang disampaikan Pak Jimmy Pardede dari Gereja Reformed Injili Indonesia. Biarpun nih orang ngomongnya cepet tanpa titik koma, tapi bener2 padat dan berisi. Satu hal yang kena banget di otakku adalah gagasan soal “kebebasan palsu”. Bahwa zaman sekarang orang2 banyak terkungkung oleh kebebasannya sendiri. Bahwa sebenarnya kebebasan yang berlebihan malah menimbulkan KECANDUAN, yang sebetulnya membuat kita terikat pada kebebasan itu. Kontradiktif, ya?

Seperti orang merokok, misalnya. Well, kamu bisa bilang “saya bebas merokok.” Kamu bebas melakukannya selama gak merugikan orang lain. Tapi ketika kamu merokok dan terus merokok, pada akhirnya kamu gak bisa hidup tanpa rokok. Kamu mulai ketagihan. Kamu mulai terikat pada apa yang kamu sebut ‘kebebasan merokok’. See, kamu mulai terkungkung oleh kebebasan yang kamu ciptakan sendiri. Wah, ‘nonjok’ banget nih.

Bicara soal Bapak xxx yang mewakili pemuka agama Islam, sebetulnya aku agak sedikit kecewa. Aku berharap yang diundang adalah seorang cendekiawan muslim keren yang sepemikiran dengan Nurcholis Madjid, atau sebijak Aa’ Gym, atau se-logic Quraish Shihab. Seseorang yang lebih moderat, logis, dan ilmiah tentunya. Yang kalo pidato gak panjang2 tapi langsung ke intinya. Yang kalo jawab pertanyaan to the point, memuaskan, dan mencerahkan.

Kemarin tuh cukup banyak pertanyaan yang nyerempet2 ke hukum Islam. Misalnya tentang nikah siri dan poligami. Well, pertanyaan nikah siri itu emang aku udah tau jawabannya. Dan soal poligami, aku agak kecewa karena Bapak xxx itu njawabnya kurang tegas, kurang logis, dan agak ‘mekso’. Jadinya, Ibu yyy jadi punya kesempatan untuk ‘mengkritik’ poligami sehingga seolah2 memperburuk citra agamaku.

Sebetulnya pertanyaan itu bisa kujawab kok. “Katanya seks bebas dengan berganti2 pasangan itu gak boleh. Lha terus gimana dengan poligami? Apa gak ketularan PMS juga karena ganti2 pasangan?” Oh, well, rasanya pengin aku teriakin langsung ke muka ‘si anak itu’ (yang emang dari sononya nyebelin dan sukanya nantangin debat orang) “Ya gak laaahhh!!!” Tolong ya, emangnya biar poligami kamu pilih istri sembarangan? Asal comot aja gitu? Ya pasti harus tau bibit, bebet, dan bobotnya lah. Kalo udah jelas sehat, ya gak bakal ketularan biar ganti2 juga. Yang dimaksud ‘ganti pasangan’ itu ya ketika kamu melakukan kumpul kebo, a.k.a. nge-seks dengan sembarang orang tanpa pilih2, orang2 yang gak dikenal jelas, yang asal saut di diskotek, panti pijat, ketemu di jalan atau apa lah ‘sex right in the place’ macam gitu.

Huff. Taun depan pengin deh nawarin ke Bu Vera buat pembicara Muslim-nya. Karena sekarang nih Islam lagi jadi kontroversi dan banyak yang mempersoalkan hukum2nya, aku rasa butuh seorang pembicara yang lugas dan ilmiah untuk menjelaskan kepada orang2 logis itu. Bukan pembicara yang biasa ceramah ngalor-ngidul di depan Ibu-ibu pengajian atau majlis ta’lim. Taun depan aku pengin nyaranin ulama yang lebih kereeennn!!!

BTW, setelah dipikir2 lagi aku masih harus belajar banyak untuk jadi moderator. Kemarin aku melakukan kesalahan fatal yaitu menyela pembicara yang sedang ngomong tanpa peringatan. Udah gitu pembicaranya nyindirin aku lagi. Aduh sumpah waktu itu seluruh badanku rasanya panas banget karena malu. Malu bangeeeeetttttt……… tapi gak mungkin kan aku turun dari panggung dan teriak2 ke Bu Sinta, “Bu maaf saya salaaaaaahhhhhh!!!!!!!!!!!” Jdhieenngg. eS-We-Te.

Kayaknya lebih enak jadi pembicara deh. Lebih enak waktu presentasi pas SOE. Atau jadi MC MaC-Maple. Itu gak terlalu sulit. Jadi moderator berarti harus siap duduk 3 jam tanpa kehilangan fokus, dengan otak yang selalu kritis, dan tangan yang selalu siap mencatat. Juga kemampuan ngobrol santai dengan pembicara yang notabene higher knowledge. Oh, juga ketahanan untuk selalu senyum, penuh percaya diri, dan (sedikit) sok tahu.

Aku jadi pikir2, kalo Grace yang tampil jadinya kayak apa yah? Jelas lebih keren dan hidup. Jelas lebih bisa meng-handle situasi. Secara dia udah dewasa dan gak bakal pasang tampang lugu-lugu bego kayak aku. Yah begitulah bedanya orang yang udah berpengalaman sama yang masih ‘ijo’ banget. Ya ampun, itu pertamakalinya aku disuruh jadi moderator, langsung disodorin 7 pembicara, dan Cuma dikasih waktu kurang dari sehari buat persiapan.

Sebenernya aku pengin coba lagi. Coba terus sampe lancar. Ini bakal berkaitan erat sama cita2ku sebagai jurnalis. Well, aku gak akan melulu menulis di media cetak kan. Bisa aja ntar juga jadi presenter kayak Meutia Hafidz atau Isyana Bagus Oka…hooo basic-nya dari moderator juga toh.

Nanti lah kalo ada kesempatan lagi. Kalo Grace sakit lagi mungkin. Hehehe. Karena kayaknya aku selalu jadi ‘serep’nya dia…pas MaC-Maple itu juga. Hoh.
Anyway, keep struggling! ^^p

catatan hari ini

well…akhirnya terlampaui juga.
i didn’t really perform well today. i made some mistakes.
kmaren sore bu vira tau2 sms dan minta aku jadi moderator talkshow cbdc hari ini. harusnya grace sih…tapi dianya lagi sakit dan aku yang disuruh. padahal aku punya pengalaman apa siiiiiiiiihhhhhhhhh??????????????????

hufff. asli binun. tapi mau gimana lagi. bu sinta yang minta dan aku gak boleh begitu aja menyerah sebelum mencoba. dan jadilah…bagaimana perform-ku yang unsayable tadi…hu uh

hari ini ngenthang sampe jam 3 karena harus ngliput macchef alias ma chung chinese festival. aku gak ikud karena jarang latian.

well, di public comp nih. masih banyak yang mau diceritain tapi kakiku pegel. disambung nanti2 aja.

babai^^